ANMELDENRosemary langsung menegang. Viscount Sterling. Edmund.
“Apa isinya?” tanya Vane.Benedict tidak menjawab langsung. Ada suara kertas dilipat kembali. “Ayahku mencurigai ada yang tidak beres dengan keluarga itu.”“Tidak beres bagaimana?”“Entahlah.” Suara Benedict terdengar seperti seseorang yang sedang berpikir keras. “Tapi dia memintaku untuk mengawasi 'Edmund Sterling' lebih dekat.”Tidak. Tidak. Tidak.Rosemary merasakan hawa dingin menOwen tidak membawanya ke taman atau ke ruang kosong. Ia hanya berjalan beberapa langkah ke koridor lain, ke tempat yang cukup jauh dari pintu-pintu dan cukup sepi untuk memastikan tidak ada yang mendengar.“Kau terlihat lelah,” katanya.“Aku baru dari sarapan dengan Duke Harrington.”Itu bukan jawaban yang Owen duga. Alisnya terangkat sedikit. “Itu cerita yang ingin kudengar. Tapi nanti.” Ia memasukkan tangan ke saku. “Aku punya sesuatu yang lebih penting.”Rosemary menunggu.“Edmund sudah bisa berjalan,” kata Owen. “Aku berkunjung ke Sterling Manor. Dia masih lemah, tapi dia sudah bisa berkeliling rumah. Saat berjalan melewati ruang tamu, Edmund menyadari ada
Sarapan selesai tidak lama setelah Duke mengucapkan kalimat itu. Tidak ada yang berbicara lagi setelahnya. Hanya suara denting sendok yang mengisi keheningan, dan bahkan itu perlahan berhenti satu per satu.Duke Harrington berdiri lebih dulu, mengakhiri sarapan tanpa perlu mengucapkan kata-kata penutup. Gerakannya sudah cukup. Duchess sudah lebih dulu meninggalkan ruangan, entah sejak kapan tepatnya, Rosemary tidak melihatnya pergi. Piringnya masih di atas meja. Cangkir tehnya masih setengah penuh. Tapi kursinya sudah kosong.Alice memeluk Rosemary di depan pintu. Cepat, hangat, dengan bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.“Aku akan ke Kingsley nanti. Kita harus bicara tentang pendaftaran.”Rosemary menatapnya. “Kau serius?”
Tawaran itu masih menggantung di udara ketika Rosemary menyadari bahwa semua orang di meja itu menunggunya bicara.Duke Harrington menatapnya dengan ekspresi yang tidak berubah, tenang, terukur, seperti seseorang yang sudah mempertimbangkan setiap kata sebelum mengucapkannya. Duchess, di sisi lain, tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. Cangkir tehnya masih terletak di atas piring dengan bunyi yang lebih keras dari yang seharusnya beberapa detik lalu. Alice sudah berhenti mengunyah sejak kata Ashworth disebut.Dan Rosemary tidak bisa menjawab.Bukan karena ia tidak ingin. Lima tahun. Lima tahun ia menunggu seseorang—siapa pun—mengatakan bahwa mereka tahu sesuatu tentang ayahnya. Tentang pengadilan itu. Tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu-pintu yang tidak pernah terbuka untuk keluarga Sterl
Utusan itu masih berdiri di sana, menunggu jawaban.Oliver menoleh pada Rosemary. “Sarapan” Ia mengerutkan kening. “Aku yakin Duke Harrington tidak pernah mengundang orang hanya untuk makan.”Henry melirik Benedict, lalu kembali pada Rosemary. “Duke Harrington tidak suka membuang waktu,” katanya, nadanya ringan. “Sarapan adalah urusan yang serius.”“Kau mengatakannya seperti peringatan.”“Karena memang begitu.”Benedict sudah melangkah. “Aku akan ikut.”Pegawai itu membungkuk. “Tentu saja, Lord Harrington. Kereta menunggu di halaman.”Rosema
Benedict membuka pintu.Oliver sudah berdiri di ambang dengan tangan masih terangkat, siap menggedor lagi. Napasnya sedikit terengah, entah karena berlari atau karena panik, sulit dibedakan.“Akhirnya! Kalian—”Ia berhenti. Matanya melirik ke dalam kamar, melewati bahu Benedict. Rosemary masih duduk di karpet dekat perapian yang sudah benar-benar dingin. Rambutnya kusut. Gaun biru tua semalam masih melekat di tubuhnya, sedikit kusut di bagian bahu.Mata Oliver menyipit. Ia menatap Rosemary. Lalu menatap Benedict. Lalu kembali ke Rosemary.Mulutnya terbuka.Dan tepat saat itu matanya bertemu dengan tatapan Benedict. Satu detik. Ekspresi yang tidak mengatakan apa p
Beberapa detik setelahnya, mereka hanya saling memandang.Rosemary yang biasanya dipenuhi pikiran tentang penyamaran, tentang keluarganya, tentang semua hal yang bisa salah, justru tidak memikirkan apa pun. Hanya ada detak jantungnya sendiri yang masih terasa tidak teratur.Benedict juga kehilangan kata-kata. Ia sudah merencanakan banyak hal dalam hidupnya, tapi tidak satu pun dari rencana itu yang mempersiapkannya untuk momen ini.Lalu Rosemary tertawa kecil. Bukan karena ada yang lucu, tapi karena gugup.“Apa?” tanya Benedict.“Aku tidak tahu harus bilang apa.”Sudut bibir Benedict terangkat sedikit. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang mendengar
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti
Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan






