Share

Twenty

Author: Haze Hales
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-22 10:35:25

Rei tidak tidur malam itu.

Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari.

Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty One

    Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Twenty

    Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Nineteen

    Rei bangun keesokan harinya dengan perasaan yang berbeda. Dia tidak merasa takut. Dia tidak merasa cemas. Dia hanya merasa... tenang. Seperti seseorang yang baru saja melewati badai dan sekarang melihat matahari terbit. Tapi ketenangan itu terasa aneh, seperti kedamaian sebelum badai berikutnya. Seperti udara yang terlalu sunyi sebelum gempa. Dia duduk di tempat tidur selama beberapa menit, menikmati perasaan itu sambil mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahwa pria bermata kambing benar-benar sudah pergi. Bahwa dia benar-benar lulus. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Rei bangkit dan berjalan ke jendela. Dia membuka gorden dan menatap Moorbridge di bawah cahaya pagi. Moorbridge terlihat sama seperti sebelumnya. Rumah-rumah tua dengan cat yang mengelupas, jalanan berbatu yang sunyi, lampu-lampu gas yang sudah mati karena matahar

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Eighteen

    Persiapan yang dilakukan Nenek Lin ternyata jauh lebih rumit dari yang Rei bayangkan.Wanita tua itu membawa Rei ke toko kelontongnya, menutup pintu dengan papan kayu, dan menyeret Rei ke ruang belakang yang selama ini tidak pernah Rei lihat. Ruangan itu sempit, dipenuhi dengan rak-rak berisi botol kaca berisi cairan berbagai warna, karung-karung berisi tanaman kering, dan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas."Ini ruang kerjaku," kata Nenek Lin singkat. "Jarang ada yang masuk ke sini. Dan tidak ada yang boleh tahu."Rei menatap sekeliling dengan mata terbelalak. Di sudut ruangan, ada meja kayu dengan ukiran-ukiran aneh yang menyerupai simbol-simbol yang Rei tidak kenal. Di atasnya, ada mangkuk keramik berisi cairan hitam yang permukaannya bergerak-gerak meskipun tidak ada angin."Apa ini semua?" tanya Rei."Perlengkapan untuk bertahan hidup di Moorbridge." Nenek Lin meraih sebuah botol berisi cairan biru dan menyerahkannya pada

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Seventeen

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat. Terlalu cepat. Rei menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku catatan neneknya—dia sudah sampai halaman dua puluh lima dari tiga puluh halaman—dan menghafal mantra pematah. Dia mengulangi mantra itu setiap kali dia punya waktu luang, sampai kata-kata Latin itu terasa seperti bagian dari dirinya. Kieran datang setiap hari, membawa makanan dan menemani Rei. Mereka tidak banyak bicara tentang rencana Rei—Kieran menghormati keinginan Rei untuk tidak melibatkan dia terlalu jauh—tapi kehadiran pemuda itu membuat Rei merasa sedikit lebih tenang. Nenek Lin juga sesekali muncul, biasanya untuk memastikan Rei tidak melakukan sesuatu yang bodoh seperti lupa makan atau begadang sampai pagi. Wanita tua itu tidak banyak bicara, tapi Rei bisa merasakan bahwa dia peduli. Dan kemudian, tanpa terasa, malam bulan baru tiba. Rei berdiri di halaman belakang rumahn

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Sixteen

    Rei bangun keesokan paginya dengan perasaan yang berbeda. Bukan perasaan takut atau cemas seperti biasanya. Tapi perasaan... tekad. Dia punya misi sekarang. Misi yang jelas. Misi yang bisa dia fokuskan.Gali ari-ari. Patahkan mantra. Keluar dari Moorbridge.Tiga langkah sederhana. Kecuali semuanya jauh dari sederhana.Rei turun ke dapur dan membuat kopi. Sambil menunggu air mendidih, dia membuka buku catatan neneknya dan mencari bagian tentang "malam bulan baru". Dia menemukannya di halaman sembilan belas, di antara catatan tentang cara membuat jimat dari tulang ayam dan resep untuk kue yang bisa membuat roh tertidur.Malam bulan baru adalah waktu ketika batas antara dunia orang hidup dan dunia orang mati paling tipis. Pada malam itu, roh-roh bisa berkeliaran dengan bebas, dan mantra-mantra menjadi lebih lemah. Ini adalah waktu terbaik untuk melakukan ritual yang melibatkan komunikasi dengan dunia lain.Rei membaca lebih lanjut. Menurut buku itu, untuk mematahkan mantra yang dipasang

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Six

    Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Five

    "Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Three

    Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re

  • Kota di Tengah Antah Berantah    Four

    Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status