แชร์

Bab 1519

ผู้เขียน: Imgnmln
last update วันที่เผยแพร่: 2025-11-15 20:49:49

Semua kepala serempak menoleh. Seorang bocah belasan tahun berdiri gemetaran, jelas berniat kabur setelah meneriakkan kalimat itu, tapi ratusan pasang mata telah mengkhianatinya.

Ryuki menoleh dengan tatapan dingin. “Cari mati!”

Dia mengangkat telapak tangan. Qi gelap berputar dan serangan yang bisa meremukkan tulang dihembuskan ke arah anak itu. Kerumunan buru-buru mundur. Bocah itu membeku, wajah pucat memutih.

Namun tepat sebelum serangan menyentuh, sebuah kekuatan lain memotong jalurnya. “R
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Arliza Syaril
tggu smbungan slepas mampu kluarkn pelir besar drp lubang jubur penulis
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1828

    Namun kemarahan mulai muncul.Bisik-bisik berubah menjadi cacian, lalu meningkat menjadi teriakan penuh emosi. Banyak keluarga dan klan yang merasa dipermainkan. Tapi di saat yang sama, tidak ada yang cukup percaya diri untuk melangkah maju sendirian.Nathan mengamati semuanya dengan tenang. Tatapannya tajam, membaca arah situasi yang mulai memanas.Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat ringan. “Kita mundur dulu.”Nada suaranya terdengar datar, tapi jelas mengandung keputusan.Raze, Nalan, Kieran, serta yang lain langsung memahami maksudnya. Mereka bergerak perlahan, menarik pasukan mereka menjauh dari garis depan, memilih keluar dari pusaran konflik yang mulai terbentuk.Dan benar saja, tak lama setelah itu, kekacauan pecah.Beberapa pihak yang tidak tahan lagi mulai menyerang, mencoba membuka jalan dengan paksa. Sementara itu, kelompok Alric merespons tanpa ragu, serangan dibalas dengan serangan, benturan energi memenuhi udara.Percikan cahaya dari benturan senjata berhamburan, su

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1827

    Angin di sekitarnya seolah ikut melambat.“Aruna…”Whooshh—!Dalam satu gerakan ringan, Pedang Aruna muncul di tangannya, bilahnya bergetar halus, memancarkan cahaya merah yang langsung menyelimuti area di sekitarnya. Aura tajamnya menyebar tanpa ditahan, menekan ruang di sekelilingnya hingga beberapa orang tanpa sadar mundur setengah langkah.Udara terasa begitu berat.Di sudut kerumunan, Rudeus langsung mengangkat kepala, matanya membesar saat menangkap aura pedang itu.“Pedang spiritual…?”Nadanya nyaris berbisik, tapi penuh ketertarikan. Tatapannya berubah dipenuhi keserakahan.“Orang ini bukan dari dunia fana biasa,” gumamnya pelan. “Pedang seperti itu tidak mungkin dimiliki tanpa latar belakang dari Sektor Bayangan.”Namun Nathan sama sekali tidak memedulikan tatapan itu. Seluruh fokusnya sudah terkunci pada Inti formasi.Kekuatan Taiju mulai mengalir ke dalam Pedang Aruna, perlahan namun pasti, membuat getaran bilahnya semakin kuat.BZZZT!Suara dengungan rendah terdengar, sepe

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1826

    Riven langsung menyela dengan nada penuh sinisme. “Kalau tahu, kenapa tidak dari tadi bergerak? Atau kamu menunggu kami capek dulu supaya bisa ambil keuntungan sendiri?”Nathan bahkan tidak menoleh, nada suaranya tetap datar saat menjawab. “Apa yang kulakukan bukan urusanmu.”Kalimat itu jatuh ringan, tapi cukup untuk membuat suasana langsung menegang.Riven terdiam, rahangnya mengeras. Namun tidak ada bantahan yang keluar.Alric mengamati itu semua dengan saksama sebelum akhirnya membuka suara lagi. “Kalau kau bisa menghancurkan formasi ini, aku akan membiarkanmu masuk bersama kami ke dalam.”Namun Nathan hanya menggeleng pelan. “Aku bisa menghancurkannya,” ucapnya santai, “Tapi aku tidak tertarik masuk bersama kalian. Kalian saja yang duluan.”Kalimat itu membuat beberapa orang mengernyit.Riven bahkan mencibir tanpa menahan diri. “Kau takut?” katanya sinis. “Atau kau sudah tahu di dalam ada sesuatu yang tidak bisa kamu tangani?”Nathan hanya tersenyum tipis.Kerumunan langsung berg

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1825

    Di sisi lain, Kaidar yang bersembunyi di sudut memperhatikan semuanya dengan gelisah. Sorot matanya bergerak cepat, menghitung, menimbang, lalu akhirnya tak bisa menahan kekhawatiran yang mulai naik ke permukaan.“Tuan Abyss, dengan kekuatan sebanyak itu ditambah senjata tingkat Origin saja masih tidak cukup. Kalau mereka tidak bisa menghancurkannya, bukankah rencana kita akan berantakan?”Suara itu terdengar pelan, tapi jelas.Entitas di dalam dirinya langsung merespons, nada suaranya terdengar dingin. “Sekumpulan orang yang hanya tahu menggunakan tenaga tanpa otak. Menghancurkan formasi bukan soal siapa paling kuat, tapi siapa yang tahu di mana inti penguncinya. Dengan jumlah sebanyak itu, tidak ada satu pun yang bisa membaca struktur dasar formasi benar-benar memalukan.”Sementara itu, di garis depan, tekanan dalam tubuh Alric terus meningkat. Gagal satu kali masih bisa diterima, tapi dua kali kegagalan di hadapan begitu banyak orang jelas bukan sesuatu yang bisa dia abaikan.Reput

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1824

    Nathan mengangguk pelan, ekspresinya tetap santai seolah pertanyaan itu tidak berarti banyak.“Satu tebasan cukup.”Jawaban itu terdengar ringan. Namun tidak ada kesombongan di sana, hanya kepastian.Nathan sudah menemukan titik inti formasi itu sejak awal. Dengan kendali energi miliknya, ditambah Pedang Aruna, menghancurkan lapisan ini bukanlah masalah.Tapi dia tidak bergerak. Matanya menyipit tipis, memperhatikan sekitar. Ia sedang menunggu.Kaidar dan Empat Ksatria Abyss belum terlihat. Dan satu orang lagi—pemuda yang dia temui di restoran—juga belum menunjukkan dirinya.Orang-orang seperti itu tidak mungkin diam tanpa alasan. Ini bukan soal kekuatan lagi, tpai siapa yang lebih sabar.Nathan memilih menahan diri. Namun tidak semua orang memiliki kesabaran yang sama.Lalu, langkah kaki terdengar.Alric maju ke depan. Aura di tubuhnya naik perlahan, cukup untuk menarik perhatian banyak orang di sekitar. Ia berhenti beberapa langkah dari formasi, lalu menyapu kerumunan dengan tatapan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1823

    “Justru karena itu,” jawab Arkhon Abyss pelan. “Semakin sulit dibuka, semakin mereka percaya bahwa di dalamnya ada sesuatu yang berharga.”Hening sejenak.“Keserakahan manusia itu sederhana. Kau hanya perlu memberi penghalang, dan mereka sendiri yang akan menghancurkannya.”Kaidar terdiam.Pelan-pelan, dia mulai mengerti.Kembali ke kerumunan, waktu terus berjalan. Menit bergeser tanpa suara, detik jatuh satu per satu seperti tetesan air di ruang kosong. Namun tak satu pun yang bergerak.Tidak ada yang cukup bodoh untuk jadi yang pertama. Tidak ada yang cukup yakin untuk mempertaruhkan nyawa.Sampai akhirnya, langkah kaki terdengar.Tap. Tap. Tap.Seorang lelaki tua melangkah keluar dari kerumunan. Janggutnya lebat, wajahnya keras, sorot matanya tajam seperti pisau yang sudah lama diasah. Gerakannya mantap, tanpa ragu, seolah keputusan itu sudah dia ambil jauh sebelum semua orang di sini datang.Kerumunan langsung bereaksi.Bisik-bisik muncul.Pandangan beralih, semua mata tertuju pad

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1132

    Kediaman keluarga Wilford, Kota Hulmer.Soyir telah tiba kembali di Kota Hulmer.Namun, satu masalah mengganggunya, kakaknya—Lasso, masih dalam pengasingan. Tak ada yang tahu kapan dia akan keluar. Jika harus menunggu kakaknya bangkit dari kultivasi, Nathan mungkin sudah melarikan diri tanpa jejak.

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-30
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1071

    Kaidar menelan ludah, jantungnya berdetak kencang, bukan karena takut, melainkan kegelisahan yang menggerogoti. Dia mengerjap, mencoba menenangkan detak nadinya, sementara bayangan masa lalu berkelebat, wajah ayahnya yang terluka oleh serangan mendadak di desa terpencil mereka. Rasa dendam dan keba

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1126

    Kaidar menggigit lidahnya, tubuhnya menegang sepersekian detik. Tapi wajahnya tetap tenang, seolah tak gentar berdiri di hadapan seorang singa yang baru kehilangan anaknya. “Nathan .…” katanya, pelan namun jelas. “Tuan Muda Gill dibunuh oleh Nathan!”Soyir mengernyit. Nama itu asing, namun penuh de

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1079

    Formasi terpasang sempurna. Nathan menarik diri ke dalam bayang menara, menatap ke dalam kegelapan sambil menghela napas berat.Di luar, Hago memandang menara yang bergetar pelan, detak hatinya berpacu.“Sehebat ini?” satu prajurit bisik, suaranya hampir tak terdengar.Hago memutar wajah, mata redu

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-29
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status