تسجيل الدخولBeberapa waktu telah berlalu.Pemukiman duyung kembali dipenuhi kehidupan seperti biasanya. Kawanan ikan berenang bebas di antara gugusan terumbu karang. Anak-anak duyung kembali bermain sambil saling mengejar, menciptakan tawa yang memenuhi lautan.Di sudut lain, para tetua berkumpul seperti hari-hari sebelumnya. Mereka membicarakan arus yang kembali normal, musim migrasi ikan, dan berbagai hal yang telah menjadi bagian dari kehidupan laut selama ribuan tahun.Seolah… tidak pernah terjadi apa-apa.Hanya satu hal yang sesekali masih terdengar di antara percakapan mereka."Seorang Penjaga Arus Laut Dalam telah kembali kepada laut."Kalimat itu diucapkan tanpa tangisan atau penyesalan. Bagi seluruh penghuni laut, itulah akhir yang paling mulia bagi seorang Penjaga. Mereka percaya Nerion telah menyelesaikan tugasnya dan kembali menjadi bagian dari laut yang selama ini ia lindungi.Tak seorang pun mempertanyakannya lagi.Kehidupan terus berjalan. Sementara ombak tetap datang dan pergi sep
Arus laut semakin tenang. Semakin jauh Nerion berenang meninggalkan pemukiman, semakin sedikit cahaya yang menembus kedalaman. Suara tangis Seraphine perlahan menghilang, tergantikan oleh gemuruh lembut Arus Laut Dalam yang telah menemaninya selama ribuan tahun.Ia tidak pernah menoleh. Bukan karena tidak mendengar. Melainkan karena ia tahu... jika sekali saja ia menoleh ke belakang, hatinya mungkin akan kembali goyah."..."Perjalanan menuju pusat Arus Laut Dalam bukanlah perjalanan yang asing baginya. Selama ribuan tahun menjadi Penjaga, ia telah melewati jalur itu berkali-kali. Namun hari itu, setiap arus yang menyentuh tubuhnya terasa berbeda. Seolah lautan telah mengetahui tujuan kedatangannya.Nerion terus berenang hingga tiba di sebuah wilayah yang nyaris tak pernah didatangi duyung lain. Di sana tidak terdapat terumbu karang, tidak ada kawanan ikan, bahkan tumbuhan laut pun nyaris tak tumbuh. Yang ada hanyalah pusaran arus raksasa yang berputar perlahan tanpa pernah berhenti.
Nerion menatap lurus jauh ke arah arus laut dalam. Tatapannya begitu tenang. Seolah keputusan itu telah selesai ia ambil jauh sebelum mengucapkannya."Aku… akan menyerahkan hidupku sepenuhnya kepada laut.""Mulai saat ini… aku akan kembali menjadi bagian dari laut yang selama ini gagal kujaga."Seluruh tubuh Seraphine membeku. Wajahnya perlahan memucat disertai derai air mata."Nerion...""Tidak..."Bisikan itu nyaris tak terdengar. Namun Nerion tidak lagi mengalihkan pandangannya.Tubuh Seraphine seketika terasa lemas.Seraphine hanya mampu menatapnya tanpa berkedip. Untuk sesaat, ia merasa dirinya salah mendengar. Selama ribuan tahun mengenal Nerion, tidak pernah sekali pun ia membayangkan duyung itu mengucapkan keputusan seperti itu dengan begitu tenang."Nerion..."Suaranya kembali bergetar, “kau... sedang bercanda, kan?"Tidak ada jawaban. Arus laut tetap mengalir perlahan di hadapan mereka. Sementara Nerion hanya memandang ke arah yang sama, seolah seluruh dunia di sekitarnya te
Nerion tetap terdiam.Tatapannya masih tertuju pada Seraphine yang berdiri di hadapannya. Namun sorot matanya seolah menembus jauh melewati duyung itu. Sejak tadi ia mendengar setiap pertanyaan yang diucapkan Seraphine, tetapi tak satu pun mampu ia jawab.Bukan karena ia membencinya. Melainkan karena ia baru menyadari satu kenyataan yang jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan itu sendiri.Anomali arus, arsip kuno dan semua petunjuk itu telah muncul satu demi satu di hadapannya. Lalu sebagai Penjaga Arus Laut Dalam... ia terlambat menyadarinya."Nerion..."Suara Seraphine kembali terdengar."Tolong katakan sesuatu."Nerion masih tidak menjawab. Ingatannya perlahan kembali pada hari ketika ia pertama kali menemukan arus yang bergerak tidak semestinya. Saat itu ia hanya menganggapnya sebagai penyimpangan kecil yang akan kembali normal dengan sendirinya.Namun penyimpangan itu tidak pernah berhenti. Sebaliknya, semuanya terus bertambah. Tetapi ia gagal untuk menyadarinya."Nerion..."S
Pemukiman duyung kembali dipenuhi aktivitas seperti biasanya. Kawanan ikan berenang di antara terumbu karang. Anak-anak duyung tertawa sambil saling mengejar. Tak ada satu pun yang menyadari bahwa di sudut lain, dua duyung tengah terdiam dalam percakapan yang tak menemukan ujungnya.Seraphine masih memandang Nerion dengan kebingungan. Pertanyaan yang sejak tadi ia lontarkan belum mendapatkan jawaban sedikit pun."Nerion… apa maksudmu?” ulangnya. "...apa sebenarnya yang terjadi?" lanjutnya. Nerion tetap diam. Tatapannya perlahan menyapu wajah Seraphine. Duyung yang berada di hadapannya itu tampak benar-benar tidak mengerti mengapa dirinya berubah begitu drastis."Aku tahu kau kecewa padaku," ucap Seraphine lirih."Aku tahu kau marah.""Tapi... setidaknya katakan apa kesalahanku."Nerion menutup matanya sejenak. Kalimat itu terdengar begitu aneh di telinganya.Seraphine masih mengingat bahwa dirinya merasa bersalah. Ia masih mengingat tatapan kecewa yang pernah Nerion berikan. Namun…
Beberapa waktu sebelumnya saat Maris mengucapkan salam perpisahan dengan Nerion. Nerion terus berenang menjauh dari pesisir tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Semakin jauh ia mengayunkan ekornya, semakin samar garis pantai yang tadi masih terlihat di permukaan laut.Namun ada sesuatu yang masih tertinggal di pikirannya. Suara Maris terus memenuhi benaknya."Terima kasih... sudah datang menemuiku."Kalimat sederhana itu terus terngiang di dalam kepalanya. Nerion memejamkan mata sejenak.Ia telah mengucapkan selamat tinggal. Bahkan ia telah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Tidak ada lagi alasan untuk kembali.Seharusnya begitu.Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin berat setiap kali ia mengingat wajah Maris yang tersenyum tenang setelah mengetahui dirinya telah kehilangan seluruh dunia yang pernah dimilikinya."..."Tidak ada kebencian dan kemarahan yang dilupakan oleh Maris. Bahkan tidak ada pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi padanya. Justru itulah yang pa
Pagi itu datang dengan tenang. Tidak ada perubahan besar yang terlihat di dalam rumah, tidak ada percakapan aneh, dan tidak ada tatapan yang terlalu mencurigakan. Namun sejak membuka mata, Maris sudah merasakan sesuatu yang berbeda—bukan pada sekitarnya, melainkan pada dirinya sendiri.
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara selain arus laut yang bergerak pelan di luar rumah dan detak jantung Maris sendiri yang terdengar terlalu jelas di telinganya.“…aku mulai membencinya,” gumamnya pelan.Beberapa hari terakhir terasa semakin berat untuk
Ada rasa sesak yang menghimpit dada Maris, saat ia mencoba menarik napas. Ada sensasi terbakar yang menusuk di paru-parunya. Ia terbatuk hebat, meludahkan butiran-butiran kasar yang terasa tajam di lidahnya—Pasir.Perlahan Ia membuka mata. Segalanya gelap, tapi telinganya masih menangkap suara yang
“Lihat, si rambut hitam lewat,” cibir salah satu duyung dalam gerombolan yang berpapasan dengan Maris.“Jangan dekat-dekat, nanti kita bisa sial,” timpal yang lain dengan nada jijik.Maris hanya diam, meski hatinya mencelos. Panggilan ‘si rambut hitam’ atau ‘pembawa sial’ sudah menjadi teman akrabn







