로그인Pria tua itu mengangkat wajah. Matanya yang basah menatap Wandi dengan tidak percaya."Mas... Mas mau mengajak saya makan?""Iya, Pak. Saya traktir.""Tapi Mas, saya tidak punya uang untuk membalas.""Tidak perlu balas, Pak. Saya senang bisa berbagi."Pria tua itu menangis lagi. "Mas... saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya... terima kasih."Wandi berdiri, membantu pria tua itu berdiri. Mereka berjalan ke warung soto terdekat, dengan Wandi yang terus melihat angka di atas kepala pria tua itu.00:03:4500:03:1200:02:33Di warung soto, Wandi memesan dua mangkuk soto ayam dan dua gelas es teh manis. Mereka duduk di meja pojok, menikmati makanan yang hangat."Pak, nama Bapak siapa?" tanya Wandi."Pak Mulyono, Mas. Tapi orang-orang memanggil saya Pak Haji.""Pak Haji, Bapak tinggal di mana?""Di pinggir rel, Mas. Di gubuk reyot. Tidak ada yang mau berkunjung."Wandi merasakan dadanya sesak. Dia teringat pada Noval yang juga pernah tinggal di gubuk reyot pinggir rel. Noval yang jug
Matahari pagi baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit masih berwarna biru keunguan, dengan sisa-sisa embun yang masih menempel di dedaunan di halaman rumah. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga, menyambut datangnya pagi dengan riuh rendah yang khas. Suasana masih sunyi, hanya sesekali suara ayam tetangga yang berkokok dari kejauhan. Rumah itu masih sepi, Arini dan Tina belum bangun, Noval dan Nila juga masih terlelap di kamar mereka.Wandi duduk di tepi kasur, tidak bergerak. Tangannya yang kekar tergeletak di pangkuannya, matanya yang tajam menatap kosong ke dinding. Pikirannya melayang ke masa lalu, ke hari-hari ketika dia pertama kali mendapatkan kemampuan ini."Angka kematian... Aku masih bisa melihatnya. Setiap hari. Setiap kali aku melihat seseorang, aku bisa melihat angka di atas kepalanya. Angka yang menunjukkan sisa waktu kehidupan mereka."Wandi menghela napas panjang. Kemampuan itu datang kepadanya setelah kecelakaan, setela
Setelah selesai membersihkan lantai, Tina mulai merapikan meja-meja di ruang rapat. Dia mengelap meja kayu yang besar, merapikan kursi-kursi yang tidak rapi, dan membersihkan papan tulis putih yang penuh dengan coretan."Sudah rapi," gumam Tina sambil menatap hasil kerjanya.Dia tersenyum bangga.Tina pindah ke lantai 13. Di sini, suasana sedikit berbeda, lebih tenang, lebih privat. Lantai 13 adalah lantai untuk para manajer. Ada beberapa ruangan dengan pintu kaca, dan di dalamnya, para manajer sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.Tina mulai membersihkan lantai 13 dengan teliti. Dia memperhatikan setiap detail, setiap sudut, setiap sela-sela meja, setiap jejak kaki yang tertinggal. Dia ingin memberikan yang terbaik.Di salah satu ruangan, seorang manajer perempuan dengan blazer merah dan kacamata tebal, melihat Tina yang sedang membersihkan lantai. Dia tersenyum."Mbak, kamu baru, ya?" sapa manajer itu."Iya, Bu. Saya baru mulai hari ini.""Kamu rajin. Lantainya bersih banget.""Teri
Mobil BMW hitam milik Arini melaju perlahan memasuki area parkir gedung perkantoran di kawasan Kuningan. Pagi itu langit cerah, matahari bersinar terang tetapi tidak terlalu terik. Awan-awan tipis bergerak lambat seperti kapas yang ditiup angin. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah berjejeran, kaca-kacanya memantulkan sinar matahari pagi yang hangat. Suasana kawasan perkantoran mulai hidup, pejalan kaki dengan pakaian rapi mulai berdatangan, ada yang sambil memegang tas laptop, ada yang sambil memegang kopi, ada yang sambil berbicara di telepon.Arini memarkir mobil di tempat VIP yang biasa dia gunakan, tidak jauh dari pintu masuk. Dia mematikan mesin, melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke Tina yang duduk di kursi penumpang."Tina, kita sudah sampai," ucap Arini dengan suara lembut.Tina menatap ke luar jendela, melihat gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Matanya membeliak. Dia belum pernah masuk ke gedung sebesar ini sebelumnya. Dulu, ketika dia masih menjadi istri Wan
Noval tersenyum bangga. "Noval ganteng, Pa!""Nila cantik, Om!" seru Nila.Wandi tertawa. "Ayo, kita sarapan dulu. Papa sudah siapkan bekal untuk kalian."Mereka berjalan ke meja makan. Wandi sudah menyiapkan roti bakar dengan selai coklat dan meses, susu hangat, dan buah-buahan segar."Wah, enak!" seru Noval."Nila suka roti bakar!" seru Nila.Mereka makan dengan lahap. Wandi sesekali menyuapi mereka, membuat mereka semakin bahagia.Setelah sarapan, Wandi menyiapkan bekal untuk Noval dan Nila. Dia mengambil dua kotak makan siang, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi kotak itu dengan nasi, ayam goreng suwir, sayur brokoli, dan potongan buah apel."Noval, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Pa. Noval makan.""Nila, ini bekal kamu. Jangan lupa dimakan, ya.""Iya, Om. Nila makan."Wandi juga menyiapkan dua botol minum, satu untuk Noval, satu untuk Nila. Dia mengisi botol itu dengan air putih dan sedikit perasan lemon."Jangan lupa minum, ya. Biar tidak dehidrasi.""
Matahari pagi bersinar cerah di atas Cipinang ketika Wandi terbangun dari tidurnya. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela kamar, menciptakan pola-pola cahaya di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kebahagiaan.Wandi membuka matanya perlahan. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirinya, tidak ada Noval, karena Noval sudah pindah ke kamarnya sendiri, meskipun kadang dia masih merangkak ke kasur Wandi dan Arini di tengah malam. Wandi tersenyum. Dia menatap Arini yang masih terlelap."Rin..." bisik Wandi pelan.Arini menggeliat, matanya terbuka perlahan. "Wan... sudah pagi?""Sudah, Rin. Hari sudah siang."Arini duduk, mengusap matanya dengan punggung tangan. Rambutnya yang panjang terurai sedikit kusut,







