Share

Bab 21

Author: RIANNA ZELINE
last update Last Updated: 2025-05-04 23:54:27

Tubuhku terasa lemas setelah semua makanan yang ada dalam perut telah kutumpahkan. Aku tidak tahu kenapa, mual itu tiba-tiba terasa nyata dan aku tidak kuat untuk menahannya, sehingga dengan penuh tenaga aku pun memuntahkannya. Kucoba mengingat kembali apa yang kumakan pagi ini, atau mengingat makanan yang kumakan semalam. Rasanya tidak ada yang aneh sama sekali. Bahkan aku merasa tubuhku baik-baik saja dan tidak merasa kelelahan atau semacamnya. Makan teratur dan istirahat cukup pun sudah menjadi rutinitas sehari-hari meski masih dalam tahap memulihkan perasaan.

Sesaat setelah memastikan rasa mual itu tak lagi mengganggu, aku mencuci mulut dan wajahku. Lalu keluar dan melangkah perlahan menuju ranjang. Mengatur napas yang sedikit memburu setelah tenagaku terkuras saat memuntahkan isi dalam lambungku. Hingga hanya pahit yang tersisa pada lidahku.

Terdiam dengan menatap langit kamar, aku merasakan kesepian saat seperti ini. Sakit dalam keadaan seorang diri, tak ada satu pun seseorang m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 70

    Bagaimana bisa orang itu ternyata bukan Vania?Aku mengedip beberapa kali. Memastikan aku tidak salah lihat. Orang yang berdiri di sana, adalah seorang wanita yang sangat kukenal, tapi sama sekali bukan orang yang kucurigai."Mbak Lani?" ucapku lirih, nada masih setengah tak percaya.Wanita yang selama ini sudah kupercaya merawat anakku, kenapa justru dia yang merupakan dalang dari penculikan itu. Apa yang sebenarnya dia inginkan?Dia tersenyum lebar, seolah sudah menang setelah mengalahkanku dengan menculik Revan."Apakah sesuai dengan dugaan Anda, Bu Dinara?" tanyanya sambil tertawa kecil.Aku menggeram. Tanganku mengepal. Mataku langsung menatapnya tajam."Apa-apaan ini, Mbak? Kenapa kamu yang di sini? Nggak... nggak mungkin kamu dalang dari penculikan ini, 'kan?" tanyaku, masih tidak percaya dengan apa yang kulihat di hadapanku.Dia masih tersenyum, lalu menggeleng kecil."Bu Dinara... Anda memang terlalu baik, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ancaman besar ada di dekat Anda se

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 69

    Tanpa kata, aku menatap Kak Ravin dengan penuh kesungguhan. Kutunjukkan bahwa aku siap melakukannya. Apapun yang terjadi, aku tak akan mundur. Bahkan jika harus mengorbarkan nyawa, aku sanggup asalkan Revan dibiarkan hidup.Aku melangkah pergi, masuk ke mobil, menutup pintu, dan baru saat mesin menyala aku mengirim titik lokasi itu ke Kak Rafael. Setelahnya, aku kembali membuka dan memperhatikan pesan dari penculik.Pesan itu masuk pukul 17.42. Nomor yang sama. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi.[Datang sendiri. Gudang lama di ujung Pelabuhan Timur. Jangan bawa siapa pun. Anakmu masih hidup karena kami menepati janji.]Aku membaca pesan itu tiga kali. Tidak ada ancaman tambahan. Tidak ada foto. Tidak ada bukti. Seolah mereka sudah yakin satu hal—laku akan datang.Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Aku tak ingin mengulur waktu, meski aku tak yakin apakah orang-orang kakakku dan Kak Rafael sudah mengikutiku. Yang jelas, aku berusaha yakin jika mereka akan menolongku tepat waktu.De

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 68

    Jalanan siang ini cukup ramai, tapi aku masih bisa merasakan ketegangan pada malam itu. Dadaku sesak, hampir tak sanggup menahan diri untuk tidak menangis. Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi lebih kuat sampai Revan kembali.Mobil berhenti di halaman parkir minimarket. Aku langsung membuka pintu dan turun bahkan sebelum mesinnya mati. Setelah Kak Rafael keluar, aku mengikutinya masuk ke dalam.Lampu neon minimarket itu terlalu terang untuk ukuran malam yang masih menyisakan trauma. Aku berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan jaket gelap dan topi, berusaha menyatu dengan bayangan rak-rak penuh barang kebutuhan sehari-hari.Rafael berdiri di sisi lain, berbicara singkat dengan kasir perempuan yang tampak gugup tapi kooperatif. Di balik meja kasir, layar monitor kecil menampilkan rekaman CCTV yang sedang diputar ulang.“Putar dari jam dua puluh dua lewat sepuluh,” kata Kak Rafael pada karyawan minimarket.Gambar berganti. Tampak parkiran minimarket dari sudut tingg

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 67

    Aku menegakkan tubuh. Sendok terlepas dari jariku, jatuh ke piring dengan bunyi kecil yang nyaring."Laporan?" ulangku memastikan.“Lokasi yang kamu kirim semalam,” lanjut Kak Rafael. “Orang-orang kita sudah menyisir semuanya. Gudang kosong. Tidak ada aktivitas. Tapi—”“Tapi?” potongku.“Ada jejak kendaraan,” katanya. “Dan bukan satu.”Dadaku kembali berdenyut keras. Masih berusaha mencerna informasi itu. “Maksudnya?”“Ban berbeda. Arah keluar masuk berbeda. Setidaknya tiga mobil.” Kak Rafael menarik napas. “Itu bukan tempat mereka menetap. Itu hanya titik transit.”Kak Ravindra mengumpat pelan. “Sial.”“Mereka profesional,” lanjut Kak Rafael. “Cara mereka bergerak, koordinasinya, dan fakta bahwa mereka tidak meninggalkan jejak personal apa pun… besar kemungkinan mereka bukan pelaku utama.”Aku menatap Kak Rafael tajam. “Orang bayaran.”Kak Rafael mengangguk. “Itu asumsi terkuat kami.”Kalimat itu jatuh seperti palu.Orang bayaran, berarti ada otak di belakangnya. Seseorang yang punya

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 66

    "Kak..." panggilku pelan pada Kak Ravin, kemudian langsung menghambur ke pelukannya. Seketika air mataku tumpah.Kak Ravin tidak bertanya. Ia memelukku erat, mengusap lembut kepalaku, mencoba menguatkan sekaligus memintaku untuk sabar sebentar."Kita pasti akan menyelamatkannya," ucapnya pelan, tapi penuh janji dan tekad.Ponselku kembali bergetar di genggaman tangan. Aku dan Kak Ravindra sama-sama menatap layar itu, sementara Kak Rafael berdiri diam di belakangku, rahangnya mengeras.Satu pesan masuk.Nomor tak dikenal:[Rencana malam ini dibatalkan.][Jangan bertindak bodoh.][Kami yang akan menghubungimu.]Aku membaca ulang kalimat itu tiga kali. Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada lokasi. Tidak ada Revan. Hanya keputusan sepihak yang terasa seperti jerat ditarik perlahan.“Mereka mundur?” gumam Kak Ravindra.“Bukan mundur,” jawab Kak Rafael pelan. “Mereka memilih menunda. Entah untuk memastikan kita kelelahan lebih dulu, atau mungkin mereka sedang menyusun rencana baru.”Aku men

  • Kusiapkan Perpisahan Terindah   Bab 65

    Beberapa detik lamanya aku terdiam sebelum akhirnya membuka mata. Aku menoleh, menatap wajah Kak Rafael dengan perasaan hancur. Mendengar suara Revan yang sedang menangis ketakutan, membuat hatiku rasanya bagai disayat."Aku harap mereka benar-benar membuat Revan tetap aman," ucapku lirih.Mobil Kak Rafael melaju kembali, kali ini lebih pelan. Tidak ada musik. Tidak ada obrolan, kosong. Hanya suara napas kami dan denyut waktu yang terasa kejam. Kemudian Kak Rafael memecah keheningan lebih dulu.“Kita tidak akan menuruti permintaan mereka secara mentah,” katanya tenang, tapi nada suaranya tegas. “Kalau mereka berani menelepon, berarti mereka ingin sesuatu. Dan orang yang ingin sesuatu… tidak akan langsung menyakiti sandera.”Aku menatap lurus ke depan. “Mereka menyebut datang sendiri.”“Dan itu tidak akan kamu lakukan sendirian,” balasnya cepat. “Kita mainkan strategi. Bukan emosi.”Aku menarik napas panjang, memaksa otakku bekerja meski kepalaku masih berdenyut.“Mereka tahu siapa aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status