Share

Kontrak Panas dengan CEO
Kontrak Panas dengan CEO
Author: Cinta94

Bab 1 - Ladies

Author: Cinta94
last update publish date: 2025-11-20 21:57:11

"Bella, please, ya, ya.. Janji deh, ini yang terakhir," ucap Shreya dengan mengatupkan kedua tangannya dan tak lupa memasang puppy eyes.

Arabella memicingkan kedua matanya, menatap sahabatnya. Menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dengan tangan yang menyilang di dada.

Shreya Valerry dan Arabella Zayana, mereka sudah bersahabat sedari masih duduk dibangku SMP. Shreya yang seorang anak broken home, sedangkan Arabelle yang memiliki keluarga harmonis.

Sangat berbanding terbalik keadaan keduanya. Tetapi, kehidupan ekonomi Shreya lebih menjanjikan dari pada Arabella. Shreya adalah putri tunggal dari seorang pengusaha di negeri ini, sedangkan Arabella hanyalah anak dari seorang pemilik toko kue. Bukan toko besar, hanya sebuah toko kecil, namun banyak diminati oleh orang-orang karena ibu Arabella sangat pandai dalam membuat kue.

Kehidupan dua sahabat ini sangatlah berbanding terbalik, satu beruntung karena memiliki keluarga yang utuh dan harmonis, tetapi tidak beruntung dari segi ekonomi. Sedangkan satunya lagi, dia beruntung dari segi ekonomi, tetapi tidak dalam hal keutuhan keluarga dan kasih sayang.

Kali ini Shreya kembali meminta Arabella untuk menggantikannya dalam kencan buta yang diatur oleh sang ayah. Shreya tidak mau jika harus menjalin suatu hubungan karena sebuah perjodohan, dia ingin hubungannya nanti karena perasaan itu tumbuh dengan sendirinya.

"Ok, kali ini tipe cowoknya kaya gimana?"

"Aaaaaa, serius, Bel?" Teriak Shreya dengan antusias dan tak lupa sorot matanya yang berbinar.

"Tapi.. ini yang terakhir gue bantuin lo ya. Gue gak mau kejadian kemarin terulang lagi," sahutnya dengan menatap tajam sahabatnya.

Shreya tersenyum merasa tidak enak juga, karena terakhir kali Bella menggantikannya untuk pergi kencan, dia harus dihadapkan dengan seorang pria tua, yang lebih cocok untuk menjadi kakek mereka. Sungguh, saat itu Shreya tidak habis fikir dengan sang ayah, bagaimana bisa dia mencarikan calon suami untuknya dengan modelan seperti itu.

"Janji, kali ini bukan pria tua bangka, yang sudah bau tanah yang akan makan bareng lo."

"Jadi, gimana ciri-cirinya?"

"Kata Papi, dia pria tampan, mapan, masih muda juga tentunya. Cuman, gue lupa, kalau dia itu anak dari seorang pengusaha terkenal, tapi gue lupa nama perusahaannya apa," bukan penjelasan yang Shreya berikan, membuat Arabella kesal.

"Kebiasaan lo, gak bisa kasih info dengan jelas!" Omel Bella.

Shreya hanya tertawa dengan menunjukkan deretan giginya yang rapih dan putih.

Shreya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Wah, udah mepet banget. Kita harus ke butik sekarang terus ke salon!" Panik Shreya seraya menarik lengan Bella.

Bella yang belum siap dengan tarikan dari sahabatnya itu, pun terhuyung, namun langkahnya bisa dia stabilkan kembali.

**

Kedua wanita yang memiliki paras cantik ini pun sudah berada di sebuah toko baju dengan brand ternama. Mereka tidak jadi ke butik, karena akan memakan waktu lebih lama lagi.

"Shreya, lo gak bilang kalau kencannya hari ini?" Kaget Arabella, karena fikir dia itu malam minggu, seperti jadwal biasanya.

"Duh, kali ini si pria yang sibuk. Kata Papi dia calon CEO, meneruskan Papanya, Papinya, ah ntahlah siapa. Pokoknya, kita mengikuti jadwalnya dia. Ok, tidak ada waktu ayo... cari baju yang cocok buat lo!" Seru Shreya dengan tangan yang dia tepuk-tepukan.

Sungguh Arabella tidak habis fikir dengan jalan fikiran sahabatnya ini. Bagaimana bisa semendadak ini. Jika saja dia bukan sahabatnya, Arabella tidak mau cape-cape begini.

Baik Arabella mau pun Shreya, keduanya tengah mencari-cari gaun yang cocok untuk dikenakan oleh Arabella.

Arabella mengambil sebuah gaun, namun menurut Shreya itu tidak cocok dengannya. Begitu pun dengan Shreya, kala dia mendapatkan sebuah gaun, Bellalah yang merasa tidak cocok.

Hingga salah satu pelayan disana memberikan sebuah saran, dia menunjukkan sebuah dress keluaran terbaru. Berwarna maroon, model Cocktail Dress. Kedua mata Shreya berbinar kala melihat model dress yang pelayan itu berikan.

"Ok, cepat!" Shreya mengambil dress tersebut lalu menarik lengan Arabella untuk masuk ke ruang ganti.

Cukup lama Arabella berada di dalam ruangan berbentuk kotak yang terdapat sebuah cermin besar di dalamnya, agar memudahkan mereka yang sedang mencoba baju untuk melihat penampilannya.

Arabella keluar, membuat Shreya tersenyum lebar dengan kedua alis yang dia naik turunkan. Seolah dia merasa puas dengan penampilan sahabatnya ini.

"Bungkus, mba!" Titahnya.

Dress tersebut begitu cocok di tubuh Arabella, sungguh perfect.

Kini mereka beralih ke salon. Ini adalah salon langganan mereka berdua jika sedang ada misi. Pelayan salon pun sudah mengenali mereka dan mengetahui harus memoles wajah Arabella seperti apa. Namun, kali ini Arabella ingin make up yang soft saja, jangan terlalu tebal seperti biasanya.

Karena terakhir dia make up dengan tebal, esok harinya tumbuh jerawat, wajahnya dipenuhi dengan bintik-bintik merah. Dia merasa tidak nyaman pergi ke kantor dengan keadaan wajahnya yang seperti itu.

"Lo yakin?" Tanya Shreya memastikan, karena jika di make up tipis akan membuat orang mengenalinya.

Arabella mengangguk yakin. Dia tidak mau mengorbankan wajahnya lagi. "Lagi pula, gue gak akan ketemu lagi sama dia," ucapnya dengan penuh keyakinan.

Shreya pun hanya bisa mengangguk pasrah, setuju saja dengan Arabella.

Cukup lama dan sedikit membuat Shreya merasakan panik karena waktu terus berjalan. Hingga tak lama seseorang yang tengah meng-make up Arabella pun bersuara.

"Selesai, Mba. Seperti inikan?" Ucapnya seraya mengayunkan tangannya di antara dagu Arabella.

Arabella membuka matanya, dan melihat pantulan wajahnya dari cermin. Dia merasa kagum dengan wajahnya sendiri.

Shreya pun dibuat takjub akan hasil yang telah dibuat oleh si karyawan salon ini.

"Waw.. ntah tangan Mbanya yang luar biasa atau memang wajah lo ini cantik, Bel!"

"Lo kalau mau muji gue, puji aja, gak usah malu gitu."

Shreya pun kembali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Ayok.. udah gak ada waktu lagi!"

Mereka berdua pun bergegas menuju sebuah restoran ternama di kota ini. Jangan sampai pria itu datang lebih dulu dibanding mereka berdua, bisa gagal rencana mereka.

"Ok, semuanya masih aman!" Ucap lega Shreya kala melihat meja yang sudah di reservasi atas namanya masih kosong.

"Gue, serahin semuanya sama lo. Gue mau dia ilfeel se ilfeel, ilfeelnya sama gue, sampai dia gak mau deal sama perjodohan ini, ok Bel?" Ujarnya dengan serius seraya menangkup tangan Arabella dan kini mereka menjadi sorotan orang-orang yang mejanya berdekatan dengan mereka.

Arabella menyadari perubahan ini, dia melirik dengan ekor matanya ke kanan dan ke kiri.

Menarik tangannya dari genggaman Shreya. "Sikap lo bikin ambigu orang-orang, tahu!" Protesnya.

Shreya pun menyadari itu, setelah dia melihat sekitar. Dia pun tersenyum canggung.

"Pokoknya, seperti biasa. Ok, sahabatku yang cantik jelita," pujinya membuat Arabella tersenyum dengan manis.

"Baik, tuan putri!"

"Ok, gue tunggu di depan. Figthing!!"

Arabella mengacungkan dua jempolnya, seperti biasa dia selalu percaya diri jika tengah menjalankan misi ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 56-Azelan

    "Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 55-Malu

    Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 54-Prabrik

    Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 53-Kekhawatiran Sang Ayah

    Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 52-Giselle

    Hari ini mereka kembali bekerja seperti biasa di kantor, setelah kemarin sibuk dengan urusan resort, kali ini mereka akan kembali sibuk dengan produk terbaru yang akan diproduksi oleh Zayn Holding, yaitu food product. "Selamat pagi gais.." seru Arabella menyapa rekan satu divisinya ini. Ketiga rekan kerjanya pun menolehkan kepala mereka menatap Arabella yang masih berdiri di ambang pintu. Bella pun berjalan menuju mejanya, lalu menyimpan makanan yang dia bawa dari Bali kemarin. "Gue bawain makanan. Ceritanya sih oleh-oleh," ucapnya lagi. Altair bangkit dari kursinya menghampiri Arabella. "Kenapa repot-repot sih, kan jadi enak." Sahutnya. "Ehem..." Eliza berdehem, lalu menatap Arabella. Seketika suasana menjadi sedikit canggung, Bella pun tidak paham dengan kondisi ini. Dia menatap ketiga rekannya bergantian. "Ada apa, Bu? Ada sesuatu yang urgent?" "Arabella, jangan sembunyikan ini lagi dari kita, katakan yang sejujur jujurnya, gosip ini sudah tersebar diseluruh kanto

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 51-Shreya Cegil

    Lyana mencari tahu latar belakang Azael. Dia membuka internet untuk memastikan siapa Azael sebenarnya. Kenapa bisa dia tidak mencurigai Azael dari awal. Lyana mengira jika Azael hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan itu, tanpa mengetahui nama belakang pria itu. Matanya terfokus pada layar laptopnya, disana terdapat biodata Azael yang merupakan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha ternama di negeri ini. "Azael Malik Zayn," tersenyum sinis kala menyebutkan nama Azael. "Bagaimana bisa lo ketemu dengan pria seperti Azael, Arabella Zayana." Sambungnya. Nampak jelas sekali kekesalan di raut wajah Lyana, kala dia memikirkan bagaimana jalan hidup dan kisah cinta Arabella. Dia terus menggulir informasi di internet mengenai Azael, hingga saat masuk ke artikel selanjutnya, ide liciknya pun bekerja. Tersenyum dengan lebar kala dia memikirkan hal ini. ** Di dalam kamar, dua orang wanita sedang merapihkan barang-barangnya, karena esok hari mereka akan check out dan kembali te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status