Share

Bab 4

Author: Galih Rembulan
Menghadapi tuntutan istrinya yang tidak masuk akal itu, Adrian tentu saja langsung menolaknya. "Nggak mungkin! Aku nggak salah bicara. Hasil tes DNA itu nyata, jadi perselingkuhanmu itu juga nyata. Kamu sudah nggak setia dan nggak suci lagi. Jadi, pernikahan kita nggak ada gunanya lagi dipertahankan. Kita harus cerai …."

"Adrian, aku sudah bicara baik-baik denganmu, tapi sikapmu malah seperti ini kepadaku? Apa kamu tahu sedang bicara dengan siapa? Kamu benar-benar berniat menantang batas kesabaranku, ya?"

Nada bicara Kamila, istrinya, kembali menjadi tajam. Dengan sikap yang merasa dirinya jauh lebih tinggi dari Adrian, Kamila menekan Adrian tanpa ampun.

Adrian terdiam, tetapi hatinya dipenuhi kekecewaan. Dia mengira istrinya akan berterus terang dan mereka bisa bercerai secara damai, bukannya malah menindas untuk memaksa dirinya mengalah.

Melihat Adrian diam saja, Kamila mengira suaminya itu mulai menyerah. Dia pun sedikit melembutkan nada bicaranya dan berkata, "Adrian, aku nggak berniat bertengkar denganmu. Aku datang ke sini untuk menemanimu menginap di hotel, menemanimu makan dan sekarang aku bahkan menurunkan gengsiku untuk bicara baik-baik denganmu. Aku sudah sangat menghargaimu. Harusnya kamu tahu diri dan berhenti sampai di sini. Sekarang, minta maaflah kepadaku dan ikut aku pulang."

'Dia ingin aku menuruti semua kemauannya, menjadi pria yang diselingkuhi, yang malang dan penurut' …. Adrian menahan amarahnya dan berkata, "Kamila, aku nggak salah. Dalam hal ini, kamulah yang keliru. Kenapa kamu malah memaksaku untuk minta maaf kepadamu?"

"Nggak, di situlah letak kesalahanmu."

"Aku nggak salah! Aku percaya pada hasil tes DNA itu. Kalau kamu nggak percaya, silakan lakukan tes ulang sendiri."

"Aku pasti akan melakukannya! Adrian, apa kamu tahu seberapa besar kesalahan yang sudah kamu perbuat? Kamu melakukan tes itu secara diam-diam tanpa persetujuanku, kamu bertindak semaumu sendiri! Apa kamu tahu seberapa besar ancaman dan krisis yang kamu timbulkan ke dalam pernikahan, keluarga, diriku dan anak-anak kita?"

"Aku nggak membeberkan masalah ini ke luar. Kalau nggak, aku pasti sudah langsung mencari orang tuamu untuk minta keadilan, atau aku akan langsung menggugatmu ke pengadilan."

Adrian justru merasa lucu mendengar hal itu. "Kamila, sekarang kamu tahu kalau perselingkuhan bisa membawa krisis bagi pernikahan, keluarga dan anak-anak, lalu kenapa kamu tetap melakukannya? Kalau kamu sudah nggak cinta lagi padaku, katakan saja langsung. Aku tahu diri dan akan pergi. Aku nggak bakal minta hartamu, juga nggak bakal bikin kamu merugi. Tapi, kamu malah membohongiku berulang kali, kamu sama sekali nggak menghargaiku."

Melihat Adrian mulai agak emosional dan menjadi keras kepala hingga sama sekali tidak mau mendengarkan perkataannya, Kamila sadar bahwa jika mereka terus bertengkar, pelayan ruang VIP itu bisa mendengarnya dan aib keluarga akan tersebar ke luar. Kamila pun memberi isyarat untuk menyuruh Adrian berhenti. "Ini bukan tempat yang tepat untuk bicara. Jangan bertengkar lagi, ikut aku pulang sekarang."

"Pulang? Rumah yang mana? Itu rumahmu, nggak ada hubungannya denganku!"

Adrian menolaknya. Istrinya berselingkuh dan ketiga anak perempuan di rumah itu bahkan bukan darah dagingnya sendiri. Selama masih punya harga diri, Adrian tidak akan pernah sudi kembali! Terlebih lagi, sekarang Adrian sudah membulatkan tekad untuk bercerai dan tidak sabar untuk segera memutuskan hubungan dengan istrinya.

"Kalau kamu nggak mau pulang sekarang, jangan pernah kembali lagi selamanya!"

Kali ini, Kamila benar-benar marah. Setelah melontarkan ancaman kejam itu, dia langsung pergi begitu saja.

Kepala Adrian masih terasa agak pusing. Dia pun pergi ke hotel terdekat untuk memesan kamar, mematikan ponselnya, lalu langsung ambruk ke tempat tidur dan tertidur lelap.

Jam delapan malam, Adrian terbangun. Setelah makan sedikit, dia kembali pergi ke bar yang dikunjunginya semalam. Adrian datang untuk mengembalikan uang, karena dia sudah mengetahui jika wanita berambut pendek yang menggunakan KTP-nya untuk memesan kamar hotel adalah wanita pemilik bar tersebut. Wanita itu juga yang sudah membayarkan biaya kamar dan uang deposit untuknya, jadi sekarang Adrian datang untuk mengembalikan uang itu.

Tak disangka, di depan pintu, Adrian justru berpapasan dengan Ferry Giandra, yang merupakan teman sekelas sekaligus rekan kerjanya. Adrian melihat Ferry sedang digandeng oleh seorang wanita muda yang seksi, yang tubuhnya menempel erat pada Ferry.

Adrian sempat ingin menyapa, tetapi Ferry justru memalingkan wajah dan sengaja berpura-pura tidak melihatnya. Adrian baru ingat jika dengan status yang dimiliki Ferry, mendatangi bar seperti ini memang sangat tidak pantas bagi Ferry.

Mengingat kembali apa yang terjadi semalam, punggung Adrian tiba-kira terasa dingin karena merinding. Jika wanita yang membawanya pergi semalam berniat jahat kepadanya, reputasinya pasti akan hancur lebur.

Melihat Ferry pergi bersama wanita itu dengan menggunakan sebuah mobil, hati Adrian jadi merasa tidak enak.

Saat kuliah dahulu, nilai akademis Ferry jauh di bawah dirinya. Setelah masuk ke rumah sakit pun, kemampuan medisnya masih jauh mengungguli Ferry. Namun, sekarang, Ferry sudah memiliki jabatan tinggi. Ferry menjabat sebagai Wakil Kepala Bagian Rawat Inap dan menjadi atasan langsung Adrian.

Dalam urusan rumah tangga dan pernikahan, Kamila sudah membohonginya selama belasan tahun. Sementara dalam urusan karier dan pekerjaan, Adrian malah dipimpin oleh seseorang yang tidak punya kapasitas akademis, juga memiliki moralitas yang bobrok. Makin memikirkannya, Adrian pun makin merasa terhina dan tidak berdaya ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 274

    Kamila merasa Sita itu gila, benar-benar gila. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa datang ke rumah dan mengatakan hal seperti itu. Kamila pun menelepon Adrian, tetapi tidak ada yang mengangkat teleponnya."Adrian, kamu nggak pulang hari demi hari. Berapa banyak orang yang ingin kamu sakiti?"Kamila benar-benar kesal. Kebakaran yang melanda Grup Hadinata sama sekali di luar prediksinya dan hingga kini masih belum diketahui siapa pelakunya. Tentu saja, melalui proses eliminasi, mereka sudah mencoret kemungkinan keterlibatan faksi ibu kota.Samar-samar, Kamila dan timnya merasa jika masih ada kekuatan lain di Kota Raksi yang arogan, tidak berperikemanusiaan dan sangat berbahaya. Mereka harus menemukan kekuatan itu dan kemudian menghancurkannya!Di Kota Raksi, tidak boleh ada keberadaan yang sekuat itu.Kamila pun kembali ke kamar dan melihat Rani sedang menguping. Kamila lalu berkata, "Mau ngapain lagi kamu? Kalau ingin mencari tahu urusan ayahmu, tanyakan saja terang-terangan. Ayahmu

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 273

    ‘Apa dia sengaja memancingku agar aku menunjukkan kelemahan?’Adrian tahu betul di dalam hati. Dia bertukar pandang dengan Sita, lalu tersenyum lega. Adrian memutuskan untuk menganggap Sita tidak ada. Dia lalu membuka dokumen di komputernya dan mulai bekerja.Melihat Adrian merapikan rekam medis dan membalas email dari para dokter di departemennya, yang berisi pertanyaan medis dan beberapa kasus klinis yang sulit, Sita pun berkata, "Kamu buang-buang waktu dengan melakukan pekerjaan ini. Kamu nggak pantas memegang jabatan wakil kepala departemen dan ketua tim medis rumah sakit.""Kalau begitu, katakan padaku, apa yang harus kulakukan?" Adrian menanggapi dengan santai dan balik bertanya."Kamu seharusnya berada di garis depan ruang gawat darurat, menggunakan kemampuan medismu untuk menyelamatkan nyawa pasien semaksimal mungkin.""Kamu benar. Tapi, lain kali nggak usah mengatakannya lagi." Adrian meminta kepala perawat masuk untuk memberikan beberapa tugas, lalu dia pergi menemui Mirza.M

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 272

    "Dokter Adrian, ini Sita Nandana. Dia dijuluki Dokter Sakti Cilik Kota Raksi. Dia ingin mengetahui rencana pengobatanmu untuk Emir, serta pemikiranmu mengenai hal itu." Direktur sementara memperkenalkannya pada Adrian."Terima kasih atas bantuannya, Dokter Adrian. Aku datang atas perintah, mohon maaf kalau mengganggu." Sita si Dokter Sakti Cilik itu tersenyum dan mengangguk, tetapi tatapannya tetap tertuju pada Adrian.Dokter Sakti Cilik? Jika itu bukan sekadar pujian, dengan usia semuda itu sudah menyandang gelar tersebut, jelas menunjukkan kemampuan medis Sita luar biasa. Keluarga Nandana di Kota Raksi ini benar-benar memiliki fondasi yang sangat kuat. ‘Aku belum pernah melihat rekam jejak pengobatan Dokter Sakti Cilik ini dan bahkan belum pernah mendengarnya sama sekali. Benar-benar misterius. Pantas menjadi anggota keluarga misterius ….’ Adrian mulai menjadi serius dan tertekan di dalam hati. Namun, dia sudah punya strategi. Adrian lalu membuka ponselnya, mencari berkas pemeriksaan

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 271

    Adrian langsung ditanya balik oleh Rani, "Apa yang kamu katakan itu benar? Apa nama keluargaku benar-benar Nandana? Siapa nama ayah kandungku?"“Sejauh ini, aku cuma berhasil menyelidiki sampai di sini. Tanyakan pada Kamila. Kamu baru akan tahu, kalau dia memberitahumu. Rani, sekarang kamu benar-benar sudah bisa membanggakan diri.”Adrian menutup teleponnya, lalu kembali merokok dan kembali berpikir. Dia mulai merasa agak menyesal. Seharusnya dia mengambil sedikit sampel biologis dari Hardi, sebaiknya darah atau semacamnya, sehingga bisa digunakan untuk tes DNA. Jika Rani dan yang lainnya benar-benar anak Hardi, dia tidak perlu lagi tersiksa oleh masalah ini. Sisanya, terserah pada bagaimana Kamila memilih dan menjelaskannya.Saat ini, Kamila sibuk menangani dampak negatif dari kebakaran Grup Hadinata. Kamila sama sekali tidak punya waktu untuk menemui Adrian.Larut malam, Adrian menerima pesan dari Lindri, lalu keduanya berbicara melalui telepon."Kamu lagi nggak sama Hardi?""Kekasih

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 270

    "Keluarga lapisan misterius? Keluarga Nandana?"Berkat kebangkitan Kamila, Keluarga Hadinata yang awalnya merupakan keluarga kelas menengah ke atas, langsung terdorong naik menjadi salah satu keluarga papan atas di Kota Raksi.Tentu saja, jika dilihat dari skala nasional, Keluarga Hadinata tetaplah termasuk keluarga kelas menengah ke atas.Setelah menutup telepon, Adrian berdiri di dekat jendela sambil merokok. Dia menatap pemandangan jalan di luar rumah sakit. Makin jauh suatu benda, makin kecil dia terlihat."Saat ini, kalau aku adalah pejalan kaki di jalan di bawah sana, orang Keluarga Nandana adalah para pengamat yang berdiri di ketinggianku ini. Mereka berada di atas sana dan hampir nggak dikenal oleh rakyat jelata. Itu sebabnya, mereka tampak begitu misterius. Tapi, kenyataannya, mereka juga manusia biasa, sama-sama makan nasi dan sayur, juga sama-sama mengalami kelahiran, penuaan, penyakit dan kematian!""Hardi juga manusia biasa. Dia nggak punya tiga kepala dan enam lengan."Ad

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 269

    Kondisi Hardi sebenarnya tidak terlalu parah. Namun, karena latar belakangnya terpandang, tetap saja diadakan beberapa kali konsultasi medis dengan para spesialis. Tentu saja, masalah utamanya tetap terletak pada rombongan Keluarga Nandana yang mendampinginya. Mereka berharap rumah sakit bisa menyusun rencana yang sempurna, agar masalah Hardi bisa diselesaikan dengan tuntas.Adrian berpegang pada batas kemampuan seorang dokter. Dia tidak memberikan jaminan yang berlebihan mengenai pengobatannya, sehingga dia hanya menyuruh Hardi untuk tetap tinggal dan dirawat di rumah sakit.Selama pengobatan itu, Adrian tidak pulang ke rumah dan tidak berinisiatif menghubungi Kamila. Apa pun yang dilakukan Kamila, tidak ada hubungannya dengan dirinya.Siang hari berikutnya, Hardi sadar dan merasa dirinya sudah sehat kembali. Dia lalu mencabut selang infus tanpa berkonsultasi dengan dokter dan langsung keluar rumah sakit begitu saja.Adrian memberitahukan hal ini kepada direktur sementara, meminta Kel

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 2

    Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Adrian terbangun dari rasa pusing akibat mabuk berat dan menyadari jika dirinya sudah berada di sebuah tempat tidur hotel yang mewah dan besar.Di balik selimut, Adrian mendapati dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa. Melihat jejak-jejak kekacauan yang a

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 1

    Adrian Pramudya terpaku menatap tiga lembar hasil tes DNA di depannya. Tulisan "Dinyatakan Tidak Memiliki Hubungan Darah" di dalam stempel merah itu terlihat begitu menusuk mata.Ketiga putrinya sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya.Putri sulungnya berusia 15 tahun, putri kedua 11 tah

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 7

    Menghadapi tatapan menyelidik Haris, Adrian pun berkata, "Ini benar. Awalnya aku juga nggak percaya dengan kenyataan ini. Makanya, aku melakukan beberapa kali tes. Tapi, hasilnya … kesimpulannya selalu sama."Haris tidak terburu-buru untuk berbicara. Dia menatap Adrian dengan tajam, seakan sedang me

  • Kebangkitan Sang Patriark   Bab 6

    Mendengar hal itu, Adrian yang sudah bersiap sejak awal tidak takut untuk membalas tatapan istrinya. "Kamila, kamu sekarang orang terkaya di Kota Raksi. Kekayaanmu diperkirakan mencapai 160 triliun. Aku nggak bakal jadi orang yang serakah dan minta setengah dari kekayaanmu, karena itu bukan aku yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status