Share

177 - 504

Penulis: Luna Maji
last update Tanggal publikasi: 2026-07-22 20:00:22

Tidak ada yang bicara.

Henry masih berdiri di dekat jendela. Benedict masih duduk di kursinya. Rosemary duduk di ranjang bersandar pada bantal dengan mata yang sudah jauh lebih fokus daripada tadi. Oliver menatap mereka bertiga bergantian, menunggu seseorang mengatakan sesuatu—tapi tidak ada yang bicara.

Ia mendorong kacamatanya. “Kalau begitu, jangan keluar

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   232 - Tiga Hari

    Oliver tiba di perpustakaan lebih awal dari biasanya.Ruangan itu masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa di meja seberang. Cedric datang beberapa menit kemudian, membawa satu buku tipis di tangan. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia duduk di seberang Oliver tanpa mengucapkan apapun.“Kau terlambat,” kata Oliver.“Aku tidak tidur semalaman.”Oliver tidak menanggapi. Ia membuka bukunya, memberi kesan mereka sedang membicarakan tugas. “Aku kira kau tidak akan datang.”“Ku kira aku memang tidak bisa datang.” Cedric meletakkan bukunya di atas meja. “Tapi kalau aku tidak datang, kau pasti akan mulai mencari. Dan itu lebih berbahaya.”Oliver menatapnya. “Kenapa lebih berbahaya?”“Karena ayahku akan makin curiga. Bukan hanya padaku. Pada semua orang-orang yang berhubungan dengan Sterling.” Cedric menatap meja. “Dia tidak lagi menyimpan buku catatan itu di laci. Dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi.”Oliver menahan napas.

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   231 - Kembali ke Kingsley

    Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya saat kereta berhenti di halaman Kingsley.Rosemary turun lebih dulu. Di belakangnya, Benedict, Edmund, dan Owen mengikuti. Beberapa mahasiswa berjalan menuju ruang makan, sebagian lagi menenteng buku ke arah perpustakaan.“Kalian di sini.”Oliver muncul dari arah perpustakaan. Langkahnya cepat, kacamatanya miring seperti biasa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—campuran antara lelah dan ingin segera bicara.“Sudah selesai bicara dengan Cedric?” tanya Rosemary.Oliver mengangguk. “Lebih dari yang kuduga.”Mereka berjalan ke kamar Benedict. Ruangan itu masih terasa sama: jendela besar, kurs

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   230 - Cedric

    Oliver bertemu Cedric di meja panjang di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Sebagian mahasiswa meninggalkan bangku mereka. Cedric duduk di kursi paling ujung, menghadap setumpuk kertas, dengan sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.Oliver mendekat sambil membawa beberapa catatan. “Kau sudah mulai? Langston belum sempat menyetujui bagian ketiga, dan aku tidak mau ketinggalan.”Cedric mengangkat kepala. Matanya tampak lelah, tapi ekspresinya tetap datar. “Aku tidak mulai. Aku cuma membaca ulang untuk bagian sebelumnya.”Oliver duduk di seberangnya. Ia meletakkan catatannya di atas meja dan membuka salah satu halaman. “Aku sudah hafal itu.”Cedric tidak menanggapi.Mereka membahas tug

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   229 - Janjiku

    Kereta berhenti di depan gerbang kediaman Lancaster.Dinding batu tua, jendela tinggi dengan kusen kayu gelap, dan halaman depan yang tertata rapi. Seorang pelayan membukakan pintu begitu melihat kereta berhenti.Rosemary turun lebih dulu, diikuti Benedict, lalu Edmund.Pelayan itu membungkuk. “Selamat datang di kediaman Lancaster. Tuan-tuan dan Nona dari?”“Saya Rosemary Sterling.” Rosemary memperkenalkan diri sambil mengangguk sopan. “Ini Kakak saya, Edmund Sterling. Dan ini Benedict Harrington.” Tunjuk Rosemary ke Edmund dan Benedict. “Kami perlu bicara dengan Tuan Owen Lancaster. Dan Lord Lancaster, jika memungkinkan.”“Silakan tunggu sebentar. Saya sampaikan.&rd

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   228 - Bukan Mungkin

    Vane tidak segera menjawab.Ia menatap Rosemary, lalu Benedict, lalu Oliver yang berdiri dengan kacamata masih miring karena perjalanan. Ruang kerja Sterling Manor terasa semakin sempit dengan lima orang di dalamnya. Edmund masih di dekat pintu.Vane mengangkat dagunya, menatap Edmund sebentar, lalu kembali pada Rosemary. “Surat.”“Surat?” Benedict mengulang kata itu dengan nada datar.“Surat pribadi ayahnya. Bukan dokumen resmi. Bukan arsip keluarga.” Vane berjalan mendekati meja. Tangannya menyentuh sudut kayu yang tergores. “Sepucuk surat kecil yang ditulis langsung oleh Duke Ashworth.”Oliver mendorong kacamatanya. “Dan isinya?”“Aku tidak tahu.” Vane berhenti tepat di seberang Rosemary. ”Dia tidak bilang. Dia bilang surat itu masih disimpan oleh ayahnya.”Edmund menegang di dekat pintu. “Kau yakin dia tidak berbohong?”“Ka

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   227 - vane

    Rosemary baru saja hendak naik ketika suara derap kuda terdengar dari jalan di luar Manor.Ia menoleh.Seekor kuda muncul dari balik gerbang, melaju memasuki halaman. Penunggangnya menarik tali kekang begitu mendekati kereta. Kuda itu berhenti dengan napas berat, mengepulkan uap tipis.Oliver turun dari pelana.Debu menempel di ujung jasnya. Rambutnya berantakan oleh angin, dan wajahnya menunjukkan bahwa ia sudah berkuda cukup lama. Kacamatanya miring tapi masih di tempatnya.“Oliver?” Alice berseru dari ambang pintu.Oliver tidak menjawab. Ia menyerahkan tali kekang kepada pelayan yang segera datang, lalu langsung berjalan menuju Rosemary.

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   4 - Kelas

    Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   3 - Punggung

    Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   2 - Kamar

    Benedict maju selangkah, tangan kirinya mencengkeram kerah jubah pria dihadapannya. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. Napasnya memburu. “Tarik ucapanmu, Ashworth!”Lord Cedric Ashworth—salah satu senior di Akademi Kinsley—menyeringai. “Apa ucapanku salah?” tantangnya. “Ku ulangi, a

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   1 - Siapa?

    “Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status