แชร์

BAB 5 - TERUNGKAP

ผู้เขียน: Gitapuccino
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-03 21:18:35

“Dana itu saya pakai, Pak.”

Singkat, padat, dan sudah terlampau jelas. Bagas tidak terlihat terkejut. Seolah jawaban itu memang sudah ia duga sejak awal. “Untuk keperluan perusahaan?”

“Tidak.”

“Berarti untuk kepentingan pribadi.”

Pernyataan Bagas terasa seperti palu yang menghantam kepala. Karena sudah tidak mungkin lagi Daya mengelak semua hal yang telah ia perbuat. Daya akhirnya mengangguk pelan.

Ruangan kembali hening. Bagas tidak lagi melanjutkan kata. Pria itu justru hanya menghela napas sembari melipat kedua lengannya.

“Kalau saya mau, saya bisa saja membawa kasus ini ke jalur hukum sekarang juga.” Perkataan Bagas barusan sudah cukup membuat lawan bicaranya itu berdiri diambang kematian. “Tapi, Anda tenang saja. Saya belum melakukannya.”

Kalimat itu membuat kepala Daya perlahan terangkat. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan ini, Daya kembali menatap Bagas. Wajah pria itu masih juga tenang seolah tidak ada apa pun.

“Saya menyayangkan satu hal, Bu Daya,” kata Bagas melanjutkan. “Nama baik Anda sendiri. Selama ini saya bahkan tidak pernah menemukan nama Anda dalam buku pelanggaran apa pun. Selalu review baik yang saya dengar. Tapi, ternyata … orang seperti Anda pun juga bisa gelap mata. Jujur, saya sangat kecewa.”

Daya menggigit bibirnya. Dàdànya mulai terasa sesak. Seluruh pertahanan yang sudah Daya coba lakukan kini mulai retak sedikit demi sedikit.

“Saya ditipu tunangan saya, Pak,” kata Daya akhirnya.

Kalimat yang selama ini Daya tahan akhirnya keluar. Sudah kepalang basah. Sudah tidak ada gunanya lagi menutupi semuanya. Sampai tangisan Daya pun juga mulai pecah. Sudah tidak kuasa lagi Daya menahannya.

“Maafkan saya, Pak Bagas. Saya tidak mencoba mencari pembenaran. Saya pula tahu setiap detik yang saya lakukan tidak bisa lagi dimaafkan. Malam itu saya benar-benar tidak melihat ada jalan keluar lain.”

“Semua itu bukan alasan. Anda melakukannya dalam keadaan sadar dan Anda pula tahu jika semua perbuatan yang dilakukan pasti akan ada konsekuensi yang harus diterima.”

Bagas beranjak dari duduknya. Lalu, menyodorkan kotak tissue pada Daya. Setelah melihat wanita itu berangsur-angsur tenang, barulah ia mengambil satu lembar kertas dari dalam sebuah map. Kertas itu kemudian didorongnya perlahan ke arah Daya.

Daya menatapnya bingung. “Ini apa, Pak?”

“Rincian transaksi yang telah Anda lakukan.” Bagas menyandarkan punggungnya. “Kesialan Anda malam itu adalah secara kebetulan saya sedang memeriksa transaksi dengan nominal besar setiap selesai audit.”

Tidak sedikit pun tatapan Bagas teralih dari wanita yang saat ini terlihat kasihan di depannya. Suasana ruangan itu tidak berubah sedikit pun. Masih sunyi bercampur ketegangan seperti beberapa saat lalu.

“Apa semua transaksi ini benar Anda yang melakukannya, Bu Daya?”

Untuk kesekian kalinya Daya kembali mengangguk. “Ya. Apa saya dipecat, Pak?”

“Hanya sekadar pemecatan adalah keputusan paling tidak setara dengan perilaku yang telah Anda perbuat.”

Tidak ada sahutan apa-apa dari bibir Daya. Semua yang Bagas katakan sudah lebih daripada cukup. Semua yang Bagas katakan sudah tidak bisa Daya tepis lagi dengan argumennya. Daya hanya bisa menerima keputusan yang akan diterimanya tanpa ada niatan memprotes.

Diamnya Daya seolah memberikan jawaban pasti untuk Bagas. Untuk itulah akhirnya Bagas tidak akan segan lagi memberikan ultimatum menyakitkan atas perbuatan berani yang telah wanita itu lakukan.

“Besok pagi, tepatnya pukul sembilan, silakan datang lagi ke ruangan saya.” Tatapan Bagas masih tidak berubah. Masih terlihat tenang seperti halnya tidak terjadi apa-apa. “Dari situ saya akan memutuskan apa yang harus saya lakukan terhadap Anda.”

Dunia Daya terasa runtuh untuk kedua kalinya. Daya bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa keluar dari ruangan itu. Kakinya terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena akhirnya rahasia yang selama ini menghimpit dàdànya terbongkar. Berat karena mulai besok pagi, seluruh hidupnya mungkin akan berubah seratus delapan puluh derajat.

Malam ini seakan menjelma menjadi malam penghakiman untuknya. Begitu tiba di parkiran, Daya tidak langsung menyalakan motornya. Ia hanya duduk lemas sembari menatap kosong ke arah setang. Semua kemungkinan buruk berputar tanpa henti di kepala Daya. Tatapannya lurus ke depan. Empat tahun membangun kepercayaan, seketika sirna hanya dalam hitungan menit saja.

***

Bagas menghela napas berat. Ia memang tidak mengingat secara keseluruhan karyawannya secara pribadi. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dihafal satu per satu. Akan tetapi, nama-nama yang memperoleh penilaian terbaik saat laporan evaluasi kinerja tentu masih melekat baik dalam ingatannya.

Apalagi setelah pertemuan singkat mereka di Semarang waktu itu. Bagas baru mengetahui bahwa Dayana Prameswari ternyata adalah kakak perempuan Ayu. Karena itulah, ketika sistem menampilkan beberapa otorisasi atas nama wanita itu pada transaksi pukul dua lewat tujuh belas menit dini hari, Bagas langsung membuka riwayatnya sendiri.

Bermacam pemikiran berputar dalam benak Bagas. Selama bertahun-tahun memegang area cabang, Bagas sudah menangani berbagai macam kasus penyalahgunaan dana. Dan, hampir semuanya memiliki pola yang sama. Namun, kasus Dayana Prameswari sedikit berbeda.

Dana itu berpindah-pindah. Kemudian, terpecah ke beberapa rekening dengan nominal yang berbeda-beda pula. Anehnya, tidak ada satu rupiah pun yang mampir ke rekening miliknya.

Bagas bangkit dari kursi kebesarannya. Pandangannya kembali mengarah ke jendela besar yang memperlihatkan gemerlap lampu kota malam itu. Besok pagi ia akan bertemu kembali dengan Dayana Prameswari. Bagas ingin memastikan sekali lagi. Apakah wanita itu masih pantas untuk dipertahankan ataukah langsung menyerahkannya pada proses hukum?

Namun, tiba-tiba saja sebuah kemungkinan lain perlahan mulai terbentuk di kepala Bagas. Sebuah kemungkinan yang bahkan akan terdengar jauh lebih gila dibandingkan membawa Dayana ke meja hijau.

Bagas memejamkan matanya sejenak. Ada satu masalah pribadi yang sejak beberapa hari terakhir terus membuntutinya. Dan, entah kenapa pertemuannya dengan Daya malam ini seakan memperjelas bahwa keduanya terasa saling tarik menarik. Kedua persoalan itu seakan seperti menemukan satu titik temu.

Sudut bibir Bagas terangkat tipis. Akhirnya ia menemukan satu jalan keluarnya.

“Besok penentuannya,” gumam Bagas lirih.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 100 - PESAN MENAKUTKAN

    Perubahan-perubahan yang terjadi untuk seorang ibu hamil salah satunya adalah perubahan emosi dan juga nafsu makan yang mulai sulit untuk bisa ditahan. Program diet alias rutinitas menjaga pola makan yang dilakukan Daya selama kurang lebih hampir setahun belakangan ini semua hancur berantakan. Berat badannya bertambah dan itu membuatnya terbelalak tak berkedip saat kakinya menginjak timbangan.“Mas, aku gendutan,” kata Daya pada Bagas yang saat itu tengah duduk bersantai di ruang keluarga.Hari ini hari Minggu, dan Bagas lebih memilih berada di rumah menemani sang istri tercinta. Bagas menoleh melirik aktivitas yang tengah dilakukan Daya—berdiri di atas timbangan.“Memang salahnya di mana kalau kamu jadi gendutan? Kamu itu lagi bawa keajaiban di situ, Sayang. Biarkan dia bertumbuh dengan maksimal.”“Iya, sih. Apa cara makanku yang kebablasan, ya, Mas?” Daya meletakkan bokongnya di sisi sebelah Bagas kemudian menyandarkan tubuhnya di sana. “Anakmu ini lape

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 99 - PENUH KEHANGATAN

    Hari-hari Daya kembali seperti sediakala. Ketakutan Juna akhirnya tidak terjadi. Kandungan Daya kuat dan sehat, malah sekarang ia diperbolehkan melakukan semua aktivitas apa pun asalkan tidak terlalu memberatkan. Rutinitas baru Daya sekarang adalah sering berkunjung ke resto. Hal yang dahulu sempat Daya minta ke Bagas akhirnya ia lakukan juga tanpa seizin suaminya itu. Prinsip Daya adalah kalau capek dan bosan, maka ia tidak akan mengerjakan apa-apa. Ya, dan sejauh ini semua terkendali.Tiga bulan sejak kepindahan mereka di rumah baru, suasana tidak mengenakkan resto lagi-lagi datang. Siang itu Daya sedang duduk santai menunggu pesanan makanan di meja yang selalu ia tempati jika ke resto. Ketika Daya mendongak ternyata Rosa sudah berdiri tepat di sampingnya.“Aku dengar kalian pindah rumah.” Rosa langsung menjatuhkan dirinya di kursi depan Daya, dengan cekatan membuka buku menu, lalu menyerahkan pesanannya ke pelayan. “Kenapa pindahan secepat itu? Apa kalian takut aku

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 98 - PALING MUJARAB

    Daya terbaring dengan lemas di atas ranjang. Bukan mau Daya merusak acara sore itu, tetapi tubuhnya yang malah berkata lain.“Mas ….”Bagas yang sedang berkutat dengan notebooknya seketika menoleh, mendekati Daya yang benar-benar terlihat tidak berdaya sama sekali.“Masih ada yang sakit?” tanyanya cemas. Terlalu cemas.Daya menggeleng, “Bunda mana?”Selang tidak lama kemudian bunda dan ayah pun masuk dengan wajah tak kalah cemasnya. Tangisan Daya tiba-tiba meledak tidak karuan. Sampai bunda sendiri bingung atas ulah putri sulungnya itu.“Loh, kok? Kenapa mendadak jadi cengeng gini sih? Kamu itu sudah mau jadi ibu anak dua loh, Day. Ssst … sudah … sudah,” celetuk Hera, namun langsung mengelus pelan punggung putrinya itu. “Mulai sekarang kalau mau apa-apa harus lebih berhati-hati. Bunda dan ayah nggak mau kamu dan juga anak yang sedang berkembang ini kenapa-napa. Jangan bandel. Nurut apa kata suami,” kata Hera sambil beralih mengusap perut Day

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 97 - RASA ITU DATANG LAGI

    Semua terjadi begitu luar biasa lancar. Kebosanan Daya di rumah lumayan terobati karena rutinitas barunya. Beberapa furniture hasil pilihan Daya langsung disetujui begitu saja oleh Bagas, malah kabarnya sudah ada pula yang sampai di sana. Otomatis Daya harus langsung ke sana mengecek semuanya, meskipun Bagas lagi-lagi sudah meminta bantuan tim Monika untuk mengurus semua dekorasi dan peletakan semua barang. Dan, ternyata lagi selebaran dan juga katalog yang Sukma berikan kapan lalu adalah hasil rekomendasi dari Monika. Ah … benar-benar luar biasa sekali teman suaminya itu.Satu per satu ruangan sudah mulai terisi persis seperti yang Daya mau. Daya bahkan sudah memberikan aksen tambahan untuk mempercantik ruangan tersebut. Daya tersenyum lega. Di sinilah Daya sekarang. Di ruangan yang agak menjorok ke belakang, namun pemandangan yang disajikan benar-benar membuat mata segar. Sebuah taman serta suara gemericik kolam dan juga gazebo bisa leluasa ia lihat. Bagas memang sen

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 96 - LOVE YOU TOO

    Siang itu, Daya yang sedang sibuk membongkar kardus di belakang bersama Ratih mendadak kaget dengan kedatangan Sukma yang tiba-tiba ke rumah. Sukma hanya tersenyum tipis saat Ratih menyuguhkan minuman dan camilan di atas meja.Hal pertama yang dilakukan Sukma adalah menyampaikan segala perihal yang diperintahkan atasannya kepada nyonya rumah. Sukma sempat beranggapan bahwa semua yang atasannya itu lakukan sangatlah berlebihan. Namun, Sukma seketika mengerti begitu bertemu dengan istri atasannya itu.“Terus, pak Bagas bilang apa lagi?” cerca Daya merasa tidak suka, karena Bagas benar-benar mulai membatasi geraknya.Sukma menggeleng, “Sejauh ini hanya itu yang pak Bagas minta ke saya. Beliau hanya ingin membuat Ibu merasa nyaman di rumah. Apa masih ada yang memberatkan, Bu? Nanti saya akan sampaikan ke bapak.”Daya menghela napasnya, “Sekarang, pak Bagas di mana? Kenapa bukan dia sendiri yang ke sini? Tumben-tumbenan dia minta kamu kemari dengan urusan yang

  • Kontrak Pernikahan dengan Bosku   BAB 95 - PERFECT

    Hening. Tidak ada niatan membuka obrolan sama sekali. Pintu mobil belum bisa terbuka karena Bagas belum membuka central lock di sebelahnya. Daya menoleh dengan tatapan bingung. Karena sejak mereka keluar dari area parkiran klinik, suaminya itu tidak berkata apa-apa. Bibir Bagas seperti terkunci, hanya fokusnya saja yang masih waspada dengan kemudi dan jalan di depannya.Daya menepuk pelan pundak Bagas, “Mas? Kok malah bengong. Pintunya belum kamu buka.”Masih belum ada niatan Bagas untuk menjawab—bergeming dengan tangannya yang masih menggenggam erat kemudi. Fokus Bagas hanya pada satu titik, tetapi entah kenapa terlihat kosong di mata Daya.“Kenapa sih?” Lagi. Daya hanya bisa menepuk pundak suaminya itu dengan gemas karena tidak ada respons apa pun. Lalu, Daya mengibaskan tangannya berulang kali ke arah wajah Bagas namun malah digenggam dengan penuh perasaan, “Mas?” Daya kembali membeo.“Maaf ...” ucapnya tiba-tiba. Pelan, juga lirih. Sampai Daya nyaris

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status