بيت / Romansa / Kontrak Suci / 77~Tidak Semudah Itu

مشاركة

77~Tidak Semudah Itu

مؤلف: Kanietha
last update تاريخ النشر: 2026-08-13 23:11:12

“Titip Suci, Bu,” ujar Arif sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Jangan telat makan. Vitaminnya juga jangan lupa diminum. Buah juga. Pokoknya, sedikit-sedikit makan. Perutnya jangan sampe kosong.”

“Beres, Mas,” jawab Masni sambil mengupas apel di sofa. “Oia, Mas Arif jadi nyari orang buat jaga rumah?”

“Jadi,” ujar Arif dengan anggukan. “Bu Mas ada kenalan yang bisa dipercaya?”

“Kalau suami saya boleh, Mas?” tanya Masni agak sungkan. “Soalnya belum dapat panggilan kerja di mana-mana. Semen
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (10)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
ternyata Deswita bisa sakit juga.. kirain gk bakalan bisa tumbang..
goodnovel comment avatar
virna putri
Lekas sehat lg Bun, smg mjd titik balik awal yg baik hub bunda dan klrga.. bunda ikhlas menerima suci sbg menantu dan menyambut calon cucu dgn hati yg lapang
goodnovel comment avatar
Aning Averta Ariani
Hadeh.... te nurul sdh mulai meluncurkan senjata licik nya. jgn tertipu dgn budes ya pak ivan.... jgn2 itu cuma topeng utk menarik simpati
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Kontrak Suci   77~Tidak Semudah Itu

    “Titip Suci, Bu,” ujar Arif sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Jangan telat makan. Vitaminnya juga jangan lupa diminum. Buah juga. Pokoknya, sedikit-sedikit makan. Perutnya jangan sampe kosong.”“Beres, Mas,” jawab Masni sambil mengupas apel di sofa. “Oia, Mas Arif jadi nyari orang buat jaga rumah?”“Jadi,” ujar Arif dengan anggukan. “Bu Mas ada kenalan yang bisa dipercaya?”“Kalau suami saya boleh, Mas?” tanya Masni agak sungkan. “Soalnya belum dapat panggilan kerja di mana-mana. Sementara ini masih ngojol.”Arif berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Besok pagi suruh ke sini. Kita ngobrol dulu.”Masni mengangguk pelan. “Baik, Mas. Makasih.”“Sama-sama,” balas Arif kemudian menghampiri Suci. “Pergi dulu. Nurut apa kata Dokter biar cepat pulang.”“Dari kemaren-kemaren juga sudah nurut,” ujar Suci sambil mengerucutkan bibir. Ia meraih tangan kanan Arif yang baru terangkat lalu menciumnya. “Hati-hati di jalan. Sukses buat sidangnya.”Arif tersenyum dan mengangguk. Kemudian, ia mend

  • Kontrak Suci   76~Maksud Sebenarnya

    Pagi itu, rumah terasa berbeda.Deswita duduk sendirian di meja makan. Di hadapannya, sarapan yang disiapkan oleh asisten rumah tangga sama sekali tidak tersentuh. Sejak bangun tidur, pikirannya terus tertuju pada satu orang, yakni Ivan.Tidak ada pesan.Tidak ada telepon.Suaminya sama sekali tidak menghubunginya sejak pergi dari rumah. Bahkan, untuk sekadar berbasa-basi atau menanyakan kabarnya pun tidak.Deswita menatap kursi kosong di sebelahnya. Biasanya, Ivan akan duduk di sana sambil menikmati sarapan. Mereka juga selalu berbicara tentang rencana hari itu sebelum menjalani kesibukan masing-masing.Namun, kini kursi itu kosong.Tidak ada suara Ivan yang menyapanya. Tidak ada percakapan ringan yang biasanya mengisi pagi mereka. Bahkan rumah yang luas itu terasa terlalu hening ketika hanya dirinya yang berada di dalamnya.Deswita menghela napas berat. Ia beranjak dari meja makan, tanpa menyentuh sarapannya sedikit pun. Ada sesuatu yang hilang dari rumah itu, hingga membuat perasa

  • Kontrak Suci   75~Selesai

    “Masa’ dia bawa uang di dompet sampe sejuta lebih,” ujar Nurul masih dalam keadaan heboh saat membicarakan perihal Arif pada suaminya. “Waktu dia ngeluarin semua uang yang seratus ribuan, yang lima puluhan masih ada tuh, nyisa di dalamnya.”“Itu baru di dompet,” sahut Irul yang juga ikut mendengarkan. “Belum yang di rekening.”“Sama emas!” timpal Nurul setuju dengan ucapan putranya. “Nggak mungkin orang kayak Arif nggak punya simpanan yang begitu-gitu.”“Pastinya!” ujar Bahlil menambahkan. “Tapi itu tadi, ternyata pernikahan Suci sama Arif itu nggak disetujui sama mertuanya.”“Nah! Iya itu!” seru Nurul menjentikkan jari lalu menunjuk Bahlil yang duduk di sampingnya. Mereka bertiga tengah menikmati makan malam di meja bundar sembari membicarakan Suci tanpa henti. Sejak tadi, topik pembicaraan mereka tidak jauh-jauh dari pernikahan Suci dan Arif, terutama setelah mengetahui bahwa keluarga Arif ternyata tidak sepenuhnya menerima Suci.“Tapi, Arif itu kelihatannya sudah cinta mati ke Suc

  • Kontrak Suci   74~Jaga Suci

    “Sayang!”Arif langsung bangkit dari duduknya ketika mendengar Suci menggumam pelan. Sejurus kemudian, kelopak mata istrinya terbuka perlahan hingga tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.“Maaas,” ucap Suci lirih. “Aku–”“Sshhh …” Arif menggenggam erat tangan Suci. “Nggak papa. Anak kita baik-baik aja. Nggak usah khawatir.”Suci mengangguk pelan. Sebelumnya, dokter memang sudah menyampaikan hal itu kepadanya, tetapi mendengar langsung dari Arif, membuat hatinya jauh lebih tenang. Setidaknya, ketakutan yang sejak tadi menggelayuti pikirannya perlahan mereda. Terlebih ketika sang suami kini sudah berada di sisinya. “Tapi, kamu harus bedrest sampai betul-betul pulih,” lanjut Arif kemudian mengusap pelan kepala Suci. Istrinya itu pasti memendam banyak pikiran yang tidak bisa diungkapkan setelah bertemu dengan Deswita. “Di sini?” tanya Suci sedikit serak.“Untuk sementara di sini,” jawab Arif mengangguk. “Pokoknya nurut apa kata Dokter.”Suci menghe

  • Kontrak Suci   73~Jangan Sungkan

    “Kata Dokter, kondisi Suci sudah stabil,” ujar Nurul memberi penjelasan persis dengan yang dikatakan dokter beberapa waktu lalu. Tidak ada yang kurang, hanya sedikit didramatisir untuk mendapatkan perhatian Arif.Deswita sama sekali tidak menyela. Sejak Arif datang dengan wajah tegang, wanita itu memilih tetap diam di tempat duduknya. “Intinya, Suci nggak boleh capek-capek dulu, apalagi stres,” lanjut Nurul kemudian melirik tajam pada Deswita. Tatapan mereka sempat beradu sesaat, tetapi Nurul lebih dulu memutusnya. “Apa itu bahasanya tadi … emm, bedrest!”“Makasih, Te. Saya titip Suci sebentar,” ucap Arif sambil melonggarkan genggamannya pada tangan Suci yang sedang tertidur. Ia kemudian melepaskannya dan beranjak menghampiri Deswita. “Aku mau bicara.”Tanpa menunggu jawaban Deswita, Arif keluar lebih dulu dari ruangan. Ia menunggu di depan kamar rawat inap VVIP yang ditempati Suci. Ia yakin, istrinya bisa mendapatkan kamar tersebut karena koneksi Deswita. Namun, tetap saja ada hal y

  • Kontrak Suci   72~Menjelaskan Semua

    “Bu Mas …” panggil Suci lirih sambil mengatur napas. Jantungnya semakin berdegup kencang saat melihat cairan yang mulai membasahi kakinya. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain berharap semuanya baik-baik saja. “Bu …”Deswita menatap datar. Ia ragu beranjak dari tempatnya, karena menganggap wanita itu sedang bersandiwara. Suci memang terlihat menunduk sambil memegangi perutnya. Namun, ia menduga hal itu hanyalah kram yang bisa dialami oleh semua ibu hamil. Tinggal menunggu beberapa saat, maka kondisi tersebut pasti akan normal dengan sendirinya. “Bu Masniii …” Suci kembali memanggil dan kali ini suaranya lebih keras lagi.Sejurus kemudian, Masni memang memasuki ruang keluarga dengan membawa nampan. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Suci yang tengah membungkuk. Satu tangannya berada di perut dan satu lagi bertumpu pada sudut punggung sofa. “Mbak …” Dengan segera, Masni meletakkan nampan di atas meja ruang keluarga, lalu bergegas menghampiri Suci. Namun, langkahn

  • Kontrak Suci   6~Semakin Berliku

    “Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de

  • Kontrak Suci   5~Jangan Didebat

    Sah.Satu kata itu baru saja mengubah hidup Suci.Ijab kabul selesai, disusul sesi foto singkat yang terasa seperti formalitas. Setelah itu, suasana kembali tenang di unit apartemen tempat ia dan Arif akan tinggal selama satu tahun ke depan. Atau, mungkin kurang dari itu jika Arif ingin menyudahi ko

  • Kontrak Suci   4~Tutup Mulut

    “Gila!” Bias menggeleng. Sangat tidak setuju dengan rencana yang baru diutarakan Arif. Pria itu memintanya menjadi saksi untuk pernikahan sandiwara yang akan Arif lakukan. “Rif, batalkan kontraknya dan kasih aja dia uang,” lanjut Bias memberi pendapat yang menurutnya cukup masuk akal. Setelah memp

  • Kontrak Suci   3~Demi Masa Depan

    “Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status