تسجيل الدخولRosemary langsung menegang. Viscount Sterling. Edmund.
“Apa isinya?” tanya Vane.Benedict tidak menjawab langsung. Ada suara kertas dilipat kembali. “Ayahku mencurigai ada yang tidak beres dengan keluarga itu.”“Tidak beres bagaimana?”“Entahlah.” Suara Benedict terdengar seperti seseorang yang sedang berpikir keras. “Tapi dia memintaku untuk mengawasi 'Edmund Sterling' lebih dekat.”Tidak. Tidak. Tidak.Rosemary merasakan hawa dingin men“Apa yang kau lakukan?”Suara itu bukan suara yang Rosemary kenal. Bukan suara datar yang biasa ia dengar di arena. Juga bukan suara dingin yang memotong percakapan di Ruang Santai. Ini lebih pelan, lebih rendah. Dan justru karena itu, ini terdengar jauh lebih berbahaya. Suara seseorang yang belum memutuskan apa yang akan dilakukannya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Benedict melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan, tapi bagi Rosemary, bunyi itu seperti palang penjara yang dikunci.“Aku …” Suara Rosemary tercekat. Tenggorokannya kering. “Aku hanya—aku tidak bermaksud—”Benedict berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat. Rosemary harus mendongak—lehernya terekspos, jakunn
Perjalanan kembali ke asrama terasa sangat panjang.Oliver mengoceh di samping Rosemary—tentang permen apel, tentang teh jahe, tentang betapa mengejutkannya fakta bahwa Pangeran Henry bisa tertawa seperti orang normal.Rosemary hanya menanggapi dengan anggukan kecil dan gumaman pendek. Pikirannya tidak di sana. Pikirannya masih tertinggal di ujung alun-alun, di depan toko perhiasan yang cahayanya lebih redup dari kios-kios di sekitarnya. Di sepasang mata abu-abu yang menatapnya sebelum berbalik dan menghilang.Apa yang dia lakukan di sana? Siapa pria berjubah itu?Dan di balik semua pertanyaan itu, satu pertanyaan yang lebih mengganggunya. Kenapa aku harus peduli?Angin malam menerbangkan daun kering dari pohon-po
Hening. Tidak ada yang menjawab untuk beberapa saat. Oliver di belakang Rosemary, mulai mempertimbangkan untuk pingsan. Mungkin kalau ia jatuh sekarang, seseorang akan mengalihkan perhatian, dan ia tidak perlu menyaksikan dua orang paling berbahaya di akademi ini menatap temannya seperti ia baru saja menantang mereka berduel. Henry yang pertama kali bereaksi. Sudut bibirnya terangkat. “Menarik,” katanya pelan. Benedict tidak tersenyum, alisnya turun, dan untuk pertama kalinya sejak Rosemary mengenalnya, sesuatu yang nyata tertangkap di wajahnya—tersinggung, atau tidak percaya, mungkin dua-duanya sekaligus. “Itu bukan cara kerja latihan.” Suaranya tidak keras, tapi nadanya adalah nada seorang pria yang tidak terbiasa ditantang. Terutama oleh seseorang yang bahkan belum bisa menangkis. Rosemary tidak mundur. “Kalau begitu, lupakan saja.” Oliver ingin bertepuk tangan, lalu langsung menyadari itu ide yang buruk. “Aku bisa kembali ke penggaris dan buku-buku tebal.” Rosemary mengan
Arena anggar Akademi Kingsley tidak pernah sepi di sore hari. Bunyi pedang beradu, langkah kaki yang menari di lantai kayu, teriakan pemain yang frustrasi atau menang—semuanya bercampur menjadi satu kebisingan. Rosemary berdiri di sudut paling jauh dari kerumunan, dalam posisi kuda-kuda yang masih terlalu kaku, dan tidak ada satu pun pikirannya yang benar-benar ada di sini. Matanya bergerak. Dari satu wajah ke wajah berikutnya, dengan cara yang ia harap terlihat seperti kewaspadaan biasa dan bukan ketakutan yang sudah menemaninya sejak semalam. Lord Hasting di barisan tengah, sedang berlatih dengan mahasiswa yang tidak ia kenal namanya. Tuan Sommerset di dekat pintu, mengobrol dengan dua orang sambil sesekali menoleh ke arena. Sekelompok mahasiswa tahun kedua yang tertawa di dekat rak senjata. Siapa yang tahu? Amplop itu masih ada di dalam kopernya, dilipat di antara kemeja paling bawah. Satu kalimat. Tulisan tangan yang tidak ia kenali. Aku tahu kau bukan Edmund Sterling. Ia su
Rosemary sudah menjadi ahli dalam menghilang.Pagi itu, ia bangun sebelum matahari menyentuh jendela. Sebelum Benedict bergerak di ranjangnya. Sebelum suara langkah kaki memenuhi koridor asrama. Ia menyelinap keluar seperti hantu—tanpa suara, tanpa jejak, tanpa ada yang sempat memperhatikan.Di lorong menuju tangga, ia hampir bertemu Henry.Pangeran itu sedang berjalan pagi, langkahnya ringan di atas batu yang dingin. Rosemary sempat melihat jubah birunya berkibar di tikungan sebelum ia buru-buru mundur dan menekan punggungnya ke dinding. Jantungnya berdebar, napasnya tertahan.Kenapa aku jadi pengecut seperti ini? tanyanya pada diri sendiri.Tapi ia tahu jawabannya. Setiap kali ia dekat dengan Henry, ia mer
Benedict tidak tahu kenapa ia ada di sini.Maksudnya, ia tahu alasannya. Kandang kuda selalu menjadi tempatnya melarikan diri. Di sini, tidak ada yang bertanya mengapa rahangnya selalu mengeras atau mengapa tatapannya selalu terlihat ingin membunuh seseorang. Hanya ada kuda-kuda besar dengan napas hangat dan mata yang tidak menghakimi.Tapi hari ini, ia seharusnya ada di kelas. Seharusnya ia duduk di bangku belakang, berpura-pura mendengarkan Profesor Alden berbicara tentang teori serangan balik, sementara pikirannya sibuk mengurai benang kusut yang tidak mau berakhir."Selidiki Sterling lebih dekat. Laporkan setiap gerak-geriknya. Jangan gagal."Benedict menghela napas panjang. Tangannya terus bergerak, menyikat punggung kuda hitam pekat di depannya—Moros, kuda jantan temperamental yang hanya mau diam kalau Benedict yang menanganinya.“Aku tidak suka perintah itu,” gumamnya pada Moros. Kuda itu mendengus pelan, seolah mengerti. “Tapi aku







