LOGIN
Tubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.
Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.
Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.
Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.
Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.
Undangan yang ternyata sebuah jebakan.
“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.
“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merencanakan caramu mati.”
“Dan di sinilah kamu akan mati.”
Karin membongkar semuanya, sebelum mengantarkannya pada kematian.
Haren tidak pernah mencintainya. Di masa lalu, orang tua Aline meninggal sebab mereka telah menyelamatkan nyawa Duke Daryl. Namun itu justru menjadi kegagalan rencana kudeta sang Marquess.
Oleh karenanya, Haren merencanakan balas dendam. Demi mengambil kuasa dan harta keluarga Baron Shanzai, ia pun menikahi Aline.
Setelah dibutakan oleh rasa cintanya pada Haren, bagaimana Aline harus menerima kenyataan itu?
Bahwa ia tidak hanya dibohongi, dikhianati, tapi suaminya bahkan merencanakan kematian istrinya di tangannya sendiri.
Aline mendongak, melihat Haren berdiri di sisi Karin di tepi balkon itu. Pria itu berdiri dengan tenang. Tidak ada sedikit pun kecemasan di wajah pria itu. Tidak ada penyesalan.
Hanya tatapan dingin yang memandangnya seperti seseorang yang tidak pernah berarti apa-apa.
“Kenapa…?” suara Aline serak.
Pria yang ia cintai, keluarga yang ia banggakan, bahkan pernikahan yang ia pertahankan mati-matian, semuanya hanya bagian dari permainan mereka.
Di akhir hidupnya, ia menyadari penyesalan terbesarnya.
Air mata menetes dari ujung matanya, bercampur dengan darah yang mengalir. Seluruh badannya bergetar dengan rasa sakit.
Mata Aline menutup, sebelum jiwanya benar-benar lepas dari raganya.
Lalu sunyi.
Hampa.
Kosong.
Untuk beberapa saat, sebelum sebuah suara memanggilnya kembali ke alam sadar.
"Aline?"
"Kau mendengarku?!"
Suara itu. Aline membuka mata.
Aroma bunga putih memenuhi hidungnya. Suara riuh tamu terdengar samar.
Ia berdiri di halaman kediaman Baron Shanzai.
Di hadapannya, Haren mengenakan pakaian putih resmi. Penampilannya begitu tampan.
Aline terdiam. Ia juga menyadari bahwa kini, ia berdiri di hadapan pria itu dengan gaun pengantin putih yang anggun.
"Aku harus pergi. Karina mengalami kecelakaan kereta kuda. Kondisinya kritis. Tunda pernikahan ini. Kita lanjutkan setelah Karin sehat. Kau mengerti?" tajam tatapan Haren, mengisyaratkan keegoisan.
Aline sendiri masih memastikan kalau ini bukanlah mimpi, bukan pula ilusi, dia sungguh kembali. Ke hari pernikahannya yang batal dengan Haren.
Seolah tak didengar, Haren berucap lagi, memastikan wanita ini mengerti.
"Aline, dengar! Aku tidak butuh persetujuanmu, aku harus pergi, ini soal hidup dan mati Karina. Jangan berulah, kau mengerti?!" suara dingin, dengan kalimat diktator, anti-penolakan, seolah kata-katanya adalah keputusan yang mutlak.
Ingatan Aline jatuh dari ketinggian masih terasa nyata. Amis darah belum hilang dari radar hidungnya. Rasa sakit saat kepalanya menghantam batu masih jelas di benaknya.
Dia akhirnya sadar, ini bukan mimpi, tapi…
Ia kembali. Takdir memberinya satu kesempatan lagi.
"Tidak perlu ditunda," ucap Aline tenang. "Pernikahan ini batal saja. Pergilah, Tuan Marquess."
Haren menatapnya tajam. "Kau tidak bisa sedikit berempati? Karin kecelakaan karena datang demi pernikahan kita!"
"Aku tidak menahanmu." Ada yang berbeda dalam tatapan Aline kali ini.
Tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi harap. Hanya dingin.
Haren tersentak halus. Dia merasa ada yang berbeda dari Aline barusan, perbedaan yang membuat Haren tidak nyaman.
"Kau—"
"Tuan, kita harus segera ke sana! Itu kan Aline, ujung-ujungnya dia juga akan merengek memohon menikah pada Anda. Yang terpenting sekarang adalah Karin, kita harus pastikan kondisinya baik-baik saja," potong Jean, kakak sepupu Karina.
"Terserahmu saja, tunda pernikahan ini atau aku tidak akan menikahimu sama sekali!" ancam Haren, dia menghentakkan kakinya, melangkah tanpa ragu, pergi begitu saja meninggalkan altar pernikahan dan sang pengantin, tanpa menghiraukan respon para tamu undangan.
Meninggalkan rasa malu yang membekas untuk Keluarga Baron Shanzai.
Para tamu mulai berbisik-bisik. Sementara itu, sang Baron, kakek Aline, perlahan mendekati cucunya.
"Nak, tidak apa-apa, kita tunda saja—"
"Tidak perlu, Kakek, kalau calon pengantin prianya pergi, maka ganti saja. Kebetulan kita punya yang cocok di sini."
Aline menatap lurus ke arah pria yang berdiri tak jauh dari altar.
Pria tinggi dengan pakaian formal yang melambangkan tahta kekuasaannya. Wajahnya dingin, tenang, dan tetap berwibawa meski Aline memandangnya dengan tekad yang tajam.
Aline maju menuju pria itu, yang konon katanya paling tampan di kekaisaran ini.
"Duke Darryl Winter Sheldian, bersediakah Anda menjadi suami saya hari ini? Tidak bersedia juga harus bersedia, sebab kini aku menagih hutang budi keluarga Sheldian pada keluarga Shanzai."
Aline menatap surat-surat yang ada di tangannya. Ia baru kembali dari kantor notaris resmi yang berada di ibu kota, kantor khusus yang mencatat seluruh kekayaan dan urusan aset para bangsawan, baik kelas tinggi maupun rendah.Namun sayangnya, Viscount yang mengurus surat aset miliknya sedang tidak bisa hadir, sehingga ia belum dapat menghapus nama Haren dari aset-aset tersebut.Kini Aline duduk berdua bersama Sienna di dalam kereta kuda yang berjalan perlahan meninggalkan pusat kota.Aline ingat betul, salah satu syarat agar Haren mau menikah dengannya adalah memindahkan kepemilikan aset Aline atas nama Haren. Saat itu, Aline menyetujui tanpa banyak berpikir. Ia terlalu mencintai pria itu hingga rela memberikan apa pun.Untungnya, sang kakek turun tangan. Baron Shanzai membuat berbagai syarat untuk mempersulit perpindahan kepemilikan tersebut.Salah satunya, aset atas nama Aline hanya akan menjadi milik Haren apabila mereka sudah resmi menikah. Dan apabila mereka bercerai, seluruh ase
Aline menatap dirinya di cermin.Cantik.Ia baru menyadari betapa indah wujudnya sendiri, terlebih setelah kembali menjadi Lady Shanzai. Sangat jauh berbeda dibanding dirinya saat menjadi Marchioness sebelum ia buta oleh cinta.Dulu ia kurus, kurang istirahat, matanya menggelap, dan terlalu banyak pekerjaan yang membebaninya.Namun sekarang, tubuhnya terlihat sempurna, wajahnya menggemaskan, dan sorot matanya kembali hidup.“Tidak heran kalau Duke yang dingin itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padaku, kan? Aku semenggemaskan ini soalnya.”Terdengar agak narsis, tetapi itulah kenyataannya. Jika bukan karena Haren, entah sudah berapa putra Count dan Viscount yang berdatangan untuk melamarnya. Mungkin hidupnya tidak akan seburuk kehidupan lalu.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu terdengar. Aline melirik sekilas.“Nona, ini saya, Sienna.”Di depan pintu, Sienna sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan amarah yang mungkin akan dilampiaskan nonanya.Seperti sebelumnya, jika ada masalah antar
Kakek langsung berdiri kaget dan segera melangkah mendekat ke arah sang Duke.Ia ingin marah pada Aline rasanya, tetapi lidahnya kelu. Ia terlalu sungkan, untuk menunjukkan amarah di hadapan pria dengan kedudukan setinggi itu. "Saya menerima tawaran pernikahan yang diajukan Lady Shanzai. Saya akan menikahinya." Tiba-tiba sang Duke masuk dan langsung mengucapkan kalimat itu tanpa basa-basi. Baik sang kakek maupun cucunya sama-sama terdiam. Aline memang yang menawarkan pernikahan itu, tetapi justru dia yang paling terkejut ketika Duke menerimanya tanpa syarat. "Saya datang ke sini juga khusus untuk mendiskusikan hal ini secara serius," tambah sang Duke lagi, suaranya datar namun tegas. Aline terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, jelas terkejut. Ia sempat berpikir harus memainkan beberapa trik untuk menarik perhatian Duke, atau bahkan memaksanya dengan embel-embel balas budi yang selama ini mengikat pria itu pada keluarganya. Namun Duke sendiri langsung menerimanya? "Terima
Duke Darryl menatapnya.Seketika, tubuh Aline membeku.Mata biru setenang laut itu seakan menahan setiap gerak, setiap kata. Aura pria itu benar-benar berbeda, mengubah suasana yang semula Aline kira bisa dikendalikan menjadi hancur berkeping-keping.‘Jadi, inilah pesona seorang Duke Sheldian…’Aline tahu, meski dia diberi kesempatan untuk mengulang hidup, dia tetap tak mampu menyaingi pria ini. Energi yang menguar dari pria ini tak sebanding dengannya."Aline! Apa yang kamu lakukan?"Suara tegas kakeknya membuyarkan lamunan itu.Aline tersentak, kembali sadar dari kekaguman yang tak seharusnya ia rasakan di situasi seperti ini."Apa?" tanyanya pelan, menoleh.Tatapan sang kakek begitu dalam, penuh kekecewaan yang tak disembunyikan sedikit pun.Baron Shanzai menarik napas panjang. Ia melangkah ke tengah aula, menenangkan keributan yang masih bergema akibat Haren yang dengan angkuhnya meninggalkan altar pernikahan."Hadirin sekalian…"Suara sang Baron bergema mantap. Seketika para tamu
Tubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.Undangan yang ternyata sebuah jebakan.“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merenc







