공유

63 Pilihan Sulit

작가: Penra
last update 게시일: 2026-06-05 21:25:30

Gelombang energi gelap dari "The Silver Tear" yang Caelan pegang membeku di udara, memancarkan ancaman dan harapan secara bersamaan. Kata-kata Caelan, 'Aku akan melakukannya untukmu, Aurelia. Aku akan membebaskan Elara. Dan dia akan membantumu,' menggema di reruntuhan kuil, mengiris hati Aurelia yang dipenuhi ketakutan. Di hadapannya, Alaric terkapar lemah, tubuhnya terkikis oleh energi korup Zayne. Situasi mereka sangat genting.

"Tidak, Caelan!" teriak Aurelia, melangkah maju, tangannya terulu
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   80 Rencana Gila

    "Lima kota terbakar," bisik Aurelia, matanya terpaku pada visi mengerikan di perangkat Editor—kota-kota Aethelgard yang runtuh, rakyatnya yang panik, dan di tengah semua itu, sosok Zayne yang kini mengerikan, dikelilingi oleh 'Super Soldier' manusia dengan mata ungu bersinar. Editor itu, dengan suaranya yang tanpa emosi, telah melemparkan pilihan yang mustahil: menyelamatkan satu kota, atau membiarkan empat lainnya binasa. "Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi."Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara menatap Aurelia dengan tatapan yang sama. Mereka telah bersumpah untuk melindunginya, untuk Aethelgard. Tetapi sekarang, mereka dihadapkan pada kenyataan yang brutal. Mereka tidak bisa berada di lima tempat sekaligus."Ada cara," kata Caelan, suaranya serak. Ia baru saja pulih dari luka parahnya, dan meskipun lebih kuat, ia masih terlihat pucat. Ia menatap Aurelia dengan tatapan penuh tekad. "Dulu, klan rubah kami memiliki legenda tentang tempat di mana semua cerita bertemu. Sebuah

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   79 Pembentukan The Primordial Guard

    Ruang putih bersih yang memancar dari portal di dinding koridor, dan janji untuk kembali ke dunia asalnya, terasa begitu menggoda bagi Aurelia. Di sampingnya, Cermin Jiwa menampilkan wajah Ayra yang tersenyum lembut—dirinya yang lain, dari dunia yang ia tinggalkan, seolah memanggilnya pulang. Namun, Aurelia melihat wajah-wajah pucat para sekutunya: Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara, yang kini terancam terhapus dari keberadaan. Ia melihat pengorbanan Caelan yang baru saja terjadi. Ia melihat Aethelgard yang telah ia perjuangkan dengan darah dan air mata."Tidak," kata Aurelia, suaranya tegas, menggetarkan setiap sudut reruntuhan istana. "Aku tidak akan kembali. Aethelgard adalah rumahku sekarang. Dan aku akan melindunginya."Pria bertopeng Editor itu tertawa, suara tawanya terdengar hampa dan dingin. "Pilihan yang bodoh, Pewaris. Kau menolak kebahagiaanmu demi sebuah 'cerita' yang cacat. Maka saksikan kehancuran yang akan menimpamu." Ia mengaktifkan perangkat tabletnya, dan po

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   78 Ordo Kemurnian (The Order of Purity)

    Transformasi Zayne yang mengerikan, tubuhnya melebur menjadi sosok hitam pekat yang mengerikan, melahap Pena Takdir dan Artefak Cahaya, meninggalkan Aurelia dan sekutunya dalam keadaan syok. Zayne bukan lagi sekadar pangeran ambisius; ia telah menjadi perwujudan dari keinginan tergelapnya, diciptakan oleh kekuatan kegelapan dan Pena Takdir itu sendiri. Ia adalah penulis baru Aethelgard, ancaman yang jauh lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan."Zayne... tidak!" Aurelia menjerit, mencoba melancarkan serangan, tetapi kekuatan kelima elemen dalam dirinya terasa goyah. Menghadapi entitas yang menggabungkan kekuatan Zayne, Pena Takdir, Artefak Cahaya, dan kegelapan Leluhur Raja Kegelapan sekaligus, adalah ujian terberatnya.Lucien, Alaric, Caspian, Jasper, dan Elara segera mengerumuni Aurelia, membentuk formasi pertahanan. Mereka merasakan ancaman yang sama, bahaya yang mengancam eksistensi mereka. Namun, mereka tidak akan menyerah."Kita harus menghancurkan Pena Takdir itu!" seru A

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   77 Pilihan Sang Pewaris

    Pria bertopeng zirah hitam, yang memegang artefak penetralisir sihir, berdiri di ambang pintu, tatapannya dingin dan mengancam. Kata-kata pria itu, 'Kau telah membuat banyak masalah, Pewaris Aethelgard. Dan sekarang, saatnya untuk mengembalikanmu ke tempatmu,' menggema di benak Aurelia. Ia merasakan energi primordial dalam dirinya berdenyut, mencoba melawan pengaruh artefak itu, tetapi kekuatannya terasa melemah, hampir hilang. Di belakangnya, ia merasakan kehadiran Lucien yang semakin mendekat, diikuti oleh Alaric yang kini telah pulih sepenuhnya, dan Caelan yang masih lemah namun penuh tekad."Siapa kau?" tanya Aurelia, suaranya bergetar, tetapi ia berusaha keras untuk tetap berdiri tegak. Ia memegang Pena Takdir yang diberikan 'penciptanya', merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya artefak di tangan pria bertopeng itu.Pria itu tertawa, suara tawanya terdengar teredam oleh helmnya. "Aku hanyalah alat. Alat untuk memastikan cerita berjalan sesuai rencana. Dan kau, Aurelia,

  • Kutukan Sang Putri Antagonis    76 Pertemuan Dua Jiwa: Ayra Bertemu Aurelia

    Tangannya mulai menghilang, menjadi transparan. Aurelia merasakan tubuhnya terhapus dari realitas, sebuah sensasi yang mengerikan dan tak terbayangkan. Zayne, dengan Pena Takdir di tangan dan seringai kemenangan di wajahnya, kini mengendalikan nasibnya. Ia telah menghapus sebagian besar kekuatannya, bahkan ingatan Lucien tentang teknik bertarungnya. Kekacauan di Dunia Iblis semakin parah."Kau tidak bisa melakukan ini!" seru Aurelia, suaranya melemah seiring menghilangnya tubuhnya. Ia merasakan energinya terkuras, ditarik oleh kekuatan Pena Takdir. Ini adalah akhir yang ditulis oleh Zayne, akhir yang berbeda dari yang ia bayangkan.Lucien, yang kini tampak kebingungan dan kehilangan sebagian besar ingatannya, mencoba mendekat, tetapi ia tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi. Kekuatan iblisnya terasa tumpul, tidak berdaya melawan Pena Takdir. Ia hanya bisa menatap Aurelia dengan tatapan putus asa."Aku hanya mengikuti 'naskah'," kata Zayne, suaranya dingin. "Kau keluar dari jalur

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   75 Pengkhianatan di Dalam Darah

    Dunia Iblis terasa seperti penjara yang memikat bagi Aurelia. Keindahan kastil obsidian yang gelap, kekuatan Lucien yang menggetarkan, dan cintanya yang posesif namun protektif—semua itu melingkupinya seperti kabut tebal. Namun, di balik kemegahan itu, Aurelia merasakan sisi gelap Lucien yang membuatnya merinding. Kekejamannya terhadap para pemberontak iblis, eksekusi tanpa ampun, meninggalkan rasa mual di perutnya. Apakah ini harga yang harus ia bayar untuk perlindungan? Apakah cinta sejati bisa lahir dari kegelapan seperti itu?"Mengapa kau melakukan ini, Lucien?" tanyanya lagi, suaranya bergetar. Ia menatap bekas luka di tangan Lucien, bekas kontrak darah yang mengikatnya. "Ada cara lain. Kita bisa mencari solusi yang tidak melibatkan kekerasan seperti ini."Lucien memalingkan wajahnya, menatap cakrawala merah darah yang tampak tak berujung. "Ini adalah dunia iblis, Aurelia. Di sini, keadilan diukur dengan kekuatan. Dan aku harus menunjukkan kekuatan itu agar kau aman. Agar tidak a

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   27. Warisan Aethelgard: Sebuah Kebenaran yang Terungkap

    Bayangan sosok pria bermahkota duri itu lenyap secepat ia muncul, meninggalkan Aurelia dengan napas yang memburu dan detak jantung yang masih bergejolak. Kamar itu terasa menyesakkan, seolah setiap jengkal udara membawa beban masa lalu yang berat. Aurelia mengusap wajahnya, berusaha menghapus sisa

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   6. Pangeran Serigala

    Caelan tidak membuang waktu. Ksatria itu segera menarik lengan Aurelia, membawanya menembus kerumunan bangsawan yang masih sibuk berbisik-bisik. Aurelia sendiri merasa kakinya seperti jeli. Tatapan Zayne yang seolah bisa menelanjangi jiwanya tadi benar-benar membuatnya mual. "Caelan, pelan-pelan,"

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   5. Pesona Pangeran Zayne

    Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tap

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

    Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan di

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status