LOGIN
Langkah Elvara tertatih menyusuri lorong kapal yang sempit dan berkarat, gaun pengantinnya robek, ujungnya penuh noda karat dan oli. Nafasnya tersengal. Di belakangnya, suara langkah kaki para pria berjas hitam semakin mendekat.
Orang-orang itu, kaki tangan Rheiner dan Rachel, entah salah satu dari mereka atau keduanya. Mereka pasti sudah menyadari bahwa dia berhasil melarikan diri dari ruang mesin, ruangan panas, bising dan pengap tempat mereka mengurungnya sejak beberapa jam yang lalu.
“Cepat! Dia ke arah dek belakang!”
Suara itu menggema menembus gemuruh ombak dan gemeretak kapal. Elvara berbelok, bersembunyi di balik tumpukan pelampung, tangannya gemetar, ponsel dengan baterai sekarat tergenggam di tangannya yang basah oleh keringat.
“Cari dia, atau Tuan Rheiner akan buat perhitungan ke kita semua!”
Rheiner. Siapa sangka? Calon suaminya, lelaki sempurna yang sangat dia cintai dan akan menikahinya hari ini, dengan pernikahan indah di atas kapal pesiar mewah miliknya, justru menjebak dan mengurungnya di kapal ini. Entah apa tujuannya.
Karena lagu-lagunya? Perusahaan milik Rheiner hendak mengambil alih hak ciptanya? Rasanya itu alasan yang terlalu receh untuk tindakan ekstrim yang mereka lakukan. Dia tidak sehebat itu. Dia hanyalah anak panti yang kebetulan dikenal di media sosial karena salah satu lirik lagu yang ditulisnya viral.
Suara langkah kaki makin dekat. Vara mengendap-endap menjauh. Berusaha melarikan diri dari kapal itu, tapi tidak tahu bagaimana. Mereka ada di tengah lautan. Lompat sama sama saja dengan cari mati.
Seseorang harus tahu.
Ayuna. Teman satu pantinya.
Satu dering. Dua dering. Tersambung.
“Yun ... tolong … Rhei menipuku! Tidak ada pernikahan! Tolong aku, Yun!” bisiknya dengan napas tercekat. Ketakutan membuatnya tidak bisa merangkai kata dengan lebih baik.
Ingin rasanya Vara merutuki kebodohan dan kenaifannya sehingga bisa masuk dalam perangkap Rheiner.
Andai dia mendengarkan peringatan Ayuna dan nasihat Madam Elya. Pasti dia tidak akan berakhir di sini. Madam Elya pernah bilang, menikah dengan pria kaya tidak selalu membawa kebahagiaan, malah kadang hanya mengundang penderitaan. Sementara Ayuna yang frontal selalu bilang bahwa Rheiner hanya memanfaatkannya. Tidak tulus.
Saat itu, Vara menganggap Ayuna hanya iri pada keberuntungannya dan berusaha menghalangi kebahagiaannya. Bodohnya dia.
“Vara? Kamu di mana? Menipu gimana?” seru Ayuna.
“Bilang ke orang-orang, Rheiner Pranata dan Rachel Selina penipu, mereka ....”
“Ra? Kamu ngomong apa? Kamu ke mana? Kamu lagi viral! Lihat media sosial! Kabar kamu kabur dari pelaminan, bersama selingkuhanmu, meninggalkan Rheiner sudah viral ke mana-mana ....!”
Apa? Selain menyekapnya, mereka juga memfitnahnya. Jahat sekali.
“Nggak, Na. Itu bohong! Mereka ....”
“Kamu tahu, kamu bikin Madam Elya shock dan kena serangan jantung!” Suara Ayuna terdengar marah. Sebagai sesama anak panti, bagi mereka Madam Elya adalah ibu sekaligus bapak. Satu-satunya figur orang tua yang mereka punya.
“Na, please dengerin aku!” Terdengar tidak tahu diri dan tidak peduli pada wanita yang selama ini merawatnya, tapi nyawa Vara sendiri di ujung tanduk.
Langkah kaki kembali terdengar. Lebih dekat. Lebih berat.
“Naa! Yunaa! Lapor polisi, Na! Rheiner Pranata menculikku, menawanku di kapal ....” Hanya kebisuan di ujung sambungan. Entah Yuna masih mendengarkan atau tidak.
Sinar senter menyorot wajahnya.
“Dia di sini!” seru salah seorang di antara mereka.
Elvara berusaha kabur lagi, tapi lengannya dicengkeram dan ditarik kasar.
Rachel muncul, sepatu hak tingginya mengetuk keras dek kapal.
Wanita yang selama ini mengaku sebagai sepupu Rheiner itu menatapnya tajam.
“Mau kabur ke mana?” Dia tersenyum miring penuh penghinaan. Matanya menatap ponsel di tangan Vara.
“Siapa yang kau hubungi?” Tangannya bergerak menjambak rambut Vara, membuat gadis sembilan belas tahun itu mengaduh kesakitan.
“Tidak mau mengaku?” Dirampasnya ponsel itu. Tapi untunglah ponsel itu sudah mati karena kehabisan baterai. Rachel mengumpat kesal dan melemparkannya ke lautan.
“Sayang, ada apa?” Rheiner muncul. Masih dengan jas pengantinnya.
Sayang? Vara ingin muntah mendengar Rheiner memanggil gadis yang selama ini diakuinya sebagai sepupu dengan panggilan sayang yang menjijikkan itu.
Sepupu. Nyatanya mereka sepasang kekasih.
Vara ingin sekali memaksa Rheiner mengaku, kenapa dia mendekati dirinya, membuatnya jatuh cinta, dan meyakinkannya untuk menikah lantas membuatnya berakhir di kapal ini sebagai tawanan, tapi dia tahu itu sia-sia. Rheiner tidak akan buka mulut. Mereka punya rencana entah apa.
“Apa saja yang sudah kau bilang ke orang yang kau telpon? Jawab aku, yatim!” bentak Rachel.
Vara bungkam. Mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang berceceran.
Rachel menamparnya.
“Harusnya aku yang butuh jawaban! Kenapa kalian menipuku? Kalian bahkan menyebarkan hoax bahwa aku kabur dari pernikahan!” Vara berteriak marah. Membuat Rachel kembali menamparnya.
“Hentikan, Rachel!” Rheiner akhirnya bersuara.
“Kenapa? Kau simpati padanya? Atau mulai suka?” Rachel menatap pemuda bermata coklat itu tajam.
“Bukan begitu, tapi ....” Rheiner melirik Vara sekilas, wajah yang selalu lembut bak pangeran itu kehilangan ronanya.
“Apa salahku, Rhei?” Vara berusaha agar Rhei menatapnya, tapi pemuda itu langsung membuang muka.
“Jangan mencoba menggoda pacarku, sialan!” Rachel meradang. Kembali menampar kedua pipinya dengan membabi-buta.
“Kau yang sialan! Aku akan selamat dari sini dan membersihkan nama baikku. Kedok kalian akan terbongkar! Aku bersumpah!” Vara bersuara lantang.
Rachel mencibir, lalu menoleh ke seorang pria di belakangnya. “Felix, bawakan asam sulfat!” Perintah Rachel pada salah satu anak buahnya.
“Apa? Kau gila?” sergah Rheiner. Wajahnya terbelakak. Dia tidak terlihat tampan lagi, melainkan menakutkan.
“Kita semua akan mendekam di penjara kalau dia bicara!” Rachel meraung. “Cepat!”
Beberapa detik kemudian, botol kecil berisi cairan bening itu diserahkan ke tangan Rachel. Ia mendekat.
“Siapa teman yang kau hubungi tadi? Beritahu nomornya, dia akan membatalkan usaha apa pun untuk menyelamatkanmu, atau wajahmu akan berubah jadi monster paling menyeramkan! Di dunia!”
Vara menggeleng. Sememaksa apa pun, Rachel tak akan berhasil membuatnya buka mulut. Tetapi mau tak mau, ia menatap ngeri cairan bening dalam botol itu.
“Kamu bikin semuanya jadi runyam, yatim! Rasakan ini!”
Vara menjerit, mencoba melawan, tapi dua pria menahannya. Cairan itu menyambar wajahnya.
Jeritan Vara mengguncang udara malam. Tubuhnya menggeliat liar, terjatuh, menggelapar seperti ikan yang dilemparkan ke bara api.
Rasa panasnya bukan sekadar panas. Rasanya wajahnya dijilat neraka. Dagingnya melepuh, matanya seperti terbakar dari dalam. Uap putih tipis mengepul dari pipi dan dahi.
Tangisnya berubah jadi erangan rendah, seperti hewan sekarat.
Ia berguling, mencengkeram wajahnya. Sebelah matanya sudah tak bisa dibuka. Suaranya pun mulai tak terdengar jelas.
“Rachel, kau gila!” raung Rheiner. Berusaha menjangkau Vara tapi Rachel menyambar tangannya. Menjauhkannya dari Vara.
“Gila? Aku baru saja menyelamatkan nama keluargamu, Rhein. Ibumu terlalu lembek. Mengurungnya tidak akan menyelesaikan apa pun. Apalagi masalah kalian. Melenyapkannya adalah keputusan terbaik!”
“Ini berlebihan, Rachel!” Suara Rhei terdengar putus asa, "Kau kejam!"
Rachel menatap tubuh yang mengerang itu dengan dingin. Matanya menyipit, lalu menoleh ke salah satu pria di belakangnya.
“Ergan,” katanya datar. “Ambil jarum suntik.”
Rheiner menoleh cepat. “Untuk apa lagi?! Rachel, dia, dia sudah sekarat!”
Rachel tidak menghiraukan. “Ambil darahnya sekarang. Sedikit saja cukup. Kita harus berjaga-jaga, kalau laki-laki itu itu kembali dengan keraguannya!”
Anak buah Rachel yang dipanggil Ergan membuka tas hitam kecil, mengeluarkan satu tabung suntik steril, lalu jongkok di samping Elvara. Ia menyingsingkan lengan gaun yang sudah koyak, mencari urat nadi yang masih berdetak.
“Dia... dia bahkan hampir tidak sadar,” gumam Rheiner, wajahnya diliputi kebingungan dan ketakutan.
Rachel mendekat, memandangi proses itu tanpa berkedip. “Justru itu bagus. Dia tidak akan melawan.”
Jarum menembus kulit Vara. Darah mengalir perlahan ke dalam tabung bening.
Senyum kecil muncul di sudut bibir Rachel.
“Bawa kapal ini ke tengah laut, perintahnya begitu Ergan menyelesaikan tugasnya. Dalam sekejap, kapal itu bergerak cepat. Vara masih meringkuk di lantai, bergelut dengan rasa sakit di wajahnya.
“Lemparkan dia!” Rachel menoleh ke Vara yang masih menggeliat kesakitan di lantai kapal.
“Dia tidak bisa berenang. Anak-anak pernah panti bilang. Dia tidak akan selamat.”
Seorang pria mengangkat tubuh lemas Vara yang masih mengerang lirih. Membawanya ke tepi geladak.
Vara merasakan tubuhnya melayang sesaat sebelum menghantam permukaan air. Rasa sakit di wajahnya menjadi berkali-kali lipat. Wajahnya seperti dikoyak-koyak.
Cairan asam yang belum meresap sepenuhnya kini bercampur dengan garam laut. Rasanya seperti terbakar dan dibekukan pada saat yang sama.
Nafasnya tercekat. Matanya, atau apa yang tersisa darinya, perih luar biasa. Air masuk ke tenggorokannya. Ia tersedak. Tubuhnya menolak bertahan.
Kesadaran mulai memudar.
Samar-samar, suara Rachel masih terngiang. “Dia tidak bisa berenang.”
Benar. Ia tidak bisa berenang. Air adalah musuhnya sejak kecil. Ia takut tenggelam. Dulu, semasa kecil, dia pernah hampir mati tenggelam saat menolong teman pantinya yang mengalami keram di kolam renang.
Dan apakah sekarang dia akan mati?
Mati, tanpa sempat mengenal siapa orang tuanya. Tanpa sempat meraih mimpinya sebagai seorang penulis lagu yang melihat lagunya dinyanyikan jutaan orang. Mimpi yang sudah ia miliki sejak usia dua belas tahun. Ketika menemukan piano tua di gudang panti.
Tapi dia tidak mau mati. Apalagi mati sebagai korban yang membiarkan pelakunya melenggang bebas.
Tapi ia sudah tidak punya tenaga untuk menyelamatkan diri. Seluruh tenaga seperti menguap darinya dan bertukar dengan rasa sakit tiada tara. Apakah ini saatnya menyerah?
Namun saat napas terakhirnya nyaris lenyap, sesuatu merengkuhnya. Hangat. Bertolak belakang dengan dingin laut. Lembut seperti lengan ibu yang tak pernah ia kenal.
Ada sesuatu … atau seseorang yang merengkuhnya.
Ia tak tahu bentuknya. Apakah itu tangan manusia? Atau ilusi kematian?
Vara ingin membuka mata, tapi tidak bisa. Dan perlahan, seiring ayunan ombak lautan, kesadarannya pun menghilang.
El menatap sekelilingnya, matanya waspada. Para anak buah Nyonya Pranata, yang tampaknya seperti preman-preman sewaan yang biasa hidup di jalan. Elvara versi lama pasti akan gemetar ketakutan saat ini, sembarang melangkah, tersandung hingga rebah, tapi itu dulu. Terpujilah Kael yang mengajarinya bahwa hidup itu keras, membawanya ke lingkungan tempat orang-orang sejenis berandal yang mengepungnya ini tinggal.“Lihat mereka, perhatikan wajahnya lekat-lekat, tatap balik matanya. Mungkin suatu saat, kamu akan berada pada situasi harus berhadapan dengan mereka.”Kala itu, El hampir kabur ketakutan, padahal anak buah Kael hanya mengulurkan tangan, seraya menyeringai genit. Dia bersembunyi di belakang punggung kekar Kael, sampai Kael menyuruh orang itu pergi. Tapi kali ini, tidak punggung Kael yang akan melindunginya. Dia harus mengatasi hal ini sendiri.El memasang kuda-kuda, preman-preman itu tertawa meremehkan. Satu dari mereka menjajal maju, El mengelak dengan mulus, satu yang lain berg
“Bergerak, Bar!” Perintahnya pada Barat. Barat mengangguk singkat, mengetik pesan di ponselnya, lantas kedua pemuda selisih dua tahun itu bergegas kembali ke mobil.***“Pico!”“Apa itu artinya?”“Tolol!”“Hah?”“Ya, kamu. Jauh di atas tolol!”Potongan percakapannya dengan Kael terbertik lagi di benaknya. El benci mengakuinya, tapi memang nyatanya demikian. Dia jauh di atas tolol. Sudah tahu, ada yang tidak beres pada temannya ini, tetapi kenapa dia masih menurut untuk dibawa pergi.Kecurigaan itu datang di toilet warung. Ketika dia menatap wajahnya di cermin. Wajah yang seratus delapan puluh derajat berbeda dari wajah aslinya. Seperti langit dan Bumi, seperti wajah gadis kampung dan aktris Korea. Tidak ada setitik pun kemiripan. Lantas, bagaimana Ayuna bisa mengenalinya di detik pertama? Tanpa ragu menyapanya? Pasti ada yang memberikan informasi padanya, dan Ayuna tiba-tiba muncul pasti dengan maksud lain.“Yun, kita mau ke mana?”“Ke tempat yang kamu suka.” Ayuna tersenyum manis, ti
Chapter 17“Di gudang muatan!” Seru Barat pada Kael. Barat dan Kael turun dari mobil dan buru-buru menuju lokasi yang ditunjukkan oleh tracker di handphone Barat. Suasana dermaga pukul satu siang lumayan ramai. Bongkar muat terjadi di beberapa kapal angkut yang siap berangkat, beberapa tujuan luar kota, dan beberapa akan berlayar jauh ke luar negeri.Sebuah pikiran buruk hinggap di benak Kael, jangan-jangan ini ulah keluarga Pranata lagi, istri Rheiner yang sejak awal mencurigai Ellya adalah Elvara yang berhasil selamat dan mengganti wajah, berniat kembali melenyapkan gadis itu.Tak ada El di gudang muatan. Hanya ponselnya yang tergeletak di antara tumpukan peti kemas, tersembunyi di sudut ruangan, hampir tak terlihat. Kael menatap nanar ponsel yang diberikannya untuk El itu. Tangannya gemetaran. Napasnya memburu. Ini jebakan.Seseorang mengambil handphone gadis itu tanpa sepengetahuannya, pasti untuk mengaburkan jejaknya.“Bar, dia di mana Bar?” Suara Kael seperti tercekat di tenggor
Chapter 16Lagu ciptaan El lolos menjadi salah satu lagu yang akan dibawakan oleh Kirani Lingga, yang akan rilis di bawah naungan Vermillion Group. Langkahnya semakin mendekat ke keluarga Pranata juga Adrasta. Hari ini dia akan tanda tangan kontrak resmi di hadapan notaris dan para pemegang saham, termasuk Nyonya Rheiner, mantan calon mertuanya.Jantungnya berdegup kencang ketika melangkah memasuki ruang penandatanganan kontrak. Ketika itu, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi whatsapp dari nomor tak dikenal masuk. Elvara sejenak malas membukanya, tetapi ia terbelakak menatap foto profil pengirim pesan itu. dia kenal foto itu. sangat amat kenal. Tapi tidak mungkin kan ... Kael bilang ....[Vara, ini Yuna.][Kita harus bertemu.]Yuna? Ayuna? Ayuna masih hidup dan berhasil selamat dari kecelakaan yang diceritakan Kael?[Sekarang, Ra. tidak ada waktu lagi!]Pesan terakhir terkesan mendesak. El menatap pintu ruang meeting. Dia harus mendapatkan kontrak itu untuk melangkah lebih jauh dala
“MA yang disebut-sebut oleh orang-orang di kampus, adalah ... Michael Anthony? Itu benar-benar kau, Kael?”Kael membuang muka. Diam seribu bahasa. Dia menghela napas, kemudian berjalan meninggalkan El. Tapi El tidak sudi ditinggalkan tanpa penjelasan lagi. Sudah terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, dia harus memburu jawabannya/“Tunggu, Kael!” El menangkap lengan kekar pria itu, berusaha menahannya, meskipun kalau Kael benar-benar menggunakan tenaganya, badan mungilnya dengan mudah akan terpental.“Aku sibuk!” Kael menepisnya, meskipun kentara sekali wajahnya kesal, dia masih menyingkirkan tangan El dengan lembut, selembut yang mungkin dilakukan oleh orang yang hendak marah-marah dan melemparkan sesuatu.“Kael, itu tidak adil. Kau tahu segala hal tentang aku, kau mengajakku untuk bekerja sama membalas Rheiner dan keluarga Pranata, memintaku jadi sekutu, tapi bagaimana mungkin aku bersekutu dengan orang yang sama sekali aku tidak tahu?”“Elvara, tidak semua hal ....”“Apa
“El, bangun, El! Suara Tara terdengar berisik di telinganya. Yang benar saja. Sepagi ini. Padahal semalam dia harus begadang hingga jam tiga pagi untuk merevisi lirik lagunya.“Bangun! Buruan!”“Apa sih, Ta?”“Nggak ada waktu buat mengejelasin. Pokoknya kamu bangun, cuci muka. Nggak usah mandi, buruan kumpul ke meja makan! Siaga satu dalam waktu sepuluh menit!”“Apaan sih. Kalau nggak?”“Kamu siap-siap angkat kaki dari sini!” Tara menarik selimutnya, membuka jendela, lantas menghidupkan lampu.“Tapi ...!”“Sepuluh menit, El! Atau kamu dalam masalah yang tidak ada seorang pun bisa membantu, bahkan Kael!”Tara meninggalkan kamar. El mengernyit keheranan. Tidak ada yang bisa membantunya bahkan Kael? Memangnya ada yang lebih berkuasa dari Kael di tempat ini? El bangkit dari kasur. Segera ke kamar mandi dan mencuci muka.Ketika turun ke lantai dasar, meja makan sudah penuh dengan seluruh anggota rumah singgah. Berpakaian rapi, duduk tertib dengan piring, sendok, garpu serta segala hal tert







