로그인Di dalam hotel, Jimmy berbaring dengan nyaman. Yasmin berdiri di sampingnya sambil meretakkan jari-jari tangannya, sekaligus memutar leher untuk meregangkan tubuh. Gayanya seperti mau bertarung saja."Kamu harus pijat yang benar." Jimmy mengingatkan sambil tersenyum."Kalau nggak enak, kepalaku juga nggak bakal ingat apa-apa.""Tenang, aku pasti bikin kamu 'nyaman' setengah mati!" Mata Yasmin berkilat, wajahnya tidak bersahabat."Baiklah, coba kulihat kemampuanmu dulu." Jimmy tersenyum santai, sudah siap menikmati pijatan Yasmin.Apa yang Yasmin pikirkan, dia sudah bisa menebak. Dia benar-benar mengira tenaga seperti itu bisa membuatnya tidak tahan? Bagi Jimmy, kekuatan Yasmin tidak beda jauh dari sekadar meregangkan tubuh.Yasmin duduk di tepi ranjang. Kedua tangannya diletakkan di bahu Jimmy, lalu menekan kuat."Oh ... oh ...." Tenaga Yasmin memang tidak kecil. Begitu ditekan, Jimmy langsung mengeluarkan suara aneh. Nada suaranya naik turun, panjang pendek.Yasmin yang mendengarnya l
Pijat? Urat di dahi Yasmin langsung menonjol. Bajingan ini! Bicara panjang lebar hanya untuk memintanya pijat! Dulu waktu dia minta nomor Hajahat juga sama!Yasmin menahan amarahnya, lalu berkata dengan nada mengancam, "Kamu percaya nggak aku gantung kamu, terus kupijat pakai cambuk?""Kepalaku sakit, benar-benar sakit," kata Jimmy sambil terus memijat kepalanya.Melihat akting buruk Jimmy, Yasmin geram setengah mati. Untuk sesaat, dia benar-benar ingin menggantung Jimmy. 'Memang pantas disiksa pakai cambuk! Dasar bajingan sok berkuasa!'Setelah menarik napas dalam beberapa kali, Yasmin akhirnya menahan amarahnya dan berkata dengan serius, "Kamu jawab pertanyaanku dengan jujur, aku akan berutang budi padamu, gimana?""Sudahlah!" Jimmy langsung menolak tanpa pikir panjang. "Utang budimu itu paling nggak bisa diandalkan!"Kalau soal utang budi, Yasmin entah sudah berutang berapa banyak padanya. Namun, sikapnya tetap saja begitu! Bukannya dia tetap dianggap orang tak tahu malu?"Kamu sebe
Karena Jimmy sudah bilang akan datang memberi hadiah ulang tahun, tentu dia tidak akan mengingkari janji.Pada akhirnya, meskipun Rita menangis memohon, Jimmy tetap mengambil satu lengan miliknya.Adapun ayah dan anak itu, mereka diserahkan kepada Keluarga Tanoewan untuk dibereskan."Aku kira kamu bakal bantai habis mereka tadi." Di perjalanan pulang, Hajahat berkata dengan nada agak jenuh."Jadi itu tujuanmu ikut denganku?" Jimmy tersenyum. "Kamu takut aku ngamuk?"Keluarga Gumilang bukan keluarga besar yang hebat, juga tidak punya ahli kuat. Hajahat memang suka keramaian, tetapi dia tidak tertarik dengan keramaian tanpa tantangan seperti ini.Hajahat tertawa dan mengangguk. "Yunan bilang sifat iblismu sepertinya mulai muncul lagi.""Masih terkendali." Jimmy tersenyum. "Dua hari lalu di Kuil Dagura, aku sempat ngobrol dengan seorang biksu dan cukup dapat pencerahan. Dua hari ini sudah jauh lebih baik."Pantas saja. Ternyata Yunan sudah memberitahunya. Sepertinya, Hajahat mengajaknya k
Kali ini, yang dilepaskan bukan lagi jarum beracun, melainkan sebuah bom petir.Duar! Bom itu meledak dan langsung membentuk kepulan asap tebal.Kabur! Saat ini, hanya itu satu-satunya pikiran Jovan.Saat Jovan menarik putranya yang masih linglung untuk melarikan diri, Jimmy sudah bergerak dan mengadang jalan mereka.Buk! Buk! Dua pukulan langsung menghantam. Ayah dan anak itu seketika jatuh ke tanah, muntah darah berkali-kali."Aku orang Sekte Tanoewan!" Jovan memuntahkan darah. "Kalau kamu membunuhku, Sekte Tanoewan nggak akan melepaskanmu!""Begitu ya?" Jimmy tersenyum, lalu menoleh ke Hajahat yang sedang makan. "Keluarga Tanoewan sekarang dipimpin siapa?""Sepertinya namanya Kemal." Hajahat meneguk anggurnya. "Tunggu, aku coba cari nomor orang Keluarga Tanoewan. Seingatku aku punya nomor Kirana."Tak lama, Hajahat menemukan nomor Kirana dan membawakan ponselnya ke depan Jimmy.Jimmy menerima ponsel itu. Dari dalam, langsung terdengar suara marah. "Hajahat, dasar bajingan! Masih ing
Sekte Tanoewan? Mendengar suara itu, Jimmy dan Hajahat sama-sama terkejut, lalu menoleh ke belakang.Seorang lelaki tua berambut putih dengan jubah panjang muncul di belakang mereka. Di zaman sekarang, orang yang masih memakai jubah panjang itu hanya ahli sejati atau tukang pamer. Entah orang tua ini termasuk yang mana.Andika? Sekte Tanoewan? Andika itu orang Sekte Tanoewan? Sekte Tanoewan memang terkenal dengan senjata tersembunyi dan racun.Di antara aliran bela diri kuno, sejarah Sekte Tanoewan juga cukup panjang. Namun, seiring berkembangnya teknologi, banyak aliran bela diri kuno yang tak terhindarkan mengalami kemunduran.Sekte Tanoewan yang mengandalkan senjata tersembunyi dan racun justru paling terdampak. Lagi pula, kebanyakan orang berlatih senjata tersembunyi tujuh atau delapan tahun, tetap tidak lebih efektif daripada satu pistol.Sampai sekarang, Sekte Tanoewan seperti banyak aliran lain, hampir tidak lagi muncul dalam bentuk sekte. Sebagian besar sudah berubah menjadi be
"Siapa sih kamu?" Hajahat menatap orang itu dengan penuh minat.Orang ini memang punya sedikit aura. Dilihat dari penampilannya, sepertinya juga seorang praktisi bela diri."Aku Andika!" katanya dengan wajah penuh kesombongan.Dia adalah menantu Rita, sekaligus andalan terbesar Keluarga Gumilang. Alasan Keluarga Gumilang bisa bangkit di Nursala sangat berkaitan erat dengannya."Andika?" Hajahat sedikit mengernyit, lalu melirik Jimmy. "Kamu pernah dengar?"Jimmy mengangkat bahu. "Kamu saja nggak pernah dengar, mana mungkin aku pernah."Tujuh tahun lalu dia pergi ke luar negeri. Selama lima tahun setelah kembali, ingatannya masih tersegel. Orang-orang yang naik daun dalam tujuh tahun itu memang jarang dia kenal.Sementara Hajahat sering keluyuran ke mana-mana, orang yang dia kenal banyak, yang pernah dia dengar tentu lebih banyak lagi. Kalau Hajahat saja tidak pernah dengar, kemungkinan besar dia juga tidak pernah."Ya sudah." Hajahat menggeleng sambil tersenyum. "Sepertinya cuma bocah t
"Begitu lihat orang lain punya koneksi, langsung nggak tahu malu dan nempel habis-habisan!""Aku sudah sering lihat orang nggak tahu malu, tapi baru kali ini lihat yang sememalukan ini!""Balikkan kartu namaku!"Di tengah tawa mengejek, orang-orang berebut mengambil kembali kartu nama mereka. Seolah
"Gengsi itu 'kan nggak bisa dimakan." Laura tersenyum tipis. "Manusia itu seharusnya seperti bunga, bisa tumbuh ke bawah, juga bisa mekar ke atas. Lagi pula, kalian juga datang, 'kan?""Itu jelas beda!" Livia berkata dengan wajah penuh kebanggaan sambil mengambil satu lembar undangan dari tangan Zis
Sambil berkata demikian, Bisma kembali mengangkat gelas dan menenggak birnya dengan ganas.Jimmy tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, aku akan cari orang untuk membantu mencarikan sekolah buat anakmu."Bisma adalah perantau yang datang bekerja dari luar daerah. Meski sudah menetap di Bataram, kota
Mengingat peringatan Argani semalam, niat membunuh yang lama terpendam di tubuh Jimmy langsung meledak. Dengan aura pembunuh yang mengerikan, dia bertanya dingin, "Siapa yang menyuruhmu membunuhku?"Pria itu hendak menjawab, tetapi baru saja membuka mulut, darah langsung menyembur dengan deras. Tubu







