LOGINAline menatap surat-surat yang ada di tangannya. Ia baru kembali dari kantor notaris resmi yang berada di ibu kota, kantor khusus yang mencatat seluruh kekayaan dan urusan aset para bangsawan, baik kelas tinggi maupun rendah.
Namun sayangnya, Viscount yang mengurus surat aset miliknya sedang tidak bisa hadir, sehingga ia belum dapat menghapus nama Haren dari aset-aset tersebut. Kini Aline duduk berdua bersama Sienna di dalam kereta kuda yang berjalan perlahan meninggalkan pusat kota. Aline ingat betul, salah satu syarat agar Haren mau menikah dengannya adalah memindahkan kepemilikan aset Aline atas nama Haren. Saat itu, Aline menyetujui tanpa banyak berpikir. Ia terlalu mencintai pria itu hingga rela memberikan apa pun. Untungnya, sang kakek turun tangan. Baron Shanzai membuat berbagai syarat untuk mempersulit perpindahan kepemilikan tersebut. Salah satunya, aset atas nama Aline hanya akan menjadi milik Haren apabila mereka sudah resmi menikah. Dan apabila mereka bercerai, seluruh aset itu akan kembali sepenuhnya kepada Aline. Itu adalah bentuk perlindungan terakhir seorang kakek terhadap cucunya. Namun, semasa bertunangan dulu, Aline dan Haren diam-diam pergi ke kantor notaris tanpa sepengetahuan sang kakek. Mereka membuat perjanjian baru; selama masih berstatus tunangan, seluruh kendali aset berada di tangan Haren. Dan apabila pertunangan dibatalkan, semuanya akan kembali menjadi milik Aline tanpa kurang sedikit pun. Makanya ia datang ke kantor notaris untuk menegaskan kalau dia sudah bukan tunangan Haren lagi. Dan ingin mengambil semua asetnya kembali. Di kehidupan pertamanya, satu hari setelah kematian Baron Shanzai, seluruh aset keluarga Shanzai tiba-tiba berpindah tangan. Semuanya jatuh ke tangan Haren tanpa sisa. “Bagaimana bisa ya…?” gumam Aline pelan. Alisnya sedikit berkerut. Masalah aset ini belum selesai. Dalam waktu dekat, ia harus kembali lagi ke kantor notaris. “Bagaimana bisa apa, Nona?” tanya Sienna bingung. Tentu saja Aline tidak pernah pergi sendirian. Belakangan ini, Sienna hampir selalu menjadi bayangannya. Aline tersadar. Ia menghela napas pelan. “Kenapa bisa aku selapar ini? Padahal tadi pagi aku sudah makan banyak. Pergi makan, yuk.” Sienna langsung tersenyum. “Tentu! Anda harus makan banyak agar sehat!” Tak lama kemudian, keduanya turun dari kereta kuda. Mereka memilih tempat makan yang terlihat sepi. Aline sedang tidak ingin berhadapan dengan keramaian atau tatapan orang-orang yang mungkin sudah mendengar kabar pembatalan pernikahannya. Namun hari sial memang tidak pernah tertera di kalender. “Alinea!” Di antara sekian banyak hari dan tempat, mengapa justru di sini? Aline berdecak pelan tanpa menoleh. Ia mengenali suara menyebalkan itu. Siapa lagi yang bisa meneriakkan namanya dengan nada kasar seperti itu kalau bukan Haren? Ia melirik sekilas. Namun tatapannya berubah ketika melihat siapa yang berdiri di samping pria itu. Karin juga ada di sana. Haren berdiri tepat di depan Aline, masih menggandeng lengan Karin dengan erat, seolah takut gadis itu akan terlepas. “Kenapa kau ada di sini? Bisa-bisanya kau mengusir calon suamimu sendiri dari kediamanmu? Dan suratku, kenapa tidak membalasnya?” todong Haren tajam. Aline terdiam, alisnya mengernyit. Ia tidak menerima surat dari Haren sejak pernikahan yang batal itu. Dan lagi, ia bahkan tidak pernah tahu jika Haren datang ke kediamannya untuk menemuinya. Sienna berbisik pelan di sampingnya. “Saya dengar Tuan Baron melarang pengawal untuk menerima Tuan Marquess datang.” Aline pun memahami situasinya sekarang. Entah karena Kakek masih tersinggung dipermalukan oleh Marquess di hari pernikahan cucunya, atau karena ada campur tangan dengan Duke. Ia beralih menatap Haren yang masih tampak marah. “Yah, sulit untuk menerima tamu setelah keluarga kami dipermalukan di depan umum,” balas Aline, sengaja menyinggungnya. “Kau!” Haren hampir meledak dan hendak maju, melepas tangan Karin untuk menarik Aline. Tapi Karin buru-buru memeluk lengannya. “Kak Haren, jangan kesal pada Kak Aline. Lagipula… semua ini salahku. Kalau saja aku tidak kecelakaan di hari pernikahan kalian, pasti tidak akan kacau begini.” Wajah Karin yang memelas dan suara manisnya yang bergetar segera membuat Haren melunak. Aline hanya menatap datar pemandangan itu, tidak tertarik sama sekali. “Jadi, intinya, kau mau bicara apa denganku?” tanya Aline. “Karin ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujar Haren, membuang wajahnya, seakan enggan menatap langsung. “Apa?” tanya Aline datar. “Lady Shanzai, aku minta maaf. Karena aku, Anda tidak jadi menikah dengan Tuan Marquess. Aku benar-benar tidak berniat seperti itu,” ucap Karin sambil menunduk. Aline mengamati Karin dari ujung kepala hingga kaki. Wajahnya cerah, tubuhnya sehat. Sulit dipercaya bahwa gadis ini pernah diberitakan berada di ambang kematian beberapa hari lalu. Aline melangkah mendekat. Sontak Karin mundur dua langkah dan meraih lengan Haren. “Kak Haren, saya takut… Lady Shanzai ingin menampar saya.” “Aline! Jangan berani menyentuh Karin! Dia tidak salah apa pun! Pernikahan kita tertunda bukan salahnya, tapi takdir! Jangan salahkan dia, apalagi menamparnya!” Haren berdiri protektif. Matanya memerah karena emosi. Aline terdiam. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya, antara sakit hati dan rasa muak pada kebodohan dirinya di masa lalu. Bagaimana ia bisa menghabiskan seluruh cintanya untuk pria seperti ini? “Mata Anda yang sebelah mana melihat saya akan menampar Lady Granners?” tanya Aline dingin. Haren terdiam. Ia baru menyadari bahwa Aline memang tidak menunjukkan niat menyerang. “Dan untuk Lady Granners, tidak perlu meminta maaf. Justru saya sangat bersyukur. Karena Anda, saya tidak jadi menikah dengan Tuan Marquess Haren yang terhormat,” lanjut Aline tegas. Karin membeku. Sekali pandang saja, ia tahu, Aline yang berdiri di hadapannya sekarang bukan Aline yang dulu mudah ia permainkan. Aline menoleh pada Haren. “Saya sudah mengatakan ini di hari itu, tapi akan saya ulangi sekali lagi. Dengarkan baik-baik, Tuan Marquess. Pernikahan kita batal. Pun pertunangan kita. Anda tau peraturan kekaisaran? Kalau salah satu pengantin meninggalkan altar di hari pernikahan, maka detik itu juga hubungan mereka telah usai.” “Jadi, Anda tenang saja, Saya tidak akan menikah dengan Anda. Dan jangan ganggu saya lagi.” Aline langsung menarik tangan Sienna dan berbalik pergi. Ia tidak tahan lagi menghirup udara di tempat yang sama dengan dua orang itu. “Jangan lancang, Alinea!” Haren menarik lengan Aline dengan kasar. Aline tidak menduganya, hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh keras. “Nona!” seru Sienna. Gaunnya seketika kotor. Gelang hijau di pergelangan tangannya pecah saat ia mencoba menahan tubuhnya agar tidak membentur tanah terlalu keras. Pecahan kecilnya melukai kulitnya, meninggalkan goresan tipis yang mulai mengeluarkan darah. “Kak Aline!” seru Karin, meski tak menyembunyikan binar di kedua matanya. “Kak Haren, jangan marahi Kak Aline lagi.” “Dia pantas mendapatkannya,” dengus Haren menatap Aline. “Tidak usah membuat pertunjukkan! Kau sengaja jatuh untuk menarik perhatian?” Mendengar itu, Sienna yang sedang memegangi lengan Aline seketika marah besar. “Nona saya sudah bilang dia tidak menginginkan Anda! Apa Anda tidak mengerti bahasa? Mengapa Anda memaksanya seperti preman? Saya benar-benar bersyukur doa saya setiap hari dijawab Tuhan! Mata Nona akhirnya terbuka dan mengusir pengganggu seperti Anda!” Plak! Tamparan keras mendarat di wajah Sienna. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ditampar. Bahkan di kediaman keluarga Baron, tidak ada satu pun anggota keluarga yang menampar pelayan. Pipinya tergores hingga mengeluarkan sedikit darah, mungkin terkena kuku Haren karena tamparan itu terlalu keras. “Tutup mulutmu, pelayan rendahan! Kau kira kau siapa berani melawanku? Detik ini juga aku bisa menyeret dan menjualmu ke rumah bordil! Status pelacur terlalu baik untukmu. Mungkin lebih baik kulemparkan kau ke para preman agar jadi budak mereka!” Haren meraih tangan Sienna dengan kasar. Wajahnya penuh amarah yang tak terkendali. “Jangan berani menyentuh Sienna-ku!” Aline langsung bangkit, berdiri di depan Sienna. Tatapannya tajam dan tanpa rasa takut. “Menyingkir! Jika tidak, jangan salahkan aku kalau aku tidak mau menikah denganmu lagi!” ancam Haren, ancaman lama yang dulu selalu membuat Aline gemetar. Namun tidak sekarang. “Aku memang tidak mau menikah denganmu!” balas Aline tegas. “Kau!” Haren kian marah karena Aline terus saja melawannya. “Kau memang harus diberi pelajaran!” Haren mengangkat tangannya, bersiap memukul. Namun tiba-tiba seseorang menangkap pergelangan tangannya di udara. Genggaman itu begitu kuat, hingga Haren pun tak bisa berkutik. Semua orang tercekat. Aline bahkan paling terkejut melihatnya di sana. “Duke Sheldian…” Pria itu, sang Duke, berdiri di sisi Haren. Bayangan dari badan tegapnya langsung mendominasi Haren. Duke menatap Aline dari ujung kepala hingga kaki. Rambutnya berantakan. Gaunnya kotor. Pergelangan tangannya berdarah. Sekilas, rahang Duke mengeras. Ia mengalihkan pandangannya pada Haren. Tatapannya dingin. Cengkeramannya menguat hingga membuat Haren meringis kesakitan. “Bukan seperti ini cara memperlakukan seorang Lady. Apa keluargamu tidak mengajarkannya? Atau aku yang perlu mengajarkanmu?” ucap Duke datar. “Jangan ikut campur! Aku sedang berbicara dengan calon istriku!” bentak Haren, menarik tangannya hingga terlepas, meski jelas terasa perih. Kata ‘calon istri’ seketika membuat Duke melirik Aline. “Kau belum mengatakan padanya tentang kita?” Aline memiringkan kepala, bingung. Apa boleh ia mengumumkan pernikahan secara sepihak? Tanpa berkata apa-apa lagi, Duke mengeluarkan sapu tangannya. Dengan lembut ia menarik tangan Aline dan membalut luka kecil di pergelangan tangannya. “Jangan salah paham, Marquess. Dia sudah bukan lagi tunanganmu,” ucap Duke tenang. “Yang akan menjadi suami Lady Shanzai adalah aku.” Kemudian, tanpa ragu, Duke menggendong tubuh Aline yang jauh lebih mungil darinya dengan mudah. Aline tercekat, tidak menyangka, dengan kaget tangan-tangannya mencengkram jubah lebar sang Duke. “Ke depannya, perhatikan cara bicaramu pada calon istriku. Jika tidak, jangan salahkan aku bila nama keluargamu hilang dalam satu malam.” Dan tanpa menoleh lagi, Duke pergi sambil menggendong Aline, meninggalkan Haren yang membeku di tempatnya.Aline menatap surat-surat yang ada di tangannya. Ia baru kembali dari kantor notaris resmi yang berada di ibu kota, kantor khusus yang mencatat seluruh kekayaan dan urusan aset para bangsawan, baik kelas tinggi maupun rendah.Namun sayangnya, Viscount yang mengurus surat aset miliknya sedang tidak bisa hadir, sehingga ia belum dapat menghapus nama Haren dari aset-aset tersebut.Kini Aline duduk berdua bersama Sienna di dalam kereta kuda yang berjalan perlahan meninggalkan pusat kota.Aline ingat betul, salah satu syarat agar Haren mau menikah dengannya adalah memindahkan kepemilikan aset Aline atas nama Haren. Saat itu, Aline menyetujui tanpa banyak berpikir. Ia terlalu mencintai pria itu hingga rela memberikan apa pun.Untungnya, sang kakek turun tangan. Baron Shanzai membuat berbagai syarat untuk mempersulit perpindahan kepemilikan tersebut.Salah satunya, aset atas nama Aline hanya akan menjadi milik Haren apabila mereka sudah resmi menikah. Dan apabila mereka bercerai, seluruh ase
Aline menatap dirinya di cermin.Cantik.Ia baru menyadari betapa indah wujudnya sendiri, terlebih setelah kembali menjadi Lady Shanzai. Sangat jauh berbeda dibanding dirinya saat menjadi Marchioness sebelum ia buta oleh cinta.Dulu ia kurus, kurang istirahat, matanya menggelap, dan terlalu banyak pekerjaan yang membebaninya.Namun sekarang, tubuhnya terlihat sempurna, wajahnya menggemaskan, dan sorot matanya kembali hidup.“Tidak heran kalau Duke yang dingin itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padaku, kan? Aku semenggemaskan ini soalnya.”Terdengar agak narsis, tetapi itulah kenyataannya. Jika bukan karena Haren, entah sudah berapa putra Count dan Viscount yang berdatangan untuk melamarnya. Mungkin hidupnya tidak akan seburuk kehidupan lalu.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu terdengar. Aline melirik sekilas.“Nona, ini saya, Sienna.”Di depan pintu, Sienna sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan amarah yang mungkin akan dilampiaskan nonanya.Seperti sebelumnya, jika ada masalah antar
Kakek langsung berdiri kaget dan segera melangkah mendekat ke arah sang Duke.Ia ingin marah pada Aline rasanya, tetapi lidahnya kelu. Ia terlalu sungkan, untuk menunjukkan amarah di hadapan pria dengan kedudukan setinggi itu. "Saya menerima tawaran pernikahan yang diajukan Lady Shanzai. Saya akan menikahinya." Tiba-tiba sang Duke masuk dan langsung mengucapkan kalimat itu tanpa basa-basi. Baik sang kakek maupun cucunya sama-sama terdiam. Aline memang yang menawarkan pernikahan itu, tetapi justru dia yang paling terkejut ketika Duke menerimanya tanpa syarat. "Saya datang ke sini juga khusus untuk mendiskusikan hal ini secara serius," tambah sang Duke lagi, suaranya datar namun tegas. Aline terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, jelas terkejut. Ia sempat berpikir harus memainkan beberapa trik untuk menarik perhatian Duke, atau bahkan memaksanya dengan embel-embel balas budi yang selama ini mengikat pria itu pada keluarganya. Namun Duke sendiri langsung menerimanya? "Terima
Duke Darryl menatapnya.Seketika, tubuh Aline membeku.Mata biru setenang laut itu seakan menahan setiap gerak, setiap kata. Aura pria itu benar-benar berbeda, mengubah suasana yang semula Aline kira bisa dikendalikan menjadi hancur berkeping-keping.‘Jadi, inilah pesona seorang Duke Sheldian…’Aline tahu, meski dia diberi kesempatan untuk mengulang hidup, dia tetap tak mampu menyaingi pria ini. Energi yang menguar dari pria ini tak sebanding dengannya."Aline! Apa yang kamu lakukan?"Suara tegas kakeknya membuyarkan lamunan itu.Aline tersentak, kembali sadar dari kekaguman yang tak seharusnya ia rasakan di situasi seperti ini."Apa?" tanyanya pelan, menoleh.Tatapan sang kakek begitu dalam, penuh kekecewaan yang tak disembunyikan sedikit pun.Baron Shanzai menarik napas panjang. Ia melangkah ke tengah aula, menenangkan keributan yang masih bergema akibat Haren yang dengan angkuhnya meninggalkan altar pernikahan."Hadirin sekalian…"Suara sang Baron bergema mantap. Seketika para tamu
Tubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.Undangan yang ternyata sebuah jebakan.“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merenc







