Share

Bab 2 : Harus Menikahi Duke!

Author: S H Y
last update Last Updated: 2026-01-26 15:05:12

Duke Darryl menatapnya.

Seketika, tubuh Aline membeku.

Mata biru setenang laut itu seakan menahan setiap gerak, setiap kata. Aura pria itu benar-benar berbeda, mengubah suasana yang semula Aline kira bisa dikendalikan menjadi hancur berkeping-keping.

‘Jadi, inilah pesona seorang Duke Sheldian…’

Aline tahu, meski dia diberi kesempatan untuk mengulang hidup, dia tetap tak mampu menyaingi pria ini. Energi yang menguar dari pria ini tak sebanding dengannya.

"Aline! Apa yang kamu lakukan?"

Suara tegas kakeknya membuyarkan lamunan itu.

Aline tersentak, kembali sadar dari kekaguman yang tak seharusnya ia rasakan di situasi seperti ini.

"Apa?" tanyanya pelan, menoleh.

Tatapan sang kakek begitu dalam, penuh kekecewaan yang tak disembunyikan sedikit pun.

Baron Shanzai menarik napas panjang. Ia melangkah ke tengah aula, menenangkan keributan yang masih bergema akibat Haren yang dengan angkuhnya meninggalkan altar pernikahan.

"Hadirin sekalian…"

Suara sang Baron bergema mantap. Seketika para tamu terdiam. Semua mata tertuju kepadanya.

Hening menyelimuti ruangan.

"Para bangsawan, serta Tuan dan Nyonya yang terhormat. Seperti yang telah Anda saksikan, Marquess Tyranne memiliki keperluan mendadak yang sangat penting. Amat disayangkan, namun itulah yang terjadi. Dengan berat hati, pernikahan ini terpaksa ditunda… sekali lagi."

"Saya memohon maaf atas kendala yang terjadi. Padahal Anda sekalian telah meluangkan waktu yang berharga untuk menghadiri acara ini."

"Oleh karena itu, dengan penuh penyesalan, saya berharap Anda tetap dapat menikmati hidangan yang telah kami siapkan, meskipun acara hari ini tidak dapat dilanjutkan."

"Kediaman Shanzai memohon maaf atas kekacauan ini."

Baron Leofan Shanzai menundukkan kepala. Dan di detik itu, sesuatu di dalam diri Aline runtuh.

Ia melihat dengan jelas bagaimana pria yang selalu berdiri tegak dengan wibawa kini menunduk di hadapan orang banyak. Kilat mata yang biasanya tajam dan penuh perhitungan kini meredup, terselimuti rasa malu yang tak pantas ia tanggung.

Hati Aline terenyuh.

Ke mana perginya Baron Shanzai yang disegani? Ke mana perginya pria cerdik yang selalu mampu membalikkan keadaan dengan kecerdasannya?

Penyesalan menghantamnya bertubi-tubi.

Di kehidupan sebelumnya, ketika Haren pergi meninggalkan altar demi Karin, persis seperti hari ini, Aline hanya peduli pada dirinya sendiri.

Ia berlari masuk ke kamar, mengurung diri selama seminggu penuh. Ia sibuk menulis surat memohon agar Haren kembali dan tetap menikahinya, tanpa sekali pun memikirkan bagaimana kakeknya menghadapi para tamu yang terhina.

Ia tak pernah tahu apa yang terjadi setelah itu.

Ia tak pernah mau tahu. Yang ia inginkan hanya Haren.

Namun hari ini, ia menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri.

Kakeknya, pria yang selalu menjadi pelindungnya, harus menunduk karena kesalahannya.

Kaki Aline melemas. Dadanya bergemuruh oleh campuran amarah dan kekecewaan; bukan hanya pada Haren, tapi juga pada dirinya sendiri.

Dalam satu hari, ia telah menghancurkan kehormatan yang dibangun kakeknya seumur hidup.

Bagaimana mungkin dirinya di kehidupan pertama begitu buta?

"Aline."

Suara kakeknya memanggil, rendah namun berat.

Ia tersadar. Semakin dekat jarak di antara mereka, semakin besar rasa bersalah yang menyesakkan.

"Kakek ingin berbicara berdua denganmu. Ke ruang baca."

Baron Shanzai berjalan lebih dulu menuju ruang baca, meninggalkan para tamu yang mulai kembali menikmati hidangan.

Shanzai memang hanya keluarga Baron, tetapi kekayaan mereka tak bisa dipandang remeh. Anggur langka, daging pilihan, makanan dari negeri jauh, tidak semua pesta mampu menyajikan kemewahan seperti ini. Para tamu tentu tidak akan melewatkannya begitu saja.

Itu bukti betapa kuatnya fondasi keluarga Shanzai, meski gelar mereka tidak tinggi. Mereka memang diam-diam menghina Baron, tapi mereka juga menikmati hidangannya, menggelikan.

Sementara itu, Aline masih berdiri terpaku.

Seketika, pandangannya bertemu dengan Duke Sheldian.

Tatapannya tetap tajam, tak terbaca, mengintimidasi.

Aline merasa takut, tetapi kali ini ia tidak menghindar. Ia justru menatap balik, memperlebar matanya dengan tekad.

Pria itu memang menakutkan. Namun ia telah memantapkan diri.

Jika ia memang harus menikah, maka ia akan menjadikan pria itu suaminya.

Jika hanya menatap saja ia tidak berani, bagaimana mungkin ia mampu hidup satu atap dengannya?

Ruang baca terasa sunyi. Kakeknya duduk tegak di kursi kerja, wibawanya kembali terpasang seperti perisai.

Jantung Aline berhenti berdetak sesaat.

Senja merayap masuk melalui celah jendela, menyinari wajah sang Baron.

Keriput di wajah itu terlihat jelas. Pundaknya tak lagi setegap dulu. Rambutnya memutih dimakan usia.

Tanpa sadar, air mata Aline jatuh. Rasa rindu dan syukur bercampur menjadi satu.

Di kehidupan sebelumnya, ia hidup bertahun-tahun dalam penderitaan tanpa sokongan kakeknya. Kini ia sadar, betapa besar kasih sayang pria tua itu padanya. Betapa ia sendiri tak pernah menghargainya.

"Jika kau berpikir dengan menangis Kakek akan merasa kasihan dan melepaskanmu, kau salah besar," ujar Kakek tegas. "Meminta menikah dengan Duke adalah kesalahan fatal."

Aline mengusap air matanya.

"Aku tidak mengerti maksud Kakek. Di sini aku meminta Duke untuk menikah denganku, menggantikan pria itu agar pernikahan ini tetap berlangsung. Aku ingin menjaga nama baik dan kehormatan Kakek. Semua yang kulakukan demi keluarga kita."

"Dengan menjadikan seorang Duke sebagai pengantin pengganti?" Suara sang kakek meninggi, meski masih berusaha ditahan.

Aline tersentak. Ia tahu dan ingat dengan jelas, di masa ini entah sudah berapa kali pernikahannya dengan Marquess gagal. Keluarga mereka sudah menjadi perbincangan seluruh kekaisaran.

Kakeknya memijat pelipis dengan frustrasi. Denyut di kepalanya terasa menyiksa. Betapa cerobohnya cucu semata wayangnya ini.

"Dia adalah Duke Sheldian. Satu-satunya keturunan Sheldian yang tersisa. Beliau adalah keponakan Kaisar. Jangan lancang dan tetap jaga batasanmu! Kau tidak akan menikah dengannya!"

"Tapi—"

"Kalau ingin menjaga nama baikku, tetaplah diam dan tutup mulutmu." Terdengar kasar, tetapi Aline tahu kakeknya menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amarah.

Aline terdiam.

Di kekaisaran ini, darah adalah kekuasaan mutlak. Menyinggung mereka yang berada di atas, bahkan hanya dengan kata-kata, bisa berakhir dengan hukuman mati.

Kakeknya marah, tetapi lebih dari itu, ia takut. Takut cucunya dihukum karena kelancangannya.

"Kau sudah lancang. Bahkan membahas utang budi di hadapan umum. Itu tidak sopan dan tidak beretika. Kau bisa berakhir di guillotine hanya karena berbicara sembarangan pada keponakan Kaisar."

Napas Aline menegang. Sebelumnya, ia tidak ingat kakeknya pernah menegur sekeras ini. Rupanya ia telah membuatnya sangat kecewa.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.

Sebelum sempat dipersilakan, pintu ruang baca terbuka.

Pria yang sejak tadi menjadi pusat pembicaraan itu berdiri di ambang pintu, membuat Aline dan Baron Leofan terkejut.

Duke Sheldian melangkah masuk dengan tenang. Badannya yang tegap dan tinggi seketika mendominasi ruangan.

"T-Tuan Duke?"

Permainan Aline yang berani ini tampaknya benar-benar telah menarik perhatian sang Duke.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 5 : Calon istriku!

    Aline menatap surat-surat yang ada di tangannya. Ia baru kembali dari kantor notaris resmi yang berada di ibu kota, kantor khusus yang mencatat seluruh kekayaan dan urusan aset para bangsawan, baik kelas tinggi maupun rendah.Namun sayangnya, Viscount yang mengurus surat aset miliknya sedang tidak bisa hadir, sehingga ia belum dapat menghapus nama Haren dari aset-aset tersebut.Kini Aline duduk berdua bersama Sienna di dalam kereta kuda yang berjalan perlahan meninggalkan pusat kota.Aline ingat betul, salah satu syarat agar Haren mau menikah dengannya adalah memindahkan kepemilikan aset Aline atas nama Haren. Saat itu, Aline menyetujui tanpa banyak berpikir. Ia terlalu mencintai pria itu hingga rela memberikan apa pun.Untungnya, sang kakek turun tangan. Baron Shanzai membuat berbagai syarat untuk mempersulit perpindahan kepemilikan tersebut.Salah satunya, aset atas nama Aline hanya akan menjadi milik Haren apabila mereka sudah resmi menikah. Dan apabila mereka bercerai, seluruh ase

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 4 : Memulai hidup baru

    Aline menatap dirinya di cermin.Cantik.Ia baru menyadari betapa indah wujudnya sendiri, terlebih setelah kembali menjadi Lady Shanzai. Sangat jauh berbeda dibanding dirinya saat menjadi Marchioness sebelum ia buta oleh cinta.Dulu ia kurus, kurang istirahat, matanya menggelap, dan terlalu banyak pekerjaan yang membebaninya.Namun sekarang, tubuhnya terlihat sempurna, wajahnya menggemaskan, dan sorot matanya kembali hidup.“Tidak heran kalau Duke yang dingin itu bisa tiba-tiba jatuh cinta padaku, kan? Aku semenggemaskan ini soalnya.”Terdengar agak narsis, tetapi itulah kenyataannya. Jika bukan karena Haren, entah sudah berapa putra Count dan Viscount yang berdatangan untuk melamarnya. Mungkin hidupnya tidak akan seburuk kehidupan lalu.Tok. Tok. Tok.Suara ketukan pintu terdengar. Aline melirik sekilas.“Nona, ini saya, Sienna.”Di depan pintu, Sienna sudah bersiap menghadapi segala kemungkinan amarah yang mungkin akan dilampiaskan nonanya.Seperti sebelumnya, jika ada masalah antar

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 3 : Tawaran pernikahan: Diterima!

    Kakek langsung berdiri kaget dan segera melangkah mendekat ke arah sang Duke.Ia ingin marah pada Aline rasanya, tetapi lidahnya kelu. Ia terlalu sungkan, untuk menunjukkan amarah di hadapan pria dengan kedudukan setinggi itu. "Saya menerima tawaran pernikahan yang diajukan Lady Shanzai. Saya akan menikahinya." Tiba-tiba sang Duke masuk dan langsung mengucapkan kalimat itu tanpa basa-basi. Baik sang kakek maupun cucunya sama-sama terdiam. Aline memang yang menawarkan pernikahan itu, tetapi justru dia yang paling terkejut ketika Duke menerimanya tanpa syarat. "Saya datang ke sini juga khusus untuk mendiskusikan hal ini secara serius," tambah sang Duke lagi, suaranya datar namun tegas. Aline terpaku. Bibirnya sedikit terbuka, jelas terkejut. Ia sempat berpikir harus memainkan beberapa trik untuk menarik perhatian Duke, atau bahkan memaksanya dengan embel-embel balas budi yang selama ini mengikat pria itu pada keluarganya. Namun Duke sendiri langsung menerimanya? "Terima

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 2 : Harus Menikahi Duke!

    Duke Darryl menatapnya.Seketika, tubuh Aline membeku.Mata biru setenang laut itu seakan menahan setiap gerak, setiap kata. Aura pria itu benar-benar berbeda, mengubah suasana yang semula Aline kira bisa dikendalikan menjadi hancur berkeping-keping.‘Jadi, inilah pesona seorang Duke Sheldian…’Aline tahu, meski dia diberi kesempatan untuk mengulang hidup, dia tetap tak mampu menyaingi pria ini. Energi yang menguar dari pria ini tak sebanding dengannya."Aline! Apa yang kamu lakukan?"Suara tegas kakeknya membuyarkan lamunan itu.Aline tersentak, kembali sadar dari kekaguman yang tak seharusnya ia rasakan di situasi seperti ini."Apa?" tanyanya pelan, menoleh.Tatapan sang kakek begitu dalam, penuh kekecewaan yang tak disembunyikan sedikit pun.Baron Shanzai menarik napas panjang. Ia melangkah ke tengah aula, menenangkan keributan yang masih bergema akibat Haren yang dengan angkuhnya meninggalkan altar pernikahan."Hadirin sekalian…"Suara sang Baron bergema mantap. Seketika para tamu

  • Kesempatan Kedua: Lepas dari Marquess Menikahi Duke Utara!   Bab 1 : Terlahir kembali

    Tubuh Alinea Tyranne terdampar di tanah, darah mengaliri sebongkah batu di belakang kepalanya. Rasa sakit yang hebat menjalar, hingga ia kesulitan bernapas.Di atas sana, ia dapat melihat langit mendung terhampar luas, dan dua orang yang baru saja mendorongnya dari ketinggian balkon.Wanita itu, Karina Granners, adalah selingkuhan suaminya. Dan di sampingnya… Marquess Haren Tyranne, suami Aline sendiri.Hari ini, ia mengetahui kebenaran itu. Karin hamil anak Haren.Demi menjaga martabat pernikahan mereka, Aline datang menawarkan tambang emas agar kandungan di luar nikah itu digugurkan. Untuk membicarakannya, ia mendapat undangan makan malam di balkon vila pribadi Haren.Undangan yang ternyata sebuah jebakan.“Apa kau tahu, Aline?” Bisikan Karin terngiang di telinga Aline sebelum ia didorong dari tepi balkon.“Pernikahanmu dengan Haren hanyalah untuk balas dendam pada keluargamu yang sudah mengacaukan rencananya mengambil gelar Duke. Setelah menguasai harta keluargamu, dia sudah merenc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status