Masuk"Kejutan..." ucap Rinjani lembut, membuyarkan lamunan Elian yang tengah terpaku pada meja kerjanya.
Elian tersentak, saat melihat sosok istrinya berdiri di ambang pintu. "Bukannya jadwal kontrolnya sore? Kenapa kamu datang lebih awal?" tanyanya sambil bangkit berdiri.Rinjani hanya tersenyum tipis, matanya menangkap map yang masih terbuka di tangan Elian sebelum suaminya sempat menutupnya. "Ada apa, Elian? Kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Apa karena k"Aku tidak bisa, Sonya. Aku tidak bisa membawamu ke tempat yang bahkan lebih buruk dari neraka itu sendiri," suara Antonio memberat, seolah setiap kata yang keluar adalah beban yang menghimpit dadanya.Ia memejamkan mata sejenak, bayangan masa lalu yang berdarah melintas cepat. "Aku pernah hanya sekadar berkenalan dengan seorang wanita. Besoknya... tubuhnya dibelah dua tanpa ampun, padahal kami tidak ada hubungan apa-apa. Musuh-musuhku terus mencari celah, mencari titik lemahku. Dan aku tidak ingin menambah daftar kelemahanku lagi. Cukup satu orang, Sonya. Cukup Saka saja yang membuatku harus bertaruh nyawa setiap hari."Sonya terdiam sejenak,lalu berkata. "Jadi... aku benar-benar nggak punya tempat di hati Om?"Antonio menatapnya dengan tatapan dingin yang dipaksakan, sebuah benteng yang ia bangun demi melindungi gadis di depannya. "Kamu bisa menjadi pacar Saka. Menjadi calon menantuku, tapi bukan istriku.""Aku nggak punya perasaan seperti itu ke
Sementara itu, di dalam kamar rawat yang hening, kelopak mata Antonio bergerak perlahan."Om? Om sudah sadar?" Sapa Sonya saat pria itu baru membuka mata."Sonya... kenapa kamu di sini?" bisik Antonio parau. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri, seolah-olah ia baru saja dihantam truk. Sudah berapa lama aku tertidur? pikirnya linglung."Aku panggil Kak Saka dulu ya, Om. Sebentar!" Sonya setengah berlari keluar kamar, mencari Saka yang sedang mencari udara segar di taman rumah sakit."Kak Saka! Om Antonio sudah siuman!"Saka tidak membuang waktu. Ia berlari secepat kilat melewati koridor, membuka pintu kamar 402. Matanya panas saat melihat pria yang dipanggilnya Papa itu menoleh lemah dengan senyum tipis di bibirnya."Ya ampun, Pa... Papa bikin aku khawatir setengah mati, tahu nggak!" seru Saka sambil menggenggam tangan Antonio yang dingin. "Masih sakit banget, Pa?""Masih," jawab Antonio jujur. Saka mengembuskan napas lega, senyumnya kini lebih lebar. "Papa tahu nggak, Sony
"Lana..." Elian terpaku, suaranya tercekat saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu ruang kerja. Setelah dua minggu penuh aksi bungkam, kehadiran Lana terasa seperti oksigen bagi Elian yang nyaris mati sesak."Pa, aku pengen makan ramen," bisik Lana, ingin mencoba memperbaiki hubungan mereka sepenuhnya.Rinjani yang sedang meletakkan nampan minuman di meja kerja Elian tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca melihat keras kepala putrinya akhirnya melunak. Elian segera berdiri, senyum yang sempat hilang dari wajahnya kini merekah kembali dengan tulus."Kamu mau sekarang? Ngga mau ganti seragam dulu, Sayang?" tanya Elian antusias."Pengen sekarang," jawab Lana singkat tanpa menoleh sepenuhnya. "Mama nggak boleh ikut. Aku mau berdua aja ama Papa."Rinjani tertawa kecil, ia paham ini adalah cara Lana untuk membuka kembali pintu komunikasi yang sempat tertutup rapat."Ya sudah, kalian hati-hati. Yakin nggak mau ganti baju dulu?""Enggak, Ma," sahut Lana tetap pada pendiriannya.El
"Gimana, Kak? Om Antonio udah baikkan?" tanya Sonya duduk disamping Saka di bangku taman sekolah."Papa masih belum mau buka mata," jawab Saka. "Sonya, lo tahu sesuatu tentang Papa?"Untuk kali pertama dalam hidupnya, Saka menyadari betapa sedikit ia mengenal pria yang membesarkannya. Selama ini, Antonio selalu tampil rapi dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun, di ruang ICU kemarin, saat perawat mengganti perban, Saka melihatnya—deretan tato legam yang merayap di punggung dan lengan ayahnya. Sebuah peta rahasia dari dunia yang tak pernah ia sentuh.Sonya duduk di samping Saka, mengabaikan tatapan penasaran murid lain yang berlalu-lalang. "Menurutmu sendiri gimana?""Papa cuma pakai kedok sebagai pengusaha logistik. Dia menyembunyikan hal yang jauh lebih kelam di sana," gumam Saka."Dan kamu keberatan?" tanya Sonya tenang.Saka menatap gadis di sampingnya. Sonya yang dulu ia anggap rapuh, kini justru menjadi orang yang paling berani menasihatinya."Kak, siapapun d
"Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya."Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. "Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. "Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya."Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y
Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. "Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. "Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel
"Pria itu lagi? Kenapa dia bisa mengikuti sampai ke rumah baru ini?" gumam Rinjani pada dirinya sendiri. Rinjani menyibakkan sedikit gorden kamar. Di luar sana, di bawah remang lampu jalan yang seolah enggan menerangi kegelapan, siluet itu kembali berdiri. Pria dengan mantel panjang gelap itu tid
"Kamu sudah berjanji, Rinjani..." bisik Elian parau. Ia terduduk di atas tumpukan kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa kamu pergi? Kamu tidak benar-benar menghilang, kan?"Ketakutan kehilangan membuat pertahanan Elian runtuh. Bahunya berguncang, menangis tanpa suara di tengah rerun
"Kamu suka kamar ini?" tanya Elian saat mereka melangkah masuk. Ruangan itu terasa luas dengan jendela besar yang membiarkan cahaya masuk. Dindingnya yang putih cerah memberikan kesan bersih dan damai."Lebih hidup," jujur Rinjani. Ia bisa merasakan energi positif yang jauh berbeda dar
Di dalam kamar tamu, Rinjani bergerak dengan sangat tenang. Tidak ada air mata yang jatuh, yang ada hanya gerakan jemari yang cekatan melipat pakaian-pakaian lamanya—pakaian yang ia bawa sebelum ia "dibeli" oleh Elian.Ia tidak menyentuh satu pun gaun sutra, tas bermerek, atau sepatu mewah pemberi







