Teilen

56 - Dansa

last update Veröffentlichungsdatum: 30.05.2026 08:00:02

Alice menarik Rosemary ke lantai dansa sebelum ada yang bisa menghentikannya.

Tangan gadis itu menggenggam jemari Rosemary dengan ringan, tanpa ragu. Musik berikutnya dimulai—waltz lambat, biola yang mengalun lembut. Pasangan lain mulai mengambil posisi. Alice menaruh satu tangan di bahu Rosemary, tangan lainnya tetap menggenggam.

“Kau lebih pendek dari yang

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   240 - Di Balik Jendela

    Rosemary berdiri di dekat jendela kamar Benedict.Dari sini, halaman Kingsley terlihat cukup jelas. Obor sudah menyala di sepanjang jalan masuk, sementara sebagian besar bangunan sudah tenggelam dalam kegelapan malam.Benedict berdiri di sampingnya.Rosemary menunjuk ke arah halaman. “Lihat.”Benedict mengikuti arah pandangannya.Seorang pria berdiri di dekat pohon yang tidak jauh dari gerbang. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri di sana dengan posisi yang membuatnya bisa melihat sebagian besar sisi bangunan dan siapa yang keluar masuk asrama.“Orang yang Cedric katakan tadi?” tanya Benedict.“Sepertinya.”Benedict memperhatikannya beberapa detik. “Berarti dia memang mulai mengawasi.”Rosemary mengangguk. “Lebih cepat dari yang kita kira.”“Dia memang tidak akan diam setelah tahu ada seseorang yang membuka bukunya.”Mereka kembali melihat ke halaman.“Cedric bilang dia h

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   239 - Pengawas

    Cedric kembali ke Kingsley seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari caranya berjalan. Ia masih membawa buku catatan yang sama, masih menyapa beberapa orang yang berpapasan, masih terlihat seperti mahasiswa yang tidak punya urusan penting selain menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tetapi sejak masuk gerbang akademi, matanya sudah bergerak memperhatikan sekeliling dengan waspada. Ia menunggu sampai sore. Di perpustakaan, Rosemary dan Benedict duduk di meja dekat jendela. Beberapa buku terbuka di hadapan mereka. Oliver berada di meja yang sama, menumpuk kertas-kertas yang sebagian sudah ia coret. Cedric masuk dengan tenang. Ia berdiri sebentar di antara rak, memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu berjalan mendekat. "Finch." Oliver mendongak. "Cedric. Kau datang." "A

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   238 - Satu Perintah

    Owen tiba di kediaman Lancaster saat pagi belum terlalu terang. Ia menyerahkan kudanya pada pelayan yang menghampirinya. “Di mana Ayah?”“Di ruang kerja, Tuan. Sedang membaca.”Owen melangkah masuk. Ia berjalan menyusuri koridor. Ruang kerja Lord Lancaster terletak di ujung, menghadap taman kecil yang mulai ramai oleh suara burung.Ia mengetuk pelan, lalu masuk.Lord Lancaster duduk di kursi dekat jendela. Di atas mejanya ada beberapa lembar kertas yang tampak belum lama disentuh. Ia mendongak, dan begitu melihat Owen, ia meletakkan kertas di tangannya.“Kau pulang,” katanya.“Ada yang ingin kusampaikan.”Lord Lancaster menyandarkan punggungnya. “Bicaralah.”Owen menarik kursi dan duduk di seberang ayahnya. Ia berbicara pelan, tidak terburu-buru. “Semuanya sedang dipersiapkan. Bukti sudah didapat. Tinggal satu hal.”Lord Lancaster menatap putranya. “Kesaksian.”“Ya.”Lord Lancaster menatap kertas-kertas di mejanya sebentar. “Aku sudah berjanji.”“Aku tahu.” Owen menatap ayahnya. “Tap

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   237 - Dua Lembar Kosong

    Setelah menutup buku itu, Duke Ashworth duduk diam selama beberapa menit. Lalu ia membukanya lagi.Kali ini ia tidak terburu-buru. Jemarinya menelusuri setiap lembar, setiap lipatan. Di bawah cahaya yang masuk dari jendela, kertas-kertas itu tampak sama seperti biasanya.Tapi tidak semuanya.Ia berhenti. Ada dua lembar yang terasa berbeda. Lipatannya berbeda dengan lipatan surat yang lain.Ia menarik keduanya dan membukanya.Kosong.Ashworth tidak langsung bereaksi. Ia menatap dua lembar kosong tersebut seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang tidak lagi ada di hadapannya.Ia tahu isi buku itu. Bukan setiap kalimat, tetapi ia tahu

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   236 - Lipatan

    Pagi datang lebih cepat dari biasanya.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver meninggalkan Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Kereta yang sama dari Harrington membawa mereka keluar gerbang, melewati jalan setapak yang masih diselimuti kabut tipis. Tidak ada yang banyak bicara. Surat-surat itu kini tersimpan di saku dalam jas Benedict.Henry sudah menunggu di pintu sayap timur istana. Pakaiannya sederhana, bukan pakaian jamuan. Tidak ada pengawal di dekat pintu itu. Ia membawa mereka masuk lewat koridor belakang yang jarang dipakai, melewati ruang-ruang kecil berdebu, sampai tiba di ruang kerja pribadinya.Pintu tertutup, lalu Henry menguncinya.“Kita mendapatkannya,” katanya.Benedict mengeluarkan dua sura

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   235 - Surat Itu

    Benedict masuk saat malam sudah benar-benar larut.Pintu tertutup pelan di belakangnya. Rosemary berdiri dari kursi dekat jendela. Edmund dan Oliver masih di tempat mereka, di dekat meja yang dipenuhi kertas-kertas lama.Tidak ada yang bicara sampai Benedict mendekat dan mengeluarkan dua lembar surat dari bagian dalam jasnya.“Dapat,” katanya.Rosemary tidak bertanya. Ia sudah tahu apa yang dimaksud.Benedict meletakkan surat-surat itu di atas meja. Dua lembar kertas terlipat rapi, sedikit lecek karena dipindahkan dari buku ke saku, dari saku ke serbet, dari serbet ke saku. Warnanya krem tua, dengan tinta yang masih tajam di beberapa bagian.Rosemary mengambil salah sa

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   1 - Siapa?

    “Kau tidak terlihat seperti Edmund Sterling yang kukenal.”Langkah Rosemary terhenti.Ia bukan Edmund Sterling. Tapi sejak kemarin—sejak surat bertanda segel Ratu itu tiba dengan ancaman penyitaan aset dan pencabutan gelar bangsawan Sterling—ia tidak punya pilihan selain menjadi kakaknya.Jantung Ro

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   106 - Peringkat Baru

    Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   105 - Seperti Biasa

    Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari

  • Lord Harrington, Jangan Dekat-dekat!   2 - Kamar

    Benedict maju selangkah, tangan kirinya mencengkeram kerah jubah pria dihadapannya. Kepalan tangan kanannya masih terangkat di udara. Napasnya memburu. “Tarik ucapanmu, Ashworth!”Lord Cedric Ashworth—salah satu senior di Akademi Kinsley—menyeringai. “Apa ucapanku salah?” tantangnya. “Ku ulangi, a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status