LOGINOliver menatap nampan di meja. Roti, sup hangat, dan teh yang masih mengepul. Tidak ada yang menyentuhnya. Bukan karena tidak ada yang lapar, tapi karena ada hal-hal di ruangan ini yang membuat makanan terasa tidak relevan.
Matanya beralih ke Henry yang berdiri di dekat jendela, tidak bergerak. Lalu ke Benedict yang duduk di kursi, tidak bicara. Dan terakhir ke Rosemary yang terbaring di ranjang, matanya sekar
Pengumuman itu membuat semua orang tetap berada di tempatnya.Beberapa bangsawan yang tadinya sudah berdiri kembali duduk. Pelayan-pelayan berhenti di sisi ruangan, menunggu aba-aba. Henry berdiri di bawah cahaya lilin yang menggantung rendah. Semua mata tertuju padanya.“Aku tidak akan menahan kalian terlalu lama.” Henry mengangkat gelasnya. “Malam ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal.”Duke Ashworth menyandarkan punggungnya dan mendengarkan. Cedric di sampingnya menunduk, tapi matanya sesekali melirik ke arah Henry.“Kerajaan ini dibangun oleh keluarga-keluarga di ruangan ini,” lanjut Henry. “Aku berharap, apa pun perbedaan di antara kita, kita masih bisa duduk di meja yang sama. Dan malam ini adalah buktinya.”
Aula besar dipenuhi lilin-lilin tinggi yang berdiri di sepanjang dinding. Cahaya keemasan jatuh di atas meja panjang yang dilapisi taplak putih. Para pelayan bergerak tanpa suara, mengatur detail terakhir sebelum para tamu memasuki ruangan.Henry berdiri di dekat pintu utama. Jas biru tuanya rapi, dan tidak ada tanda-tanda kegugupan di wajahnya. Tapi matanya tidak pernah berhenti bergerak, memeriksa setiap sudut, setiap pelayan, setiap tamu yang mulai berdatangan.Para bangsawan masuk satu per satu. Duke Harrington tiba lebih dulu, mengenakan jas hitam dengan kerah tinggi. Di sampingnya, Benedict berjalan dengan postur tegak, meskipun bahunya sesekali masih sedikit kaku. Henry menyambut mereka dengan anggukan formal.“Duke Harrington.” Henry tersenyum tipis. “Aku senang kalian bisa datang.&rd
Oliver tiba di perpustakaan lebih awal dari biasanya.Ruangan itu masih sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa di meja seberang. Cedric datang beberapa menit kemudian, membawa satu buku tipis di tangan. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya. Ia duduk di seberang Oliver tanpa mengucapkan apapun.“Kau terlambat,” kata Oliver.“Aku tidak tidur semalaman.”Oliver tidak menanggapi. Ia membuka bukunya, memberi kesan mereka sedang membicarakan tugas. “Aku kira kau tidak akan datang.”“Ku kira aku memang tidak bisa datang.” Cedric meletakkan bukunya di atas meja. “Tapi kalau aku tidak datang, kau pasti akan mulai mencari. Dan itu lebih berbahaya.”Oliver menatapnya. “Kenapa lebih berbahaya?”“Karena ayahku akan makin curiga. Bukan hanya padaku. Pada semua orang-orang yang berhubungan dengan Sterling.” Cedric menatap meja. “Dia tidak lagi menyimpan buku catatan itu di laci. Dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi.”Oliver menahan napas.
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya saat kereta berhenti di halaman Kingsley.Rosemary turun lebih dulu. Di belakangnya, Benedict, Edmund, dan Owen mengikuti. Beberapa mahasiswa berjalan menuju ruang makan, sebagian lagi menenteng buku ke arah perpustakaan.“Kalian di sini.”Oliver muncul dari arah perpustakaan. Langkahnya cepat, kacamatanya miring seperti biasa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan sesuatu—campuran antara lelah dan ingin segera bicara.“Sudah selesai bicara dengan Cedric?” tanya Rosemary.Oliver mengangguk. “Lebih dari yang kuduga.”Mereka berjalan ke kamar Benedict. Ruangan itu masih terasa sama: jendela besar, kurs
Oliver bertemu Cedric di meja panjang di sudut perpustakaan yang mulai sepi. Sebagian mahasiswa meninggalkan bangku mereka. Cedric duduk di kursi paling ujung, menghadap setumpuk kertas, dengan sebuah buku tebal terbuka di hadapannya.Oliver mendekat sambil membawa beberapa catatan. “Kau sudah mulai? Langston belum sempat menyetujui bagian ketiga, dan aku tidak mau ketinggalan.”Cedric mengangkat kepala. Matanya tampak lelah, tapi ekspresinya tetap datar. “Aku tidak mulai. Aku cuma membaca ulang untuk bagian sebelumnya.”Oliver duduk di seberangnya. Ia meletakkan catatannya di atas meja dan membuka salah satu halaman. “Aku sudah hafal itu.”Cedric tidak menanggapi.Mereka membahas tug
Kereta berhenti di depan gerbang kediaman Lancaster.Dinding batu tua, jendela tinggi dengan kusen kayu gelap, dan halaman depan yang tertata rapi. Seorang pelayan membukakan pintu begitu melihat kereta berhenti.Rosemary turun lebih dulu, diikuti Benedict, lalu Edmund.Pelayan itu membungkuk. “Selamat datang di kediaman Lancaster. Tuan-tuan dan Nona dari?”“Saya Rosemary Sterling.” Rosemary memperkenalkan diri sambil mengangguk sopan. “Ini Kakak saya, Edmund Sterling. Dan ini Benedict Harrington.” Tunjuk Rosemary ke Edmund dan Benedict. “Kami perlu bicara dengan Tuan Owen Lancaster. Dan Lord Lancaster, jika memungkinkan.”“Silakan tunggu sebentar. Saya sampaikan.&rd
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti
Rosemary tersentak. Ia terduduk dengan cepat. Tangannya segera menarik mantel, teringat ikatan dadanya yang tadi dilonggarkan.“Anda … Anda tidak bisa masuk begitu saja!”Dan begitu suara itu mencapai telinganya sendiri, Rosemary ingin menggigit lidahnya.Suara rendah yang selama ini ia pertahankan







