MasukSetelah sekian lama mengobrol, Joseph akhirnya mengajak kami keluar untuk berbaur dengan para tamu lainnya. Aku langsung menyetujuinya karena ingin menjauh dari Megan, yang sejak tadi tidak berhenti menggoda Joseph.Aku benar-benar menyesal datang ke pesta ini. Seharusnya tadi aku mencari alasan agar tidak perlu ikut."Kamu mau tambah makanan? Biar kuambilkan," kata Joseph setelah kami duduk di salah satu meja.Aku memperhatikan para tamu yang hadir. Semuanya berpenampilan glamor. Para wanita mengenakan gaun, sedangkan para pria memakai setelan jas. Pesta ini benar-benar hanya dihadiri orang-orang kaya.Untungnya, pakaian yang kukenakan juga mahal. Setidaknya aku bisa merasa percaya diri dan tidak terlihat salah kostum."Nggak usah, Joseph. Makanan ini saja mungkin nggak akan habis kalau kamu ambilin lagi," jawabku sambil tetap memusatkan perhatian pada makanan.Ketika Joseph tidak menjawab, aku menoleh dan mendapati dia sedang menatapku lekat-lekat."Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku.
Saat berjalan melewati taman rumah mewah itu, aku tidak bisa berhenti mengagumi keindahannya. Dari dekorasinya saja, sudah terlihat jelas bahwa Keluarga Baskoro tidak tanggung-tanggung mengeluarkan biaya. Bunga-bunga mahal menghiasi hampir setiap sudut taman.Wanita yang berulang tahun pasti sangat kaya. Lagi pula, dia istri seorang pengusaha besar. Tentu saja dia juga bergelimang harta. Beruntung sekali keluarga ini!"Joseph! Syukurlah akhirnya kamu datang!"Aku dan Joseph menghentikan langkah ketika melihat seorang pria berjalan menghampiri kami.Aku tidak bisa menahan diri untuk mengamatinya. Meskipun sudah berumur, terlihat jelas bahwa pria itu pasti sangat tampan ketika masih muda."Ryan! Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi!" sapa Joseph sambil tersenyum.Mereka saling menyapa dengan hangat, sementara aku hanya memperhatikan dalam diam.Aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang kurasakan. Ada sesuatu yang aneh bergejolak dalam hatiku ketika memandangi Ryan, ayah angkat Josep
Dari cara Joseph mengucapkan kata-kata itu, aku bisa melihat betapa seriusnya dia.Yah, sebenarnya dia tidak perlu khawatir karena aku memang tidak berniat meladeni pria mana pun yang mendekatiku. Aku berencana memenuhi semua ketentuan dalam kontrak kami, asalkan tidak termasuk berhubungan intim.Tunggu, sebenarnya apa saja isi kontrak kami?Aku menyesali kecerobohanku. Kenapa waktu itu aku tidak membacanya dulu? Ugh! Seharusnya aku tidak menandatangani dokumen tanpa membaca isinya!"Ya! Mengerti! Baiklah! Aku akan ingat semua perkataanmu. Asalkan kamu jangan sampai jadi penjahat," kataku sambil mencemberut dan menjauhkan pipiku dari tangannya.Kenapa dia harus mengelus pipiku segala? Memalukan sekali!"Bagus! Syukurlah kalau kita sudah saling memahami," katanya sambil menyalakan mesin mobil.Aku tidak bisa menahan senyum saat memandangi jari manisku. Kedua cincin yang diberikannya benar-benar indah. Aku tidak ingin mengembalikannya kalau ternyata dia hanya meminjamkannya padaku."Ehem
Cara Joseph menatapku tiba-tiba membuatku malu. Aku tidak tahu apakah dia menganggapku cantik atau tidak karena aku sama sekali tidak bisa membaca ekspresinya saat dia mengamatiku dari ujung kepala sampai ujung kaki."Joseph, ayo! Apa kita cuma mau saling memandang di sini? Nanti kalau kita sampai di pesta, makanannya sudah habis semua dan kita malah kelaparan," kataku.Sejak siang, aku belum makan dengan benar karena Maeve hanya memberiku roti lapis dan jus. Perutku sudah keroncongan.Joseph mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dariku. Aku menatapnya dengan bingung.Aku bahkan mulai ragu apakah pria di hadapanku ini benar-benar Joseph. Tadi pagi, sikapnya tidak seperti ini. Seolah-olah dia tiba-tiba berubah menjadi orang lain."Ya, ayo pergi," katanya akhirnya.Dia juga menerima barang-barangku yang diserahkan Martina. Aku tidak menjawab dan langsung berjalan keluar dari salon lebih dulu.Aku terkejut karena ternyata masih banyak orang berlalu-lalang di mal.
"Bu, ini benar-benar yang terakhir. Janji!" kata pria kemayu itu sambil menata rambutku.Aku sudah berkali-kali mendengar janji yang sama darinya, tetapi pekerjaannya masih saja belum selesai. Mungkin sekarang di luar sudah gelap.Sejak pagi, aku belum keluar dari salon ini. Para pegawai bergantian merawatku, mulai dari kuku hingga rambut.Entah apa saja yang mereka lakukan padaku. Mereka bahkan nyaris memandikanku. Rasanya setiap kotoran yang menempel di tubuhku sudah digosok sampai bersih. Mereka merawat seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki.Aku benar-benar tidak mengerti kenapa semua ini harus dilakukan! Aku bahkan sudah sempat tidur siang, tapi mereka masih belum selesai juga.Joseph berjanji akan kembali menjemputku, tetapi sepertinya janji itu tidak akan ditepati. Hari sudah hampir malam. Jangan-jangan sebenarnya tidak ada pesta apa pun. Mungkin dia hanya membohongiku."Nah! Selesai! Ibu mau lihat hasilnya di cermin?" Suara pria yang sedang menanganiku itu membuyar
Sudut Pandang Betty:Joseph dan aku sama-sama diam sampai kami keluar dari toko Xander. Dia membawa kantong kertas berisi aksesori untuk ponsel yang dibelikannya untukku, sementara aku menggenggam ponsel baruku dengan penuh semangat dan tak sabar ingin menggunakannya."Berikan padaku."Aku terkejut ketika Joseph tiba-tiba berhenti berjalan dan mengulurkan tangannya ke arahku."Apa?" tanyaku bingung."Ponsel itu. Kamu nggak akan bisa menikmati jalan-jalan kalau terus memegangnya. Masukkan dulu ke kantong ini," katanya.Aku hanya bisa mengernyit sambil menyerahkan ponsel baruku kepadanya."Kenapa? Kita mau ke mana?" tanyaku kebingungan.Bukannya memasukkan ponsel itu ke kantong kertas, dia malah menyelipkannya ke saku celananya. Tindakannya itu membuatku semakin heran."Maeve akan datang ke sini. Dia akan menemanimu membeli semua kebutuhanmu yang lain. Nanti kita akan menghadiri pesta dan kamu harus ikut denganku," katanya.Aku terkejut."Hah? Pesta? Terus, siapa Maeve ini? Kenapa harus







