LOGINAlan Sanders tidak percaya bahwa di dunia ini masih ada yang namanya pelelangan manusia. Itu merupakan tradisi paling primitif dan sangat mengerikan yang pernah ditemui Alan. Di sana ia bertemu dengan Meyra, seorang wanita cantik yang akan dilelang pada hari itu. Anehnya, Meyra yang menurut Alan memiliki banyak kelebihan dibandingkan gadis lainnya malah dihargai dengan harga paling murah dari semua peserta lelang. Alan ingin membuat Meyra terbebas dari situasi buruk itu. Hati nuraninya tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Sayangnya, untuk bisa membawa Meyra keluar dari sana, selain membayarnya dengan harga yang mahal, Alan juga harus menikahi wanita itu. Sebuah syarat gila! Pernikahan tidak ada dalam pikirannya saat ini. Lagi pula, siapa yang menikah dengan cara seperti itu? Ikuti kisah mereka di novel ini.
View MoreI burst into the wedding I’m not supposed to be at with my hands still cuffed tight. I sprint halfway up the aisle, look the groom dead in the eye, and blurt out the truth behind this entire nightmare: “I’m pregnant. And it’s yours.”
The groom doesn’t speak.
For one endless moment, no one does.
And, honestly, I can’t blame them. I can only imagine what this must look like. What I must look like. Between getting kidnapped, escaping by the skin of my teeth, hailing a cab in the thick of Manhattan traffic, and stalking the man in front of me on all social media platforms until I could figure out who and where the hell he was, I didn’t exactly get a chance to look in the mirror.
My hair must be a mess. Nothing like the braided work of art sitting on the bride’s tilted head.
The rest of me isn’t much better. Instead of a delicate gold ring around my finger, I’m sporting a gleaming pair of handcuffs. I’ve sweated through every piece of clothing currently touching my skin and then some. My voice is breathless and strained, though in my defense, it’s been a good few months since I last hit the gym.
Nine months, to be exact.
Which leads me to the most glaringly wrong aspect of my appearance: a humongous, pregnant belly, jutting under my ruined maternity dress like it’s trying to make contact with the man responsible for it.
The man who’s now staring at me like I just ruined the biggest day of his life.
Which, to be fair, I did.
The silence breaks. The guests start whispering to each other. The whispers quickly grow into a tidal wave of confused static, louder and louder, worse and worse.
I force myself not to glance around the room. Why bother? I saw enough the second I entered. Tall, broad men in black suits and mysterious, gun-shaped bulges under their jackets that tell me how unhappy they are to see me. Hostile-looking women in cocktail dresses that could easily hide a knife sheath.
I keep my eyes fixed on the groom. It’s my one lifeline, my one hope —getting this man to listen. This dark, dangerous man who’s looking like he wants nothing more than to summon lightning out of the sky and smite me into a plume of smoke.
But I don’t have a choice.
I’m aware I just pulled the trigger on a suicide mission. Something I can never come back from. But this desperate move, this Hail Mary of mine, is the last play I’ve got left.
If I’d known, all those months ago, that giving in to temptation with this man would paint a target on my back for the rest of my life, I’d have thought twice.
Maybe.
Or at least, I hope I would have. That those magnetic cerulean eyes wouldn’t have made me sign my own death warrant willingly.
I can’t know that now, but I know one thing: I never intended for him to find out about this baby.
For nine months, I kept it a secret. Hid it from everyone but my closest friends. Because a part of me knew, must have known, that Matvey Groza was not a good man. Not the kind of man you’d tie yourself to for the rest of your life. Certainly not the kind that you’d tie your child’s life to.
But now, with this man’s enemies after me and the precious cargo I’m carrying, my hands are tied.
Literally.
“I’m pregnant,” I repeat, “and it’s yours.”
As I speak, only that one thought presses against the walls of my skull, begging to be let out like a scream. As chaos begins to erupt around me, the crowd’s whispers rising to shouts, only one thought crosses my mind.
How the hell did I let this happen?
"Apa salahnya melewatkan malam selayaknya orang dewasa? Bukankah kita sama-sama sudah dewasa? Dan kita juga sudah menjadi suami istri secara sah," tegas Meyra seakan apa yang diucapkannya itu bukanlah hal yang besar. Setidaknya begitulah yang ia tunjukkan secara mati-matian di hadapan Allan. Berusaha agar terlihat santai, walau sebenarnya jantungnya seakan berlari kencang.Jika saja Allan tidak terlalu terkejut dengan kalimat gadis itu, mungkin ia juga dapat melihat semberaut warna merah muda di pipi Meyra yang kini muncul secara samar."Kau sepertinya sedang mabuk, Nona," geram Allan yang saat ini malah merasa bodoh. 'Ayolah Allan, kenapa kau harus bertingkah seperti remaja yang berciuman dengan wanita incaran untuk pertama sekalinya? Ini konyol!' Allan menggerutu di dalam hati. Ia telah mencium banyak wanita, bahkan lebih dari itu."Aku tidak mabuk," Meyra merasa semakin percaya diri. Ayolah, bukankah itu hal yang wajar? Lagi pula dirinya tidak ingin dianggap kolot oleh Allan. Untu
"Ingat, aku ingin kau berhati-hati berbicara dengan nenekku." Tiba di dalam kamar, Alan langsung memberi ultimatum. Meyra yang sedang mengagumi kamar luas dan nyaman tersebut seketika menoleh pada sang suami dengan terkejut."Maksudmu?" Dahi Meyra mengernyit saat bertanya."Aku tidak mau nenekku mengetahui proses pernikahan kita yang di luar nalar ini."Meyra merasa tersinggung saat mendengar ucapan suaminya itu, namun ditahan emosinya sebaik mungkin. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.Tenang Meyra, dia adalah suamimu. Ingat kata Nenek, patuhi suamimu, tenangkan kesalnya, lalu taklukkan jiwa dan raganya. Sabar adalah kunci! Meyra membatin sambil mengatur emosinya yang mulai panas."Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita, Sayang.” Gadis itu sengaja menggunakan istilah sayang dan menekankan nadanya pada kata tersebut. Benar saja, alis Alan langsung terangkat, namun dia tidak memberikan komentar apa-apa, selain kedua bola matanya yang kemudian berputar 180 dera
Alan dan Meyra duduk di hadapan Nyonya Helena Sanders, neneknya Alan.Jantung Meyra merasa berdebar di bawah tatapan tajam wanita sepuh yang masih terlihat bugar itu. Ia merasa seperti sedang dihakimi neneknya sendiri, persis seperti saat neneknya hidup. Sorot mata bijak itu sedang menatapnya dengan pandangan penuh selidik.Di belakang Nyonya Helena, Leo dan seorang wanita lainnya juga ikut menonton. Menunggu klarifikasi dari mereka."Jadi sekarang jelaskan padaku, apa benar kalian sudah menikah?" tanya Nyonya Helena.Meyra melirik ke arah Alan dengan ujung matanya, lalu menemukan lelaki itu menarik napas dalam."Benar," jawab Alan singkat. Meyra kembali melirik tiga pasang mata di hadapannya untuk melihat reaksi yang mereka berikan.Semuanya tampak terkejut. Sesaat kemudian ..."How dare you!" pekik Nyonya Helena sambil bangkit dari duduknya dan mendekati Alan. Kepalan tangannya yang keriput memukuli tubuh sang cucu dengan membabi buta. "Berani-beraninya kau menikah tanpa memberita
Butuh satu jam lebih beberapa menit hingga mereka tiba di mension rumah milik Alan. Rumah suaminya itu terletak di salah satu perumahan di New jersey. Hal yang tidak terduga bagi Meyra, ternyata kota New jersey itu cukup asri dengan banyak pepohonan yang masih terlihat tumbuh di sana. Well, tentu saja tidak sebanyak pepohonan di pulai Lemuri tempat Meyra berasal.Perjalanan satu jam itu terasa singkat bagi Meyra karena gadis itu sibuk memperhatikan ke luar jendela mobil dengan pandangan takjum. Alan yang beberapa kali melirik sang istri dari samping itu tidak berkomentar banyak, ia maklum dan membiarkan saja kelakukan wanita yang dinikahinya sekitar 30an jam yang lalu itu. Ia akan memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Meyra nanti. Saat ini banyak hal yang harus mendapatkan perhatiannya terkait bisnis mereka di New York. Alan kembali focus pada apa yang disampaikan Leo padanya selama sisa perjalanan itu.Saat tiba di rumah Alan, Meyra turun dari mobil saat Leo membukakannya pintu.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews