LOGINMatahari sore meredup di balik gumpalan awan hitam yang menggantung rendah di atas perbukitan Puncak, Bogor. Hujan yang mengguyur sejak siang mulai menyisakan gerimis tipis, meninggalkan kabut pekat yang merayap di antara batang-batang pohon pinus yang menjulang tinggi. Di sebuah jalur tanah yang terisolasi dan dipenuhi semak belukar, tiga mobil van operasional berwarna hitam milik Wibisono Group bergerak tanpa lampu utama. Roda-roda besarnya mencengkeram aspal basah dan kerikil dengan senyap, seolah-olah menjadi sekumpulan predator yang sedang mengepung mangsanya.Di dalam van terdepan, Noah Wibisono duduk di kursi kemudi dengan rahang yang mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya yang memerah karena tidak tidur semalaman menatap lurus menembus kabut, terpaku pada sebuah bangunan kolonial tua berarsitektur Eropa yang berdiri kokoh di ujung jalan setapak. Rumah tua itu nampak angker, dikelilingi pagar besi berkarat dan halaman luas yang terbengkalai.Namun, bukan arsitektur bangunan
Gerimis tipis di luar sana telah menjelma menjadi hujan yang menderu, menghantam atap seng dan jendela kayu tua bangunan kolonial di pedalaman Bogor tersebut. Di dalam kamar lantai dua, atmosfer terasa begitu pengap, dingin, namun sarat akan marabahaya yang kian mendekati titik kritis.Icha masih meringkuk di sudut kasur tua, memeluk kedua lututnya erat-rabat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena hawa dingin pegunungan yang menusuk dari sela-sela ventilasi, melainkan karena sepasang mata lapar milik Robby yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya dari ambang pintu.Cklek.Pintu kamar mendadak dibuka lebih lebar. Dua anak buah Robby yang bertubuh kekar dan bertato melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat, mengunci pergerakan Icha dari sisi kanan dan kiri ranjang. Di tangan salah satu anak buahnya, terdapat sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening yang baru saja dicampurkan ke dalam segelas air manis."Gimana, Bos? Nyonya Vivian belum ada kabar lagi soal transfer
Jarum jam di dasbor mobil van operasional Wibisono Group sudah menunjuk ke angka satu siang. Suasana di dalam kabin mobil benar-benar mencekam. Hanya ada suara deru mesin yang dipaksa bekerja keras dan detak jemari Endra yang mengetik di atas layar tablet. Noah duduk di kursi tengah dengan mata merah yang melotot tajam menatap kosong ke lantai mobil. Rambutnya berantakan, dan aura di sekelilingnya begitu pekat oleh kemarahan bercampur ketakutan yang luar biasa.BrakNoah tiba-tiba menghantam dinding interior van dengan kepalan tangannya hingga panel plastik di sana retak. "Sialan! Berjam-jam kita berputar-putar seperti orang bodoh di Jakarta, dan tidak ada satu pun informan kamu yang becus, Endra! Istri aku di mana?!""Tuan Noah, tolong tahan diri Anda!" Endra menoleh dengan wajah yang sama pucatnya. Keringat dingin membasahi kerah kemejanya. "Semua jaringan kita di dunia bawah sudah bergerak. Masalahnya, gerombolan yang dibawa Robby ini tipikal pembunuh bayaran yang tidak menggunaka
Ciiit!Ban minibus hitam itu berdecak kasar saat melewati jalanan tanah berbatu yang becek di pedalaman lereng Puncak, Bogor. Kabut tipis khas pegunungan mulai turun, menyelimuti sebuah rumah tua berarsitektur kolonial yang nampak terbengkalai di balik rimbunnya pohon pinus dan semak belukar yang menjulang tinggi. Rumah itu adalah salah satu aset kuno milik keluarga besar Vivian yang sudah puluhan tahun tidak ditinggali, terasing jauh dari jalur utama wisata, menjadikannya tempat persembunyian yang sangat sempurna.Robby mematikan mesin mobil, lalu meregangkan otot-otot lengannya yang kaku setelah menyetir semalaman suntuk menembus jalur tikus pinggiran kota. Ia menoleh ke belakang, menatap sosok Icha yang masih terkulai lemas di atas jok dengan kedua tangan yang terikat rantai tali nilon."Gimana, Bos? Langsung diturunin sekarang?" tanya salah satu anak buahnya yang bertato sembari membuka pintu geser mobil. Udara dingin Bogor langsung menerobos masuk, menusuk tulang.Robby tersenyum
Brak!Noah menendang kursi kerjanya hingga kursi kulit mewah itu terlempar ke belakang menghantam dinding kaca. Napasnya memburu kencang, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak teratur karena emosi yang kian membakar rongga dadanya seutuhnya."Menghilang?! Bagai asap yang menguap begitu saja?!" seru Noah histeris, sepasang mata elangnya berkilat penuh dendam yang berkobar. "Sudah aku duga! Penghilangan dirinya ini adalah bukti paling mutlak kalau dialah otak di balik penculikan Icha sore kemarin! Wanita iblis itu tahu aku menjatuhkan talak semalam, dan dia langsung menggunakan seluruh kaki tangannya untuk menyerang titik terlemahku!"Endra segera menyodorkan tablet digitalnya ke hadapan Noah. "Saya juga sudah berkoordinasi dengan pihak imigrasi bandara internasional dan pelabuhan, Tuan. Data paspor atas nama Vivian Wibisono ataupun nama gadisnya sama sekali tidak mendeteksi adanya pergerakan keluar dari wilayah republik Indonesia sampai jam tujuh pagi ini. Rekening bank utamanya j
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam ketika Noah melangkah lebar memasuki lobi Polres Jakarta Selatan, disusul oleh Endra dan tiga pengacara seniornya. Wajah tampan Noah nampak teramat kuyu dan dingin, menyebarkan aura intimidasi yang membuat beberapa petugas jaga langsung menegakkan posisi duduk mereka. "Di mana Kepala Satuan Reserse?!" bentak Noah tanpa basa-basi begitu tiba di depan meja piket. "Tuan Noah, tolong tenang. Beliau sedang berada di ruang rapat koordinasi," ucap salah satu perwira jaga mencoba menenangkan. Sesaat kemudian, Kasat Reskrim keluar dengan wajah serius setelah mendapat laporan dari anggotanya. "Tuan Wibisono, kami sudah mengerahkan tiga unit tim buru sergap (buser) untuk melacak keberadaan minibus hitam berdasarkan ciri-ciri dari CCTV kampus fakultas hukum. Namun, Anda harus paham bahwa bukti permulaan yang mengarah kepada keterlibatan langsung Nyonya Vivian saat ini masih sangat lemah secara hukum." "Lemah Anda bilang?!" Noah maju satu langkah,
Gundukan tanah itu masih basah, menyebarkan aroma tanah merah yang pekat dan menusuk indra penciuman. Di atasnya, taburan bunga mawar dan melati mulai layu, seolah ikut kehilangan nyawa bersama raga yang kini terbaring dua meter di bawah sana.Icha masih bersimpuh. Gadis berusia sembilan belas tahu
Waktu seolah merangkak lambat di lorong-lorong rumah sakit yang dingin. Bagi Icha, setiap detak jantung yang masih ia rasakan adalah sebuah keajaiban sekaligus kutukan. Setelah melewati operasi darurat dan pengurasan darah paksa yang dilakukan Noah, tubuhnya kini kurus dan pucat, kontras dengan sep
Suasana di dalam ruang UGD berubah menjadi medan tempur antara hidup dan mati. Bunyi flatline dari monitor jantung yang melengking panjang seolah menjadi melodi pencabut nyawa yang menggetarkan dinding ruangan. Para perawat berlarian, sementara seorang dokter senior naik ke atas brankar, memberikan
Malam yang semula hanya berisi kebencian, kini berubah menjadi mencekam. Bau karat di gudang tua itu seketika tertutup oleh aroma anyir darah yang semakin menyeruak. Noah terpaku, menatap noda merah yang merembes di kemeja mahalnya, lalu beralih pada wajah Icha yang pucat pasi. Gadis itu tampak sep







