เข้าสู่ระบบCairan pekat berwarna keemasan di dalam gelas kristal itu memantulkan pendar remang lampu neon yang berputar pelan. Pria berbadan gempal yang duduk tepat di samping Savana mendorong gelas tersebut hingga menyentuh pinggiran jemari wanita itu yang membeku dingin. Aroma tajam alkohol yang menyengat langsung menusuk hidung Savana, memicu dorongan mual yang bergejolak di dalam dadanya."Ayo diminum! Masa dari tadi cuma diam saja seperti patung?" desak pria itu dengan nada suara tinggi yang dipaksakan ramah, namun matanya yang menyipit menatap lekat potongan gaun merah glitter minim yang membalut tubuh Savana.Savana mengeratkan pegangan pada jemarinya sendiri di atas paha. Keringat dingin merembes dari telapak tangannya. "M-maaf, Pak... Saya tidak minum alkohol. Saya cuma bertugas menemani bernyanyi dan menuangkan minuman saja," bisik Savana pelan, berusaha menjaga suaranya agar tetap sopan walau getaran panik tak sanggup ia sembunyikan.Raut wajah pria itu seketika berubah keruh. Senyum
Deru mesin sedan mewah milik Hanggara memecah kesunyian sore yang merambat makin pekat. Pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam, melaju membelah padatnya jalanan kota menuju satu tujuan: rumah tempat Savana tinggal bersama suaminya. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang, menyembunyikan amarah meletup-letup yang kian memuncak. Rasa dikhianati dan harga dirinya yang diinjak-injak oleh kebohongan murahan terus menggerogoti pikirannya.Beberapa menit kemudian, mobil Hanggara berhenti kasar di seberang jalan depan rumah Savana. Pria itu menatap tajam ke arah bangunan tersebut melalui kaca jendela. Matanya yang sehitam malam mengunci lurus pada jendela kamar Savana. Suasana di sekitar rumah itu tampak begitu senyap, dan yang paling menyita perhatiannya, jendela kamar wanita itu masih padam total. Tidak ada sekilas pun pendar cahaya yang menerangi ruangan dari dalam.Hanggara mengepalkan jemarinya di lingkar kemudi. Lampu kamar yang padam menjadi bukti tak te
Sore harinya...Dada Savana terasa bergemuruh ketika melangkahkan kaki memasuki pintu belakang sebuah gedung karaoke bernuansa remang-remang di sudut kota. Lampu-lampu neon warna-warni memantulkan pendar misterius di atas lantai marmer yang licin, sementara aroma campuran alkohol, asap rokok, dan parfum menyengat langsung menyambut indra penciumannya. Ini adalah dunia yang benar-benar asing dan mengerikan baginya.Dengan langkah ragu dan jemari saling bertaut cemas, Savana melangkah menuju ruang manajer untuk menghadap sang bos pemilik karaoke tersebut. Pria bertubuh tambun dengan kemeja bercorak mencolok itu tengah duduk santai di balik meja kaca seraya mengembuskan asap rokok dari bibirnya. Saat Savana melangkah masuk, pandangan pria itu berkilat mengevaluasi, lalu bibirnya melengkung mencibir."Kamu ini mau kerja jadi LC atau mau melayat?" sindir sang bos dengan nada pedas, menatap Savana dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan raut kecewa. "Lihat riasanmu, tipis sekali seperti
"Kenapa?" tanya Hanggara dingin, suaranya sarat intimidasi yang menuntut jawaban mutlak tanpa celah.Jantung Savana berdegup kencang, menghantam dadanya begitu keras hingga rasanya menyumbat kerongkongan. Ia panik, otaknya berputar cepat mencari alasan spontan agar rahasianya tentang pekerjaan malam itu tidak terbongkar. Apabila Hanggara tahu ia mendaftar sebagai pemandu karaoke, pria berkuasa itu pasti akan murka besar dan menggagalkan seluruh rencananya.Dalam desakan rasa panik yang membuncah, Savana terpaksa menyusun kebohongan. "S-saya sudah berjanji pada Valerie nanti sore, Dok," bisik Savana pelan, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap terdengar meyakinkan meski tangannya gemetar. "Saya harus menemani Valerie ke pusat perbelanjaan. Dia mau mencari kado ulang tahun untuk pacarnya, dan dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai pendapat. Saya tidak bisa membatalkan janji itu begitu saja."Hanggara menatap Savana lekat-lekat, menyipitkan matanya seolah berusaha membaca se
Savana melangkahkan kakinya memasuki ruang ganti staf cleaning service Rumah Sakit Citra Medika. Begitu ia mendorong pintu, pandangannya langsung berserobok dengan Valerie yang sudah lebih dulu tiba dan tengah sibuk merapikan seragam di depan cermin loker."Pagi, Savana," sapa Valerie dengan nada yang terdengar lebih pelan dari biasanya. Matanya menatap Savana dari pantulan cermin, menyiratkan secercah kekhawatiran yang belum juga surut sejak kemarin sore."Pagi, Val," balas Savana seraya membuka pintu lokernya, mengeluarkan peralatan kerjanya dengan gerakan mekanis.Valerie memutar tubuhnya, menyandarkan punggung pada deretan loker besi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Sav, aku semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal ini. Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk mulai bekerja di tempat karaoke itu nanti sore?" tanya Valerie, membuka kembali topik yang membuat hatinya gelisah.Savana menghentikan gerakannya sejenak, menela
Usai urusan mereka di tempat karaoke selesai, Valerie mengantarkan Savana kembali ke rumah dengan sepeda motor matiknya. Mesin motor berhenti di depan pagar yang tampak sepi. Setibanya di sana, Savana berpamitan untuk masuk, dan Valerie memutar arah lalu berlalu pergi membelah jalanan malam.Savana membuka pintu pagar besi yang berderit pelan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Suasana di dalam begitu senyap, dingin, dan terasa mencekam. Udara di dalam ruangan tercium samar aroma sisa minuman keras. Savana tahu betul suaminya, Bara, tadi tidak masuk kerja. Pria itu mengurung diri di dalam kamar sejak siang setelah luapan emosi yang membakar hubungannya dengan Alex. Entah apa yang sedang dilakukan Bara di dalam sana saat ini, Savana sudah benar-benar tidak peduli. Rasa sakit, kekecewaan, dan pengkhianatan yang bertubi-tubi telah membunuh seluruh kepedulian di dalam hatinya.Dengan langkah sepelan mungkin, Savana menuju kamarnya sendiri untuk melepas penat. Ia membersihkan diri di kam







