공유

Bab 5

작가: Tipo
Keesokan harinya, begitu Davina bangun, dia menerima pesan dari mantan rekan kerjanya.

"Davina, aku menemukan sebuah kalung di dekat mejamu. Kamu masih menginginkannya?"

Orang itu mengirimkan sebuah foto.

Davina membukanya dan baru menyadari bahwa itu hadiah ulang tahun dari ibunya dua tahun lalu, yang sangat dia sukai.

Davina menduga kalung itu tertinggal karena dia terlalu terburu-buru saat meninggalkan kantor.

Dia pun segera membuat janji makan bersama mantan rekan kerjanya.

Davina tiba lebih awal. Baru saja memesan makanan di restoran yang biasa dia kunjungi saat masih bekerja, dia tiba-tiba melihat Elena berjalan menghampirinya dari kejauhan.

Senyum manis yang biasanya menghiasi wajah Elena telah lenyap, digantikan oleh ekspresi dingin. Dia berjalan lurus menuju Davina.

Davina tanpa sadar mengernyit. "Kamu ...."

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Elena tiba-tiba mengangkat tangan dan menampar wajahnya dengan keras.

Bersamaan dengan itu, Elena sengaja meninggikan suaranya. "Wanita jalang! Kamu sudah diusir dari perusahaan, tapi masih berani menggoda tunanganku!"

Restoran seketika hening. Semua orang terkejut dan menoleh ke arah mereka.

Wajah Davina terhuyung ke samping akibat tamparan itu. Akhirnya, dia menyadari bahwa Elena melampiaskan kemarahannya kepadanya karena kejadian malam sebelumnya.

Pipinya terasa perih.

Sementara itu, orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.

"Ini lagi menampar pelakor? Seru sekali?"

"Bagus! Padahal cantik sekali, kenapa malah mau jadi pelakor?"

"Bukannya itu putri Keluarga Wijaya dan Sekretaris Davina? Kudengar Sekretaris Davina sudah menjadi simpanan Pak Marcel selama bertahun-tahun. Sekarang setelah kehilangan tempatnya, dia dikejar-kejar istri sah dan ditampar. Kasihan sekali."

"Kasihan apanya? Dia itu siapa, Elena itu siapa? Memangnya dia pantas merebut laki-laki dari putri Keluarga Wijaya?"

Seluruh tubuh Davina gemetar. Saat beradu pandang dengan Elena yang menatapnya penuh kebencian, dia menggigit bibirnya erat-erat, membungkuk untuk mengambil tasnya, lalu berbalik hendak pergi.

Namun, Elena tidak mau membiarkannya pergi begitu saja. Dengan wajah angkuh, dia memperingatkannya dengan suara dingin.

"Davina, wanita sepertimu bisa kutemukan dengan mudah!"

"Jangan kira karena kamu mendampingi Marcel selama tujuh tahun, kamu menjadi istimewa! Kalau di zaman dulu, kamu bahkan nggak lebih dari pelayan yang bertugas menghangatkan kaki!"

"Aku peringatkan kamu, jangan pernah muncul lagi di hadapanku dan Marcel. Kalau nggak, aku bisa membuatmu diusir dari Grup Gunawan. Aku juga bisa membuatmu nggak bisa lagi tinggal di Kota Juomar!"

Ekspresi Davina sepenuhnya berubah dingin. Dia berbalik menatap Elena.

"Nona Elena, kamu nggak perlu khawatir. Hubunganku dengan Marcel sudah lama berakhir. Aku bahkan sudah berjanji kepada orang tuaku buat pulang dan mengikuti perjodohan."

"Daripada bersusah payah datang ke sini buat memperingatkanku, lebih baik kamu urus dulu laki-lakimu supaya dia nggak terus menggangguku."

Davina sengaja mengungkapkan rencananya untuk pergi. Namun, saat mendengar perkataannya, Elena justru mengira Davina sedang menyombongkan diri karena Marcel yang lebih dulu mencarinya.

Wajah Elena makin buruk dan kebencian tampak jelas di matanya.

"Pulang buat mengikuti perjodohan? Menurutku, kamu pulang buat belajar baik-baik dari ibumu bagaimana cara menggoda laki-laki!"

"Aku dengar ayahmu pernah mengalami kecelakaan. Setelah itu, salah satu kakinya pincang dan dia menjadi orang yang nggak berguna."

"Bagaimana bisa ibumu membesarkanmu seorang diri? Jangan-jangan dia mengandalkan tubuhnya buat mendapatkan uang."

"Kamu pasti tumbuh dengan meniru kelakuannya. Makanya kamu bisa melakukan hal memalukan seperti menggoda tunangan orang lain. Buah jatuh nggak jauh dari pohonnya!"

Ucapan Elena makin tajam dan menyakitkan hingga Davina tidak sanggup mendengarkannya lagi.

"Tutup mulutmu!"

Davina mengangkat cangkir kopi di hadapannya dan langsung menyiramkannya ke wajah Elena.

"Ah!"

Noda kopi membasahi seluruh pakaian Elena. Dia menatap Davina dengan tidak percaya, lalu menjerit sambil gemetar karena marah.

"Davina, berani sekali kamu menyiramku! Wanita jalang, aku nggak bakal pernah mengampunimu!"

Wajah Davina tampak dingin. "Kalau kamu masih terus menghina keluargaku, aku bukan cuma bakal menyiramimu, tapi juga bakal memukulmu!"

Begitu dia selesai berbicara, sosok Marcel tiba-tiba muncul di pintu masuk restoran.

Setelah melihat situasi di dalam, dia langsung berjalan menghampiri mereka.

Elena segera menangis dan mengadu kepadanya. "Marcel, aku cuma mau berbicara dengannya beberapa patah kata, tapi dia malah menyiramku dengan kopi."

Wajah Davina memucat karena marah. "Jelas-jelas kamu yang lebih dulu menghina keluargaku ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Marcel mengambil segelas air es dari tangan pelayan yang kebetulan lewat.

Dia mengangkat tangan dan menyiramkan air es itu ke kepala Davina.

Air itu membungkam ucapan Davina yang belum selesai sekaligus memadamkan sisa-sisa perasaan yang masih tersimpan di lubuk hatinya untuk Marcel.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 25

    "Aku mendapat kabar kalau Elena diam-diam pergi ke kota tetangga. Kebetulan kamu juga lagi berada di sini buat urusan pekerjaan, jadi aku khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi.""Untungnya, aku berhasil tiba tepat waktu."Saat berbicara, kelopak matanya terasa makin berat. Pandangannya mendadak gelap, lalu seluruh tubuhnya ambruk.Davina secara refleks memeluknya agar dia tidak terjatuh ke lantai.Saat itulah Davina melihat punggungnya.Seluruh cairan asam sulfat yang disiramkan Elena mengenai punggungnya. Meskipun terhalang pakaian, punggungnya kini sudah berlumuran darah.Air mata Davina makin deras. Dia buru-buru membantu para pengawal Marcel membawanya ke rumah sakit.Setelah bersusah payah membawa Marcel ke ruang operasi untuk mendapatkan pertolongan darurat, Ryan pun tiba dengan tergesa-gesa.Begitu melihat Davina di depan ruang operasi, Ryan langsung menghampirinya dan segera memeriksa apakah dia terluka.Sambil menangis, Davina berkata, "Aku nggak apa-apa. Semuanya mengenai

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 24

    Davina tidak menyangka Elena ternyata mengejarnya sampai ke kota tetangga hanya untuk mencelakainya.Davina menggertakkan gigi. "Elena, apa kamu sudah gila?"Menurutnya, meskipun dia tidak bisa dibilang bersikap ramah kepada Elena, dia tidak pernah sengaja mencari masalah dengannya.Sebaliknya, Elena-lah yang selalu saja mengincarnya.Dari luar pintu, suara Elena terdengar arogan. "Kamu merebut priaku. Kamu pikir aku bakal membiarkanmu begitu saja? Di Kota Juomar, Marcel dan Ryan melindungimu. Tapi sekarang kamu di sini. Aku mau lihat siapa lagi yang bisa melindungimu!"Karena Marcel telah memperingatkan Keluarga Gunawan, selama beberapa waktu terakhir, Elena terus dikurung oleh orang tuanya di rumah dan tidak diizinkan keluar.Mana mungkin Elena bisa menerima perlakuan seperti itu?Dia memang tidak berani mencari masalah dengan Keluarga Gunawan, tetapi masa dia juga tidak berani menghadapi Davina?Kalau bukan karena Davina, mana mungkin Keluarga Gunawan menargetkannya?Dia sudah lama

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 23

    Begitu tiba di kota tetangga, Davina langsung merasakan firasat bahaya yang entah dari mana muncul, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.Tanpa sadar, dia mengamati sekeliling, tetapi setiap orang yang berlalu lalang tampak seperti pejalan kaki biasa.Dia mencurigai semua orang, tetapi pada saat yang sama, merasa seolah-olah dirinya hanya terlalu banyak berpikir.Davina berjalan dengan tergesa-gesa dan segera keluar dari bandara untuk bertemu dengan rekan kerjanya dari kota tetangga.Setelah bertemu dengan rekannya, perasaan seolah-olah sedang diawasi itu sedikit mereda.Davina tidak memikirkannya lebih jauh. Dia tidak beristirahat di hotel, melainkan langsung pergi ke kantor cabang bersama rekannya, lalu menemui mitra kerja sama bersama para pegawai kantor cabang.Setelah sibuk sepanjang hari, barulah dia kembali ke hotel.Baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ponsel Davina pun berdering.Melihat panggilan dari Ryan, Davina tanpa sadar tersenyum, lalu mengangka

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 22

    Davina tidak pernah menyangka bahwa Marcel juga memiliki sisi menyebalkan seperti ini.Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, Marcel sudah menunggunya di depan pintu rumah sambil membawa sarapan yang dulu sering dipesannya saat masih bekerja di Grup Gunawan.Marcel menyodorkan sarapan itu kepadanya. "Ini makanan kesukaanmu dulu."Davina meliriknya sekilas tanpa ekspresi. "Dulu, aku sering memesannya bukan karena aku suka, melainkan karena kamu yang menyukainya. Aku sangat nggak suka kudapan dari tempat itu."Ekspresi Marcel seketika membeku.Kebetulan, Ryan yang tinggal di seberang juga membuka pintu dan keluar sambil membawa dua bungkus sarapan.Davina menerima satu bungkus, lalu berjalan bersama Ryan.Marcel tertegun selama beberapa detik, tetapi segera menyusul mereka."Lalu, apa yang kamu suka? Besok aku bakal membawakannya buatmu."Davina menoleh kepadanya. "Pak Marcel, aku lebih suka dirimu yang arogan dan nggak mau tunduk pada siapa pun."Marcel terdiam mendengarnya.Rya

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 21

    Marcel menyadari sesuatu dan hampir secara refleks ingin menyuruhnya berhenti bicara.Namun, bibirnya bergetar, sementara kata-kata untuk menghentikannya tak kunjung terucap.Dia tahu, apa yang akan dikatakan Davina selanjutnya pasti akan membuatnya sangat menderita.Namun, entah mengapa, dia tetap ingin mendengar alasannya.Suara Davina yang enak didengar memasuki telinganya, tetapi setiap katanya menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang menusuknya hingga sekujur tubuhnya seolah bersimbah darah.Davina berkata pelan, "Marcel, sebenarnya, jatuh cinta kepadamu itu sangat mudah. Kamu begitu hebat dan bersinar. Kamu sangat berbakat dalam dunia bisnis. Bahkan, satu kalimat nasihat darimu saja sudah bisa memberiku banyak manfaat.""Tapi, mencintaimu benar-benar melelahkan. Selama tujuh tahun, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku buat terus mengejarmu dari belakang. Demi bisa berdiri sejajar denganmu, aku harus berlari siang dan malam cuma buat menyusul satu langkah kecil yang kamu ambil

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 20

    Marcel tanpa sadar menahan napas dan menatap Davina dengan sedikit gugup.Davina mengangkat wajah dan menatapnya dengan heran.Dia tidak menyangka pria seperti Marcel ternyata juga bisa ingin kembali kepada mantan kekasihnya.Namun, dia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku nggak mau."Marcel menatapnya dengan tatapan kosong, lalu menegaskan, "Bukan sebagai kekasih gelap, melainkan sebagai pacar yang resmi."Kali ini, Davina benar-benar terkejut. Dia menatap Marcel dengan tatapan tak percaya.Marcel tampak tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi dia tetap menatap Davina dengan keras kepala, bahkan dengan nada yang nyaris memohon."Bisa?"Davina hanya terdiam selama tiga detik sebelum perlahan menggeleng. "Kita nggak bisa kembali seperti dulu."Tatapan Marcel perlahan meredup.Dia menatap Davina, lalu menjelaskan dengan gelisah dan kebingungan."Davina, selama bertahun-tahun kamu berada di sisiku, aku bisa merasakan betapa kamu peduli kepadaku dan betapa kamu mencintaiku."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status