เข้าสู่ระบบ"Eh, Mbok Minah. Gimana kabarnya? Kok udah ada di sini aja," balas Kinara, lalu melirik ke arah Bik Kokom dengan tersenyum sopan."Iya, Mbak Kinara. Alhamdulillah sekarang udah mendingan, cuman kalau jalan masih harus pakai tongkat. Yah, mending datang kesini lah nemenin Non Zahwa daripada cuman tiduran di rumah doang. Bikin badan pegel..."Zahwa terkekeh ringan. Lalu memperkenalkan Bik Kokom pada Kinara serta menjelaskan Kinara yang merupakan sahabat terbaiknya."Jadi apa yang sedang kalian bicarakan? Kok kelihatannya seru sekali tadi. Mbok juga kepengen tahu," kata Mbok Minah setelah Bik Kokom kembali ke dapur."Ini lho, Mbok. Kinara katanya mau nikah," jelas Zahwa yang membuat Mbok Minah menangkupkan kedua tangannya di dada dengan mata berbinar haru."Gusti Allah... Mbak Kinara mau nikah? Sama siapa, Mbak?""Sama Mas Alex, Mbok," jawab Kinara malu-malu seraya menyerahkan satu lembar undangan khusus untuk Mbok Minah. "Nanti Mbok Minah sama Zahwa harus da
Keesokan harinya, sesuai janji Devan, ia menyewa seorang ART harian yang akan datang untuk sekedar bersih-bersih rumah atau memasak. ART itu merupakan seorang wanita paruh baya yang berpakaian rapi dan nampak tersenyum ramah. Namanya Bik Kokom."Pagi, Bu Zahwa, Pak Devan," sapa Bik Kokom ramah "Saya Kokom. Mulai hari ini saya yang akan bantu-bantu bersih-bersih dan cuci-setrika di sini."Zahwa dan Devan membalas sapaan dengan hangat, lalu Devan memberi arahan singkat mengenai pembagian tugas.Tak lama dari itu, Mbok Minah keluar dari kamar. Devan pun memperkenalkan mereka berdua sebelum akhirnya Bik Kokom memulai pekerjaannya dengan mengambil sapu dan kain pel. Cara kerjanya rapi, tenang, dan sama sekali tidak canggung.Saat Bik Kokom sedang memotong sayuran di dapur untuk makan siang, Mbok Minah berjalan perlahan menghampiri seraya menopang tubuhnya dengan tongkat. Mbok Minah duduk di kursi makan, berniat memperhatikan cara kerja anggota baru di rumah itu.
Zahwa mengangguk, lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada sambungan telepon. "Res, tapi kan Mbok Minah kondisinya masih gak memungkinkan untuk kerja, Res. Takutnya nanti kalau masih butuh bantuan, aku gak bisa bantu karena aku sendiri sedang hamil."Terdengar helaan napas Ares di seberang sana. "Udah aku kasih tahu, Mbak. Tapi tahu sendiri kan gimana keras kepalanya Ibu kalau udah punya kemauan? Ibu bilang cuma mau ngerjain yang ringan-ringan aja, kayak masak atau sekadar nemenin Mbak Zahwa di rumah. Katanya kalau cuma diam di kamar terus, kakinya malah makin kaku."Zahwa menatap Devan, lalu memindahkan mode panggilan ke speaker agar suaminya bisa mendengar langsung."Gini aja, Res," Devan akhirnya angkat bicara, mengambil alih pembicaraan. "Bilang sama Mbok Minah, kita izinin beliau tinggal di sini lagi, tapi bukan sebagai pekerja yang harus beres-beres rumah.""Maksudnya gimana, Mas Devan?""Mbok Minah ke sini buat istirahat aja sambil nemenin Zahwa," l
Sepanjang perjalanan menyusuri koridor rumah sakit hingga sampai ke dalam mobil, Devan terus menggenggam jemari Zahwa.Begitu Devan menyalakan mesin, ia memutar tubuhnya menghadap Zahwa. "Menurutku ucapanmu tadi... benar-benar mewakili semua amarah yang aku tahan selama ini, Sayang."Zahwa menghela napas panjang, menepis sisa-sisa emosi yang sempat menguasai dirinya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran seraya mengelus perutnya yang sedikit membuncit."Aku cuma udah enggak tahan lagi, Mas. Mereka terus-terusan menginjak-injak usahamu yang ingin bantu mereka. Sampai kapan pun, orang-orang yang silau sama gengsi kayak mereka enggak akan pernah tahu cara berterima kasih.""Kamu benar. Mulai detik ini, urusan mereka bukan tanggung jawab kita lagi. Biar mereka selesaikan sendiri konsekuensi dari gengsi yang mereka besarkan itu."Devan pun melajukan mobilnya, meninggalkan area rumah sakit. Ia menenangkan hatinya untuk mengusir rasa amarah yang sempat hinggap
Malam harinya, Devan dan Zahwa tiba di rumah sakit. Mereka terlebih dahulu menuju ke poli kandungan untuk melakukan pemeriksaan rutin.Di dalam ruang periksa, suara detak jantung janin terdengar nyaring dari alat USG. Dokter menyatakan kondisi janin dan Zahwa sehat.Usai dari poli kandungan, mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawatan. Begitu Devan mendorong pintu, terlihat Lina yang kini sudah siuman, terbaring di ranjang dengan selang infus melingkar di tangannya. Sudut bibirnya sedikit tertarik dan bicaranya tampak tidak simetris akibat serangan stroke ringan. Di samping ranjang, Sherly nampak berdiri dengan menyilangkan tangan di dada."Assalamu'alaikum."Baru saja Zahwa melangkah masuk, mata Lina mendadak melotot lebar. Wajahnya seketika memerah padam."Mau apa kamu ke sini?!" teriak Lina dengan suara serak dan agak pelo. Tangannya menunjuk-nunjuk wajah Zahwa dengan gemetar. "Kamu datang mau mengejek aku, kan?! Kamu mau tertawa puas mel
Keesokan harinya, berita kepulangan Christopher Knox dari Singapura langsung terdengar ke telinga Devan dan Zahwa.Zahwa yang sedang menggulir layar ponsel di sebuah aplikasi sosial media tertegun begitu membaca judul berita yang tertera.Petinggi agensi model Knox, Christopher Knox, akhirnya tiba kembali di Jakarta setelah sempat dikabarkan berada di luar negeri.Isi berita itu menampilkan pemberitaan tentang kepulangan Christopher yang terkait dengan pengunduran dirinya dari jabatan perusahaan, serta beredarnya isu dugaan keterlibatannya dalam skandal pelecehan yang mulai mencuat ke publik."Kamu lihat apa sih kok sampai serius gitu lihatnya?Zahwa langsung mendongak. Ia tersenyum menatap sang suami yang berjalan mendekatinya lalu duduk di sampingnya."Lihat deh, Mas. Akhirnya Christopher udah keluar dari tempat persembunyiannya," ujarnya sembari menyodorkan ponsel ke arah Devan.Devan membaca berita itu sekilas lalu menyerahkan ponsel kepada Zahwa. "
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad
[Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti,
Zahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "E... Enggak kok, enggak ada apa-apa."Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar.Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Z







