Share

Bab 4 : Memulai hidup baru

Author: S H Y
last update Last Updated: 2026-01-26 15:07:26

Aline menatap dirinya di cermin.

Cantik.

Ia baru menyadari betapa indah wujudnya sendiri, terlebih setelah kembali menjadi Lady Shanzai. Sangat jauh berbeda dibanding dirinya saat menjadi Marchioness sebelum ia buta oleh cinta.

Dulu ia kurus, kurang istirahat, matanya menggelap, dan terlalu banyak pekerjaan yang membebaninya.

Namun sekarang, tubuhnya terlihat sempurna, wajahnya menggemaskan, dan sorot matanya kembali hidup.

“Tidak heran kalau Duke yang dingin itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padaku, kan? Aku semenggemaskan ini soalnya.”

Terdengar agak narsis, tetapi itulah kenyataannya. Jika bukan karena Haren, entah sudah berapa putra Count dan Viscount yang berdatangan untuk melamarnya. Mungkin hidupnya tidak akan seburuk kehidupan lalu.

Tok. Tok. Tok.

Suara ketukan pintu terdengar. Aline melirik sekilas.

“Nona, ini saya, Sienna.”

Di depan pintu, Sienna sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan amarah yang mungkin akan dilampiaskan nonanya.

Seperti sebelumnya, jika ada masalah antara Aline dan Haren, para pelayanlah yang terkena imbasnya.

Mereka dibentak, disalahkan, dan suasana menjadi serba salah, terutama bagi Sienna yang paling dekat dengan sang nona.

Gadis pelayan itu menarik napas panjang. Ia sudah mendengar kabar tentang pernikahan yang gagal itu dari gosip para pelayan lainnya.

Meski sedikit takut, ia tetap harus tenang. Apa pun yang terjadi, ia harus berada di sisi nonanya. Ia adalah pelayan pribadi Aline sekaligus teman masa kecilnya.

“Setidaknya, jika semua orang marah dan membencinya, aku harus tetap ada dan mendukungnya,” gumamnya pelan.

Ia bersiap mengetuk lagi. Namun tiba-tiba pintu sudah terbuka.

Dan Aline langsung memeluknya erat. Begitu erat, seolah esok hari adalah kiamat.

“Kau ke mana saja? Aku kangen sekali, tahu!” Aline menatap Sienna dengan bibir mengerucut pelan, sudutnya turun seperti menahan tangis. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Hah?”

Sienna bahkan mematung beberapa saat. Reaksi nonanya sangat jauh dari apa yang ia bayangkan.

“Saya ‘kan hanya cuti tiga hari karena adik saya sakit, Nona?”

Sienna benar-benar bingung.

Jika bukan karena adiknya sakit parah, mana mungkin ia meninggalkan pernikahan nonanya? Walau, dalam hati, ia memang sangat membenci Marquess itu.

“Ah, haha… begitu ya? Aku lupa. Tapi tetap saja aku kangen padamu!” Aline memeluk Sienna lebih erat.

Bagi Sienna mungkin hanya tiga hari. Namun bagi Aline, itu seperti tiga tahun di neraka.

Ia masih belum melupakan hari kematian Sienna yang begitu tragis di kehidupan lalu. Hari ketika teman masa kecilnya itu tergeletak tak bernyawa, meninggalkannya seorang diri.

Aline kembali duduk di meja riasnya, kini dengan Sienna yang menata kembali rambutnya. Dalam urusan menata rambut, Sienna memang paling ahli.

Aline memandang cermin di hadapannya. Namun fokusnya bukan pada dirinya, melainkan pada bayangan Sienna di belakangnya.

Dalam pikirannya, yang tergambar justru wajah Sienna yang penuh darah, dengan pedang menancap dari kening hingga menembus kepalanya.

Pemandangan mengerikan itu masih menjadi salah satu mimpi buruknya hingga hari ini.

“Nona, apa Anda baik-baik saja?” tanya Sienna, memecah keheningan.

“Baik kok. Sehat. Kenapa bertanya begitu?” jawab Aline. “Oh, kau bertanya karena Haren membatalkan pernikahan?”

“Sejujurnya… saya sedikit khawatir, Nona. Saya tidak ingin Anda sakit hati lagi seperti dulu,” jawab Sienna hati-hati.

Aline tersenyum. “Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Lagipula, Haren ‘kan sudah biasa berbuat seperti itu.”

“Tuan Haren itu…” gumam Sienna kesal. “Kenapa dia bisa seperti itu? Walaupun dia seorang Marquess, tidak boleh bertindak seenaknya. Anda juga bangsawan. Apa dia tidak memikirkan biaya yang sudah Tuan Baron keluarkan untuk acara pernikahan ini?”

“Lagipula, apa cantiknya Lady Granners itu? Anda jauh di atasnya. Kecantikan Anda membuat semua orang berdecak kagum!” lanjut Sienna berapi-api.

“Kita semua sudah mengerahkan yang terbaik untuk pernikahan Anda, tapi dia seenaknya membatalkan begitu saja. Bahkan seorang pangeran pun tidak bisa bersikap semaunya begitu. Apalagi ini hanya Marquess! Dia juga tidak setampan itu! Apa yang mau dibanggakan? Anda bahkan jauh lebih kaya! Dan—”

Sienna tercekat, tiba-tiba terdiam. Tangannya berhenti sesaat.

Ia kelewatan membicarakan Marquess yang sangat dicintai oleh nonanya itu.

Seumur hidup bekerja sebagai pelayan pribadi Aline, ia memang tidak pernah ditampar. Namun kali ini, meski kecil kemungkinan, ia sudah mempersiapkan pipinya untuk menerima tamparan akibat ucapannya.

Namun Aline hanya tersenyum ringan.

“Ya sudahlah. Kalau sudah batal, mau bagaimana lagi? Kalau dia pergi, untuk apa aku menahannya? Biarkan saja,” katanya ringan.

Sambil berbicara, Aline mengenakan gelang permata berwarna hijau yang indah di pergelangan tangannya.

Sienna tersentak halus.

Ia sadar, gelang yang dipakai Aline saat ini adalah hadiah ulang tahun yang ia berikan tiga tahun lalu. Ia tidak menyangka sang nona masih menyimpannya.

Sienna tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya.

“Lagipula, aku sudah menemukan penggantinya,” lanjut Aline tenang, sembari memperhatikan pantulan gelang itu di cermin, memastikan warnanya serasi dengan gaun yang ia kenakan hari ini.

“Menemukan penggantinya? Maksud Anda… Anda akan menikahi orang lain?” Sienna semakin bingung.

Bukan hanya tidak marah, nonanya malah membicarakan pria lain dengan begitu santai. Nonanya yang dulu begitu tergila-gila pada Haren.

Apakah masih ada ruang di hatinya untuk pria lain?

Jangankan di hati, Sienna bahkan tidak pernah membayangkan ada pria lain yang bisa masuk ke dalam pikiran nonanya.

“Iya. Duke Sheldian. Aku akan menikah dengannya. Ke depannya, sambut dia dengan ramah, ya. Dia calon suamiku,” ujar Aline, bahkan sempat mengedipkan mata dengan manis.

“Duke Sheldian…” Sienna membulatkan mata begitu mengingat nama itu. “M-maksud Anda, tuan yang tampan dan dianugerahi gelar istimewa oleh Kaisar itu?”

Aline mengangguk mantap.

“Tidak jadi menikah dengan Tuan Marquess, tetapi malah menikah dengan Duke?”

Sienna menutup mulut dengan kedua tangan, hampir memekik. Ia hanya libur tiga hari, tetapi begitu banyak hal telah berubah.

“Astaga, astaga! Ini luar biasa, Nona! Pria paling tampan di kekaisaran, akan menikahi Anda?” jeritnya girang. “Memang hanya Duke yang pantas untuk Anda! Jadi, kapan kalian akan menikah?”

Aline tidak sempat menjawab Sienna yang terlalu heboh.

Pintu kamar Aline diketuk. Sienna segera membukanya. Seorang pelayan lain berdiri di sana.

“Nona, ada utusan dari keluarga Duke. Ia sudah menunggu Anda di ruang tamu,” katanya menyampaikan kabar.

“Aku akan menemuinya,” jawab Aline sambil tersenyum manis. Ia mengambil kipasnya dan berjalan menuju ruang tamu.

Suasana hatinya sedang sangat baik.

Saat Aline tiba di ruang tamu, tentu bukan Duke yang ada di sana. Wajar saja, ia pasti sibuk. Namun yang datang adalah tangan kanannya.

Setidaknya, Duke tetap menjaga harga diri keluarga Shanzai dengan tidak mengirim orang sembarangan.

“Maafkan saya, Lady. Saya tidak sopan datang tanpa pemberitahuan. Namun ini perintah Duke. Saya diminta mengantarkan surat dari Tuan Duke tentang persiapan pernikahan langsung ke tangan Anda.”

Tanpa berlama-lama, ia menyerahkan surat tersebut.

Aline menerimanya. Belum sempat membukanya, pria itu kembali berbicara.

“Itu saja yang perlu saya sampaikan, Lady. Mohon izin undur diri.”

Ia menunduk hormat, lalu pergi dengan langkah cepat.

Aline menatap isi surat itu, yang berisi daftar persiapan pernikahan mereka, termasuk dokumen-dokumen dan persetujuan yang harus diurus.

Pernikahan bangsawan memang tidak sembarangan. Selain memerlukan izin Kaisar, ada banyak kesepakatan antara dua keluarga dan legalitas lainnya. Oleh karena itu, biasanya pernikahan memiliki motif politik.

Hal itu mengingatkan Aline pada hal lain.

Ia juga tidak bisa bersantai sekarang. Ada banyak urusan yang tidak boleh ditunda.

“Aku lupa… dulu ada berapa aset yang sudah aku berikan atas nama Haren setelah kami menikah?” gumamnya pelan. “Tambang emas, butik di ibu kota, tanah… terlalu banyak. Aku harus menghitungnya dengan serius dan mengambil semuanya kembali.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 5 : Calon istriku!

    Aline menatap surat-surat yang ada di tangannya. Ia baru kembali dari kantor notaris resmi yang berada di ibu kota, kantor khusus yang mencatat seluruh kekayaan dan urusan aset para bangsawan, baik kelas tinggi maupun rendah.Namun sayangnya, Viscount yang mengurus surat aset miliknya sedang tidak bisa hadir, sehingga ia belum dapat menghapus nama Haren dari aset-aset tersebut.Kini Aline duduk berdua bersama Sienna di dalam kereta kuda yang berjalan perlahan meninggalkan pusat kota.Aline ingat betul, salah satu syarat agar Haren mau menikah dengannya adalah memindahkan kepemilikan aset Aline atas nama Haren. Saat itu, Aline menyetujui tanpa banyak berpikir. Ia terlalu mencintai pria itu hingga rela memberikan apa pun.Untungnya, sang kakek turun tangan. Baron Shanzai membuat berbagai syarat untuk mempersulit perpindahan kepemilikan tersebut.Salah satunya, aset atas nama Aline hanya akan menjadi milik Haren apabila mereka sudah resmi menikah. Dan apabila mereka bercerai, seluruh ase

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 4 : Memulai hidup baru

    Aline menatap dirinya di cermin.Cantik.Ia baru menyadari betapa indah wujudnya sendiri, terlebih setelah kembali menjadi Lady Shanzai. Sangat jauh berbeda dibanding dirinya saat menjadi Marchioness sebelum ia buta oleh cinta.Dulu ia kurus, kurang istirahat, matanya menggelap, dan terlalu banyak pekerjaan yang membebaninya.Namun sekarang, tubuhnya terlihat sempurna, wajahnya menggemaskan, dan sorot matanya kembali hidup.“Tidak heran kalau Duke yang dingin itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padaku, kan? Aku semenggemaskan ini soalnya.”Terdengar agak narsis, tetapi itulah kenyataannya. Jika bukan karena Haren, entah sudah berapa putra Count dan Viscount yang berdatangan untuk melamarnya. Mungkin hidupnya tidak akan seburuk kehidupan lalu.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu terdengar. Aline melirik sekilas.“Nona, ini saya, Sienna.”Di depan pintu, Sienna sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan amarah yang mungkin akan dilampiaskan nonanya.Seperti sebelumnya, jika ada masalah antar

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 3 : Tawaran pernikahan: Diterima!

    Kakek langsung berdiri kaget dan segera melangkah mendekat ke arah sang Duke.Ia ingin marah pada Aline rasanya, tetapi lidahnya kelu. Ia terlalu sungkan, untuk menunjukkan amarah di hadapan pria dengan kedudukan setinggi itu. "Saya menerima tawaran pernikahan yang diajukan Lady Shanzai. Saya akan menikahinya." Tiba-tiba sang Duke masuk dan langsung mengucapkan kalimat itu tanpa basa-basi. Baik sang kakek maupun cucunya sama-sama terdiam. Aline memang yang menawarkan pernikahan itu, tetapi justru dia yang paling terkejut ketika Duke menerimanya tanpa syarat. "Saya datang ke sini juga khusus untuk mendiskusikan hal ini secara serius," tambah sang Duke lagi, suaranya datar namun tegas. Aline terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, jelas terkejut. Ia sempat berpikir harus memainkan beberapa trik untuk menarik perhatian Duke, atau bahkan memaksanya dengan embel-embel balas budi yang selama ini mengikat pria itu pada keluarganya. Namun Duke sendiri langsung menerimanya? "Terima

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 2 : Harus Menikahi Duke!

    Duke Darryl menatapnya.Seketika, tubuh Aline membeku.Mata biru setenang laut itu seakan menahan setiap gerak, setiap kata. Aura pria itu benar-benar berbeda, mengubah suasana yang semula Aline kira bisa dikendalikan menjadi hancur berkeping-keping.‘Jadi, inilah pesona seorang Duke Sheldian…’Aline tahu, meski dia diberi kesempatan untuk mengulang hidup, dia tetap tak mampu menyaingi pria ini. Energi yang menguar dari pria ini tak sebanding dengannya."Aline! Apa yang kamu lakukan?"Suara tegas kakeknya membuyarkan lamunan itu.Aline tersentak, kembali sadar dari kekaguman yang tak seharusnya ia rasakan di situasi seperti ini."Apa?" tanyanya pelan, menoleh.Tatapan sang kakek begitu dalam, penuh kekecewaan yang tak disembunyikan sedikit pun.Baron Shanzai menarik napas panjang. Ia melangkah ke tengah aula, menenangkan keributan yang masih bergema akibat Haren yang dengan angkuhnya meninggalkan altar pernikahan."Hadirin sekalian…"Suara sang Baron bergema mantap. Seketika para tamu

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 1 : Terlahir kembali

    Tubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.Undangan yang ternyata sebuah jebakan.“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merenc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status