로그인Rosemary langsung menegang. Viscount Sterling. Edmund.
“Apa isinya?” tanya Vane.Benedict tidak menjawab langsung. Ada suara kertas dilipat kembali. “Ayahku mencurigai ada yang tidak beres dengan keluarga itu.”“Tidak beres bagaimana?”“Entahlah.” Suara Benedict terdengar seperti seseorang yang sedang berpikir keras. “Tapi dia memintaku untuk mengawasi 'Edmund Sterling' lebih dekat.”Tidak. Tidak. Tidak.Rosemary merasakan hawa dingin menOliver menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan ke kursi dan duduk.Henry menatapnya. “Cedric Ashworth?”“Ya.”“Apa yang kalian diskusikan?”“Tugas Langston.” Oliver mendorong kacamatanya. “Tapi bukan itu yang penting.”Rosemary menunggu. Arsip masih terbuka di depannya. Surat ayahnya masih terlipat di sampingnya.Oliver menarik napas. “Dia penasaran dengan kasus ayahmu. Bukan karena tugas. Bukan karena Langston. Dia penasaran karena dia sendiri yang mulai mencari tahu. Awalnya dia cuma ingin tahu kenapa Edmund Sterling yang aneh tiba-tiba muncul dan bisa begitu dekat dengan Harrington. Tapi semakin dalam dia men
Hari sudah gelap. Udara malam menusuk kulit tapi mereka terus berlari.Vane berlari di depan lalu belok kiri, belok kanan. Satu gang terlalu sempit, bahunya bergesekan dengan dinding. Satu gang lain buntu, mereka harus berbalik dan kembali ke persimpangan. Tidak ada rencana. Hanya kaki yang terus bergerak dan insting untuk menjauh secepat mungkin. Suara langkah pengejar di belakang mereka semakin samar, lalu hilang.Mereka berhenti di depan sebuah gudang tua. Bangunannya miring sedikit ke kiri, jendelanya pecah, pintunya setengah terbuka dengan engsel yang sudah lama berkarat. Vane masuk duluan, melangkahi papan kayu yang lapuk. Benedict mengikuti. Di dalam, bau debu dan kayu lapuk bercampur menjadi satu. Satu-satunya cahaya berasal dari celah-celah dinding, memperlihatkan tumpukan peti kosong dan sarang laba-laba di sudut-sudut ruangan.
Pintu itu tidak langsung didobrak.Hanya ada ketukan. Dua kali. Pelan. Dengan cara yang tidak terlihat seperti ancaman.Vane menatap Benedict. Seringainya sudah hilang. Ia menggerakkan tangannya, isyarat cepat ke arah jendela. Tapi sebelum mereka bisa bergerak, pintu sudah didobrak.Orang yang pertama masuk bertubuh besar, gerakannya kasar, tangannya sudah terkepal. Orang kedua mengikuti di belakangnya, membawa sebatang tongkat. Orang ketiga menunggu di ambang pintu, menghalangi jalan keluar.Vane melempar kursi itu ke orang pertama. Pria itu menangkis dengan lengannya, tapi kursi itu cukup berat untuk membuatnya mundur selangkah.Benedict sudah bergerak ke samping. Ia meraih lilin dari meja dan melemparkannya. Lilin itu meng
Ruangan itu tidak berubah sejak kunjungan terakhir Rosemary.Langston duduk di balik mejanya yang penuh tumpukan kertas, buku-buku tua berjejer di rak di belakangnya, dan cahaya matahari masuk melalui jendela yang setengah tertutup tirai. Debu menari-nari di udara.Profesor Langston mendongak dari kertas yang sedang dibacanya. Kacamatanya bertengger di ujung hidung. Ia menatap Rosemary, lalu menatap Henry yang berdiri di sampingnya.“Ah. Nona Sterling.” Ia melepas kacamatanya. “Kau datang lagi. Biasanya dengan Harrington.”“Lord Harrington ada urusan lain hari ini.”“Dan sebagai gantinya kau membawa Yang Mulia Pangeran Henry.” Langston menatap Henry dengan ekspresi yang sulit di
Oliver mengikuti Rosemary sampai ke pintu kamar. Ia masih bicara tentang Vane—tentang pelayan yang kebingungan, tentang tidak ada yang melihat Vane sejak malam pesta, tentang betapa anehnya seseorang bisa menghilang begitu saja dari Kingsley tanpa meninggalkan jejak yang bisa ditemukan dalam sehari penuh.Rosemary mendengarkan sambil membuka pintu.Begitu pintu terbuka, mereka mendapati Benedict sudah berdiri di dekat jendela. Bukan bersantai. Bukan menunggu. Tangannya memegang selembar kertas. Posturnya tegang dengan cara yang berbeda dari biasanya.“Aku harus pergi,” katanya, sebelum siapa pun sempat bertanya.Oliver menatap kertas itu. “Pergi ke mana?”Benedict menyerahkan surat itu pada
Malam kembali ke Kingsley. Koridor-koridor yang paginya dipenuhi bisik-bisik tentang pengumuman kini perlahan sepi. Para mahasiswa kembali ke kamar masing-masing. Di kejauhan, lonceng jam berbunyi sebelas kali.Di kamar Benedict, api di perapian sudah dinyalakan. Rosemary duduk di kursi dekat jendela. Amplop itu masih di tangannya. Sudah berjam-jam ia membawanya, dari koridor, ke ruang makan, kembali ke kamar, dan baru sekarang ia benar-benar duduk dan menatapnya.Benedict berada di kursi sebelahnya. Tidak bicara. Hanya menunggu dengan cara yang sudah sangat Rosemary kenali sebagai cara seseorang yang tidak akan pergi ke mana pun.Rosemary membuka amplop itu.Kertas di dalamnya sudah menguning. Lipatannya rapi, tapi kertasnya lecek di bagian tepi—lima tahun t
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t







