공유

Bab 6

작가: Tipo
Air es mengalir dari atas kepala Davina hingga masuk ke balik pakaiannya, membuat tubuhnya menggigil kedinginan.

Rambutnya yang basah menempel di wajah, sementara pakaiannya yang basah kuyup memperlihatkan lekuk pakaian dalamnya. Penampilannya sungguh mengenaskan.

Marcel menatap mata Davina yang mulai berkaca-kaca karena merasa tersakiti, tetapi dia tetap menahan air matanya.

"Minta maaf ke Elena."

Ya, bagi Marcel, memang selalu seperti itu.

Dia tidak peduli siapa yang benar atau salah, dia hanya melindungi orang yang ingin dilindunginya.

Elena yang berada di sampingnya sempat terkejut sesaat, tetapi segera memasang ekspresi puas. Dia menatap Davina dengan penuh provokasi, menunggu permintaan maafnya.

Davina berkata dengan tatapan kosong, "Kalau .... aku nggak mau?"

Ekspresi Marcel menunjukkan sikap tanpa belas kasihan. "Kamu berani menyakiti tunanganku. Aku bakal membuatmu nggak bisa lagi tinggal di Kota Juomar. Uang yang ada di rekeningmu itu, jangan harap bisa kamu bawa sepeser pun."

Davina tertawa getir.

Mereka semua mengira dirinya mendekati Marcel hanya demi uang.

Mereka mengira dia tidak rela meninggalkan gemerlap kota besar ini dan akan melakukan apa saja untuk tetap tinggal.

Namun, mereka tidak tahu bahwa Marcel-lah alasan dia memilih tetap tinggal di sini sejak awal.

Sedangkan uang yang diberikan Marcel ....

Dengan tangan gemetar, Davina membuka tasnya, mengeluarkan kartu yang pernah diberikan Marcel kepadanya, lalu meletakkannya di atas meja.

"Uangnya, kukembalikan."

"Aku nggak bakal tinggal di Kota Juomar lagi."

"Lagian, aku memang bakal pulang kampung buat mengikuti perjodohan."

Saat mendengar kata mengikuti perjodohan, pupil Marcel menyusut.

Sementara Davina langsung berbalik pergi, tetapi baru berjalan dua langkah, pandangannya tiba-tiba gelap dan tubuhnya terhuyung ke depan.

Di telinganya, samar-samar terdengar suara Marcel yang panik. "Davina!"

Ketika Davina kembali sadar, dia sudah berada di ruang rawat rumah sakit.

Marcel duduk di sisi ranjang rumah sakit, menatapnya lekat-lekat dengan mata yang dalam dan dingin. Berbagai emosi bergejolak dalam dirinya.

Begitu melihatnya sadar, dia langsung melemparkan selembar hasil pemeriksaan kepadanya.

Davina mengambilnya dengan bingung. Begitu melihat tulisan hamil 6 minggu di atasnya, wajahnya seketika memucat.

Belakangan ini dia memang tidak berselera makan dan menstruasinya juga terlambat.

Sejak awal, Davina memang mengalami gangguan hormon akibat tekanan yang terlalu besar, sehingga menstruasinya tidak teratur. Dia pun tidak terlalu memedulikannya.

Namun, dia sama sekali tidak pernah menyangka ... ternyata dirinya hamil.

Di sampingnya, nada suara Marcel terdengar dingin dan penuh sindiran, disertai kekesalan karena merasa telah diperdaya.

"Davina, kukira kamu masih tahu diri. Nggak kusangka nyalimu lebih besar daripada siapa pun. Ternyata kamu diam-diam menyembunyikan hal sebesar ini dariku."

Marcel membungkuk menatapnya. Tatapan matanya yang tajam terasa sangat menekan, sementara sudut bibirnya menyunggingkan sedikit seringai mengejek.

"Kamu mau pulang buat mengikuti perjodohan, atau mau diam-diam melahirkan anakku?"

Davina menggenggam erat hasil pemeriksaan di tangannya dan tidak tahu harus menjelaskan bagaimana. "Aku juga baru tahu ...."

Begitu mengucapkan kalimat itu, dia langsung terdiam.

Tatapan dingin dan penuh ejekan di mata Marcel sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia tidak percaya.

Dia langsung berdiri dan menatap Davina yang wajahnya pucat dari atas ke bawah.

"Davina, anakku cuma boleh lahir dari rahim istriku."

"Anak yang dikandung wanita lain cumalah anak haram yang seharusnya nggak pernah ada di dunia ini."

"Operasinya sudah kuatur buat besok."

Setelah mengatakan itu, dia langsung berbalik dan meninggalkan ruang rawat.

Sejak awal, Davina memang tidak pernah punya pilihan.

Davina menatap punggungnya dengan tatapan kosong, sudut matanya sudah dipenuhi air mata.

Dia meringkuk sambil memeluk tubuhnya erat-erat, menyembunyikan diri di balik selimut dan menangis penuh kesakitan.

Setelah Marcel pergi, mungkin karena takut Davina melarikan diri, dia menugaskan dua pengawal untuk berjaga di depan pintu.

Saat Davina mengikuti perawat untuk menjalani pemeriksaan sebelum operasi, kedua pengawal itu juga terus mengikutinya.

Davina tidak tidur semalaman.

Keesokan harinya, saat menunggu operasi.

Ponselnya menerima serangkaian video yang dikirimkan Elena.

Davina melihat sekilas dan menyadari bahwa itu adalah acara pertunangan Elena dan Marcel.

Marcel mengenakan setelan jas hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap, membuatnya tampak lembut sekaligus menawan.

Senyum tipis menghiasi sudut bibirnya. Dia merangkul Elena dengan mesra sambil menerima ucapan selamat dari para tamu satu demi satu.

Wajah Elena dipenuhi senyum cerah. Dia bersandar dalam pelukan Marcel, sesekali mereka saling berpandangan dan tersenyum.

Tepat pada saat itu, seorang perawat muda mengetuk pintu untuk mengingatkannya.

"Nona Davina, waktunya operasi."

Davina meletakkan ponselnya dan perlahan mengangguk. "Baik."

Tidak jauh dari sana, di aula pesta yang megah, Marcel tampak berseri-seri saat mengikat janji pertunangan dengan seseorang.

Sementara itu, di rumah sakit yang sepi, Davina dibawa masuk ke ruang operasi.

Dengan perasaan terhina, dia membuka kedua kakinya, sementara pisau bedah yang dingin tanpa belas kasihan memutus ikatan terakhir antara dirinya dan anaknya.

Satu jam kemudian, Davina didorong keluar dari ruang operasi dengan wajah sepucat kertas.

Jemarinya menyentuh perut yang kini rata. Jelas tidak ada apa pun yang bisa diraba, tetapi dia merasa seolah sesuatu yang menyakitkan hingga menusuk tulang sedang dipaksa dicabut dari dalam dirinya.

Setiap tarikan napas membuat tubuhnya gemetar menahan sakit.

Davina kembali ke ruang rawat, berganti pakaian sendiri, lalu langsung berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

Kedua pengawal mengangkat tangan dan berusaha menghentikannya.

Davina berkata dengan tenang, "Marcel menyuruh kalian mengawasiku karena takut aku menolak operasi dan melarikan diri. Sekarang tugas kalian sudah selesai. Kalian bisa kembali dan melapor kepadanya."

Kedua pengawal itu saling berpandangan, lalu menelepon Marcel, tetapi yang mengangkat telepon justru Elena.

Suara wanita itu terdengar jijik. "Kenapa membicarakannya sekarang? Sungguh membawa sial. Biarkan dia pergi."

Davina keluar dari rumah sakit dan langsung pulang.

Setelah menyerahkan rumah itu kepada pembelinya, dia membawa koper yang sudah disiapkannya sejak pagi dan langsung menuju bandara.

Mantan rekan kerjanya yang telah menipunya agar datang ke restoran mengirimkan pesan permintaan maaf. [Maaf, aku juga dipaksa sama Elena.]

Davina tidak menyalahkannya, tetapi juga tidak membalas pesannya. Dia langsung memblokir dan menghapus kontaknya.

Elena terus mengirim video acara pertunangannya untuk memprovokasi. Davina pun memblokir dan menghapus kontaknya.

Sejak bertukar kontak dengan Marcel, Davina tidak pernah tega menghapus satu pun pesan darinya, meski sudah berganti ponsel berkali-kali. Kini, dia memblokir dan menghapus kontaknya.

Saat pesawat lepas landas, Davina mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum pucat.

"Marcel, kamu sudah menyelamatkan nyawa ayahku, dan aku juga sudah membayarnya dengan satu nyawa. Mulai sekarang, aku nggak berutang apa pun padamu lagi."

"Sampai jumpa .... Kita nggak bakal pernah bertemu lagi."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 25

    "Aku mendapat kabar kalau Elena diam-diam pergi ke kota tetangga. Kebetulan kamu juga lagi berada di sini buat urusan pekerjaan, jadi aku khawatir sesuatu yang buruk bakal terjadi.""Untungnya, aku berhasil tiba tepat waktu."Saat berbicara, kelopak matanya terasa makin berat. Pandangannya mendadak gelap, lalu seluruh tubuhnya ambruk.Davina secara refleks memeluknya agar dia tidak terjatuh ke lantai.Saat itulah Davina melihat punggungnya.Seluruh cairan asam sulfat yang disiramkan Elena mengenai punggungnya. Meskipun terhalang pakaian, punggungnya kini sudah berlumuran darah.Air mata Davina makin deras. Dia buru-buru membantu para pengawal Marcel membawanya ke rumah sakit.Setelah bersusah payah membawa Marcel ke ruang operasi untuk mendapatkan pertolongan darurat, Ryan pun tiba dengan tergesa-gesa.Begitu melihat Davina di depan ruang operasi, Ryan langsung menghampirinya dan segera memeriksa apakah dia terluka.Sambil menangis, Davina berkata, "Aku nggak apa-apa. Semuanya mengenai

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 24

    Davina tidak menyangka Elena ternyata mengejarnya sampai ke kota tetangga hanya untuk mencelakainya.Davina menggertakkan gigi. "Elena, apa kamu sudah gila?"Menurutnya, meskipun dia tidak bisa dibilang bersikap ramah kepada Elena, dia tidak pernah sengaja mencari masalah dengannya.Sebaliknya, Elena-lah yang selalu saja mengincarnya.Dari luar pintu, suara Elena terdengar arogan. "Kamu merebut priaku. Kamu pikir aku bakal membiarkanmu begitu saja? Di Kota Juomar, Marcel dan Ryan melindungimu. Tapi sekarang kamu di sini. Aku mau lihat siapa lagi yang bisa melindungimu!"Karena Marcel telah memperingatkan Keluarga Gunawan, selama beberapa waktu terakhir, Elena terus dikurung oleh orang tuanya di rumah dan tidak diizinkan keluar.Mana mungkin Elena bisa menerima perlakuan seperti itu?Dia memang tidak berani mencari masalah dengan Keluarga Gunawan, tetapi masa dia juga tidak berani menghadapi Davina?Kalau bukan karena Davina, mana mungkin Keluarga Gunawan menargetkannya?Dia sudah lama

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 23

    Begitu tiba di kota tetangga, Davina langsung merasakan firasat bahaya yang entah dari mana muncul, seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya.Tanpa sadar, dia mengamati sekeliling, tetapi setiap orang yang berlalu lalang tampak seperti pejalan kaki biasa.Dia mencurigai semua orang, tetapi pada saat yang sama, merasa seolah-olah dirinya hanya terlalu banyak berpikir.Davina berjalan dengan tergesa-gesa dan segera keluar dari bandara untuk bertemu dengan rekan kerjanya dari kota tetangga.Setelah bertemu dengan rekannya, perasaan seolah-olah sedang diawasi itu sedikit mereda.Davina tidak memikirkannya lebih jauh. Dia tidak beristirahat di hotel, melainkan langsung pergi ke kantor cabang bersama rekannya, lalu menemui mitra kerja sama bersama para pegawai kantor cabang.Setelah sibuk sepanjang hari, barulah dia kembali ke hotel.Baru saja selesai membereskan barang-barangnya, ponsel Davina pun berdering.Melihat panggilan dari Ryan, Davina tanpa sadar tersenyum, lalu mengangka

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 22

    Davina tidak pernah menyangka bahwa Marcel juga memiliki sisi menyebalkan seperti ini.Keesokan paginya, saat hendak berangkat kerja, Marcel sudah menunggunya di depan pintu rumah sambil membawa sarapan yang dulu sering dipesannya saat masih bekerja di Grup Gunawan.Marcel menyodorkan sarapan itu kepadanya. "Ini makanan kesukaanmu dulu."Davina meliriknya sekilas tanpa ekspresi. "Dulu, aku sering memesannya bukan karena aku suka, melainkan karena kamu yang menyukainya. Aku sangat nggak suka kudapan dari tempat itu."Ekspresi Marcel seketika membeku.Kebetulan, Ryan yang tinggal di seberang juga membuka pintu dan keluar sambil membawa dua bungkus sarapan.Davina menerima satu bungkus, lalu berjalan bersama Ryan.Marcel tertegun selama beberapa detik, tetapi segera menyusul mereka."Lalu, apa yang kamu suka? Besok aku bakal membawakannya buatmu."Davina menoleh kepadanya. "Pak Marcel, aku lebih suka dirimu yang arogan dan nggak mau tunduk pada siapa pun."Marcel terdiam mendengarnya.Rya

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 21

    Marcel menyadari sesuatu dan hampir secara refleks ingin menyuruhnya berhenti bicara.Namun, bibirnya bergetar, sementara kata-kata untuk menghentikannya tak kunjung terucap.Dia tahu, apa yang akan dikatakan Davina selanjutnya pasti akan membuatnya sangat menderita.Namun, entah mengapa, dia tetap ingin mendengar alasannya.Suara Davina yang enak didengar memasuki telinganya, tetapi setiap katanya menjelma menjadi sebilah pisau tajam yang menusuknya hingga sekujur tubuhnya seolah bersimbah darah.Davina berkata pelan, "Marcel, sebenarnya, jatuh cinta kepadamu itu sangat mudah. Kamu begitu hebat dan bersinar. Kamu sangat berbakat dalam dunia bisnis. Bahkan, satu kalimat nasihat darimu saja sudah bisa memberiku banyak manfaat.""Tapi, mencintaimu benar-benar melelahkan. Selama tujuh tahun, aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku buat terus mengejarmu dari belakang. Demi bisa berdiri sejajar denganmu, aku harus berlari siang dan malam cuma buat menyusul satu langkah kecil yang kamu ambil

  • Kukira Kamu adalah Takdir Seumur Hidupku   Bab 20

    Marcel tanpa sadar menahan napas dan menatap Davina dengan sedikit gugup.Davina mengangkat wajah dan menatapnya dengan heran.Dia tidak menyangka pria seperti Marcel ternyata juga bisa ingin kembali kepada mantan kekasihnya.Namun, dia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. "Aku nggak mau."Marcel menatapnya dengan tatapan kosong, lalu menegaskan, "Bukan sebagai kekasih gelap, melainkan sebagai pacar yang resmi."Kali ini, Davina benar-benar terkejut. Dia menatap Marcel dengan tatapan tak percaya.Marcel tampak tidak terbiasa dengan situasi ini, tetapi dia tetap menatap Davina dengan keras kepala, bahkan dengan nada yang nyaris memohon."Bisa?"Davina hanya terdiam selama tiga detik sebelum perlahan menggeleng. "Kita nggak bisa kembali seperti dulu."Tatapan Marcel perlahan meredup.Dia menatap Davina, lalu menjelaskan dengan gelisah dan kebingungan."Davina, selama bertahun-tahun kamu berada di sisiku, aku bisa merasakan betapa kamu peduli kepadaku dan betapa kamu mencintaiku."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status