Share

Bab 3

Author: Galih Rembulan
Dahulu, Kamila adalah wanita tercantik di Kota Raksi. Meski sekarang sudah menginjak usia 40 tahun, Kamila merawat tubuhnya dengan sangat baik dan hidup dalam gelimang kemewahan. Alih-alih terlihat menua, parasnya justru tampak seperti wanita berusia 28 tahun. Usia 40 tahun itu seakan hanya menambah pesona dan keanggunan seorang wanita matang pada dirinya.

Kamila juga merupakan wanita terkaya dengan kekayaan mencapai ratusan triliun. Jadi, tentu saja banyak orang mengejarnya.

Akan tetapi, sekadar pria yang mengejar cintanya dan pria selingkuhan yang bisa diajak tidur bersama, jelas merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Tes DNA adalah bukti ilmiah dan tidak akan berbohong. Jika putri yang dilahirkan Kamila bukan darah daging Adrian, Kamila sudah pasti telah berselingkuh!

Adrian tidak pernah berharap istrinya akan jujur mengakui kehidupan pribadinya yang kotor dan penuh rahasia itu. Namun, Adrian percaya pada sains dan inilah modal utama Adrian untuk mendesak Kamila agar berterus terang.

Benar saja.

Kamila tidak mengakuinya. Sambil tersenyum tipis, Kamila menatap Adrian dan berkata, "Kenapa? Kok kamu jadi kurang percaya diri gitu. Kamu meremehkan dirimu sendiri, juga meremehkanku."

"Mungkin saja. Tapi aku makin merasa kalau kamu selingkuh dengan pria lain di belakangku. Kamu sudah berkali-kali menyelingkuhiku!"

"Bicara omong kosong apa kamu ini! Kalau bercanda ada batasnya, jangan asal bicara kayak gitu. Kalau nggak, aku bakal benar-benar marah."

"Benar, 'kan? Kamu memang nggak bakal ngaku sebelum kepepet! Kamila, sekarang, gimana kamu menjelaskan hal ini padaku?"

Adrian sudah tidak tahan lagi. Dia mengeluarkan kertas kusut hasil tes DNA itu, lalu menyodorkannya kepada Kamila.

Begitu melihat bagian kesimpulan, senyuman di wajah Kamila perlahan membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam saat melirik ke arah Adrian.

Namun, tanpa ekspresi panik sedikit pun, Kamila merobek kertas hasil tes DNA itu menjadi dua bagian, melipatnya, lalu kembali merobeknya. Kemudian, Kamila berkata, "Sayang, bercandanya sampai di sini saja. Aku sudah kenyang, ayo kita pulang!"

Apa maksud tindakan Kamila ini …. Adrian tidak bergeming. Dia sudah menduga reaksi istrinya akan seperti itu. Adrian sendiri juga tidak berniat untuk berdebat dengan Kamila. Adrian pun lalu berkata, "Asal kamu tahu, aku sudah melakukan paling nggak tiga kali uji laboratorium di lembaga forensik hukum yang ditunjuk oleh Pengadilan Tinggi, contohnya Bioteknologi Bertha Kota Raksi. Selain itu, aku juga mengirimkan banyak sampel ke lembaga profesional di tiga kota besar untuk tes anonim. Semua hasilnya membuktikan satu hal, Rani bukan anakku! Dia anak hasil hubungan gelapmu dengan pria hidung belang!"

"Adrian, kamu …."

Wajah Kamila langsung menjadi sangat serius. Dengan sorot mata yang jauh lebih tajam, Kamila pun berkata, "Kamu berani melakukan sesuatu di belakangku?"

Seketika itu juga, Adrian merasakan tekanan yang tidak bisa dijelaskan, yang datang dari istrinya yang selama belasan tahun ini selalu berdiri di posisi yang lebih tinggi darinya. Jika hal ini terjadi di hari-hari sebelumnya, Adrian pasti sudah mengalah, menyenangkan hati istrinya dan menahan diri demi kedamaian. Namun, hari ini, Adrian tidak akan lagi menuruti istrinya itu.

Adrian sama sekali tidak gentar ataupun mundur. Dia membalas tatapan istrinya dan berkata, "Rani sudah berusia 15 tahun. Ditambah beberapa bulan waktu kamu mengandung dia, genap 16 tahun! Kamu sudah membohongiku selama 16 tahun!"

"Adrian, kurasa kamu sudah jadi tolol karena kebanyakan minum alkohol! Kata-kata nggak masuk akal kayak gitu, bisa-bisanya keluar dari mulutmu! Sekarang juga kamu pulang. Tanpa izin dariku, kamu nggak boleh melangkah keluar dari rumah barang selangkah pun!"

"Kamu pikir aku ini apa? Mulai detik ini, aku nggak akan pernah sudi kembali ke rumah itu lagi. Sebaliknya, aku akan menceraikanmu!"

Sambil menahan emosi, Adrian akhirnya melontarkan kata "cerai" itu dari mulutnya sendiri.

"Cerai? Berani-beraninya kamu minta cerai dariku? Kamu sudah benar-benar gila dan nggak bisa diajak bicara baik-baik!"

Aura intimidasi yang begitu kuat, keluar dari tubuh Kamila. Namun, begitu melihat Adrian sama sekali tidak bergeming, terlihat tidak peduli lagi dengan konsekuensi, tidak punya rasa takut dan pasrah terhadap apa pun yang akan terjadi, amarah Kamila langsung memuncak. Dia pun membanting pintu dan melangkah pergi.

Adrian menarik napas dalam-dalam lalu menyeka dahinya. Dahinya terasa dingin dan basah oleh keringat dingin. Ini pertama kalinya Adrian berani menantang dan berkonfrontasi langsung dengan Kamila yang selama ini selalu berdiri di posisi yang jauh lebih tinggi darinya. Adrian hanyalah seorang dokter spesialis biasa, tanpa kekuasaan maupun pengaruh. Sementara itu, istrinya terlahir dari keluarga elite lapisan teratas masyarakat, bahkan merupakan wanita terkaya di Kota Raksi dengan kekuasaan yang sangat besar. Dengan latar belakang sosial yang tidak seimbang ini, keputusan Adrian menuntut cerai dinilai sebagai tindakan pembangkangan. Jika istrinya benar-benar berniat untuk menghancurkannya, Adrian tidak akan bisa bertahan di Kota Raksi.

Akan tetapi, penghinaan karena sudah membesarkan anak orang lain dan menjadi pria penanggung beban orang lain seperti ini, mustahil Adrian bisa menanggungnya dan hanya diam saja. Setelah melihat sifat asli istrinya yang begitu buruk, Adrian tidak akan sudi lagi mempertahankan hubungan pernikahan ini. Dia harus bercerai, lalu menjalani kehidupannya sendiri.

Akan tetapi, tak lama kemudian, Kamila kembali mendorong pintu dan melangkah masuk. Dengan nada suara yang lembut, Kamila berkata kepada Adrian, "Adrian, minta maaflah padaku. Akui kalau kamu baru aja salah bicara dan berjanji nggak akan pernah menyebut kata cerai itu lagi. Juga, berjanjilah untuk berhenti minum alkohol dan aku akan menganggap kejadian tadi nggak pernah ada. Kita berdua tetap jadi suami istri seperti dulu lagi dan pulang ke rumah bersama-sama!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 100

    Adrian tidak mengetahui soal kejadian di sekolah khusus putri itu. Hari ini, pihak Rumah Sakit Pengobatan Tradisional kembali datang memintanya untuk melakukan operasi. Awalnya, Adrian mempelajari kondisi penyakit tersebut dan merasa itu cukup sulit, tetapi masih dalam batas kemampuannya, sehingga Adrian pun menyetujuinya.Pasiennya tetaplah seorang pria lanjut usia yang mengalami masalah pada jantung dan paru-parunya. Kondisinya sangat kritis. Awalnya, pasien itu hendak dikirim ke Rumah Sakit Umum agar Willy yang menjadi dokter bedah utamanya. Namun, karena akhir-akhir ini Rumah Sakit Umum terus-menerus mengalami masalah, keluarga pasien menjadi ragu.Di ruang konsultasi, Adrian terlebih dahulu berkata, "Pak Farid, Pak Johan, ada pepatah yang mengatakan kalau semua harus dibatasi. Ini sudah operasi ketiga. Apa rekan-rekan di Rumah Sakit Pengobatan Tradisional nggak keberatan dengan kehadiranku sebagai orang luar yang terus datang membantu operasi di rumah sakit kalian?"Adrian merenda

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 99

    Di luar dugaan Adrian dan Kamila, seorang tamu tak diundang mendatangi Rani di sekolah khusus putri tersebut. Tujuan awal Kamila menempatkan putrinya di lingkungan yang asing, bahkan mengatur asrama terpisah, adalah agar putrinya itu tidak diejek atau mendapat pengaruh buruk orang lain. Namun, saat ini terlihat jelas jika ada saja hal yang terlewatkan.Setelah selesai mengikuti pelajaran dan kembali ke asrama, Rani mendapati ada seorang wanita muda di sana. Usianya belum genap 30 tahun, wajahnya biasa saja, tetapi bentuk tubuhnya cukup bagus dan sintal, sampai-sampai membuat Rani berharap bisa memiliki tubuh seperti itu saat dia dewasa nanti."Apakah Anda guru baru? Atau siapa yang menyuruh Anda masuk untuk mencari saya? Kamila, atau siapa?""Oh?" Wanita muda itu merasa sedikit penasaran, apakah dirinya begitu mudah ditebak hanya dengan sekali lihat saja?"Sebelum masuk ke sekolah ini, saya sudah memeriksa seluruh data staf pengajar dan siswa di sini. Cuma Anda yang nggak ada di dalam

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 98

    Adrian segera mengisap rokoknya dalam-dalam, mencoba menekan niat jahat yang muncul di hatinya itu. Adrian terus memperingatkan dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang dokter, bukan tukang jagal dan bukan seorang pembunuh."Seberapa akrab kamu dengan istriku?" tanya Adrian."Soal itu, kamu harus tanyakan langsung pada Kamila, hehehe!""Aku sudah tanya, tapi dia nggak jawab. Tapi, aku tahu dia cuma menutup-nutupi. Pasti ada sesuatu yang terjadi di luar sana. Karena kamu sudah datang, katakan saja semuanya.""Dia nggak kasih tahu kamu, itu karena kamu nggak berhak untuk tahu!""Nggak berhak?""Benar, memangnya apa latar belakangmu? Apa kamu merasa pantas bicara denganku? Tadinya kamu nggak punya apa-apa. Cuma karena Kamila sudi menikah denganmu, barulah kamu bisa masuk ke kalangan atas. Meski begitu, kamu tetaplah terlihat hebat di luarnya saja. Penting bagi orang untuk menyadari posisinya sendiri!""Kata-kata seperti itu sudah pernah diucapkan oleh ayah mertuaku. Bagiku, 20 tahun masa

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 97

    Di Grup Hadinata.Kamila mengetahui jika Adrian kembali pergi memancing di tepi sungai. Dengan adanya pembantu muda yang membuntuti, Kamila tidak terlalu memikirkannya.Namun, saat melihat Adam masuk, hati Kamila tetap merasa cemas. Kamila pun langsung berkata, "Kenapa kamu datang tanpa diundang? Sekarang ada banyak orang yang mencari tahu tentang hubungan kita.""Masalah seperti ini sudah lama dicurigai orang. Kalau kamu terus menutup-nutupinya, itu malah bakal bikin orang makin curiga. Bagiku, mendingan kita bersikap kayak biasanya saja, bergaul secara terang-terangan.""Cuma karena itu? Kalau nggak ada urusan lain, pergilah.""Nggak ada urusan besar, cuma mau mampir sebentar, lalu malam nanti kita pergi minum.""Untuk saat ini nggak bisa, aku harus pulang.""Dokter di rumahmu itu pasti sedang kesal, ‘kan? Sudah membesarkan anak perempuan sebesar itu malah nggak mengakuinya dan malah mengakuiku. Oh ya Kamila, sebenarnya Rani itu anak siapa?""Ya, tentu saja anak suamiku.""Masa, sih?

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 96

    Hari itu, Adrian ingin keluar rumah. Pembantu muda itu kembali bersikeras untuk menjadi sopirnya."Kalau kamu pergi bersamaku, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan rumah? Pembantu sebelumnya dipecat karena nggak mengerjakan tugasnya dengan baik. Meski kamu orang baru, kalau kamu nggak bisa bekerja dengan baik, aku juga bisa memecatmu.""Ini tugas yang diberikan Bu Kamila kepada saya. Bu Kamila bilang, saya ini orang kepercayaannya!" Pembantu muda itu tidak takut dengan ancaman Adrian. Selama beberapa hari ini, dia juga sudah paham jika di vila ini, Adrian sebagai kepala keluarga, adalah orang yang paling tidak punya uang dan kekuasaan."Kalau kamu begitu patuh pada Kamila, bagaimana kalau dia suruh kamu tidur denganku, apa kamu juga akan menurutinya?""Waktu saya datang, Bu Kamila sudah kasih tahu kalau dia nggak akan mengajukan permintaan seperti itu. Selain itu, Bu Kamila secara khusus berpesan, kalau Anda berani berbuat macam-macam pada saya, Bu Kamila mengizinkan saya untuk mengha

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 95

    Di rumah.Setelah membaca resep yang diberikan Sofia, Kamila mendapati jika itu hanyalah resep obat biasa, tidak ada kode rahasia apa pun. Namun, hal itu membangkitkan kenangan Kamila bertahun-tahun yang lalu. Sejak mengalami menstruasi pertama, Kamila selalu merasa begitu kesakitan setiap kali datang bulan. Sampai akhirnya, Kamila mengenal Adrian. Setelah menikah, berkat perawatan dari Adrian, nyeri haid Kamila pun menghilang."Sofia, aku nggak nyangka kalau kamu ternyata mengalami nyeri haid.""Waktu kecil, aku pernah jatuh ke sungai saat musim hujan. Tubuhku kedinginan sampai ke tulang, dan sejak itu, setiap kali datang bulan, aku selalu kesakitan sekali. Tapi, mengenai kondisiku yang satu ini, aku nggak pernah menceritakannya pada siapa pun, apalagi pada Kak Adrian. Dia cuma memeriksa denyut nadiku, lalu langsung tahu semuanya. Sulit dipercaya!" Sofia sempat curiga apakah Adrian sudah menyelidiki latar belakangnya. Namun, meski begitu, hal yang bersifat sangat pribadi seperti rahim

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 7

    Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang me

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 2

    Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Adrian terbangun dari rasa pusing akibat mabuk berat dan menyadari jika dirinya sudah berada di sebuah tempat tidur hotel yang mewah dan besar.Di balik selimut, Adrian mendapati dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Melihat jejak-jejak kekacauan yang a

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 1

    Adrian Pramudya terpaku menatap tiga lembar hasil tes DNA di depannya. Tulisan "Dinyatakan Tidak Memiliki Hubungan Darah" di dalam stempel merah itu terlihat begitu menusuk mata.Ketiga putrinya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.Putri sulungnya berusia 15 tahun, putri kedua 11 tah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status