تسجيل الدخولArus laut semakin tenang. Semakin jauh Nerion berenang meninggalkan pemukiman, semakin sedikit cahaya yang menembus kedalaman. Suara tangis Seraphine perlahan menghilang, tergantikan oleh gemuruh lembut Arus Laut Dalam yang telah menemaninya selama ribuan tahun.Ia tidak pernah menoleh. Bukan karena tidak mendengar. Melainkan karena ia tahu... jika sekali saja ia menoleh ke belakang, hatinya mungkin akan kembali goyah."..."Perjalanan menuju pusat Arus Laut Dalam bukanlah perjalanan yang asing baginya. Selama ribuan tahun menjadi Penjaga, ia telah melewati jalur itu berkali-kali. Namun hari itu, setiap arus yang menyentuh tubuhnya terasa berbeda. Seolah lautan telah mengetahui tujuan kedatangannya.Nerion terus berenang hingga tiba di sebuah wilayah yang nyaris tak pernah didatangi duyung lain. Di sana tidak terdapat terumbu karang, tidak ada kawanan ikan, bahkan tumbuhan laut pun nyaris tak tumbuh. Yang ada hanyalah pusaran arus raksasa yang berputar perlahan tanpa pernah berhenti.
Nerion menatap lurus jauh ke arah arus laut dalam. Tatapannya begitu tenang. Seolah keputusan itu telah selesai ia ambil jauh sebelum mengucapkannya."Aku… akan menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada laut.""Mulai saat ini… aku akan kembali menjadi bagian dari laut yang selama ini gagal kujaga."Seluruh tubuh Seraphine membeku. Wajahnya perlahan memucat disertai derai air mata."Nerion...""Tidak..."Bisikan itu nyaris tak terdengar. Namun Nerion tidak lagi mengalihkan pandangannya.Tubuh Seraphine seketika terasa lemas.Seraphine hanya mampu menatapnya tanpa berkedip. Untuk sesaat, ia merasa dirinya salah mendengar. Selama ribuan tahun mengenal Nerion, tidak pernah sekali pun ia membayangkan duyung itu mengucapkan keputusan seperti itu dengan begitu tenang."Nerion..."Suaranya kembali bergetar, “kau... sedang bercanda, kan?"Tidak ada jawaban. Arus laut tetap mengalir perlahan di hadapan mereka. Sementara Nerion hanya memandang ke arah yang sama, seolah seluruh dunia di sekitarnya te
Nerion tetap terdiam.Tatapannya masih tertuju pada Seraphine yang berdiri di hadapannya. Namun sorot matanya seolah menembus jauh melewati duyung itu. Sejak tadi ia mendengar setiap pertanyaan yang diucapkan Seraphine, tetapi tak satu pun mampu ia jawab.Bukan karena ia membencinya. Melainkan karena ia baru menyadari satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan itu sendiri.Anomali arus, arsip kuno dan semua petunjuk itu telah muncul satu demi satu di hadapannya. Lalu sebagai Penjaga Arus Laut Dalam... ia terlambat menyadarinya."Nerion..."Suara Seraphine kembali terdengar."Tolong katakan sesuatu."Nerion masih tidak menjawab. Ingatannya perlahan kembali pada hari ketika ia pertama kali menemukan arus yang bergerak tidak semestinya. Saat itu ia hanya menganggapnya sebagai penyimpangan kecil yang akan kembali normal dengan sendirinya.Namun penyimpangan itu tidak pernah berhenti. Sebaliknya, semuanya terus bertambah. Tetapi ia gagal untuk menyadarinya."Nerion..."S
Pemukiman duyung kembali dipenuhi aktivitas seperti biasanya. Kawanan ikan berenang di antara terumbu karang. Anak-anak duyung tertawa sambil saling mengejar. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa di sudut lain, dua duyung tengah terdiam dalam percakapan yang tak menemukan ujungnya.Seraphine masih memandang Nerion dengan kebingungan. Pertanyaan yang sejak tadi ia lontarkan belum mendapatkan jawaban sedikit pun."Nerion… apa maksudmu?” ulangnya. "...apa sebenarnya yang terjadi?" lanjutnya. Nerion tetap diam. Tatapannya perlahan menyapu wajah Seraphine. Duyung yang berada di hadapannya itu tampak benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya berubah begitu drastis."Aku tahu kau kecewa padaku," ucap Seraphine lirih."Aku tahu kau marah.""Tapi... setidaknya katakan apa kesalahanku."Nerion menutup matanya sejenak. Kalimat itu terdengar begitu aneh di telinganya.Seraphine masih mengingat bahwa dirinya merasa bersalah. Ia masih mengingat tatapan kecewa yang pernah Nerion berikan. Namun…
Beberapa waktu sebelumnya saat Maris mengucapkan salam perpisahan dengan Nerion. Nerion terus berenang menjauh dari pesisir tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Semakin jauh ia mengayunkan ekornya, semakin samar garis pantai yang tadi masih terlihat di permukaan laut.Namun ada sesuatu yang masih tertinggal di pikirannya. Suara Maris terus memenuhi benaknya."Terima kasih... sudah datang menemuiku."Kalimat sederhana itu terus terngiang di dalam kepalanya. Nerion memejamkan mata sejenak.Ia telah mengucapkan selamat tinggal. Bahkan ia telah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Tidak ada lagi alasan untuk kembali.Seharusnya begitu.Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin berat setiap kali ia mengingat wajah Maris yang tersenyum tenang setelah mengetahui dirinya telah kehilangan seluruh dunia yang pernah dimilikinya."..."Tidak ada kebencian dan kemarahan yang dilupakan oleh Maris. Bahkan tidak ada pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi padanya. Justru itulah yang pa
Kabut perlahan menutup jalan masuk Teluk Mati hingga laut di belakang Maris menghilang seluruhnya. Tidak ada lagi garis cakrawala yang membatasi langit dan laut. Yang tersisa hanyalah hamparan kabut kelabu yang menggantung rendah di atas permukaan air.Maris berhenti berenang sejenak. Ia menoleh ke belakang, tetapi tak lagi dapat melihat pantai tempat Lycander berdiri tadi. Bahkan suara ombak dari luar pun perlahan menghilang, seolah kabut itu menelan seluruh dunia di baliknya."..."Ia kembali mengayunkan ekornya perlahan. Riak kecil menyebar di permukaan air yang nyaris tak bergerak. Berbeda dengan laut yang pernah ia kenal, air di tempat itu terasa begitu tenang hingga hampir menyerupai danau.Semakin jauh ia berenang, suasana di sekelilingnya semakin sunyi. Tidak terdengar suara burung laut, tidak ada kawanan ikan kecil yang biasanya berenang menghindari ekornya. Bahkan rumput laut yang bergoyang mengikuti arus pun tampak jauh lebih sedikit.“Tak ada apapun di sini,” pikirnya. Ma
“Apa... apa yang kau lakukan?” tanya Maris ketakutan.Wajah mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyapu kulitnya. Hangat, asing, dan membuat tubuh Maris menegang tanpa ia mengerti alasannya. Ia refleks menahan napas.“Ja-jangan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar.Manusia serigala itu ti
“Si...siapa di sana?!” teriaknya parau, suaranya pecah di tengah rasa takut yang menyesakkan dada.Suara ranting patah terdengar semakin jelas.Sosok itu perlahan berjalan keluar dari kegelapan di antara pepohonan dan semak-semak, mendekat ke arah Maris. Setiap langkahnya terdengar berat dan teruku
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn







