Share

Nggak peduli

Penulis: Risya Petrova
last update Tanggal publikasi: 2026-08-05 00:16:28
Di teras paviliun sewaan itu, Wildan masih duduk membisu seperti patung es. Namun seiring dengan pudarnya cahaya matahari, ketenangan di wajahnya pun perlahan terkikis habis. Firasat buruk mulai menjalar dan mencekik rongga dadanya.

Ia melirik jam tangannya. Sudah hampir empat jam berlalu sejak Bu Ningsih, sang pemilik kontrakan, mengatakan bahwa Maya pergi ke pasar.

‘Nggak mungkin ada orang yang butuh waktu empat jam cuma buat nitipin kue basah di pasar desa,’ batin Wildan. Otaknya yang cerda
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Abi Sarah
tambh seru greget aq lnjt lg
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Kuli Gagah Spesialis   167. Bersiap

    Merasakan dinginnya moncong pistol di dahinya dan berada di bawah tekanan maut yang begitu nyata, mental keberanian bu Lastri hancur tak bersisa. Kesombongan dan ketamakannya langsung lenyap. Wanita paruh baya itu menangis histeris ketakutan menghadapi kematiannya."Iya! Iya, Ibu ngaku! Ampun, Wil, tolong jangan bunuh Ibu!" jerit Ibu Lestari sambil menangkupkan kedua tangannya memohon ampun dengan sangat memprihatinkan. Air matanya mengalir deras meratapi kebodohannya sendiri. "Indra yang suruh Ibu! Dia sama Budiarto yang janjiin bakal lunasi sisa uang satu miliar kalau Ibu berhasil bikin Maya tidak sadar malam ini.”"Jam berapa komplotan bajingan itu masuk?!" cecar Wildan dengan nada suara yang semakin meninggi dan mengintimidasi."Jam tiga pagi ini, Wildan ... Pasukan bayaran dari bos Kohar bakal masuk dari gerbang belakang taman. Mereka butuh Maya pingsan biar gampang diculik dan dibawa kabur tanpa bikin keributan fisik sama penjaga keamanan di depan," aku Ibu Lestari di sela tangi

  • Kuli Gagah Spesialis   166. Maya mati?

    Tetesan susu cokelat itu rupanya sudah sempat tertelan oleh Maya. Hanya satu tegukan kecil sebelum tangan Wildan menghantam gelas kaca tersebut hingga hancur berkeping-keping. Namun satu tegukan kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat racun obat tidur dosis tinggi tersebut bereaksi dengan sangat cepat di dalam aliran darahnya.Telinga Maya mendadak berdenging sangat keras. Pandangannya langsung berputar hebat. Ruang tengah yang terang benderang seketika terasa berayun naik turun. Maya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit dan sangat pusing."Wil ... Wildan ... kepala aku pusing banget …," panggil Maya lirih. Suaranya terdengar sangat jauh dan bergema di telinganya sendiri.Kepalanya terasa ditimpa beban yang sangat berat. Rasa kantuk yang brutal dan tidak wajar menyerang saraf otaknya secara paksa. Kelopak matanya memberat, tidak sanggup lagi terbuka meski ia berusaha keras untuk tetap menatap wajah suaminya. Tenaganya terkuras habis dalam hitungan detik. Kak

  • Kuli Gagah Spesialis   165. Jangan!

    Konflik di dalam sangkar emas tersebut semakin memanas ketika jarum jam menunjuk ke angka sebelas malam. Di dalam kamar tamu yang mewah, Ibu Lestari sedang duduk gelisah di tepi ranjang. Ponsel pintar di tangannya tiba-tiba bergetar, menampilkan sebuah pesan teks rahasia dari nomor sekali pakai yang tidak dikenal.Pesan itu datang dari Indra Wiguna. Sang mantan jaksa berwajah cacat itu memberikan sebuah instruksi yang sangat keji:'Kami akan menyusup masuk jam tiga pagi ini. Pastikan Maya dalam kondisi lumpuh total. Campurkan obat tidur dosis tinggi yang sudah kami selipkan di dalam tasmu ke dalam susu kehamilannya. Kalau kamu gagal, sisa pelunasan bayaran satu miliar rupiah milikmu akan hangus detik ini juga!'Membaca ancaman sekaligus janji bayaran bermilyaran itu, mata Ibu Lestari langsung membelalak. Sifat serakah dan gila hartanya seketika mengalahkan naluri keibuannya. Komplotan Indra jelas berencana menyusup malam itu juga, dan mereka membutuhkan Maya dalam kondisi tidak sadar

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 164. Pengkhianat dari dalam

    Pagi itu, setelah penyatuan fisik yang dipenuhi pemujaan sukses menghapus keraguan di hati Maya, Wildan melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tanpa suara. Ia membiarkan Maya tertidur pulas dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya. Rasa damai terlihat jelas di wajah Maya yang tidak lagi ditekuk oleh amarah maupun kecemburuan buta.Namun berbeda dengan sang istri yang kembali menemukan ketenangannya, Wildan sama sekali tidak lantas bersantai atau menurunkan kewaspadaannya. Begitu pintu kamar tertutup rapat dari luar, raut wajah pria itu kembali mengeras. Insting predator sang penguasa jalanan berteriak nyaring di dalam kepalanya, memperingatkan bahwa ada kejanggalan besar di balik rentetan kejadian semalam.Hasutan tiba-tiba dari sang ibu mertua terlalu tepat waktu dengan tertangkapnya mata-mata di gudang utara. Wildan sangat hafal dengan tabiat Ibu Lestari yang gila harta, serakah, dan mudah silau oleh kemewahan. Tidak mungkin wanita yang baru saja ia selamatkan dari keb

  • Kuli Gagah Spesialis   163. Lihat saja

    Maya terdiam kaku mendengar pertanyaan tajam Wildan. Matanya yang basah menghindari tatapan.Maya juga menggigit bibir bawahnya dengan keras, menolak untuk memberikan jawaban. Ia masih diselimuti gengsi dan kebingungan antara mempercayai suaminya atau mempercayai racun provokasi dari ibunya sendiri.Namun keterdiaman Maya justru menjadi jawaban yang sangat jelas bagi Wildan. Otak Wildan bekerja dengan sangat cepat dan taktis. Ia mengingat kembali siapa saja orang yang berada di dalam rumah malam ini. Beno dan para penjaga setia tidak mungkin berani berbicara sembarangan. Para pelayan juga sudah beristirahat di paviliun belakang. Satu-satunya pihak internal yang masih terbangun di dapur dan punya kebiasaan merendahkan orang lain adalah ibunya Maya, Ibu Lestari.Wildan menghela napas panjang. Amarah yang sangat dingin sempat berdesir di dadanya menyadari fakta ini. Wanita paruh baya yang baru saja ia selamatkan dari kebangkrutan, yang ia beri makan dan tempat tinggal mewah, justru deng

  • Kuli Gagah Spesialis   162. Menepis pelukan

    Menyadari bahwa musuh terbesarnya ternyata belum mati, kepanikan langsung melanda Wildan. Fakta ini menghantamnya lebih keras daripada pukulan besi mana pun. Indra Wiguna masih hidup. Pria cacat itu tidak hanya bernapas, tetapi kini secara aktif mengintai nyawa keluarganya, terutama Maya dari balik bayangan pesisir."Bos, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Beno. Suara asisten kepercayaannya itu ikut bergetar, menyadari seberapa mematikan ancaman ini. "Kalau Indra benar-benar gabung sama Kohar, mereka punya akses uang, senjata selundupan, dan pasukan bayaran yang nggak bisa diremehkan."Wildan mengepalkan tangannya hingga urat-urat lengannya menonjol. Hatinya dipenuhi amarah, tetapi terdorong oleh insting protektif absolutnya terhadap Maya, ia harus bertindak cepat dan taktis."Ben, dengarkan perintah gue baik-baik," ucap Wildan dengan nada berat dan cepat. "Lipatgandakan penjagaan di mansion sekarang juga. Gue nggak mau cuma pakai preman jalanan biasa buat jaga rumah. Sewa p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status