MasukHans masuk dalam kamar Ellies, mendapati wanita itu sedang duduk termenung di kursi rias yang langsung menghadap ke arah kaca cermin. Namun, tampaknya gadis itu tengah memikirkan sesuatu, hingga saat Hans masuk dan melangkah mendekat, ia tidak sadar. Hans menyentuh kedua pundaknya, membuat Ellies terperanjat. “Kau? Kapan kau masuk?” tanya Ellies panik. Hans meraih tubuh wanita itu saat berdiri, lalu memeluk pinggangnya hingga Ellies sedikit berjinjit. Hans mengeratkan pelukannya, mulai menggesek-gesekkan sebuah benda yang telah mengeras di bawah sana ke area intim Ellies. “Hei, lepaskan aku! Kau mau apa?” Ellies berusaha memberontak. “Kau lupa, jika aku akan datang ke kamar setelah sepuluh menit berlalu. Itu untuk memberimu hukumankarena kau telah lancang mengikuti setiap gerak gerikku di rumah ini.” “Kau bicara apa, Hans! Aku bahkan sudah mengatakan padamu jika aku tidak mendengar kau sedang membahas apa dengan Selena. Sekarang, lepaskan aku!” Hans memincuk rahangnya, lal
Ellies berjalan ke arah kamar dengan rasa yang sulit dijabarkan. Ada kemelut yang tak bisa ia sembunyikandari raut wajahnya, hingga saat berpapasan dengan Sutra, ia pun di sapa dan ditanya oleh istri Kama. “Ada apa? Kenapa sepertinya kau banyak pikiran?” Ellies sedikit tersentak. Lalu menggeleng saat sadar jika seseorang yang bertanya padanya adalah Sutra. “Tidak ada apa apa, Kakak Ipar.” “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu ‘kan?” Sutra menepuk nepuk pundak Ellies dengan lembut. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku merasa pusing, sepertinya butuh istirahat sebentar.” “Oh, yasudah kau istirahatlah dulu.” Tak berbeda jauh dari Ellies, Selena masuk dalam kamarnya dengan perasaan begitu takut. Tubuhnya gemetar. Ingatannya bahkan tak sedetik pun menghilang dari bagaimana ibunya terbunuh kala itu. “Jadi … dia yang membunuh ibuku?” ujarnya lirih, sambil menggigit gigit jari jemarinya dengan gemetar. Satu yang sulit untuk diterima Selena, kata-kata Hans yang mengatakan ji
“Siapa di dalam kamar mandi?” Salah seorang pelayan mengetuk pintu, bertanya dengan suara keras siapa yang tengah berada di dalam kamar mandi. “Hei! Jawab aku!” Hans menatap nyalang pada Selena, detik kemudian, pria itu memincuk rahang gadis tersebut sambil berbisik. “Katakan, jika kau sedang di dalam kamar mandi! Cepat!”Air mata Selena luruh, rasa sakit akibat terapit tangan Hans, membuat rahangnya sedikit susah digerakkan. “A-aku sedang buang air besar!” jawab Selena sedikit terbata. Bibirnya gemetar, takut jika pria dihadapannya akan mencekiknya. “Aku siapa?”“Selena!”“Oh, Nona Selena, baiklah. Kukira siapa, aku tadi mendengar teriakan. Kau tidak apa-apa, Nona?”“T-tidak, aku hanya kaget saat melihat kecoa. Ya, itu saja.”“Oh, baiklah. Kuharap kau tidak akan bertemu dengan hewan menjijikan itu lagi.”Setelah itu, suara dari balik pintu kamar mandi tersebut lenyap. Terdengar langkahnya samar menjauhi area tersebut. Namun, Hans tidak lantas melepaskan Selena. Pria itu betul bet
“Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p
Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke
“Dokter bilang, Nenek tidak punya banyak waktu lagi. Jadi … aku ingin kita mengatakan jika putrinya sudah tiada. Jujur, Kama. Aku takut, takut jika sampai hembusan napas terakhirnya, Nenek belum tahu jika Bibi Zatulini telah tiada.” Sutra kembali berurai air mata. Kama diam, pria itu mencoba untuk menekuri segalanya. Tiba-tiba kedua telapak tangannya mengepal sempurna, wajahnya menyiratkan kemarahan. Entah pada siapa. “Beri aku sedikit waktu, Sutra. Aku akan mencari siapa pembunuh Zatulini sendiri.” “Bagaimana dengan Hans? Apa dia belum bisa menemukan pembunuhnya?” Kama menggeleng. “Pembunuh Zatulini terlalu rapi. Seharusnya kita bisa mengandalkan Selena. Tapi … dia sendiri tidak tahu siapa pembunuh itu.” “Aku ada ide,” ujar Sutra. Kama menoleh. “Apa?” Sebelah alisnya menukik. “Kau benaskan Selena. Setidaknya, biarkan dia mengunjungi Nenek. Karena bagaimana pun juga, dia adalah cucu kandung Mariana.” Kama kembali termenung, napasnya menyeret berat. Sebetulnya Kama m







