LOGINHutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel
Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah
Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar
Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di







