LOGINDi bawah pesan tersebut, Lia menyematkan sebuah tautan undangan digital bernuansa emas dan putih yang tampak elegan.
Penasaran, Zahwa menyentuh link undangan tersebut. Layar ponselnya seketika beralih memuat halaman web dengan alunan musik instrumen yang lembut. Nama kedua mempelai tertera dengan huruf kapital yang indah di bagian depan.Zahwa tersenyum tipis begitu membaca nama pengantin wanitanya. Lusiana Indira.Zahwa menelusuri halaman undangan digital itu lebih lanjut, meliSetelah sesi menyusui pertama selesai, Zayyan yang sudah kenyang perlahan tertidur di dada Zahwa. Napasnya teratur dan tenang. Dengan kehati-hatian, perawat membantu memindahkan Zayyan kembali ke tempat tidur observasi sementara sebelum persiapan kepindahan sore nanti.Siang harinya, Devan akhirnya pamit untuk menuju ke kantor sebentar guna menyelesaikan urusan penandatanganan berkas yang sempat tertunda."Aku berangkat dulu ya, Sayang." Devan merengkuh tubuh Zahwa yang kini sudah bisa berdiri dan berjalan perlahan. "Nanti sore aku balik sebelum Zayyan dipindahkan ke kamar.""Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut," pesan Zahwa seraya mencium tangan suaminya.Tepat pukul empat sore. Rombongan perawat masuk, mendorong sebuah boks bayi yang di dalamnya terbaring Zayyan Dewangga Sakti, terbungkus bedong kain biru langit."Selamat sore Bu Zahwa... Baby Zayyan sudah siap untuk rooming-in bersama Mama," tutur suster.Mbok Minah langsung menyambut dan menggendong Baby Zayyan. Setelah
"Makasih, Hilda. Makasih udah diingatkan," tutur Zahwa, mencoba mengukir senyum kembali di wajahnya."Sama-sama, Mbak.""Zahwa, kita jalan dulu ya, mau langsung mampir ke rumah sakit tempat Sherly dirawat untuk menyampaikan belasungkawa," ujar Tante Lia."Iya, Tante. Hati-hati di jalan. Salam buat keluarga di sana," balas Zahwa.Mbok Minah pun mengantar keluarga Tante Lina sampai ke depan pintu.Malam harinya, sekitar pukul delapan, Devan kembali datang, masih mengenakan kemeja kerjanya yang bagian lengannya sudah tergulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah, namun seketika kembali berbinar begitu melihat istrinya sedang duduk bersandar."Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikumsalam..."Devan segera membasuh wajah dan mencuci tangannya di kamar mandi. Begitu kembali ke sisi ranjang, ia langsung mengecup dahi Zahwa."Maaf ya, Sayang... aku agak malam baliknya. Tadi ada diskusi tambahan sama tim di kantor," tutur Devan parau. "Gimana kondisimu malam ini? Ada yang kerasa sakit gak?"
Tante Lia terkekeh pelan melihat ekspresi terkejut Zahwa. Ia mendekati sisi ranjang, lalu mengusap bahu Lusi yang tersenyum malu-malu."Iya, Zahwa... Lusi sekarang lagi hamil tiga bulan," jawab Tante Lia. "Alhamdulillah, Lusi udah dikasih rezeki secepat ini. Tante minta doanya ya, Zahwa, supaya Lusi dan calon bayinya selalu sehat, diberi kelancaran sampai hari persalinan nanti."Rasa terkejut Zahwa seketika berganti menjadi keharuan. "Masya Allah... selamat ya, Lusi! Tante Lia juga selamat! Aku ikut senang dengarnya. Aku doakan semoga Lusi sehat-sehat terus, nggak mual parah, dan debay di dalam kandungan tumbuh kuat serta lancar sampai lahiran nanti.""Amin. Makasih banyak ya, Zahwa," sahut Lusi seraya memeluk Zahwa dengan hati-hati.Setelah melepas pelukannya, Lusi mengambil sebuah bingkisan dari tas jinjing yang dibawanya. Ia menyerahkan bingkisan tersebut pada Mbok Minah."Ini ada sedikit bingkisan dariku sama Mama buat kamu dan baby Zayyan. Tadi sebelum ke sini, Tante Debby
"Zayyan sekarang lagi dirawat di ruang NICU, Ra, Lex," jawab Devan, mengambil alih.Mata Kinara membelalak, sementara Alex mengerutkan alisnya. "NICU? Kenapa, Dev?" "Waktu proses persalinan tadi pagi, asma Zahwa sempat kambuh sampai kadar oksigennya drop," terang Devan. "Kondisi itu berpengaruh ke pernapasan si Kecil pas masih di dalam kandungan. Begitu lahir, dokter anak harus langsung pasang bantuan pernapasan di NICU."Kinara menutup mulutnya, matanya kembali berkaca-kaca menatap Zahwa. "Ya Allah, Wa...""Tapi kalian nggak usah khawatir," sela Zahwa, tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Zayyan anak yang kuat. Tadi aku sama Mas Devan baru aja dari NICU buat lihat dia. Dia udah bisa genggam telunjuk aku kencang banget, Ra.""Jadi... keponakanku namanya Zayyan?""Zayyan Dewangga Sakti," sahut Devan memperkenalkan nama putra pertamanya. "Itu nama yang disiapkan Zahwa buat jagoan kami.""Zayyan Dewangga Sakti..." bisik Kinara mengulang nama itu, lalu mengusap sudut mat
"Zayyan artinya seseorang yang selalu memperindah sekitarnya," terang Zahwa. "Aku ingin anak kita tumbuh menjadi sosok yang gak cuman tampan, tapi juga hadir membawakan keindahan bagi siapa pun di sekelilingnya."Debby mengelus dada, mengangguk-angguk haru mendengar makna yang begitu indah."Lalu Dewangga..." lanjut Zahwa, menatap Devan. "...artinya kain sutra yang indah, lambang kelembutan hati. Dan untuk nama terakhirnya... tentu saja Sakti, nama belakang Mas Devan. Agar dia selalu ingat bahwa dia adalah kebanggaan bagi Papanya."Irfan menepuk tangannya seraya mengulas senyum bangga. "Masya Allah... nama yang luar biasa indah. Zayyan Dewangga Sakti. Papa suka nama itu!""Artinya dalam dan indah sekali, Zahwa," puji Debby ikut mengusap air mata bahagianya. "Seoang anak laki-laki yang tampan, berhati lembut seperti sutra, keturunan keluarga Sakti."Devan membungkuk, mengecup dahi Zahwa dengan penuh cinta. Kebahagiaan dan rasa hormatnya pada Zahwa kini kian membubung tinggi."Ma
Beberapa jam kemudian. Di sore harinya, kondisi Zahwa dinyatakan sudah membaik. Saturasi oksigennya sudah kembali normal tanpa bantuan alat. Sedang Mbok Minah dan Bik Kokom sebelumnya sudah memutuskan untuk pulang mengingat jam besuk pasien yang sudah habis."Mas, aku mau lihat anak kita sekarang," ujar Zahwa setelah dokter dan perawat yang memeriksa berlalu dari kamarnya.Devan tersenyum. Atas izin dari dokter, Devan pun menyiapkan kursi roda yang sudah disiapkan oleh suster. Ia pun memapah Zahwa dengan hati-hati hingga Zahwa bisa duduk dengan nyaman."Yuk, kita temui si kecil," bisik Devan.Didampingi Debby dan Irfan yang mengekor di belakang, Devan mendorong kursi roda menyusuri koridor rumah sakit menuju lorong khusus ruang perawatan intensif bayi.Pintu ruangan terbuka secara otomatis. Suasana di dalam ruangan itu steril, didominasi bunyi peralatan medis.Devan menghentikan kursi roda tepat di samping sebuah inkubator kaca. Di dalamnya, terbaring seorang bayi mungil bers
"Apa? Devan memintamu mencarikan kado untuk Valerie? Apa dia masih waras?" Zahwa sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya begitu mendengar lengkingan suara Kinara."Dan kamu menerima permintaan itu begitu saja?" Suara Kinara terdengar tak terima."Mau bagaimana lagi?" Zahwa menghela napasnya
Zahwa menoleh. Jantungnya mencelos. Itu adalah Alex.Alex berjalan mendekat dengan raut wajah terkejut sekaligus bingung. "Kenapa kamu ada di sini? Jangan bilang kamu menguntit Devan lagi? Kamu kira Devan ada di sini? Astaga, Devan masih di luar kota sama Valerie."Resepsionis tadi langsung menund
Setelah pertemuannya dengan Kinara, Zahwa pulang dan kembali masuk kamar. Ucapan Kinara di kafe tadi terus terngiang-ngiang dalam benaknya sepanjang perjalanan pulang."...Apa kamu mau menghabiskan sisa umurmu hanya untuk menjadi bayangan pria yang mencintai wanita lain?"Zahwa tak tahu akan keman
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu







