공유

Bab 4

작가: Tipo
Davina menghela napas tanpa suara. "Biar kuobati lukamu dulu."

Marcel tidak menanggapi.

Sikapnya agak aneh. Ketika Davina mendekat, dia mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh pria itu dan menduga bahwa Marcel mungkin memang sedikit mabuk.

Mungkin pria itu sudah lupa bahwa dirinya bukan lagi sekretarisnya.

Pelayan itu seolah baru saja terbebas dari beban berat. Dia segera mengambil kotak P3K milik restoran.

Selama bertahun-tahun mendampingi Marcel, Davina sengaja mempelajari banyak teknik pertolongan pertama untuk menghadapi berbagai keadaan darurat. Karena itu, dia sudah sangat terampil melakukannya.

Davina mendekat. Melihat telapak tangan Marcel yang berlumuran darah, alisnya tanpa sadar berkerut.

"Bakal sedikit sakit. Tahan, ya."

"Hmm."

Davina dengan hati-hati mencabut pecahan kaca yang tertancap di telapak tangannya, lalu mengoleskan obat.

Dia bahkan tanpa sadar meniup luka itu dengan lembut, seolah sedang menenangkan seorang anak kecil.

Pria yang duduk di kursi utama itu menatap wajah samping Davina yang lembut dan penuh perhatian. Jakun di tenggorokannya bergerak sesaat.

Davina dengan teliti merawat lukanya, lalu mengakhiri balutannya dengan simpul pita yang rapi.

Dia tersenyum menatapnya. "Pak Marcel, lukanya sudah dibalut ...."

Sebelum Davina sempat menyelesaikan kalimatnya, Marcel tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan tangan yang tidak terluka, lalu menunduk dan menciumnya.

Ciuman pria itu terasa panas dan penuh dominasi, begitu menguasai, seolah membawa emosi yang sulit dijelaskan.

Davina seketika membelalakkan mata dan menatapnya dengan terkejut.

Detik berikutnya, dia tanpa ragu menempelkan kedua tangannya ke dada Marcel dan langsung mendorongnya menjauh.

Namun, justru dirinya sendiri yang kehilangan keseimbangan hingga terduduk di lantai. Dengan mata yang masih dipenuhi kepanikan, dia menatap Marcel. "Marcel ...."

Marcel tetap duduk di kursi utama, menatapnya dari atas dengan suara serak. "Davina, sebenarnya nggak masalah kalau kamu nggak pergi ...."

Hati Davina seketika dicengkeram rasa sakit yang tak terucapkan.

Kemarin dia mengusirnya, sekarang dia malah berkata bahwa tidak masalah jika dirinya tetap tinggal?

Padahal, belum lama ini, dia sendiri mengatakan kepada orang lain bahwa Davina hanyalah mainan baginya.

Davina melihat jelas hasrat di mata pria itu. Baginya, semua ini terasa begitu konyol sekaligus menggelikan.

"Marcel, hubungan kita sudah berakhir. Kamu sendiri yang mengatakannya."

"Kalau kamu terus menggangguku seperti ini, aku bisa mengira kamu sudah jatuh cinta padaku."

Pupil Marcel menyusut. Emosi di matanya seketika menghilang, berganti dengan tatapan dingin.

Tiba-tiba, nada dering ponsel terdengar.

Davina melirik ke arah ponsel itu dan melihat nama Elena tertera di layarnya.

Davina sengaja meninggikan suaranya. "Pak Marcel, tunangan Anda sedang mencari Anda."

Marcel menunduk menatap layar ponselnya. Ekspresinya seketika berubah dingin.

"Pergilah."

Davina bangkit dari lantai dan bergegas keluar dari ruang privat.

Baru saja dia melangkah keluar, terdengar suara seperti ponsel yang dibanting hingga hancur dari belakangnya.

Langkahnya sempat terhenti, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi dan terus berjalan.

Setelah keluar dari restoran, dia buru-buru naik taksi dan pergi.

Tak lama setelah masuk ke dalam mobil, Davina beradu pandang dengan sopir melalui kaca spion. Sopir itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung.

Davina tertegun. Dia mengambil cermin dan memeriksa wajahnya, barulah dia menyadarinya.

Ciuman Marcel tadi membuat lipstiknya luntur dan berantakan hingga ke sudut bibir, membuat penampilannya tampak sangat berantakan.

Samar-samar, dia teringat suatu hari ketika Marcel yang jarang menginap di apartemen akhirnya bermalam di sana.

Pagi itu, mereka bangun dan bersiap berangkat ke kantor bersama. Davina berdiri di depan meja rias, bergegas merias wajah untuk menghemat waktu.

Baru setelah selesai merias bagian terakhir, dia menyadari bahwa Marcel entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.

Tiba-tiba, pria itu tertarik untuk memilihkan lipstik untuknya dan memberi isyarat bahwa dia ingin memakaikannya sendiri.

Karena khawatir terlambat, Davina tidak terlalu memikirkannya. Dia mengerucutkan bibir dan membiarkan Marcel memulasnya.

Marcel menopang dagunya agar wajahnya mendongak, sementara tangan lainnya memegang lipstik dan mengoleskannya dengan cermat.

Setelah selesai memulas lipstik, tangan yang mencengkeram dagunya tidak juga dilepaskan.

Kebingungan muncul di mata Davina ketika dirinya bertatapan dengan Marcel. Pria itu sedang menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.

"Kenapa? Belum selesai memulasnya?"

Begitu kalimat itu terucap, suaranya langsung ditelan oleh ciuman Marcel.

Saat Marcel akhirnya melepaskannya, lipstik yang baru saja dipulas di bibir Davina sudah luntur ke mana-mana, membuatnya tampak berantakan sekaligus menggoda.

Davina menjerit kaget dan buru-buru memperbaiki kondisi bibirnya yang bengkak.

Di dalam cermin yang sama, si biang keladi justru menatapnya dengan senyum penuh arti.

Sambil mengusap santai warna merah yang menempel di sudut bibirnya, Marcel berkata dengan senyum lebar dan suara rendah, "Bukannya kamu sendiri yang mengerucutkan bibir lebih dulu buat meminta ciuman?"

Ketika akhirnya tersadar dari lamunannya, Davina menatap bayangannya di cermin dan menyadari bahwa air matanya sudah membasahi seluruh wajah.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 25

    "Aku mendapat kabar kalau Elena diam-diam pergi ke kota tetangga. Kebetulan kamu juga lagi berada di sini buat urusan pekerjaan, jadi aku khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi.""Untungnya, aku berhasil tiba tepat waktu."Saat berbicara, kelopak matanya terasa makin berat. Pandangannya mendadak gelap, lalu seluruh tubuhnya ambruk.Davina secara refleks memeluknya agar dia tidak terjatuh ke lantai.Saat itulah Davina melihat punggungnya.Seluruh cairan asam sulfat yang disiramkan Elena mengenai punggungnya. Meskipun terhalang pakaian, punggungnya kini sudah berlumuran darah.Air mata Davina makin deras. Dia buru-buru membantu para pengawal Marcel membawanya ke rumah sakit.Setelah bersusah payah membawa Marcel ke ruang operasi untuk mendapatkan pertolongan darurat, Ryan pun tiba dengan tergesa-gesa.Begitu melihat Davina di depan ruang operasi, Ryan langsung menghampirinya dan segera memeriksa apakah dia terluka.Sambil menangis, Davina berkata, "Aku nggak apa-apa. Semuanya mengenai

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 24

    Davina tidak menyangka Elena ternyata mengejarnya sampai ke kota tetangga hanya untuk mencelakainya.Davina menggertakkan gigi. "Elena, apa kamu sudah gila?"Menurutnya, meskipun dia tidak bisa dibilang bersikap ramah kepada Elena, dia tidak pernah sengaja mencari masalah dengannya.Sebaliknya, Elena-lah yang selalu saja mengincarnya.Dari luar pintu, suara Elena terdengar arogan. "Kamu merebut priaku. Kamu pikir aku bakal membiarkanmu begitu saja? Di Kota Juomar, Marcel dan Ryan melindungimu. Tapi sekarang kamu di sini. Aku mau lihat siapa lagi yang bisa melindungimu!"Karena Marcel telah memperingatkan Keluarga Gunawan, selama beberapa waktu terakhir, Elena terus dikurung oleh orang tuanya di rumah dan tidak diizinkan keluar.Mana mungkin Elena bisa menerima perlakuan seperti itu?Dia memang tidak berani mencari masalah dengan Keluarga Gunawan, tetapi masa dia juga tidak berani menghadapi Davina?Kalau bukan karena Davina, mana mungkin Keluarga Gunawan menargetkannya?Dia sudah lama

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 23

    Begitu tiba di kota tetangga, Davina langsung merasakan firasat bahaya yang entah dari mana muncul, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.Tanpa sadar, dia mengamati sekeliling, tetapi setiap orang yang berlalu lalang tampak seperti pejalan kaki biasa.Dia mencurigai semua orang, tetapi pada saat yang sama, merasa seolah-olah dirinya hanya terlalu banyak berpikir.Davina berjalan dengan tergesa-gesa dan segera keluar dari bandara untuk bertemu dengan rekan kerjanya dari kota tetangga.Setelah bertemu dengan rekannya, perasaan seolah-olah sedang diawasi itu sedikit mereda.Davina tidak memikirkannya lebih jauh. Dia tidak beristirahat di hotel, melainkan langsung pergi ke kantor cabang bersama rekannya, lalu menemui mitra kerja sama bersama para pegawai kantor cabang.Setelah sibuk sepanjang hari, barulah dia kembali ke hotel.Baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ponsel Davina pun berdering.Melihat panggilan dari Ryan, Davina tanpa sadar tersenyum, lalu mengangka

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 22

    Davina tidak pernah menyangka bahwa Marcel juga memiliki sisi menyebalkan seperti ini.Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, Marcel sudah menunggunya di depan pintu rumah sambil membawa sarapan yang dulu sering dipesannya saat masih bekerja di Grup Gunawan.Marcel menyodorkan sarapan itu kepadanya. "Ini makanan kesukaanmu dulu."Davina meliriknya sekilas tanpa ekspresi. "Dulu, aku sering memesannya bukan karena aku suka, melainkan karena kamu yang menyukainya. Aku sangat nggak suka kudapan dari tempat itu."Ekspresi Marcel seketika membeku.Kebetulan, Ryan yang tinggal di seberang juga membuka pintu dan keluar sambil membawa dua bungkus sarapan.Davina menerima satu bungkus, lalu berjalan bersama Ryan.Marcel tertegun selama beberapa detik, tetapi segera menyusul mereka."Lalu, apa yang kamu suka? Besok aku bakal membawakannya buatmu."Davina menoleh kepadanya. "Pak Marcel, aku lebih suka dirimu yang arogan dan nggak mau tunduk pada siapa pun."Marcel terdiam mendengarnya.Rya

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 21

    Marcel menyadari sesuatu dan hampir secara refleks ingin menyuruhnya berhenti bicara.Namun, bibirnya bergetar, sementara kata-kata untuk menghentikannya tak kunjung terucap.Dia tahu, apa yang akan dikatakan Davina selanjutnya pasti akan membuatnya sangat menderita.Namun, entah mengapa, dia tetap ingin mendengar alasannya.Suara Davina yang enak didengar memasuki telinganya, tetapi setiap katanya menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang menusuknya hingga sekujur tubuhnya seolah bersimbah darah.Davina berkata pelan, "Marcel, sebenarnya, jatuh cinta kepadamu itu sangat mudah. Kamu begitu hebat dan bersinar. Kamu sangat berbakat dalam dunia bisnis. Bahkan, satu kalimat nasihat darimu saja sudah bisa memberiku banyak manfaat.""Tapi, mencintaimu benar-benar melelahkan. Selama tujuh tahun, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku buat terus mengejarmu dari belakang. Demi bisa berdiri sejajar denganmu, aku harus berlari siang dan malam cuma buat menyusul satu langkah kecil yang kamu ambil

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 20

    Marcel tanpa sadar menahan napas dan menatap Davina dengan sedikit gugup.Davina mengangkat wajah dan menatapnya dengan heran.Dia tidak menyangka pria seperti Marcel ternyata juga bisa ingin kembali kepada mantan kekasihnya.Namun, dia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku nggak mau."Marcel menatapnya dengan tatapan kosong, lalu menegaskan, "Bukan sebagai kekasih gelap, melainkan sebagai pacar yang resmi."Kali ini, Davina benar-benar terkejut. Dia menatap Marcel dengan tatapan tak percaya.Marcel tampak tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi dia tetap menatap Davina dengan keras kepala, bahkan dengan nada yang nyaris memohon."Bisa?"Davina hanya terdiam selama tiga detik sebelum perlahan menggeleng. "Kita nggak bisa kembali seperti dulu."Tatapan Marcel perlahan meredup.Dia menatap Davina, lalu menjelaskan dengan gelisah dan kebingungan."Davina, selama bertahun-tahun kamu berada di sisiku, aku bisa merasakan betapa kamu peduli kepadaku dan betapa kamu mencintaiku."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status