Se connecterBinar kemarahan menyala di kedua mata Kaisar. Dan hal ini sudah disadari oleh semua orang. Sebagian melirik takut ke arah Kaisar seraya berbisik mencemooh hal kurang ajar yang sudah dilakukan Menteri Shin dan sebagian yang lain memilih untuk menunduk diam saking takutnya dengan aura yang Kaisar keluarkan saat ini.
Tapi bagai orang tuli, kumpulan Menteri dengan posisi atas itu sengaja mengabaikan semua teguran
Sebuah bunyi tawa yang tertahan lolos begitu saja dari sela bibir Lu Si. Ia menutupi mulutnya dengan punggung tangan, namun bahunya yang terguncang hebat tidak bisa menyembunyikan rasa geli yang meluap.Senyum Ruoxi seketika lenyap. Wajahnya menegang, matanya mendelik tajam ke arah Lu Si. Berani-beraninya seorang gadis asing menertawakannya di depan umum? Namun, saat tatapannya mempelajari wajah Lu Si lebih dekat, alis Ruoxi bertaut. Gadis di depannya ini mengingatkan dirinya pada Yue Ning, sepupu rendahannya yang entah bagaimana nasib baiknya bisa diangkat menjadi calon permaisuri Zhu oleh Feng.Ruoxi mengangkat dagunya tinggi, melempar tatapan meremehkan yang pekat. "Kau pasti putri salah satu pejabat kekaisaran Feng yang baru dipindahkan kemari, bukan? Dengar baik-baik, ini peringatan pertama dan terakhir dariku. Kau tidak akan sanggup menanggung akibatnya j
_o0o_"Waahh!!!" seru Lu Si setelah menatap lingkungan sekitar. Hari ini adalah hari kedatangannya di Kekaisaran Zhu. Harusnya ia kemari bersama Kakak Feng dan kakak iparnya seminggu lagi. Namun, Lu Si sudah berada di Kekaisaran Zhu karena ingin melihat dan menikmati wilayah yang akan di pimpin kakak kembarnya kelak.Gadis yang memakai hanfu berwarna merah muda seperti bunga plum itu berjalan ke berbagai arah di pasar ibukota kekaisaran Zhu.Di belakangnya, Jenderal Zhao mengikuti seperti setiap langkah gadis ceria itu."Aaaa." Tangan Lu Si terangkat menawarkan sebuah manisan yang baru dibelinya. "Enak?" tanya Lu Si ketika Zhao Ling masih mengunyah."Manis."Lu Si menatap jengah.
Malam itu, lentera-lentera kertas di sepanjang selasar Istana Zhu baru saja disulut, melemparkan pendar kuning yang bergoyang di lantai kayu. Di dalam paviliunnya yang sunyi, Yue Ning duduk terpaku. Pandangannya tertambat pada selembar gulungan sutra tebal yang tergelar di atas meja rendah.Kain sutra merah, kotak-kotak perhiasan emas lambang kekaisaran Zhu, dan tata cara penyambutan altar leluhur tersusun rapi yang harus ia pelajari.Pernikahan akan diselenggarakan kurang dari sebulan lagi. Jemari Yue Ning berhenti di atas baris kuas paling bawah, tempat dua nama bersanding erat sebagai penguasa baru wilayah ini, Feng Huang Ji dan Zhu Yue Ning.Yue Ning memejamkan mata, menghembuskan napas panjang. Kejadian di aula pertemuan tadi pagi kembali berputar di kepalanya. Tepat saat itu, suara langkah kaki yang santai nam
_o0o_Atmosfer di aula utama Istana Zhu yang dialihfungsikan menjadi ruang pertemuan sementara terasa begitu kaku, dipenuhi oleh gumaman rendah para pejabat. Sebagian besar adalah menteri lama Zhu yang memilih tunduk demi keselamatan keluarga, sementara sisanya adalah pejabat utusan kekaisaran Feng yang dikirim untuk mengawasi masa transisi.Yue Ning duduk di kursi kayu berukir di sisi kanan Huang Ji. Punggungnya ditarik lurus sempurna, sepasang tangannya tersusun rapi di atas lutut. Namun, di balik lipatan lengan kainnya yang lebar, jemarinya saling meremas satu sama lain. Ini adalah rapat formal pertama yang ia hadiri, dan ia bisa merasakan ratusan pasang mata di bawah sana sedang menguliti sosoknya dengan tatapan meragu, penasaran, bahkan ketidaksukaan yang terang-terangan."...dengan demikian, pasokan gandum unt
Yue Ning terdiam selama beberapa detik. Tatapannya bertemu dengan binar jenaka di mata pangeran Feng itu. Perlahan, otot-otot wajahnya yang kaku mengendur. Sudut bibirnya berkedut naik, membentuk lengkungan tipis yang sangat samar, namun tidak lolos dari tangkapan mata Huang Ji.Huang Ji menggeser cangkir hangat itu hingga menyentuh ujung jari Yue Ning. "Minum."Yue Ning mengangkat cangkir itu dengan kedua tangan. Saat keramik itu terangkat, Huang Ji menangkap getaran halus yang menjalar di pergelangan tangan sang gadis. Sisa-sisa ketegangan dari pelajaran pertama dalam hidupnya baru merembes keluar sekarang, bermanifestasi dalam jemari yang gemetar samar.Huang Ji tidak berkomentar apa-apa tentang getaran itu. Ia hanya memperhatikan dalam diam sampai Yue Ning menurunkan kembali cangkirnya yang kini kosong setengah.
Mereka berjalan lebih jauh hingga langkah kaki terhenti di bawah pohon plum putih yang paling besar. Kelopaknya berguguran seperti serpihan salju lambat. Yue Ning mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dari kain jubah, membiarkan satu kelopak putih mendarat tepat di tengah telapak tangannya. Matanya mengikuti setiap bunga yang jatuh tanpa berkedip."Di kediaman Komandan Chao tidak ada bunga plum?" tanya Huang Ji, teringat bahwa gadis ini menghabiskan waktu bertahun-tahun di kediaman sang kakek."Ada." Yue Ning membalik telapak tangannya, membiarkan kelopak itu jatuh ditiup angin sore. "Tapi saya jarang bisa melihatnya."Huang Ji terdiam. Kalimat itu adalah pengingat pahit tentang apa yang dialami Yue Ning sebelum dinasti ini runtuh. Di atas mereka, ranting-ranting pohon berderit pelan menyapa angin dingin. Akhirny







