Home / Zaman Kuno / Kutukan Sang Putri Antagonis / 1. Eksekusi Sang Pendosa

Share

Kutukan Sang Putri Antagonis
Kutukan Sang Putri Antagonis
Author: Penra

1. Eksekusi Sang Pendosa

Author: Penra
last update Last Updated: 2026-03-15 12:06:52

Dingin. Lantai batu ini terasa begitu menusuk kulitku, seolah ribuan jarum es sedang menembus pori-pori. Bau karat dan darah segar menguar di udara, menusuk hidung hingga membuatku mual. Di depanku, ribuan orang berteriak histeris, wajah mereka merah padam karena amarah yang meluap-luap.

"Mati kau, penyihir Veridian!"

"Pengkhianat! Kau pantas membusuk di neraka!"

Aku mencoba mendongak, namun leherku terhimpit oleh balok kayu yang kasar. Di sinilah aku, di panggung eksekusi yang megah namun mematikan. Mataku menyapu barisan depan penonton, tempat tiga pria berdiri dengan angkuh. Lucien, Raja Iblis dengan mata merahnya yang berkilat kejam. Alaric, sang Werewolf yang menatapku seolah aku hanyalah sekerat daging busuk. Dan Zayne... Pangeran Sempurna yang justru memberikan senyum paling dingin yang pernah kulihat seumur hidupku.

"Sudah waktunya," bisik Zayne, suaranya terdengar merdu namun mengandung racun.

Kilatan pedang algojo memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan. Detik berikutnya, aku hanya bisa mendengar suara tebasan yang membelah udara.

Srak!

"Hah!"

Aku tersentak bangun. Napasku memburu, paru-paruku terasa seperti terbakar karena tarikan udara yang terlalu mendadak. Keringat dingin mengucur deras di dahi. Aku segera meraba leherku dengan tangan gemetar. Masih ada. Kepalaku masih menempel di tubuhku.

"Apa... apa itu tadi?" bisikku lirih. Suaraku terdengar berbeda. Lebih lembut, lebih dalam, namun bergetar hebat.

Aku melihat ke sekeliling. Aku tidak lagi berada di panggung eksekusi yang kotor itu. Aku berada di sebuah kamar yang luar biasa mewah. Kelambu sutra berwarna ungu gelap menjuntai dari langit-langit, dan aroma mawar yang mahal memenuhi ruangan. Ini bukan kamarku. Kamarku di dunia nyata hanyalah apartemen sempit yang berantakan, bukan istana seperti ini.

"My Lady! Anda sudah sadar?"

Seorang gadis muda dengan seragam pelayan berlari mendekat. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab seperti habis menangis berjam-jam. Dia langsung berlutut di samping tempat tidurku.

"Kenapa kamu menangis?" tanyaku bingung. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.

"Anda... Anda mencoba meminum racun itu lagi, My Lady! Kami pikir kami sudah kehilangan Anda. Duke akan membunuh kami semua jika terjadi sesuatu pada Anda!" tangis gadis itu pecah.

Aku terdiam. Racun? Duke? Aku mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum aku 'tidur'. Ingatan terakhirku adalah aku sedang membaca bab terakhir novel favoritku, Aethelgard: Segel Sang Pewaris Primordial, sebelum akhirnya aku tertidur karena kelelahan bekerja lembur.

Tunggu sebentar, pikirku, jantungku berdegup kencang. Nama-nama tadi... Lucien, Zayne, Alaric... itu adalah tokoh utama dalam novel itu.

Aku segera bangkit dari tempat tidur, mengabaikan rasa pening yang menyerang kepalaku. Aku berlari menuju cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Begitu melihat pantulan di sana, aku hampir saja jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

Wanita di dalam cermin itu memiliki kecantikan yang mematikan. Rambutnya berwarna perak berkilau seperti rembulan, matanya ungu gelap sepekat warna anggur, dan kulitnya seputih porselen. Ini adalah wajah Aurelia Veridian. Sang antagonis utama yang tewas dipenggal di tangan tiga pangeran karena ambisinya yang gila.

"Ini tidak mungkin," aku menyentuh permukaan cermin dengan jari gemetar. "Aku masuk ke dalam tubuh Aurelia?"

"My Lady, ada apa? Anda terlihat ketakutan," pelayan itu mendekat, mencoba memegang pundakku.

"Siapa namamu?" tanyaku spontan.

"Ini saya, Lily. Anda tidak ingat saya?"

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan badai di kepalaku. Jadi, penglihatan mengerikan tadi adalah masa depanku? Leher yang ditebas, sorak-sorai rakyat yang membenciku, dan tatapan dingin ketiga pria itu... itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah akhir hidup Aurelia jika aku mengikuti alur novelnya.

"Aku harus pergi dari sini," gumamku tanpa sadar. "Aku tidak mau mati."

"Pergi ke mana, My Lady? Anda bahkan belum bisa berdiri tegak," Lily menatapku cemas.

"Lily, dengarkan aku," aku memegang tangannya dengan erat, membuat gadis itu terkejut. "Mulai hari ini, aku tidak mau ada lagi barang-barang mewah di kamar ini. Gaun-gaun yang mencolok, perhiasan yang berat, semuanya... singkirkan. Aku ingin menjadi orang yang tidak terlihat."

"Tapi, My Lady... Anda selalu bilang kalau kemewahan adalah identitas Anda. Anda sangat membenci kesederhanaan," Lily tampak kebingungan, seolah aku baru saja bicara dalam bahasa asing.

"Itu Aurelia yang dulu," kataku tegas, meskipun hatiku sebenarnya menjerit ketakutan. "Sekarang, aku hanya ingin hidup tenang. Aku ingin selamat."

Aku kembali duduk di pinggir ranjang, mencoba memilah ingatan Aurelia yang mulai menyatu dengan pikiranku. Wanita ini bukan hanya jahat, dia sombong dan haus kekuasaan. Dia mengejar-ngejar ketiga pangeran itu demi status, tanpa menyadari bahwa mereka bertiga adalah monster yang akan merobeknya menjadi berkeping-keping di masa depan.

Lucien, sang Raja Iblis yang terobsesi pada kekuatan. Zayne, si manipulator yang haus keabadian. Dan Alaric, sang Werewolf yang tidak bisa mengendalikan insting binatangnya.

Sial, pikirku merana. Kenapa aku harus masuk ke tubuh wanita yang paling dibenci di seluruh kekaisaran?

"My Lady, ada surat untuk Anda," Lily kembali setelah mengambil sesuatu dari meja di luar. "Ini dari istana. Undangan dari Pangeran Zayne."

Aku tersentak saat mendengar nama itu. Nama yang baru saja kulihat di penglihatanku sebagai orang yang tersenyum saat kepalaku jatuh ke tanah. Tanganku gemetar saat menerima amplop berwarna emas tersebut.

"Jangan bilang aku harus pergi," bisikku pada diri sendiri.

"Ini adalah undangan pesta teh pribadi di taman kerajaan, My Lady. Anda sudah menunggu ini selama berbulan-bulan. Anda bahkan mengancam akan menghancurkan toko penjahit jika gaun Anda tidak selesai tepat waktu untuk acara ini," jelas Lily.

Aku menatap surat itu seolah itu adalah bom yang siap meledak. Jika aku pergi, aku akan bertemu dengan mereka. Jika aku bertemu dengan mereka, alur cerita akan dimulai. Tapi jika aku tidak pergi, aku akan memicu kecurigaan. Aurelia yang asli tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk mendekati Zayne.

"Katakan pada pengirimnya, aku sakit," ucapku cepat.

"Tapi My Lady, Pangeran Zayne tidak suka ditolak. Anda tahu sendiri bagaimana sifatnya," Lily mengingatkan dengan suara pelan.

Aku meremas surat itu hingga kusut. Ingatan di novel kembali berputar. Zayne adalah pria yang paling berbahaya karena dia selalu menyembunyikan belatinya di balik kata-kata manis. Jika aku mulai bertingkah aneh, dia akan menjadi orang pertama yang menyadarinya.

Apa yang harus aku lakukan? pikirku panik. Aku hanya ingin hidup sebagai orang biasa dan menghindari eksekusi itu.

Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas di jendela kamarku. Sosok tinggi besar dengan aura yang sangat berat. Aku menoleh dengan cepat, namun sosok itu sudah hilang. Jantungku berdebar kencang. Apakah salah satu dari mereka sudah ada di sini? Apakah mereka sudah mulai mengawasiku?

"Lily, kunci semua pintu dan jendela," perintahku dengan nada mendesak.

"Ada apa, My Lady? Anda terlihat seperti melihat hantu."

"Bukan hantu, Lily. Sesuatu yang jauh lebih buruk," aku menelan ludah, mencoba menghilangkan rasa ngilu di leherku yang seolah masih terasa.

Aku menatap pantulan diriku sekali lagi di cermin. Wajah ini cantik, tapi ini adalah kutukan. Darah yang mengalir di tubuh ini bukan darah sembarangan. Aku adalah pewaris Aethelgard, pemilik kekuatan primordial yang diinginkan oleh ketiga pria berbahaya itu. Mereka tidak menginginkan cintaku, mereka menginginkan kekuatanku untuk menghancurkan dunia.

Aku harus mengubah nasibku. Aku tidak akan membiarkan leherku berakhir di bawah mata pedang itu. Jika aku harus menjadi pengecut yang bersembunyi di balik bayang-bayang, maka itulah yang akan kulakukan.

Namun, di sudut hatiku yang paling dalam, aku tahu. Pelarian ini tidak akan semudah yang kubayangkan. Bayangan ketiga pangeran itu seolah sudah mengunci langkahku, menunggu saat yang tepat untuk menarikku kembali ke dalam permainan maut mereka.

"Aku tidak akan mati," bisikku pada bayanganku sendiri, dengan tangan yang masih gemetar hebat. "Tidak untuk kedua kalinya."

Tok, tok, tok!

Suara ketukan di pintu kamar membuatku melonjak kaget.

"Siapa?" teriakku dengan suara yang hampir pecah.

"My Lady, ini Caelan. Saya diperintahkan Duke untuk memastikan Anda benar-benar masih bernapas."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   7. Bulan Darah

    "Aurelia, jawab aku! Kamu mau mati konyol atau ikut bersamaku?" Alaric menggeram, tangannya yang berotot masih mencengkeram bahuku dengan kuat.Aku menatap langit yang berwarna merah pekat itu dengan perasaan ngeri yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya seperti melihat tumpahan darah di atas kain hitam. "Alaric, lepaskan. Kamu membuatku takut!""Aku tidak bercanda, Aurelia! Zayne itu iblis berkedok malaikat. Dia butuh darahmu untuk membuka gerbang itu!" Alaric membentak, membuat anak-anak panti asuhan semakin meringkuk ketakutan.Tiba-tiba, sebuah tangan dingin namun kuat menarik bahuku dari belakang, memaksaku menjauh dari jangkauan Alaric. Caelan sudah berdiri di sana, matanya berkilat emas tanda kemarahannya sudah di ubung-ubun."Cukup, Pangeran Serigala. Anda sudah cukup menakut-nakuti Lady saya hari ini," ucap Caelan dengan suara yang rendah dan mengancam."Siluman rubah ini lagi," Alaric meludah ke samping, wajahnya penuh kebencian. "Kamu pikir kamu bisa melindunginya sendirian?""

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   6. Pangeran Serigala yang Tempramen

    Suasana di aula istana mendadak beku. Suara musik yang tadi mendayu-dayu kini terputus seperti senar kecapi yang dipetik paksa. Aku menahan napas saat Alaric melangkah maju, setiap pijakannya seolah meretakkan lantai marmer. Matanya yang kuning keemasan berkilat liar, menembus kerumunan hingga mengunci mataku dengan intensitas yang mengerikan."Berikan aku penjelasan, Aurelia!" raung Alaric. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram bahuku, membuatku meringis kesakitan. "Kenapa bau Lucien ada pada tubuhmu? Apa kamu sudah menjual jiwamu pada raja iblis itu?""Lepaskan tanganku, Alaric! Kamu menyakitiku!" teriakku sambil berusaha meronta.Caelan tidak tinggal diam. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata, dia sudah berdiri di antara kami, menepis tangan Alaric dengan kasar. "Jaga bicaramu, Pangeran Serigala. Lady Aurelia bukan tawananmu.""Dia berbau busuk, siluman!" balas Alaric dengan gigi yang menyeringai, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Bau cendana dan asap... itu tanda kep

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   5. Pesona Pangeran Zayne

    Lampu obor yang dibawa para pengawal Zayne berpijar terang, menyapu setiap sudut perpustakaan yang tadi begitu gelap dan tenang. Zayne berdiri di sana, tepat di depan pintu yang baru saja ia dobrak. Senyumnya terkembang sempurna, jenis senyum yang sering menghiasi sampul majalah di dunia asalku, tapi di sini, senyum itu terasa seperti sembilu yang siap mengiris kulit. "Apa yang kamu lakukan di sini sendirian, Aurelia?" tanya Zayne. Suaranya terdengar sangat lembut, seolah ia benar-benar peduli. "Seluruh aula gempar karena serangan tadi. Aku mencarimu ke mana-mana sampai rasanya paru-paruku mau copot." Aku mencoba menelan ludah, berusaha keras agar lututku tidak beradu karena gemetar. Aku harus memainkan peran ini. Jangan biarkan dia tahu kalau kau baru saja bicara dengan Raja Iblis. "Aku... aku hanya takut, Pangeran," jawabku sambil menundukkan kepala, pura-pura meremas ujung gaun biru tuaku yang sederhana. "Kekacauan di aula tadi membuatku pusing. Aku tidak sengaja berlari ke sini

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   4. Pertemuan yang Tak Terelakkan

    Cengkeraman tangan Lucien di leherku terasa sedingin es, namun anehnya, sentuhannya tidak mencekik. Itu adalah klaim kepemilikan yang sangat nyata. Di tengah kegelapan aula yang hanya diterangi cahaya ungu dari kuali darah, aku bisa merasakan napasnya yang berat di dekat telingaku. "Lepaskan dia, Lucien! Jangan paksa aku menggunakan cara kasar!" teriak Caelan. Suaranya sudah tidak terdengar seperti manusia lagi, ada geraman binatang yang sangat dalam di sana. "Siluman rubah yang sombong," gumam Lucien, suaranya terdengar seperti beludru yang tajam. "Kamu pikir sumpah darahmu bisa menandingi takdir yang sudah tertulis?" Tiba-tiba, ledakan energi dari kuali di tengah aula semakin menjadi-jadi. Cahaya menyilaukan meledak, membuat semua orang di aula berteriak dan menutupi mata mereka. Tekanan udara yang luar biasa membuat pegangan Lucien sedikit melonggar. Ini kesempatanku. "Caelan! Lari!" teriakku entah pada siapa. Aku menyentak tubuhku dengan sisa tenaga yang kupunya. Dalam

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   3. Kemunculan Sang Pelindung Setia

    Aku menatap Caelan dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Pria itu masih berdiri di ambang pintu perpustakaan, bayangannya memanjang di atas lantai kayu, menelan cahaya lampu minyak yang temaram. Seringai tipisnya benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Dia tidak terlihat seperti pengawal yang patuh, melainkan seperti pemangsa yang baru saja menemukan celah pada mangsanya. "Apa maksudmu dengan takdir, Caelan?" tanyaku, berusaha menutupi getaran di suaraku dengan nada ketus yang biasa digunakan Aurelia asli. Caelan melangkah masuk tanpa suara. Gerakannya begitu halus, hampir tidak manusiawi. "Takdir selalu punya cara untuk menyeret mereka yang mencoba lari, My Lady. Terutama seseorang dengan darah seperti Anda." Aku menelan ludah, tanganku meremas pinggiran meja kayu di belakangku. "Jangan bicara berputar-putar. Aku sedang tidak ingin teka-teki." "Saya hanya menjalankan tugas, My Lady. Kereta kuda sudah siap. Duke sudah menunggu di gerbang depan dengan sisa kesabaran yang

  • Kutukan Sang Putri Antagonis   2. Misi Tidak Terlihat

    "Masuklah," sahutku setelah berhasil mengatur napas yang sempat tersangkut di tenggorokan. Pintu terbuka dengan suara derit pelan. Sosok pria tinggi dengan bahu lebar melangkah masuk. Rambutnya hitam legam, kontras dengan kulitnya yang pucat. Caelan menatapku dengan mata tajam yang seolah bisa menguliti rahasia paling dalam di balik tempurung kepalaku. Aura di sekitarnya terasa berat, dingin, dan... berbahaya. "Anda terlihat pucat, My Lady. Apakah racun itu masih menyisakan sisa di tubuh Anda?" tanya Caelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi aku bisa merasakan kecurigaan yang memancar kuat. "Aku hanya lelah, Caelan. Aku ingin istirahat," jawabku sesingkat mungkin. Aku takut jika bicara terlalu banyak, dia akan menyadari bahwa aku bukan Aurelia yang dia kenal. Caelan menyipitkan mata, memperhatikan setiap gerak-gerikku. "Duke sangat khawatir. Beliau meminta saya untuk tetap berada di depan pintu kamar Anda sepanjang malam." "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lily akan m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status