Mag-log inLihat perbedaan yang begitu nyata, Wulan hanya ingin cari lubang untuk sembunyi."Kamu nggak apa-apa? Perlu aku bantu balik ke tempat tidur?"Lihat Surya hanya berdiri diam nggak gerak, Joana justru lebih dulu melangkah hampiri dengan penuh perhatian. Namun baru saja Joana ulurkan tangan hendak bantu, Wulan langsung tepis dia dengan kasar."Nggak usah ikut campur!"Nada bicaranya tajam, dipenuhi permusuhan terhadap Joana. Surya nggak tahan lihat wanitanya diperlakukan seperti itu."Wulan!"Bentakannya menggema di seluruh ruangan. Nada suaranya penuh peringatan. Tubuh Wulan sedikit tegang. Dia gigit bibir bawahnya, lalu tundukkan kepala."Tolong kalian keluar saja."Wulan benar-benar nggak ingin Surya lihat dirinya dalam keadaan sehina ini. Lebih dari itu, dia juga nggak sanggup saksikan pria yang dicintainya bermesraan dengan wanita lain di hadapannya.Sejujurnya, Surya sendiri memang nggak terlalu ingin datang jenguk Wulan. Dia datang semata-mata karena Wulan terluka akibat mobilnya.
Mereka tiba di gedung rawat inap. Belum keluar dari lift, suara pertengkaran yang nyaring sudah terdengar dari luar.“Kalian ini dokter macam apa? Berani-beraninya biarkan putriku jadi pincang seumur hidup! Orang-orang nggak bermoral seperti kalian pantas dapat balasan!”Suara itu milik Esti. Dia sedang berdebat sengit dengan para dokter, terus paksa mereka temukan cara agar kaki Wulan bisa kembali pulih. Namun jawaban yang diberikan para dokter nggak sesuai harapannya.Hampir semua dokter terbaik di kota sudah dia datangi. Sekarang, selain lampiaskan amarah dengan makian, dia nggak punya jalan lain.Surya genggam tangan Joana saat mereka melangkah keluar dari lift. Suara teriakan Esti terdengar semakin jelas. Begitu lihat mereka, wajah wanita itu sempat berbinar. Namun detik berikutnya, ketika pandangannya jatuh pada Joana yang berdiri di sisi Surya, ekspresinya langsung jadi muram.Jelas sekali, dia sama sekali nggak suka dengan kehadiran Joana. Dalam hati, dia berharap Surya mau tan
"Oke."Meski jawab demikian, nggak tahu kenapa hati Joana tetap merasa gelisah."Bantu aku nyalakan rokok," pinta Surya tiba-tiba.Joana terdiam. Dia noleh menatap pria itu. Sorot matanya dipenuhi rasa terkejut. Pria itu beneran suruh dia nyalakan rokok?"Cepat. Semalam aku kurang tidur," ujar Surya lagi.Dia butuh nikotin agar pikirannya tetap segar.Joana ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Kalau nggak bantuin dia, Joana khawatir Surya ngantuk waktu nyetir dan justru alami kecelakaan. Joana ambil bungkus rokok milik Surya dan keluarkan sebatang. Tapi, dia nggak bisa temukan koreknya."Di mana koreknya?" tanyanya."Di sakuku," jawab Surya.Joana bungkukkan tubuhnya dan mulai raba saku jasnya. Saku kiri nggak ada. Saku kanan juga kosong."Di mana? Nggak ada." Nada suaranya mulai terdengar kesal.Surya buka bibir tipisnya."Di saku celana."Joana kembali bungkukkan badan dan raba saku celananya. Telapak tangannya yang lembut nggak sengaja menyapu dada bidang pria itu. Seketika itu
"Apa maksudnya patah tulang sampai remuk?"Di rumah sakit ….Esti, ibu Wulan nyaris hilang kendali setelah terima hasil diagnosis putrinya."Bukannya sebelumnya kalian bilang, setelah operasi putriku bisa sembuh? Kenapa sekarang malah bilang kemungkinan operasinya gagal sangat besar?"Dokter jawab dengan nada berat, "Setelah beberapa hari lakukan evaluasi secara menyeluruh, kita simpulkan kalau risiko kegagalan operasi memang sangat tinggi. Karena itu, pihak rumah sakit nggak sarankan untuk lakukan operasi ...."Wajah Esti langsung jadi sangat cemas."Kalau nggak dioperasi, kapan kaki putriku bisa benar-benar sembuh? Jangan bilang dia harus pincang seumur hidup? Dia masih sangat muda. Gimana dia akan jalani hidupnya nanti?"Dokter hanya bisa menghela napas."Kita ... sungguh minta maaf."Esti sama sekali nggak bisa rerima kenyataan itu."Aku nggak mau dengar kata maaf! Aku cuma mau tahu, apa kaki putriku masih bisa disembuhkan atau nggak?"Dokter menatapnya penuh penyesalan."Kita juga
“Aku sudah pernah jelaskan ke kamu. Antara aku dan Wulan nggak ada hubungan apa-apa,” ujar Surya dengan suara pelan.Joana tersenyum sinis.“Nggak ada hubungan apa-apa? Lalu gimana ceritanya kalian bisa sama-sama masuk daftar pencarian paling populer?”Apa pria itu anggap dia bodoh? Kalau memang nggak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Wulan, gimana mungkin mereka berdua jadi topik hangat di internet hingga diperbincangkan selama dua hari penuh?Dengan kekuasaan dan pengaruh sebesar yang dimiliki Surya, seharusnya nggak ada seorang pun yang berani seret namanya ke daftar pencarian paling populer.Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah karena Surya sendiri biarkan semua itu terjadi.Tatapan Surya semakin dalam.“Bukan aku yang sengaja masuk ke sana. Ada orang yang sengaja atur semua ini dari belakang.”Joana mendengus pelan.“Jangan bilang lagi-lagi ini ulah paman keduamu, Rudi?”Belakangan ini, setiap kali terjadi sesuatu ke Surya, selalu saja ada bayang-bayang Rudi di bel
Tatapan Surya langsung jadi gelap."Dia tindas kamu lagi?"Joana hanya tersenyum tipis, seolah nggak ambil pusing."Aku sudah terbiasa."Setelah berkata demikian, Joana turunkan kaki yang tadi disandarkan di atas wastafel. Namun baru saja satu kakinya sentuh lantai, tubuhnya hilang keseimbangan dan jatuh ke belakang. Untung, Surya sigap tangkap dia. Dari belakang, Surya lingkarkan tangan di pinggang ramping Joana dan topang tubuhnya."Hati-hati."Suara rendahnya yang hangat berembus di dekat telinga Joana.Tubuh Joana langsung jadi tegang. Secara naluriah dia ingin jaga jarak dari Surya. Namun Surya justru rengkuh pinggangnya semakin erat, lalu angkat Joana hingga duduk di atas wastafel."Kamu ngapain?"Joana terkejut. Tatapannya langsung jadi waspada. Dia buru-buru hendak lompat turun dari atas wastafel. Namun telapak tangan Surya yang besar justru tekan pinggangnya lebih kuat, cegah dia bergerak sedikit pun."Jangan gerak sembarangan."Nada suaranya tegas, nggak kasih ruang untuk dib
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan







