共有

Bab 214

作者: Jw Hasya
last update 最終更新日: 2026-01-19 19:52:31

Setelah menutup kembali peti Zatulini dengan hati-hati dan memberikan satu sapuan terakhir pada kain putih yang melingkupi tubuhnya, Sutra menghela napas dalam-dalam.

Langkah mereka pelan menuju lorong yang suram, dinding bata merah tua tampak mengeras di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.

“Ruangannya ada di ujung lorong sebelah kanan,” bisik Kama, suaranya terdengar pelan. “Aku mengawasinya sendiri sejak kejadian itu. Tak ada yang boleh mendekatinya, kecuali Hans yang sesekali memeriksa kondisinya.”

Sutra mengangguk tanpa menjawab. Pikirannya terbagi antara kesedihan yang masih membekas dari melihat wajah Zatulini untuk yang terakhir kalinya, dan rasa ingin tahu yang semakin membesar tentang kondisi Selena. Gadis itu yang selalu ramah padanya, yang seringkali memberi dukungan saat berada di kampus.

Ketika mereka sampai di depan pintu baja yang lebih tebal dari pintu ruangan pendingin, Kama mengeluarkan kunci dari saku jasnya.

Suara bisikan yang terus menerus lang
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (7)
goodnovel comment avatar
Iin Huang
setelah ini lindungi Selena karena nyawa ny jg terancam karena udh blng smua ny ke kamu kama
goodnovel comment avatar
Iin Huang
semoga aja pelaku ny ketangkap ,peperangan dgn kama? kenapa Zatulini yg dia Bun*h.
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
sutra rangkullah saudaramu jangan biarkan dia jatuh kelubang yang sama
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Kama Sutra   Bab 235

    “Selena.” Wanita tua itu menangkup wajah Selena dengan begitu hangat, memandangnya lekat lekat, kemudian mengusap pucuk kepalanya. “Kau sudah dewasa, Sayang,” imbuhnya, sejurus kemudian air matanya membasahi kedua pipi. Selena serta merta memeluk tubuh Mariana yang tergolek lemah di atas pembaringan. “Nenek, maafkan Selena, Nek.” Mariana menggeleng perlahan. “Tidak, Nak. Kau tidak punya salah apa apa. Kau cucu nenek paling baik.” Selena menatap lekat kedua mata yang kelopaknya sudah tampak mengeriput tersebut. “Kenapa Nenek sampai begini? Apa yang terjadi?” “Nenek kecelakaan, penabraknya melarikan diri,” sahut Sutra yang ikut duduk di tepi ranjang. “Beruntung ada yang menolong Nenek, sehingga dia dilarikan ke rumah sakit.” Selena menoleh ke arah Sutra. “Terima kasih, karena kau telah menolong nenek.” Sutr tersenyum hangat. “Kau tidak perlu berkata begitu. Bagaimana pun juga, Nenek juga Nenekku. Nenek kita berdua. Karena aku tidak pernah menganggap Nenek sebagai orang lain

  • Kama Sutra   Bab 234

    Hans masuk dalam kamar Ellies, mendapati wanita itu sedang duduk termenung di kursi rias yang langsung menghadap ke arah kaca cermin. Namun, tampaknya gadis itu tengah memikirkan sesuatu, hingga saat Hans masuk dan melangkah mendekat, ia tidak sadar. Hans menyentuh kedua pundaknya, membuat Ellies terperanjat. “Kau? Kapan kau masuk?” tanya Ellies panik. Hans meraih tubuh wanita itu saat berdiri, lalu memeluk pinggangnya hingga Ellies sedikit berjinjit. Hans mengeratkan pelukannya, mulai menggesek-gesekkan sebuah benda yang telah mengeras di bawah sana ke area intim Ellies. “Hei, lepaskan aku! Kau mau apa?” Ellies berusaha memberontak. “Kau lupa, jika aku akan datang ke kamar setelah sepuluh menit berlalu. Itu untuk memberimu hukumankarena kau telah lancang mengikuti setiap gerak gerikku di rumah ini.” “Kau bicara apa, Hans! Aku bahkan sudah mengatakan padamu jika aku tidak mendengar kau sedang membahas apa dengan Selena. Sekarang, lepaskan aku!” Hans memincuk rahangnya, lal

  • Kama Sutra   233

    Ellies berjalan ke arah kamar dengan rasa yang sulit dijabarkan. Ada kemelut yang tak bisa ia sembunyikandari raut wajahnya, hingga saat berpapasan dengan Sutra, ia pun di sapa dan ditanya oleh istri Kama. “Ada apa? Kenapa sepertinya kau banyak pikiran?” Ellies sedikit tersentak. Lalu menggeleng saat sadar jika seseorang yang bertanya padanya adalah Sutra. “Tidak ada apa apa, Kakak Ipar.” “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu ‘kan?” Sutra menepuk nepuk pundak Ellies dengan lembut. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku merasa pusing, sepertinya butuh istirahat sebentar.” “Oh, yasudah kau istirahatlah dulu.” Tak berbeda jauh dari Ellies, Selena masuk dalam kamarnya dengan perasaan begitu takut. Tubuhnya gemetar. Ingatannya bahkan tak sedetik pun menghilang dari bagaimana ibunya terbunuh kala itu. “Jadi … dia yang membunuh ibuku?” ujarnya lirih, sambil menggigit gigit jari jemarinya dengan gemetar. Satu yang sulit untuk diterima Selena, kata-kata Hans yang mengatakan ji

  • Kama Sutra   Bab 232

    “Siapa di dalam kamar mandi?” Salah seorang pelayan mengetuk pintu, bertanya dengan suara keras siapa yang tengah berada di dalam kamar mandi. “Hei! Jawab aku!” Hans menatap nyalang pada Selena, detik kemudian, pria itu memincuk rahang gadis tersebut sambil berbisik. “Katakan, jika kau sedang di dalam kamar mandi! Cepat!”Air mata Selena luruh, rasa sakit akibat terapit tangan Hans, membuat rahangnya sedikit susah digerakkan. “A-aku sedang buang air besar!” jawab Selena sedikit terbata. Bibirnya gemetar, takut jika pria dihadapannya akan mencekiknya. “Aku siapa?”“Selena!”“Oh, Nona Selena, baiklah. Kukira siapa, aku tadi mendengar teriakan. Kau tidak apa-apa, Nona?”“T-tidak, aku hanya kaget saat melihat kecoa. Ya, itu saja.”“Oh, baiklah. Kuharap kau tidak akan bertemu dengan hewan menjijikan itu lagi.”Setelah itu, suara dari balik pintu kamar mandi tersebut lenyap. Terdengar langkahnya samar menjauhi area tersebut. Namun, Hans tidak lantas melepaskan Selena. Pria itu betul bet

  • Kama Sutra   Bab 231

    “Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p

  • Kama Sutra   Bab 230

    Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status