LOGINSemua pelayan yang bekerja di sini memakai seragam hitam dengan celemek dan penutup rambut putih. Mirip seperti pelayan yang dilihat dalam gambar-gambar komik. Rupanya dunia yang megah memang ada di Devil Town, hanya saja dirinya terlalu lugu, polos, dan kuper hingga kurangnya pengetahuan. Khaelia tidak akan kaget seandainya ada kebun binatang di belakang rumah. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tanpa sadar membuat Khaelia tersenyum. Ia menunggu nyaris sepuluh menit dan tidak ada
Joice tidak menyukainya, itu hal pertama yang terbersit di otak Khaelia saat mengamati bagaimana pasangan di depannya bicara. Joice selalu berupaya mengajak Carter bicara dan memperkenalkan pada banyak orang. Tidak segan menunjukkan pada semua yang hadir kalau dirinya mempunyai hubungan akrab dengan Carter.“Carter sangat menyukai benda-benda seni, dan karenanya kami akrab satu sama lain.”“Kalian memang pasangan yang serasi.”Bisikan dari Corrado yang ditiupkan ke telinga membuat bulu kuduk Khaelia meremang.“Khaelia, apa kamu setuju kalau Carter dan Joice serasi?”Khaelia menelan ludah. “Tuan, itu bukan sesuatu yang bisa saya komentari.”“Kenapa? Padahal dengan sekali lihat akan muncul jawabannya.”“Karena bukan bagian dari tugas saya untuk berkomentar.”“Khaelia, kamu ini terlalu sopan.”Corrado meninggalkan Khaelia saat beberapa orang
Carter melepaskan pelukan Joice dengan lembut, tidak menanggapi perkataannya tentang perjodohan. Tidak perlu juga terlibat provokasi, mereka di sini untuk bisnis. Sejujurnya ia heran kenapa Joice bersikap begini, tidak biasanya menggembos-gemborkan tentang perjodohan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ada banyak orang di sekitar mereka, menatap dengan penuh ingin tahu dan Carter memutuskan untuk bersikap baik demi menjaga sopan santun. Tentu akan mempermalukan Joice kalau menolak secara terang-terangan, karena itu sekarang ia memilih untuk mengalah. Hanya kali ini saja, tidak ada kesempatan kedua.Para pegawai Joice membungkuk, memberi hormat pada Carter. “Selamat datang, Tuan Carter Solitare.”Carter mengangguk kecil. “Terima kasih.”“Ayo, masuk. Semua orang sudah di dalam, termasuk sepupumu.”Joice tersenyum, menggandeng lengan Carter dengan sudut mata melirik ke arah Khaelia. Merasa senang karena Carter tidak menolak sent
Setelah percakapan itu, Khaelia mulai menepiskan kekhawatirannya dan menjalani hari dengan lebih ceria. Banyak hal berubah setelah pesta usai, termasuk dengan semakin banyaknya kerumunan yang menunggunya di lobi. Kerumunan itu terbelalak saat melihatnya turun dari mobil mewah. Khaelia merasa takut untuk masuk, karena pasti banyak pertanyaan untuknya.Ketakutannya menjadi kenyataan. Begitu kakinya menginjak lobi, berondongan pertanyaan keluar dari bibir orang-orang itu. Di dalam kerumunan ia melihat tiga perempuan dari divisi pemasaran. Apakah mereka kini juga menunggunya?“Khaelia, beri kami saran bagaimana caranya menjadi sekretaris eksklusif?”“Bukankah itu mobil milik bos? Hebat sekali kamu mendapatkan fasilitas antar-jemput.”“Khaelia, bisa nggak aku kerja denganmu di lantai sepuluh?”Semua pertanyaan di atas terlontar dari bibir para pegawai perempuan, sedangkan para laki-laki berbeda lagi.“Kha
Mereka melewatkan libur awal tahun berdua di rumah Carter. Berbaring telanjang sepanjang hari, bercinta tidak terhitung jumlahnya dan saling memuaskan diri sambil bercerita. Carter menumpahkan unek-uneknya soal pekerjaan dan tekanan dari orang-orang sekitarnya. Termasuk keluarga besar Solitare yang menginginkan hal yang lebih besar dan lebih banyak, sampai-sampai menekan Carter hingga sedikit kewalahan.“Apa yang diinginkan Sofia darimu? Aku lihat kalian mengobrol.”“Dia menunjukkan foto-foto kita, Tuan.”“Dia mengambilnya secara diam-diam?”“Benar.”“Untuk apa? Mengancammu?”Khaelia menggeleng. “Bukan, tapi lebih tepatnya senjata untuk menyakiti Karenia. Saya tidak terlalu mengerti, tapi Nyonya Sofia berharap foto-foto kita akan membantunya.”Carter mendesah, muak dengan perseteruan rumah tangga sang kakak yang berimbas padanya. Carlo yang bodoh, jatuh cinta sete
Bibir Carter menyerang dengan sedikit tekanan di bibir Khaelia. Mengulum lembut dengan lidah beradu. Saling membelit, menciptakan sensasi menggelikan tapi juga memabukkan. Mereka saling memagut dengan angin malam berembus menerpa tubuh. Carter menghentikan ciuman, merogoh saku jas dan mengeluarkan kalung dengan liontin berlian berbentuk tetesan air. Mengalungkan di leher Khaelia disertai bisikan yang memabukkan.“Aku selalu menyukai bentuk lehermu yang jenjang dan indah. Kalung ini cocok untukmu, lebih cocok lagi kalau tali gaunmu aku buka.”Khaelia mengusap kalung yang melingkari lehernya. Indah, cantik, dan terlihat sangat mahal. “Tuan sudah memberi banyak sekali. Pekerjaan, bonus, belum lagi sopir yang antar jemput. Sekarang kalung. Nanti saya jadi terbiasa hidup enak, takut ketagihan, Tuan.”“Kamu ini bicara apa? Seperti orang yang mengigau. Semua yang aku berikan memang layak kamu terima. Kalau seandainya kamu bisa menyetir, ak
Carter membawa Khaelia ke rooftop, menonton kembang api dari puncak gedung. Keduanya berdampingan saat melihat kembang api meletus di udara dan memancarkan warna-warna indah. Carter meletakkan tangannya di bahu Khaelia, merasakan kebahagiaan bisa bersama lagi di tengah hingar-bingar pesta.“Wah, berapa anggaran yang dikeluarkan Capital Group? Kembang apinya luar biasa indah dan megah.”“Tidak murah pastinya. Apa kamu lihat banyak masyarakat umum yang menunggu pertunjukan kembang api kami?”“Saya melihat kerumunan dalam perjalanan kemari. Apakah mereka sengaja menunggu kembang api?”“Benar sekali, dari tahun ke tahun pertunjukan kembang api dari Capital Group adalah yang terbesar dan termegah.”“Menyenangkan sekali.” Khaelia mendesah, menatap dentuman terakhir kembang api yang makin memudar. Teringat kenangan masa kecil saat orang tuanya masih lengkap. Sang papa akan membawanya ber
Khaelia bergegas mengikuti Bosman menuju lift. Sedikit lega karena bossnya ternyata tidak setua bayangannya. Lobi dalam keadaan masih cukup ramai, ia menduga mereka adalah para pekerja yang sedang lembur. Tanpa sadar Khaelia mengamati Bosman diam-diam dan menyadari kalau kulit laki-laki itu cenderu
Warning : Adult roman story 21+Nama kota itu adalah Devil Town, tidak ada yang tahu bagaimana asal muasal nama itu diberikan. Kota iblis yang bagi banyak penduduknya memang perpaduan surga bagi orang kaya dan neraka bagi mereka yang tiak punya apa-apa.Devil Town merupakan kota besar dengan gedung
Khelia sedang melintasi lobi yang hari ini cukup ramai saat ponselnya bergetar. Ada notifikasi yang tidak dikenalnya dan ternyata pemberitahuan uang masuk. Ia terbelalak karena tidak menyangka gajinya akan sebesar ini. Hampir lima kali lipat dari gaji di perusahaan terdahulu. Ia sudah tahu gajinya
Carter mendesah, merasakan hasrat menyerbunya hanya karena teringat Khaelia. Ia harus menyingkirkan semua pikiran buruk kalau ingin Khaelia betah di tempatnya bekerja. Ia kehilangan sekretaris lamanya karena laki-laki muda itu tidak kuat bergadang terus menerus, berganti lagi dengan perempuan dan h







