LOGINSibuk dengan deretan kata yang membuat nya bosan hingga tak tertahankan lagi, jiwa kebonya mulai muncul. Mata nya mulai tertutup tak bisa di kendalikan dan tanpa aba-aba, kepala itu pun akhirnya tumbang di atas sandaran sofa empuk milik Tuan Kenzo, jangan lupakan dokumen yang masih ada digenggaman nya di atas pangkuan gadis itu. Tuan Kenzo melihat ke arah Aluna dan menyadari jika gadis itu kini telah berpindah ke alam mimpi. Tuan Kenzo berjalan mendekat ke arah Aluna yang tertidur, dia mengambil dokumen dipangkuan Aluna dan memindahkan nya di atas meja. Sejenak Tuan Kenzo menatap ke arah Aluna yang tertidur dengan begitu pulas nya. Wajahnya tampak tentram dengan mata yang terpejam. Entah berapa detik Tuan Kenzo menatap Aluna tanpa suara dan tidak ada yang tahu apa yang kini sedang ada di pikiran Tuan Kenzo, tidak ada yang tahu apa arti dari tatap itu. Tuan Kenzo akhirnya menghela nafasnya dengan berat dan dengan perlahan dia mulai memperbaiki posisi tidur Aluna dengan begitu hati-
Tuan Kenzo menghabiskan makanan nya tanpa tersisa, membuat Aluna membelalakkan matanya tak percaya, pasalnya biasanya suami nya itu akan makan masakan 4 sehat 5 sempurna. Tapi kali ini di luar dugaan karena Tuan Kenzo justru menghabiskan makan instan yang sebenarnya sulit di cerna dengan baik. "Aku akan kembali ke kamar, terima kasih makanan nya." Kata Tuan Kenzo dengan datar, meskipun begitu, hal itu mampu membuat Aluna terkejut untuk yang ke dua kalinya hingga kali ini rasanya Aluna tidak sanggup mengedipkan matanya selama menatap kepergian Tuan Kenzo yang semakin menghilang di antara anak-anak tangga menuju lantai dua. "Astaga ... apa aku tidak salah dengar? tadi Tuan Kenzo mengatakan Terima kasih? itu nyata? nggak mimpi kan? sejak kapan lelaki angkuh, sombong, egois, dan kejam kayak dia mampu mengatakan kata ajaib itu?" Tanya Aluna yang masih saja tidak percaya lantaran Tuan Kenzo yangi lihat nya tadi seperti bukan Tuan Kenzo pada biasanya. "Apa jangan-jangan dia habis kesambet
Menjelang pagi tiba, Tuan Kenzo sudah kembali ke mansion nya. Kali ini dia masuk ke kamarnya dan melihat Aluna yang masih tertidur dengan pulasnya tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan kehadiran Tuan Kenzo. Tuan Kenzo hanya menatap sekilas ke arah Aluna dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, dia melepaskan semua pakaian nya dan meletakkan nya di dalam keranjang kotor pakaian. Tuan Kenzo membasuh dirinya menggunakan air hangat dan membiarkan setiap tetes air hangat itu membasahi dan membersihkan tubuhnya dengan sempurna dari sisa-sisa kotor yang membekas akibat kejadian tadi. Tidak berselang lama, Tuan Kenzo pun keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closed untuk menggunakan pakaian nya. Di sana dia tidak menyadari jika Aluna ternyata sudah terbangun dari tidurnya dan melihat Tuan Kenzo yang berjalan menuju Walk in closed. "Tuan baru pulang?" Tanya Aluna dengan ragu, meskipun diri ya tidak yakin apakah Tuan Kenzo baru dari luar atau hanya di rumah saj
"Kenapa tidak menjawab hah?" Suara lantang Tuan Kenzo membuat Aluna sedikit tersentak mendapatkan suara keras Tuan Kenzo. "Maaf Tuan, tadi Tuan Damian hanya mengatakan jika Dia ingin aku bertahan dalam pernikahan ini dan membantumu agar bisa sembuh dari luka lama." jelas Aluna benar-benar jujur, entah kenapa mulutnya sendiri tidak bisa di rem agar tidak terlalu jujur akan hal itu. Aluna takut jika Tuan Kenzo tidak suka dan justru akan menghukumnya. Setelah mengatakan hal itu, meskipun ada rasa sedikit takut. Namun tidak membuat Aluna mengalihkan pandangan nya pada Tuan Kenzo, dirinya sendiri juga penasaran reaksi seperti apa yang akan Tuan Kenzo berikan kali ini. "Lupakan permintaan konyol itu, karena kita akan tetap berjalan seperti kontrak yang berlaku. Dan untuk mu Aluna, jangan pernah sesekali bermimpi untuk menjadi Nyonya selamanya di Mansion ini. Karena orang sepertimu tidak akan pernah pantas menggantikan sosok Laras yang sempurna." Tuan Kenzo menekankan hal itu membuat si
Tuan Damian bersama dengan Aluna kini menaiki golf car menuju arena menembak tempat di mana Tuan Kenzo berada. Duuarrr... Suara peluru yang melesat melewati udara hampa hingga menembus sebuah titik yang ditargetkan. "Wah... wah... mirip seperti kakek dulu saat masih muda." Kata Tuan Damian saat melihat aksi Tuan Kenzo yang sedang menembak sesuai sasaran nya. Tuan Kenzo yang seperti sedang mendengar suara kakek nya pun akhirnya melihat ke arah sumber suara dan ternyata benar, jika di sana ada Tuan Damian bersama dengan Aluna di samping nya. "Untuk apa Kakek ke sini?" tanya Tuan Kenzo pada sang Kakek. Bahkan dia sempat memicingkan tatapan nya merasa curiga karena Tuan Damian datang bersama Aluna. Tuan Kenzo berfikir pasti ada sesuatu yang sedang Kakek nya rencanakan. Sama seperti saat liburan ke Eropa yang ternyata hanya akal-akalan saja. "Apa Kakek harus butuh alasan untuk mengunjungi cucu Kakek sendiri?" tanya Tuan Damian pada Tuan Kenzo. Tuan Kenzo sendiri hanya menghembu
"Astaga Nyonya... Apa Nyonya tidak apa-apa?" Tanya Bik Tutik yang ikutan merasa tegang akibat tidak sengaja melihat perdebatan antara Tuan dan Nyonya nya. "Bik apa dia akan membunuh ku Bik?" Tanya Aluna masih dengan kondisi gemetar. "Duduklah Nyonya! Biar saya ambilkan air dulu, lain kali kalau bicara di saring dulu saat di depan Tuan Nyonya." Nasihat Bik Tutik, dia sudah seperti ibu bagi Aluna. Bik Tutik masuk ke dapur mengambilkan segelas air putih untuk Aluna yang masih merasa tegang. "Ini Nyonya, minumlah!" Bik Tutik menyodorkan segelas air putih. "Nyonya tenang saja, sekalipun Tuan kejam di luar sana, dia tidak akan mungkin akan sebegitu teganya mencelakai keluarganya sendiri." Kata Bik Tutik mencoba menenangkan hati Nyonyanya. "Itu kan keluarga Bik, sedangkan aku? Aku bukan bagian dari keluarganya Bik." "Tapi Nyonya istrinya Tuan, apa Nyonya lupa?" Bok Tuti mengingatkan Aluna. "Tapi pernikahan ku hanya sebatas pernikahan kontrak saja Bik, Bibi tidak lupa itu kan?" "T
Pagi sang surya bangunkan mimpi, embun pagi yang telah menghilang akan cahaya mentari yang kini mulai menyinari bumi dengan kehangatan sinarnya. Membangunkan setiap insan yang terlelap dari mimpi malamnya. Hari Minggu yang seharusnya Aluna nikmati dengan begitu santai nya. Hari Minggu yang seharus
"Harus Kenzo katakan berapa kali agar Kakek bisa paham, sampai kapanpun Kenzo tidak akan mau menikah lagi. Sekalipun perempuan itu pilihan kakek." Ucap laki-laki berbadan tinggi besar yang kini sedang duduk tegak di sebuah sofa yang menghadap langsung dengan laki-laki paruhbaya yang dipanggilnya ka
Tuan Kenzo tampak semakin marah tak terkendali, namun alih-alih melampiaskan nya pada Aluna dan menghukum gadis itu, Tuan Kenzo justru berdiri dari duduknya dan kembali pergi meninggal kan mansion itu dengan wajah nya yang sangar namun tak bisa Aluna tebak akan sikap Tuan Kenzo yang tak terbaca itu
"Akkh ... sakit ... tolong lepaskan!" Pinta Aluna yang meringis menahan perih di pergelangan tangan nya."Masuk..!" Satu kata penuh ketegasan juga kemarahan yang memuncak."Aauu ..." Tubuh ramping Aluna terlempar begitu saja di kursi penumpang. Tak lama tubuh besar lain nya ikut masuk dengan nafas







