LOGINKinara dengan sigap mengusap pipinya menggunakan punggung tangan, berusaha mengoles senyum tipis yang kaku. "Ah, enggak apa-apa kok, Mbak Yuni. Cuma... kemasukan debu aja tadi di luar. Masuk yuk, Mbak, udah malam."
Mbak Yuni menggeleng pelan. Wanita berusia tiga puluh lima tahun itu menyadari ada raut kepedihan di wajah Kinara sejak pulang dari pertemuannya dengan keluarga Alex sore tadi."Jangan bohong sama aku, Mbak Kinara," desaknya. "Dari semenjak Mbak Kinara pulang dari restoraDevan melangkah keluar dari ruang kerja dengan ponsel masih menempel di telinga. Ia sudah menceritakan apa yang terjadi pada Kevin, lalu Kevin dengan sigap meminta bantuan temannya untuk melacak posisi Adi dan Sherly."Pak Devan, berdasarkan informasi dari teman saya, lokasi keberadaan mobil Pak Adi sudah terlacak lewat sensor kamera lalu lintas dan plat nomornya. Sekarang posisi beliau ada di area parkir basement sebuah restoran di kawasan Selatan," lapor Kevin.Devan menghentikan langkahnya sejenak. Ia bernapas lega karena bawahannya bisa melaporkan keberadaan Adi dan Sherly dengan cepat."Kevin, tahan posisi mereka di basement. Jangan sampai mobil mereka keluar sebelum aku sampai di sana," perintah Devan dingin. "Aku meluncur sekarang."Sebelum berangkat, Devan menyempatkan diri masuk ke kamar untuk melihat keadaan Zahwa dan ibunya."Gimana, Mas? Apa benar dokumen proyek yang mereka ambil?" tanya Zahwa dengan cemas."Iya, Sayang. Memang dokumen itu yan
Setelah sambungan telepon terputus. Zahwa perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Bukannya kembali ke lantai bawah sesuai pesan suaminya, Zahwa justru bergerak masuk lebih dalam ke tengah ruang kerja Devan.Ingatan Zahwa mendadak terlempar pada percakapan mereka kemarin malam di meja makan. Saat itu, Devan bercerita panjang tentang berkas fisik hard copy tender BUMN yang baru dicetaknya.Devan sempat berbisik, "Aku bawa pulang berkas ini karena ini dokumen penting banget, Sayang. Kalau sampai hilang sebelum besok diserahkan, proyek ini bisa melayang."Firasat Zahwa seketika memburuk. Dadanya berdebar. Matanya tertuju pada sudut meja kerja milik Devan. Ia ingat Devan menaruh dokumen penting itu di sana. Namun nahasnya, kini tempat itu kosong melompong."Zahwa?" Suara Debby memecah keheningan saat ia menyusul ke dalam ruangan. "Gimana tadi kata Devan? Dia mau langsung pulang?"Zahwa membalikkan badan menatap Debby dengan raut wajah pucat."Kamu... ken
Tanpa menunggu jawaban, Adi langsung menyelonong keluar. Zahwa dan Debby memperhatikan gelagat Adi yang terlihat sangat aneh. Namun, Zahwa berusaha tetap tenang dan menekan firasat tak enak yang sempat menyelinap karena melihat baginya, tingkah Adi dan Sherly saat meminta maaf tadi terkesan begitu berlebihan.Debby yang duduk di sebelah Zahwa menyikut lengan menantunya. "Aneh banget, Zahwa... Adi tuh udahlah datang mendadak, minta maaf manis begini padahal kemarin maki-maki di grup... perasaan Mama sama sekali gak enak.""Sabar ya, Ma. Kita hargai aja niat baik mereka. Jangan dipikirkan berat-berat, kita lihat aja sebenarnya mereka mau apa.""Mama lihat, kamu tadi kasih isyarat ke Mbok Minah, kan? Kamu pasti juga merasa ada yang aneh."Mendengar itu, Zahwa meringis tersenyum. Rupanya sang mertua sudah menangkap kegelisahan yang ia rasakan. "Iya, Ma. Aku cuman nyuruh Mbok Minah ngawasin aja. Jujur, aku pun takut kalau ada hal-hal aneh yang ingin mereka lakukan."
Mama Debby mengerutkan keningnya. "Adi sama Sherly?" ulangnya dengan nada heran. "Mau apa lagi mereka ke rumah? Kurang puas apa mereka maki-maki Devan di grup WA keluarga waktu itu?"Mengingat betapa ketusnya kata-kata Adi yang dilontarkan di grup, Mama Debby jelas merasa gusar. Baginya, kehadiran mereka yang tiba-tiba datang sama sekali gak masuk akal."Mbok Minah bilang... mereka mau minta maaf, Ma," jawab Zahwa pelan, mengulangi ucapan Mbok Minah dari balik telepon dengan raut ragu. "Katanya mereka bawa parsel buah dan mau meluruskan masalah yang di rumah sakit waktu itu."Mama Debby tertawa sinis. "Minta maaf? Orang-orang kayak mereka mana punya malu, Zahwa. Dulu waktu butuh bantuan diam-diam, giliran kena masalah malah Devan yang disalahkan habis-habisan. Sekarang tiba-tiba datang mau minta maaf pas Devan gak ada di rumah? Minta maaf gaya apa itu."Zahwa kembali mengarahkan ponsel ke telinganya. "Mbok, tolong suruh Bik Kokom temani Mbok di ruang tamu ya. Ja
Keesokan harinya, Zahwa sedang menikmati udara pagi di teras sebelum dibuat terkejut begitu melihat mobil Debby datang. Ibu mertuanya itu turun dari mobil dengan senyum merekah dan gaya anggunnya seperti biasa."Pagi, Zahwa Sayang! Assalamu'alaikum," sapa Debby hangat, lalu mengecup kedua pipi menantunya."Wa'alaikumsalam. Pagi, Ma." Zahwa menyambut uluran tangan Debby dengan takzim. "Mama kok pagi-pagi udah ke sini? Mas Devan baru aja berangkat ke kantor sepuluh menit yang lalu.""Mama emang sengaja ke sini bukan buat ketemu Devan, tapi mau ketemu kamu." Debby mengusap lembut perut Zahwa yang kian membuncit. "Gimana kondisi kamu sama si Kecil? Ada keluhan pusing atau mual lagi, gak?""Alhamdulillah enggak ada, Ma. Semuanya sehat." "Bagus kalau gitu. Nah, sekarang kamu ganti baju. Pakai kerudungmu yang rapi, kita keluar jalan-jalan sebentar."Zahwa mengerutkan keningnya. "Keluar, Ma? Mau ke mana pagi-pagi begini?"Mama Debby hanya tertawa kecil. "
"Eh, Mbok Minah. Gimana kabarnya? Kok udah ada di sini aja," balas Kinara, lalu melirik ke arah Bik Kokom dengan tersenyum sopan."Iya, Mbak Kinara. Alhamdulillah sekarang udah mendingan, cuman kalau jalan masih harus pakai tongkat. Yah, mending datang kesini lah nemenin Non Zahwa daripada cuman tiduran di rumah doang. Bikin badan pegel..."Zahwa terkekeh ringan. Lalu memperkenalkan Bik Kokom pada Kinara serta menjelaskan Kinara yang merupakan sahabat terbaiknya."Jadi apa yang sedang kalian bicarakan? Kok kelihatannya seru sekali tadi. Mbok juga kepengen tahu," kata Mbok Minah setelah Bik Kokom kembali ke dapur."Ini lho, Mbok. Kinara katanya mau nikah," jelas Zahwa yang membuat Mbok Minah menangkupkan kedua tangannya di dada dengan mata berbinar haru."Gusti Allah... Mbak Kinara mau nikah? Sama siapa, Mbak?""Sama Mas Alex, Mbok," jawab Kinara malu-malu seraya menyerahkan satu lembar undangan khusus untuk Mbok Minah. "Nanti Mbok Minah sama Zahwa harus da
"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu







