Home / Romansa / Kontrak Suci / 57~Tetap di Sampingku

Share

57~Tetap di Sampingku

Author: Kanietha
last update publish date: 2026-07-15 22:30:21

“Akhirnya, selesai juga!”

Suci menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan tubuhnya yang terasa penat. Setelah seharian berjibaku menata perabotan di rumah baru, akhirnya tugas itu rampung juga.

Setelah menunggu hampir setengah bulan, akhirnya rumah tersebut bisa ditempati juga. Meski masih ada beberapa sudut yang belum sempurna, rumah itu akhirnya siap menjadi tempat untuk membangun kehidupan baru.

“Nanti malam beli bakso aja, ya, Mas?” lanjut Suci sam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (10)
goodnovel comment avatar
AnnaNia
njamur gaes
goodnovel comment avatar
Aning Averta Ariani
Koq blm up mba beb....
goodnovel comment avatar
App Putri Chinar
bakalan reuni di rumah baru nya mas arif nih
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kontrak Suci   89~Memiliki Segalanya

    “Alaska, Bu,” jawab Yeyen yang berdiri berseberangan dengan Deswita. Sejak Ivan pergi, majikannya itu langsung menginterogasinya perihal percakapannya dengan Ivan. “Panggilannya Aska. Lengkapnya Alaska Adiningrat.”Deswita membuang napas panjang. Tangannya bersedekap erat selama mendengarkan penjelasan Yeyen.Harusnya, Ivan mengatakan semua hal itu pada Deswita. Bukan pada asisten rumah tangga mereka. “Ibu sama bayinya sehat?” tanya Deswita lagi. “Sehat semua, Bu.”Deswita kembali membuang napas panjang. Ada rasa lega, karena perbuatannya kala itu ternyata tidak sampai membuat Suci dan bayinya mengalami sesuatu yang buruk. Untuk yang satu ini, keberuntungan masih berada di pihak Deswita. “Masih ada lagi yang diceritain Bapak?” “Emm …” Yeyen menggumam agak lama untuk mengingat-ingat. “Itu aja kayaknya, Bu. Bapak tadi, banyakan lihatin foto-fotonya Mas Aska. Persis banget sama Mas Arif. Terus–”“Sudah, sudah,” potong Deswita sambil mengibas tangannya dengan gestur mengusir. Ia engg

  • Kontrak Suci   88~Kembali Utuh

    “Belum tidur, Bun?” tanya Ivan setelah memasuki kamar. Lampu masih menyala dan Deswita duduk bersandar di tempat tidur. Televisi di hadapannya menyala, tetapi Ivan yakin pikiran istrinya sedang tidak berada di tempat. Ivan memang sengaja membatasi semua informasi mengenai Arif dan Suci pada Deswita. Hal itu dilakukannya sebagai hukuman, karena Ivan yakin bahwa istrinya sedang dilanda rasa penasaran yang luar biasa. Dan rasa itu, semakin lama pasti akan menumpuk dan menyiksa. Terlebih setelah Deswita tahu, bahwa saat ini ia resmi menyandang status sebagai seorang nenek.“Ini hampir jam sebelas,” lanjut Ivan sambil meletakkan dompet dan ponselnya di nakas. “Kan, sudah kubilang, tidur aja duluan. Nggak usah nunggu aku.”“Aku nggak bisa tidur,” ujar Deswita lalu mematikan televisi dengan remote. “Jadi … em, sudah lahir?”“Sudah!” Ivan tersenyum lebar tanpa melihat istrinya. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi, tanpa memberi penjelasan apa pun. Deswita menghela kasar melihat Ivan yang b

  • Kontrak Suci   87~Seorang Ayah

    “Ada janji sama orang?” tanya Deswita akhirnya meletakkan sendoknya di piring. Sejak berada di meja makan, tatapan Ivan selalu tertuju pada ponsel yang tergeletak di meja. Tidak fokus pada makanan di hadapannya. “Atau lagi nunggu paket penting?”Ivan menggeleng pelan, lalu menghela panjang. “Nunggu Arif.”“Arif … mau nelpon?” tanya Deswita sambil kembali meraih sendoknya. Sebenarnya, banyak hal yang ingin ditanyakan mengenai Arif pada Ivan. Namun, mulut Deswita seolah bungkam ketika hendak membicarakan putra mereka sendiri. “Bukan.” Ivan kembali menggeleng. “Sudah setengah jam dia di ruang bersalin, tapi belum ada kabar.”Mata Deswita terbuka pelan dan melebar. Ia cukup terkejut mendengar hal tersebut, tetapi tetap berusaha menyembunyikan keterkejutannya di depan Ivan.“Operasi, atau normal?” tanya Deswita hati-hati dengan melembutkan suaranya.“Normal.”“Ohh …” Deswita membuang napas panjang dan pelan. “Anak pertama, jadi mungkin agak lama. Arif dulu juga gitu, kan.”“Iya.” Ivan me

  • Kontrak Suci   86~Tangisan Kecil

    “Pelan-pelan aja jalannya, ya, Mas,” pinta Masni pada sopir taksi yang akan membawa mereka ke rumah sakit. “Mbaknya lagi kontraksi soalnya. Mau lahiran.”“Iya, Bu.”Masni kembali beralih pada Suci yang terus mengatur napas. Jarak kontraksinya mulai merapat, sehingga ia memutuskan untuk segera pergi ke rumah sakit bersalin tempat kontrol Suci biasanya. Masni juga sudah menghubungi Arif dan meminta pria itu langsung pergi ke rumah sakit.Butuh waktu sekitar tiga puluh menit hingga akhirnya taksi yang mereka tumpangi sampai ke rumah sakit bersalin. Suci dan Arif memang sengaja mencari rumah sakit yang terdekat dari rumah, agar tidak melalui perjalanan panjang ketika kontrol atau melahirkan sewaktu-waktu.“Saya mintakan kursi roda du–”“Nggak usah, Bu,” sela Suci menahan tangan Masni yang hendak pergi. “Saya masih bisa jalan. Nanti kalau kontraksi, kita berhenti.”Masni mengangguk-angguk. Ia berjalan pelan bersama Suci memasuki lobi rumah sakit. Namun, langkah Suci berhenti ketika mere

  • Kontrak Suci   85~Rasa Tenang

    Ivan baru saja mematikan lampu kamar dan hendak merebahkan diri, ketika ponsel yang berada di atas nakas bergetar singkat. Tadinya, ia berniat mengabaikan notifikasi tersebut dan membacanya besok pagi. Namun, begitu melihat nama Arif muncul di layar, Ivan segera meraih ponselnya dan membuka pesan dari putranya.“Suci mulai mulas-mulas dari tadi. Apa sudah waktunya lahiran?”Ivan menarik napas pelan. Ia bergeming menatap layar sambil berpikir. Mengingat-ingat kembali, bagaimana proses ketika Deswita hamil dahulu kala. Terutama saat mendekati hari persalinan.“Mas, tidur,” tegur Deswita saat melihat Ivan masih memegang ponselnya dalam gelap. “Besok lagi balas pesannya.”“Iya, sebentar,” ujar Ivan tanpa menoleh. “Kalau nggak salah, hamil itu ada kontraksi palsu, kan? Mulas, sakit perut, tapi bukan mau lahiran.”“Kenapa?” Deswita merapatkan diri. Sedikit menaikkan posisi tubuhnya agar bisa melihat layar ponsel Ivan. Ketika melihat nama Arif di sana, Deswita langsung menegakkan tubuh. “Ari

  • Kontrak Suci   84~Menenangkan Diri

    “Nih.” Sahli menyerahkan semangkuk bubur kacang merah pada Suci yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Beberapa saat sebelumnya, kakaknya itu memang memintanya mengambilkan bubur dengan tambahan es batu. “Bu Mas lagi masak sayur asam sama goreng ikan nila buat makan siang. Tambahin sambal terasi, beeeh … Nggak kenyang-kenyang aku nanti.”Suci terkekeh. Melihat sekilas pada Sahli yang duduk di sampingnya setelah menerima mangkuk buburnya. “Li, cariin Hadi motor second buat kuliah,” pinta Suci kembali menatap televisi. “Tapi, cari yang harganya lima jutaan. Ada nggak kira-kira? Tapi yang masih bagus.”“Nanti aku coba tanya-tanya,” jawab Sahli kemudian duduk bersila sambil menatap perut Suci. Ia sengaja menunggu sampai keponakannya bergerak agar bisa merasakan tendangan kecil dari dalam sana. “Tapi, kalau lima jutaan, kayaknya tahunnya tua, sama kilometernya juga sudah tinggi.”“Yang penting masih bisa dipake, sama mesinnya nggak rewel,” ujar Suci sambil menyantap buburnya. “P

  • Kontrak Suci   1~Nikah Kontrak

    “Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan

  • Kontrak Suci   7~Siap-siap

    “Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status