ANMELDENIcha berdiri mematung di bawah siraman lampu temaram kamar, mendengarkan setiap bait pengakuan yang teramat jujur dan penuh keputusasaan dari mulut Noah. Untuk pertama kalinya sejak malam pernikahan paksa mereka, Icha melihat seorang Noah menangis hebat. Pria yang biasanya menggunakan kekuatan fisik dan uangnya untuk menginjak-injak harga diri orang lain, kini justru menyerahkan seluruh sisa harga diri prianya seutuhnya di bawah jemari kaki Icha.Dada Icha terasa bagai dihantam batu besar yang luar biasa dahsyat. Pertahanan hatinya yang selama berhari-hari ini ia bangun dengan semen benci dan dinginnya kata ketus, mendadak retak besar. Trauma masa lalu yang menganga, ingatan tentang bagaimana ia disiksa secara mental di mansion, beradu hebat dengan jiwa kemanusiaannya yang suci dan kenyataan bahwa pria ini baru saja mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menjadi tameng jatuh bebas di atas lantai kayu tadi pagi demi melindunginya.Isak tangis yang sejak subuh tadi Icha tahan di tenggoro
Sore itu, perjalanan kembali dari Kota Male menuju kompleks water villa privat terasa jauh lebih mencekam daripada keberangkatan mereka. Di dalam kabin kapal cepat yang membelah ombak Samudra Hindia, keheningan yang tercipta bukan lagi sekadar kecanggungan biasa, melainkan hawa dingin permusuhan yang begitu pekat. Icha duduk di kursi paling pojok dekat jendela kabin, memeluk kantong belanjaan berisi oleh-oleh untuk Bik Ira dan Jihan erat-erat, sementara pandangan matanya dibuang habis ke luar menatap buih air laut yang tergulung pasrah.Di seberangnya, Noah duduk bersandar dengan rahang yang mengeras sempurna. Sisa-sisa amarah akibat ledakan cemburu di restoran tebing tadi siang masih membakar rongga dadanya, berbaur dengan rasa perih yang teramat dalam setiap kali kalimat tajam Icha kembali terngiang di kepalanya. “Saya bukan milik Anda, Noah! Tubuh saya, jiwa saya, dan hidup saya adalah milik saya sendiri!” Kalimat itu seolah menjadi palu hakim yang memvonis mati seluruh harapan yan
Jujur saja, dari lubuk hati Icha yang paling dalam, Icha sangat menyukai tempat ini. Keindahan alam Maldives yang begitu magis di bawah siraman matahari siang seolah mampu meredakan sedikit sumbatan di dadanya. Namun, lagi-lagi rasa gengsi yang teramat besar menolak keras untuk mengakuinya. Di hadapan Noah, wajah Icha tetap mengeras sedingin es.Noah menarik salah satu kursi kayu di sudut balkon luar yang paling privat, lalu memberi isyarat agar Icha duduk. Icha menghempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan sentakan kaku, langsung memalingkan wajahnya seratus delapan puluh derajat ke arah laut, menolak untuk menatap wajah suaminya bahkan untuk satu kedipan pun.Seorang pelayan pria paruh baya dengan pakaian khas Maladewa segera datang menyodorkan buku menu dengan senyuman ramah. Noah mengambilnya, namun ia sama sekali tidak membukanya untuk ditunjukkan pada Icha. Kali ini Noah sengaja tidak bertanya Icha mau makan apa. Dari pengalaman beberapa hari ini di vila, ia tahu betul kalau ia be
Mau tidak mau, karena enggan menjadi tontonan turis asing di tengah trotoar pasar yang padat, Icha terpaksa melangkah mengekor di belakang punggung tegap Noah masuk ke dalam butik perhiasan yang sejuk dan mewah tersebut. Pintu kaca butik tertutup, seketika membungkam riuh rendah suara Majeedhee Magu di luar.Di dalam butik, sorot lampu halogen memantulkan kilau yang luar biasa indah dari deretan kalung, gelang, dan cincin yang terbuat dari perak murni dan mutiara laut dalam khas Maladewa. Seorang pelayan butik wanita dengan pakaian anggun langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah yang lebar.Noah tidak membuang waktu. Ia melangkah menuju etalase kaca paling tengah, tempat di mana sebuah gelang perak eksklusif dipajang. Gelang itu memiliki desain rantai yang sangat halus, dihiasi oleh sebutir mutiara hitam alami yang sangat langka di bagian tengahnya—memancarkan kesan anggun, tegas, namun tetap bersahaja. Persis seperti karakter Icha yang belakangan ini terus merajai i
Sepuluh menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di dalam kabin penumpang sebuah kapal cepat mewah yang membelah ombak biru Samudra Hindia menuju pulau utama, Kota Male. Jarak di antara tempat duduk mereka sengaja disisakan renggang oleh Icha, seolah ada garis batas kasat mata yang tidak boleh dilanggar oleh hukum apa pun. Noah beberapa kali mencoba membuka obrolan ringan mengenai kondisi cuaca atau daftar tempat kerajinan tangan terbaik yang sempat direkomendasikan oleh Tuan Christopher tadi pagi. "Nanti di Male, ada pasar lokal bernama Majeedhee Magu. Di sana banyak pengrajin kayu tradisional dan miniatur perahu Dhoni. Kurasa Bik Ira akan suka hiasan dinding khas sana," ujar Noah mencoba mencairkan suasana di dalam kabin yang kaku. Icha hanya meliriknya dengan tatapan meremehkan dari balik kacamata hitamnya. "Saya bisa memilih sendiri apa yang cocok buat Bik Ira tanpa perlu saran dari Anda, Tuan Noah. Lebih baik Anda diam saja dan tidak usah sok tahu tentang selera orang-orang
Hari-hari berikutnya di water villa privat itu berjalan lambat, berat, dan terasa bagai siksaan batin yang nyata bagi Icha. Menghabiskan waktu terisolasi di atas lautan luas bersama pria yang paling ia benci di dunia ini sudah cukup melelahkan, namun ada satu hal lain yang jauh lebih meneror ketenangan mentalnya: perubahan drastis pada sikap Noah. Noah, pria angkuh yang sejak awal pernikahan telah ia beri label sebagai iblis berwajah tampan, kini perlahan-lahan mulai bergeser tabiat. Tidak ada lagi bentakan kasar, tidak ada lagi tatapan merendahkan yang biasa memandangnya bagai parasit paviliun. Perubahan sikapnya yang begitu mencolok ini membuat Icha semakin waspada. Setiap pagi, pria itu menjelma menjadi sosok yang luar biasa tenang namun gigih mengusik ruang sendirinya. "Cha, sarapanmu sudah di meja. Jangan sampai telat makan, lambungmu bisa kambuh," ucap Noah dengan nada bariton yang sengaja diredam, berdiri tiga meter dari kursi jemuran Icha. Icha tidak bergeming, matanya te
Suasana di ruang tengah Mansion Wibisono mendadak mencekam, seolah oksigen di ruangan luas itu habis tersedot oleh ketegangan yang memuncak. Icha berdiri tegak di tengah ruangan, masih dengan tas ransel yang menggantung di bahunya. Napasnya memburu, namun bukan karena lelah, melainkan karena amarah
Malam harinya, Icha duduk di balkon kamarnya yang baru. Angin malam bertiup cukup kencang, menerbangkan beberapa helai rambutnya. Ia menatap gerbang utama mansion yang dijaga ketat. Ketenangan dua hari ini hanyalah ilusi, ia tahu itu. Noah akan segera pulang, membawa serta seluruh amarah, racun, da
Dua hari telah berlalu sejak insiden api di paviliun, dan untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Mansion Wibisono, Icha merasakan apa itu oksigen yang tidak tercemar oleh aroma intimidasi. Noah tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Pria itu tertahan di rumah sakit, terjebak dala
Sore yang membara di paviliun memang telah mereda seiring dengan padamnya jilatan api oleh alat pemadam, namun asap kecemburuan justru mulai membumbung tinggi di sudut lain mansion yang megah itu. Di balik pilar marmer besar yang memisahkan area belakang dengan koridor utama, seorang wanita bersera







