ANMELDENOliver melihat ekspresi Benedict begitu pintu kamar terbuka, dan langsung tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.
“Aku akan … mengambil teh.” Ia berdiri, menuju pintu, lalu berhenti sebentar di samping Benedict. Ia tidak mengatakan apa-apa—hanya menepuk lengannya sekali, singkat, canggung, seperti seseorang yang ingin memberi dukungan tapi tidak tahu caranya.
![]()
Pagi datang dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai.Henry tiba di Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia datang tanpa kereta mencolok, hanya dengan satu orang kepercayaan yang kini sudah dikenal Benedict. Mereka masuk lewat pintu samping, menghindari ruang utama yang mulai ramai oleh mahasiswa.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict. Meja sudah bersih. Kertas-kertas tugas Langston disingkirkan. Yang tersisa hanya beberapa cangkir teh yang belum tersentuh.Henry mengetuk dan Benedict membukakan pintu. Begitu pintu tertutup, Henry meletakkan sebuah map kulit tipis di atas meja.“Hasil pemeriksaan sudah keluar,” katanya.Tidak ada yang bertanya. Semuanya menunggu.Henry membuka map itu. Dua surat tampak terselip di dalamnya, tapi kini sudah dilapisi kertas pelindung tipis."Pemeriksa menemukan kecocokan. Bentuk huruf, cara menulis angka, tekanan tinta, dan tanda tangan
Rosemary berdiri di dekat jendela kamar Benedict.Dari sini, halaman Kingsley terlihat cukup jelas. Obor sudah menyala di sepanjang jalan masuk, sementara sebagian besar bangunan sudah tenggelam dalam kegelapan malam.Benedict berdiri di sampingnya.Rosemary menunjuk ke arah halaman. “Lihat.”Benedict mengikuti arah pandangannya.Seorang pria berdiri di dekat pohon yang tidak jauh dari gerbang. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri di sana dengan posisi yang membuatnya bisa melihat sebagian besar sisi bangunan dan siapa yang keluar masuk asrama.“Orang yang Cedric katakan tadi?” tanya Benedict.“Sepertinya.”Benedict memperhatikannya beberapa detik. “Berarti dia memang mulai mengawasi.”Rosemary mengangguk. “Lebih cepat dari yang kita kira.”“Dia memang tidak akan diam setelah tahu ada seseorang yang membuka bukunya.”Mereka kembali melihat ke halaman.“Cedric bilang dia h
Cedric kembali ke Kingsley seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari caranya berjalan. Ia masih membawa buku catatan yang sama, masih menyapa beberapa orang yang berpapasan, masih terlihat seperti mahasiswa yang tidak punya urusan penting selain menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tetapi sejak masuk gerbang akademi, matanya sudah bergerak memperhatikan sekeliling dengan waspada. Ia menunggu sampai sore. Di perpustakaan, Rosemary dan Benedict duduk di meja dekat jendela. Beberapa buku terbuka di hadapan mereka. Oliver berada di meja yang sama, menumpuk kertas-kertas yang sebagian sudah ia coret. Cedric masuk dengan tenang. Ia berdiri sebentar di antara rak, memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu berjalan mendekat. "Finch." Oliver mendongak. "Cedric. Kau datang." "A
Owen tiba di kediaman Lancaster saat pagi belum terlalu terang. Ia menyerahkan kudanya pada pelayan yang menghampirinya. “Di mana Ayah?”“Di ruang kerja, Tuan. Sedang membaca.”Owen melangkah masuk. Ia berjalan menyusuri koridor. Ruang kerja Lord Lancaster terletak di ujung, menghadap taman kecil yang mulai ramai oleh suara burung.Ia mengetuk pelan, lalu masuk.Lord Lancaster duduk di kursi dekat jendela. Di atas mejanya ada beberapa lembar kertas yang tampak belum lama disentuh. Ia mendongak, dan begitu melihat Owen, ia meletakkan kertas di tangannya.“Kau pulang,” katanya.“Ada yang ingin kusampaikan.”Lord Lancaster menyandarkan punggungnya. “Bicaralah.”Owen menarik kursi dan duduk di seberang ayahnya. Ia berbicara pelan, tidak terburu-buru. “Semuanya sedang dipersiapkan. Bukti sudah didapat. Tinggal satu hal.”Lord Lancaster menatap putranya. “Kesaksian.”“Ya.”Lord Lancaster menatap kertas-kertas di mejanya sebentar. “Aku sudah berjanji.”“Aku tahu.” Owen menatap ayahnya. “Tap
Setelah menutup buku itu, Duke Ashworth duduk diam selama beberapa menit. Lalu ia membukanya lagi.Kali ini ia tidak terburu-buru. Jemarinya menelusuri setiap lembar, setiap lipatan. Di bawah cahaya yang masuk dari jendela, kertas-kertas itu tampak sama seperti biasanya.Tapi tidak semuanya.Ia berhenti. Ada dua lembar yang terasa berbeda. Lipatannya berbeda dengan lipatan surat yang lain.Ia menarik keduanya dan membukanya.Kosong.Ashworth tidak langsung bereaksi. Ia menatap dua lembar kosong tersebut seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di hadapannya.Ia tahu isi buku itu. Bukan setiap kalimat, tetapi ia tahu
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver meninggalkan Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Kereta yang sama dari Harrington membawa mereka keluar gerbang, melewati jalan setapak yang masih diselimuti kabut tipis. Tidak ada yang banyak bicara. Surat-surat itu kini tersimpan di saku dalam jas Benedict.Henry sudah menunggu di pintu sayap timur istana. Pakaiannya sederhana, bukan pakaian jamuan. Tidak ada pengawal di dekat pintu itu. Ia membawa mereka masuk lewat koridor belakang yang jarang dipakai, melewati ruang-ruang kecil berdebu, sampai tiba di ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup, lalu Henry menguncinya.“Kita mendapatkannya,” katanya.Benedict mengeluarkan dua sura
Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka







