LOGINDi hari Yuan berusia 15 tahun, Kerajaan Qingce diserang oleh Kekaisaran Wuyan yang menginginkan harta tersembunyi yang ada di tanah Qingce. Yuan menyaksikan bagaimana ayahnya dibantai di depan mata dan sang ibu yang tewas karena melindunginya. Satu-satunya yang tersisa untuk Yuan adalah Fengyin, tunangannya. Keduanya berhasil melarikan diri dan bersembunyi di dalam goa dalam keadaan sekarat. Namun, saat akhirnya Yuan membuka mata kembali, ia merasakan keanehan dalam dirinya. Ada energi asing yang mendorongnya untuk mencapai hasrat Yuan yang paling dalam, yakni pembalasan dendam. Dengan dibantu Hongli, penyelamatnya, dan suku kulit merah yang menganggungkan dirinya sebagai nabi yang ditunggu-tunggu, Yuan mengobarkan api perperangan atas nama dendam. Dia tidak akan pernah beristirahat sampai seluruh manusia tunduk di bawah kakinya.
View MoreIf I wanted to survive I had to do it again… To keep the gnawing emptiness at bay, to find a sliver of warmth in the perpetual chill of the alleyways, I had to be fast, invisible, and utterly ruthless. The memory of my last meal—a stale crust shared with a stray cat—was a sharp goad in my side. Today, I wouldn't eat crumbs; I'd eat well.
So when my tired eyes spot a rich-looking man from behind with his wallet sticking out of his expensive coat, I took a chance. He looked like the kind of person who wouldn't notice a missing wallet until he was comfortably settled in a high-backed chair, ordering a vintage brandy. Perfect. I slipped from the shadows like a ghost, my practiced movements silent and quick. My fingers brushed the buttery leather of the coat, a texture miles removed from the threadbare rags I wore, and closed them around the thick wallet. Success. I began to retreat and melt back into the crowd heartbeat away from freedom when... Just as I felt the asphalt of the alley under my worn boots, a massive hand clamped around my wrist, not painfully, but with an absolute authority that stopped me dead. A deep, resonant voice, like distant thunder, rumbled right next to my ear. "Don't fight, little one, I won't harm you!" he whispered, while grazing the shell of my ear, with his hot breath and warm lips. The unexpected intimacy, the sheer proximity of this stranger, sent a sudden unfamiliar sensation rolling down my body, settling low in my belly—a dizzying mix of fear and something akin to a startling jolt of electricity. He smelled expensive, like aged leather and pipe smoke, a scent that spoke of warmth and security, things I knew only in dreams. With my hand still clutched around his expensive-looking wallet, I looked through my eyelashes at the giant man in front of me. He wasn't merely tall; he was an imposing fortress of a man, clad in tailored black wool that seemed to absorb the weak street light. His face, shadowed by the brim of a hat, was a puzzle of sharp angles and a tightly controlled expression. Yet, his eyes—when he lowered his head—were piercing, the color of dark night sky and held a surprising, almost gentle quality that contradicted his size and the predicament I was in. His warm hand—easily twice the size of mine—still encircled my wrist, a gentle but unbreakable manacle, as he stared down at me. In that moment, the noisy bustle of the street faded. The world shrank until it was just him and me, locked in an absurd tableau: the seasoned pickpocket caught by her towering mark. "Can I have my hand and my wallet back now, little one?" He husked next, his voice softening just a fraction. The low tone vibrated in the air between us, making me swallow hard, a dry, nervous gulp, as his unwavering eyes pinned me down on the spot. I could run, perhaps, if I dropped the wallet and bit his hand, but the thought felt exhausting and pointless under his gaze. The truth was stark and undeniable. God, I was doomed! But somehow, as his thumb slowly traced the sensitive pulse point on my wrist, the doom felt less like a guillotine blade and more like a precipice, a terrifying drop into an unknown, perhaps even richer, fate. Who was this man? And why wasn't he shouting for the police?Untuk beberapa hari ke depan cerita ini akan berhenti update untuk sementara dikarenakan akan ada perbaikan alur cerita.Begitu semuanya sudah diperbaiki, ceritanya akan kembali berlanjut.Pantengin terus ya :D
Malam hari yang gelap, memancarkan hawa dingin dari rembulan biru tertutup setengah paras oleh awan. Distrik Qingchong menjadi sunyi dan sepi tanpa ada tanda-tanda kehidupan sosial. Yuan dan kawan-kawan menyelinap dari satu tempat ke tempat lain dalam bayangan kegelapan. Mereka bertujuh berusaha berkamuflase sebisa mungkin agar tak ketahuan oleh siapapun, terutama oleh mereka para prajurit yang sedang berpatroli.“Kalian mencium sesuatu?” Tanya Tangfei pada yang lain.“Iya, ini bau bensin. Pastinya bukan cuma aku yang mencium ini dari tadi di sepanjang jalan.” Jelas Hongli.“Hati-hati saja jangan sampai ketahuan oleh para pasukan yang sedang berjaga,” kata Yuan.Mereka melanjutkan merayap menyusuri kegelapan di belakang bangunan distrik Qingchong. Makin lama bau bensin kian menyengat, namun hidup mereka semua perlahan bisa beradaptasi. Bau bensin ini sudah tidak mengganggu bagi hidung mereka lagi.Dalam jarak seratus meter lebih, balai kota tempat di mana anak dan istri milik Xueyi d
Pada keesokan harinya, sebuah rombongan prajurit Wuyan berjajar rapi di jalanan berbatu yang menuju ke Bing Qing. Matahari pagi memancarkan cahaya keemasan, menyinari kereta yang diangkut oleh dua kuda hitam berkilat. Kereta itu terlihat megah dengan ukiran-ukiran rumit pada kayunya dan hiasan bendera kebesaran Wuyan yang berkibar anggun di sepanjang jalan. Semua prajurit, mengenakan armor logam berwarna hijau yang mengkilap, meningkatkan kewaspadaan di atas kuda mereka, berbaris dengan disiplin menuju kerajaan dagang internasional. Ternyata, rumor mengenai Kaisar Wuyan hendak berkunjung ke Bing Qing bukanlah isapan jempol belaka. Kereta yang diangkut oleh dua kuda berwarna hitam pekat itu bergerak dengan tenang, roda kereta yang terbuat dari kayu kokoh berderak lembut di atas jalan yang ditutupi lapisan debu halus. Di dalam kereta, sosok yang sangat penting sedang berada, menambah aura misterius pada perjalanan tersebut.Yuan dan kawan-kawan sedang bersembunyi di dalam hutan jauh d
Yuan coba membaca surat yang ada di tangan pamannya. Bunyinya:“Jika kau mau anak dan istrimu selamat, temui kami di balai kota distrik Qingchong. Bawa tiga orang terbaik bersamamu. Kami akan menyambut kalian.Tertanda: Xu Yanzhi.”Semua orang sepakat siapa yang harus pergi ke tempat itu malam ini. Xueyi, Yuan dan Hongli.Ketiganya tanpa pikir panjang berlari menuju tempat yang dijanjikan dalam gelap malam. Sementara Tangfei dan yang lainnya mengawasi dari kejauhan.Begitu tiba, empat prajurit sudah menunggu di pintu masuk.. Xueyi langsung disambut oleh Xu Yanzhi.“Selamat datang, wahai samurai dan kawan-kawan. Akhirnya kau datang.”“Dimana anak dan istriku?”Pria berpakaian emas itu menggeser diri dari pintu, memperlihatkan pemandangan mengerikan di dalam ruangan Lian dan dua anaknya sedang diikat pada sebuah tiang. Mulut mereka disumpal dengan kain yang membuat mereka tak bisa berbicara.Teriakan mereka tak terdengar, tapi ekspresi mereka menunjukkan ketakutan.Xueyi mengerang pelan
Yuan memperhatikan pamannya berdiri di depan pintu dalam keadaan yang tak bisa ditebak. Mukanya nyaris tak berekspresi sama sekali, namun senar yang keluar dari tubuhnya menggeliat penuh kemarahan. Penuh dendam. Penuh ambisi. Dan setitik rasa sedih. Hanya Yuan dengan mata ajaibnya yang bisa melihat
“Ayah?!” teriak Yuan dan teman-temannya dengan kaget.Pintu rumah terbuka, dan seorang wanita muda muncul. Rambutnya yang lurus sebahu tergerai di atas gaun biru sederhana yang tampak mewah jika dibandingkan dengan tetangga di sekitar rumah.“Xueyi, akhirnya kau pulang juga. Selamat datang,” ucap wani
Teriakan tangisan bayi Trondallo di ruangan Bunda Ketua semakin kencang. Wang Jing, yang bertugas menggantikan tugas Fengyin merasa kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Kedua bayi itu tidak mau diam.“Ada apa dengan mereka?” tanya Yuan kepada Wang Jing.“Saniyala, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba mer
Brak!!!“Argh!”Belum sempat kapten dan pasukannya merayakan kemenangan, pisau Yuan sudah menusuk punggungnya sampai menembus dada melalui zirah besi. Suara pria itu bungkam dengan darah menggumpal di mulut, menyekat tenggorokan.“Si-siapa kau….”Tanya sang kapten dengan sisa nyawa yang ada.Dari balik t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews