Mag-log in"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya
"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya
"Kita mau kemana Tuan?" Tanya Aluna yang merasa keheranan saat kuda yang di tungganginya itu mulai keluar dari area berkuda tempatnya berkeliling tadi. "Kenapa tidak panggil "Mas" Lagi?" Kata Tuan Kenzo yang justru berbalik bertanya pada Aluna, bukan nya menjawab pertanyaan Aluna sebelum nya. Aluna sendiri sampai merasa malas mendengar pertanyaan Tuan Kenzo tadi, bahkan dia sampai memutar bola matanya dengan malas tanpa sepengetahuan Tuan Kenzo. "Lupa." jawab Aluna singkat dan benar-benar malas dibuat nya. "Sekarang?" tanya Tuan Kenzo kembali, seolah benar-benar mengejar jawaban dari Aluna. "Huhf... " Aluna membuang nafasnya dengan berat, merasa muak dengan pertanyaan tak bermutu Tuan Kenzo. "Mas Kenzo sayang, kita mau ke mana?" tanya Aluna kembali dengan nada yang di buat-buat selembut mungkin dan dengan senyum yang di paksakan mengembang. Tepat di saat itu juga dia membalikkan kepalanya menghadap ke arah Tuan Kenzo sehingga keduanya sempat saling tatap sebelum akhirnya Alun
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma
Mas aku bawakan bekal untuk mu sarapan, kenapa tadi tidak sarapan dulu di rumah?" kata Aluna yang mengabaikan tatapan dingin Tuan Kenzo. "Aku sibuk, dan sudah sarapan tadi di mobil. Lebih baik kamu bawa pulang kembali saja makanan itu!" Jawab Tuan Kenzo tegas tanpa mempedulikan perasaan dan perubahan raut wajah Aluna yang tiba-tiba berubah. "Sarapan apa di mobil mas?" Tanya Aluna yang masih tak ingin menyerah. "Sandwich, Rangga yang membelinya." Jawab Tuan Kenzo dengan santainya. Sedangkan nama yang tiba-tiba terseret itu pun sedikit terkejut juga panik berada di antara drama rumah tangga Tuan nya. "Ya sayang sekali, padahal aku sudah memasakkan nya untuk mu dan bela-belain datang supaya kita bisa makan bersama." Jelas Aluna yang tampak sedikit kecewa dengan jawaban Tuan Kenzo, meskipun begitu tidak membuat Tuan Kenzo merasa iba. "Aku tidak memintamu untuk masak dan mengantarkan nya ke kantor. Lebih baik sekarang kamu bawa kembali makanan mu itu dan segera kembali ke ma
Setelah tau akan menikah dengan Tuan Kenzo, saat ingin berangkat ke Gedung Gama untuk melangsungkan pernikahan nya, orang-orang suruhan Tuan Kenzo sudah datang untuk mengambil barang-barang milik Aluna untuk dibawa nya ke mansion. Sehingga barang-barang milik Aluna sudah tertata rapi di dalam kam
Dunia ibarat roda yang terus berputar. Kadang akan membawa kita kepuncak kebahagiaan tanpa duga dan bisa juga membawa kita pada jurang nestapa.Setelah kehilangan Ayah nya dan kini menikah dengan laki-laki arogan bermarga Mahesa, yang menjadi satu-satunya penerus di keluarga itu.Dunia Aluna seketi
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka







