เข้าสู่ระบบRosemary masih duduk di tempat yang sama sejak pintu terbuka.Kopernya baru setengah terbongkar. Tangannya masih memegang kemeja yang belum sempat dilipat, seolah waktu berhenti tepat di momen Benedict mengucapkan kalimat pertamanya. Dan di depannya, Benedict Harrington membongkar kopernya sendiri seolah ini hal paling normal di dunia—seolah kembali ke kamar 504 setelah semester pertama yang diakhiri dengan ketidakjelasan adalah keputusan yang tidak memerlukan penjelasan.“Bukankah kau sudah pindah kamar?”“Sudah.”“Lalu kenapa kembali?”Benedict meletakkan setumpuk buku di meja—meja yang dulu ia anggap miliknya, yang sekarang sudah penuh dengan buku catatan dan bung
Kereta-kereta berdatangan seperti biasa, memenuhi halaman Kingsley dengan koper dan suara tawa.Para mahasiswa turun satu per satu, sebagian dengan wajah segar setelah liburan, sebagian lagi menyeret langkah dengan enggan untuk kembali ke rutinitas akademi. Rosemary berdiri di dekat gerbang, menatap menara batu yang menjulang di hadapannya dengan cara yang berbeda dari saat ia pertama kali melihatnya.Semester pertama berhasil ia lalui. Ia masih hidup. Identitasnya belum terbongkar. Tapi entah kenapa, semester kedua terasa lebih berat. Bukan karena pelajaran atau turnamen, tapi karena ancaman yang kini mengelilinginya dari berbagai arah. Henry tahu, dan tahu sejak lama. Benedict curiga, dengan kepingan-kepingan yang sudah cukup banyak untuk membuatnya tidak bisa berhenti mencari. Dan Ashworth... nama itu kini bukan sekadar nama. Saat ia melintas di korido
Moros dan kuda Oliver menghilang di ujung jalan, dan Rosemary akhirnya bisa bernapas.Ia berdiri di dekat jendela, menatap debu yang masih mengapung di tempat kuda-kuda itu tadi berdiri. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena ketegangan yang baru saja berlalu.Dua jam. Dua jam ia duduk di ruang tamu dengan Benedict Harrington, menjawab pertanyaan-pertanyaan Oliver yang semakin tajam, menghindari tatapan yang semakin dalam.Hampir saja. Aku hampir ketahuan.Edmund muncul dari balik pintu, tongkatnya mengetuk lantai. “Mereka sudah pergi?”“Sudah.”“Harrington—” Edmund berhenti sebentar. “Apa dia selalu se
Benedict tidak menjawab, ia masih menatapnya.Rosemary bisa merasakannya—tatapan abu-abu itu belum sepenuhnya percaya. Ada sesuatu di balik mata itu yang masih menghitung, masih mencari, seperti seseorang yang tahu bahwa ada sesuatu yang salah tapi belum bisa menyebut apa.Tapi Benedict tidak punya bukti apa pun. Hanya firasat. Hanya keanehan-keanehan kecil yang belum bisa ia rangkai menjadi satu kesimpulan tepat.Ia duduk lagi.Rosemary menghembuskan napas pelan. Satu masalah selesai. Tapi ia tahu ini belum berakhir.“Maaf soal kemarin, Finch.” Ia sengaja mengalihkan pembicaraan, suaranya dibuat seringan mungkin. “Aku tidak jadi datang menemui Lord Wexford.”Oliver langsung
Sudah dua jam lebih sepuluh menit.Benedict belum bergerak dari kursinya. Oliver sudah menghabiskan tiga cangkir teh dan mulai mengoceh tentang arsitektur Sterling Manor—sesuatu tentang langit-langit yang lebih rendah dari yang ia kira, sesuatu tentang jendela yang mungkin dibangun pada era yang salah untuk gaya rumah. Martha mondar-mandir dengan nampan kosong, wajahnya semakin pucat setiap kali ia melirik ke arah mereka.Rosemary duduk di seberang mereka, tangannya terlipat di pangkuan, senyumnya sudah lama terkuras habis.Dia tidak akan pergi. Pikiran itu berputar-putar di kepalanya. Dia benar-benar akan duduk di sini sampai Edmund muncul.Lalu terdengar suara kereta di luar.Rodanya berderit di atas kerikil. Su
Pagi di Sterling Manor datang dengan cahaya yang lebih hangat dari biasanya. Musim dingin belum berakhir, tapi hari ini matahari cukup berani untuk muncul di balik awan.Di ruang tengah, Rosemary berdiri di samping Edmund, satu tangan siap menangkap kalau kakaknya kehilangan keseimbangan.Edmund melangkah. Satu. Dua. Tiga. Wajahnya berkeringat, tapi senyumnya tidak hilang. “Aku benci latihan ini.”“Dokter bilang kau harus melakukannya.”“Ya, dan kau bahkan lebih galak daripada dokter itu.”“Aku memang terlahir galak.”Edmund tertawa kecil, lalu terbatuk. Tapi batuknya tidak separah dulu—tidak lagi mengguncang seluruh tubu
Tubuh Rosemary ambruk, dan Benedict menangkapnya sebelum lututnya menyentuh lantai.“Sterling.”Tidak ada jawaban. Kepala Rosemary terkulai di lengannya, napasnya pendek dan panas. Kulitnya pucat, tapi pipinya merah—demam yang tidak wajar. Rambutnya yang masih sedikit lembap men
Pintu kamar 504 terbuka, dan Benedict masuk tanpa mengetuk. Kamar itu gelap. Perapian tidak menyala. Tidak ada suara napas dari ranjang. Hanya keheningan dan udara dingin yang menusuk. Ranjang Rosemary kosong. Selimut terlipat rapi. Di jendela, tanaman rosemary berdi
Air menetes dari rambut Benedict. Satu per satu, dingin, mengalir ke pelipis, ke rahang, ke bahu yang masih telanjang karena kemejanya masih di atas batu dan ia belum bergerak untuk mengambilnya. Ia hanya berdiri di sana, menatap ke arah dua sosok yang semakin menj
Malam itu, Oliver datang dengan senyum terlalu lebar dan mata berbinar. “Lord Sterling! Kau tidak akan percaya apa yang akan terjadi malam ini!” Rosemary mendongak dari bukunya. Ia sedang di kamar, sendirian. Kamar yang sunyi, lilin yang hampir habis, dan satu jam lagi sebelum ia berencana tidur.







