LOGINButik itu tidak terlalu ramai ketika Arina tiba. Aroma bunga segar bercampur dengan wangi parfum lembut yang menguar dari sudut ruangan, sementara beberapa gaun berwarna putih dan gading tergantung rapi di balik kaca tinggi. Cahaya matahari yang menembus jendela besar membuat seluruh ruangan tampak hangat, nyaris seperti potongan adegan dari sebuah pernikahan yang sempurna.Arina datang untuk menemui Nadine, pemilik butik sekaligus kawannya, yang beberapa hari lalu memintanya mampir untuk membicarakan sebuah proyek kecil. Ia baru saja menyerahkan tasnya kepada seorang staf ketika langkahnya terhenti di dekat area fitting.Clarissa.Perempuan itu berdiri di hadapan sebuah cermin besar, mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan potongan sederhana yang jatuh anggun mengikuti tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, memperlihatkan sepasang anting berlian kecil yang berkilau setiap kali ia menoleh. Di sampingnya, seorang staf butik tengah merapikan bagian pinggang gaun, sementara staf lai
Sore itu, Arina baru saja menyelesaikan kelas terakhirnya.Setelah memastikan seluruh materi perkuliahan tersimpan rapi di dalam tas, ia berpamitan dengan beberapa rekan dosen yang masih berada di ruang kerja. Hari sudah cukup sore. Koridor kampus mulai lengang, hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang berlalu-lalang sambil membawa laptop dan buku.Arina berjalan menuju area parkir dengan langkah santai. Satu tangannya sibuk memeriksa ponsel, memastikan tidak ada pesan penting dari Askara yang terlewat.Belum jauh dari gedung fakultas, langkahnya sedikit melambat ketika mendengar suara dua mahasiswa laki-laki yang berjalan beberapa meter di depannya.“Gue nginep di kosan lo aja, ya, malam ini.”“Lah, kenapa? Emang lo nggak pulang?”“Males banget pulang.”Arina tidak berniat menguping. Ia tetap berjalan seperti biasa, meski jarak mereka semakin dekat karena arah parkir yang sama.“Kenapa lagi? Berantem sama bokap lo?”“Bukan berantem. Cuma males aja ketemu orang rumah. Apalagi sekarang
Clarissa tiba di butik pengantin tepat pukul sepuluh pagi.Sebuah butik mewah dengan interior serba putih dan aroma bunga segar yang samar menyambut kedatangannya. Deretan gaun pengantin terpajang di balik kaca, masing-masing tampak indah dengan detail renda, payet, dan potongan yang dirancang untuk membuat siapa pun terlihat memukau di hari pernikahannya.Clarissa hanya melirik sekilas sebelum seorang pelayan menghampirinya.“Selamat pagi, Nona Clarissa. Kami sudah menyiapkan beberapa gaun sesuai pilihan Anda sebelumnya.”“Baik. Kita mulai saja.”Pelayan itu sempat menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang yang seharusnya datang bersamanya. Namun, setelah memastikan Clarissa datang seorang diri, ia kembali tersenyum sopan.“Apakah Tuan Alfian akan menyusul nanti?”“Tidak.”Jawaban singkat itu membuat pelayan tersebut sedikit terdiam, tetapi ia segera mengangguk dan mempersilakan Clarissa menuju ruang fitting.Clarissa tidak merasa perlu menjelaskan lebih jauh. Alfian tidak datang
Askara baru saja menurunkan ponselnya ketika panggilan itu berakhir. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang menyusun potongan puzzle yang tak kunjung lengkap.“Terus ikuti dia. Jangan sampai ketahuan. Aku mau tahu setiap gerakannya.”Nada suaranya dingin, nyaris tanpa emosi—namun sarat kewaspadaan.Baru satu langkah ia ambil ke depan, Askara berhenti mendadak.Ada sosok yang berdiri tepat di belakangnya.“Arina?”Ia sedikit tersentak, refleks menoleh cepat. Arina berdiri dengan tangan terlipat di dada, wajahnya tak lagi menyisakan kelembutan seperti biasanya. Tatapannya tajam, penuh selidik—dan jelas, ia telah mendengar semuanya.“Clarissa,” ucap Arina pelan, namun nadanya menekan. “Kamu nyuruh orang buat ngikutin dia?”Askara membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Sedetik ia terlambat—dan sedetik itu cukup bagi Arina untuk menarik kesimpulan yang paling ia takuti.“Kamu masih belum bisa lepas dari dia, ya?” Arina tersenyum tipis, tapi senyum itu rapuh. “Sam
Dapur villa pagi itu dipenuhi cahaya matahari yang masuk dari jendela besar. Udara pegunungan masih dingin, tapi aroma bawang putih yang ditumis perlahan membuat suasana terasa akrab—seperti rumah yang sudah lama menunggu untuk dihuni kembali.Arina berdiri di depan meja dapur, memotong sayuran dengan gerakan hati-hati. Di sebelahnya, nenek Askara mengaduk sup dengan tangan yang sudah berkerut, tapi gerakannya tetap mantap. Sesekali perempuan sepuh itu melirik Arina, senyumnya tenang, seolah menyimpan banyak cerita.“Kamu kelihatan nyaman di sini,” ujar sang nenek akhirnya. “Tidak canggung.”Arina tersenyum kecil. “Mungkin karena vilanya hangat, Nek.”Nenek Askara terkekeh pelan. “Bukan vilanya. Orangnya.”Ia mematikan kompor sebentar, lalu bersandar ringan di meja. Tatapannya kini lebih dalam, lebih personal. “Askara berubah sejak ada kamu.”Arina terdiam, jemarinya berhenti memotong. “Berubah bagaimana, Nek?”“Lebih tenang,” jawabnya tanpa ragu. “Dulu dia selalu terlihat seperti ora
Pukul empat pagi di villa itu terasa terlalu sunyi. Hanya suara angin yang menyelinap lewat celah jendela dan dengung pendingin ruangan yang menemani.Pintu kamar mandi akhirnya terbuka.Askara keluar dengan rambut masih basah, handuk melingkar di leher, kaus tipis yang menempel di tubuhnya karena uap air. Wajahnya terlihat jauh lebih segar—terlalu segar untuk seseorang yang menghabiskan hampir satu jam di kamar mandi dini hari.Askara berjalan keluar dari kamar mandi sambil bersiul pelan. Tangannya sibuk mengusak rambut basahnya menggunakan handuk. Ini pukul empat pagi di kawasan kebun teh yang amat dingin. Tapi pria yang wajahnya berseri-seri itu justru dengan kesadaran penuh memilih untuk menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi. Apalagi kalau bukan karena kegiatan tak pantas sebab aksinya tak tuntas dengan sang kekasih yang mengakibatkannya harus ber-solo ria?Seperti biasa, mereka tidak akan melangkah begitu jauh. Askara masih menghargai apa yang menjadi prinsip Arina sekali
“Jefan selingkuh sama Nindy, kan?”Arina hampir melotot saat tiba-tiba Silvia menelpon dan langsung menyambarnya dengan kalimat pembuka yang cukup pedas. Bukannya kaget tentang fakta tersebut, Arina jelas lebih kaget sebab Silvia mengetahui hal ini."Hah?!" Arina bingung membalas apa dan hanya bisa
Setelah acara talkshow berakhir, para narasumber diarahkan menuju ruang makan eksklusif di dalam gedung rektorat. Rektor sendiri yang mengundang mereka untuk makan siang bersama sebagai bentuk apresiasi atas waktu dan wawasan yang telah dibagikan kepada para mahasiswa. Syukurnya, orang-orang sibuk
“Bu Arina!”Arina menoleh saat namanya disebut. Wanita itu baru saja hendak sedikit bersyukur saat mengetahui bahwa acara hari ini belum mulai karena katanya masih harus menunggu rektor yang masih menyambut tamu penting di kantornya. Tumben sekali Arina bersyukur atas adanya keterlambatan semacam i
Kepalanya terasa berat, seakan ada palu godam yang terus-menerus menghantam pelipisnya. Arina mengerjapkan mata, menyadari dirinya terbangun di sofa. Cahaya matahari yang menembus tirai membuat matanya semakin berdenyut nyeri.Begitu kesadarannya setengah terkumpul, mual yang mendesak perutnya tak







