ANMELDENNoval tertawa kecil. Tangannya yang mungil tiba-tiba meraih hidung Arini, menjepitnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, lalu menariknya sedikit. Arini terkejut, lalu tertawa."Mama hidungnya panjang kayu Pinokio..." ucap Noval dengan polos.Arini berpura-pura marah. "Hidung Mama panjang? Pinokio itu boneka kayu yang hidungnya panjang kalau bohong. Mama nggak pernah bohong, jadi hidung Mama nggak panjang.""Tapi ini panjang, Ma." Noval menarik hidung Arini lagi."Ah, kamu ini. Nanti hidung Mama copot."Noval tertawa lepas. Di belakang mereka, Wandi yang sedang menggelar tikar, ikut tertawa."Noval, jangan nakal sama Mama," tegur Wandi sambil tersenyum."Noval nggak nakal, Pa. Noval cuma... cuma... penasaran.""Penasaran sama hidung Mama?""Iya. Hidung Mama beda sama hidung Papa. Hidung Mama mancung. Hidung Papa pesek."Wandi tertawa. "Ya, hidung Papa pesek. Tapi Papa ganteng, kan?"Noval mengerjap. "Noval nggak tahu, Pa. Tapi Mama bilang Papa ganteng.""Mama bohong."Arini memukul len
Noval berjalan ke arah motor bebek, berdiri di sampingnya, lalu menatap Wandi dengan polos. Tangannya yang mungil mengelus body motor yang penyok, merasakan tekstur tidak rata dengan tangan mungilnya."Papa... kenapa motor ini nggak dipakai?"Wandi terdiam. Matanya menatap motor itu, lalu menatap Noval, lalu kembali ke motor itu. Dadanya terasa hangat. Ada begitu banyak kenangan yang terpatri di benda tua itu. Ada begitu banyak cerita yang tidak bisa dia ceritakan kepada anak seusia Noval.Motor itu adalah saksi bisu perjuangannya. Saksi ketika dia masih menjadi kurir, mengantar paket dari satu tempat ke tempat lain dengan penghasilan pas-pasan. Saksi ketika dia harus meminjam uang ke Pakde Slamet untuk membayar cicilan yang telat lima bulan. Saksi ketika dia jatuh di aspal karena mobil yang dikemudikan Arini, yang saat itu masih belum kenal Wandi, menabraknya dari samping. Saksi ketika dia mengantar Nila, anak kandungnya yang kini tinggal bersama Tina, ke klinik karena demam tinggi d
Jam dinding di ruang tamu baru menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit ketika Wandi sudah terbangun dari tidurnya. Langit di luar masih gelap gulita, tidak ada satu pun bintang yang terlihat karena awan tipis menutupi hampir seluruh langit. Hanya sesekali lampu jalan di gang yang masih menyala, memancarkan cahaya jingga temaram yang nyaris tidak cukup untuk menerangi aspal yang basah karena embun. Burung-burung pipit belum mulai berkicau, ayam tetangga belum terdengar berkokok, dan suara jangkrik dari halaman belakang masih terdengar nyaring, seolah mereka belum siap menyerahkan malam kepada pagi.Wandi sudah tidak bisa tidur sejak satu jam yang lalu. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan hari ini. Bukan karena cemas, bukan karena ada rencana besar yang menegangkan, tapi karena hari ini adalah pertama kalinya Noval, anaknya yang baru resmi diadopsi, akan melihat laut. Pertama kalinya dalam hidupnya, anak kecil berusia empat tahun itu akan merasakan pasir di sela-sela jari ka
Hari-hari pertama Noval di rumah Wandi dan Arini adalah masa penyesuaian. Noval masih malu-malu. Dia tidak berani makan tanpa izin. Tidak berani bermain tanpa izin. Tidak berani bicara tanpa izin."Noval, ini rumah kamu. Kamu bebas melakukan apapun asal tidak membahayakan," ucap Wandi.Noval mengangguk, tetapi masih canggung.Arini membelikan Noval baju baru, beberapa stel baju tidur, baju bermain, dan satu stel baju untuk acara formal. Noval tidak pernah punya baju baru seumur hidup. Dia hanya menerima baju bekas dari tetangga yang ibunya terima."Mama, ini baju untuk Noval?" tanya Noval tak percaya."Iya, Nak. Coba pakai."Noval memakai baju baru itu. Rasanya aneh. Tidak gatal. Tidak sobek. Tidak kebesaran. Wanginya harum."Bagus, Nak!" ucap Arini.Noval tersenyum malu.Malam harinya, Wandi dan Arini menemani Noval tidur. Noval takut gelap, jadi mereka menyalakan lampu tidur kecil. Wandi membacakan dongeng dari ponselnya, cerita tentang kancil yang cerdik. Noval mendengarkan dengan
Pak Handoko kemudian menjelaskan detail tentang studi kelayakan. Seorang pekerja sosial dari dinas sosial akan datang ke rumah mereka, mewawancarai mereka, memeriksa kondisi rumah, lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Mereka juga akan mewawancarai tetangga dan referensi."Jangan khawatir, Mas, Mbak. Itu hanya formalitas. Yang penting kalian jujur dan terbuka. Rumah kalian sederhana, itu tidak masalah. Yang penting ada ruang untuk anak, ada kasih sayang, ada perhatian."Wandi dan Arini mengangguk.Setelah konsultasi selesai, Wandi menanyakan biaya. Pak Handoko menyebut angka yang cukup besar, tapi masih dalam jangkauan. Wandi membayar di muka."Mas Wandi, Mbak Arini, saya akan mulai memproses berkas. Mohon dokumen-dokumennya segera dikumpulkan.""Baik, Pak. Terima kasih."Mereka berjabat tangan, lalu keluar dari ruangan.---Hari-hari berikutnya diisi dengan kegiatan mengurus dokumen. Wandi dan Arini bolak-balik ke kelurahan, kecamatan, rumah sakit, klinik psikologi, dan polres. Seti
Beberapa hari kemudian....Matahari baru saja muncul di ufuk timur ketika Wandi membuka matanya. Cahaya pagi yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis berwarna keemasan di lantai keramik. Burung-burung pipit sudah mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Wandi tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Noval, anak kecil kurus dengan wajah pucat yang duduk di kursi plastik, memeluk perutnya yang kelaparan, dan tersenyum polos setelah diberi makan.Di sampingnya, Arini masih terlelap. Wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal, bibirnya sedikit terbuka. Wandi tersenyum melihatnya. Dia tidak ingin membangunkan Arini. Istrinya itu juga semalaman gelisah, bolak-balik membuka ponsel untuk mencari informasi tentang proses adopsi, membaca artikel, menonton video, dan kadang menghela napas panjang ketika menemukan berita tentang lamanya proses pengurusan.Wandi







