LOGINBAB 122POV BIANCAPertanyaan Jevan membuatku terdiam cukup lama. Selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang berani menanyakan hal itu langsung kepadaku. Mereka hanya melihat hasil akhirnya, lalu menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.Aku menatap meja di hadapanku sebelum akhirnya mengangkat wajah.“Karena Rendra tahu semuanya.”Jevan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menungguku melanjutkan.“Dia tahu kalau Celine dan Kiara bukan anak kandungnya.”Aku menarik napas panjang. “Dulu, sebelum Celine dan Kiara lahir, saya punya hubungan dengan laki-laki lain. Saya selingkuh dari Rendra. Ketika semuanya terbongkar, dia akhirnya tahu bahwa kedua anak yang selama ini dia besarkan bukan darah dagingnya.”Aku masih ingat bagaimana wajah Rendra saat mengetahui semuanya. Tidak ada teriakan, tidak ada benda yang dilempar. Justru ketenangannya saat itu yang membuatku takut. Aku tau dia pasti menyimpan rencana lebih besar untuk membalasku.“Rendra marah, bukan hanya karena saya berselingkuh,
POV JEVANPagi itu aku kembali ke kantor Rakabumi setelah memastikan keadaan di rumah sakit cukup aman. Begitu masuk, suasana sudah jauh berbeda dari malam sebelumnya.Beberapa petugas sibuk membawa berkas dari ruang penyimpanan, sementara sebagian lainnya keluar-masuk ruang pemeriksaan tempat Bianca dan Nyonya Luan ditahan.Aku langsung menuju ruangan Rakabumi. Pintu terbuka dan beberapa map sudah memenuhi meja kerjanya.“Sudah mulai?” tanyaku.Rakabumi mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di hadapannya. “Sejak pagi. Semua barang bukti dari rumah Bianca sudah dipindahkan ke sini. Dokumen yang ditemukan Celine juga sudah selesai diperiksa.”Aku menarik salah satu kursi lalu duduk di hadapannya. “Hasilnya?”“Identik dengan arsip yang kita punya. Dokumen itu asli.”Aku mengangguk. Setidaknya satu bagian penting dari kasus ini sudah jelas. Rakabumi kemudian membuka beberapa berkas lain dan mulai menyusun semuanya berdasarkan keterlibatan masing-masing orang.Ada catatan tr
POV RAKABUMIAku mengernyit mendengar suara Jevan dari seberang sambungan. Setelah semua anak buah Bianca berhasil diamankan, seharusnya malam ini menjadi akhir dari pengejaran panjang kami. Namun, nada suara Jevan membuatku kembali waspada.“Apa yang terjadi?”“Celine menemukan dokumen asli yang pernah ditandatangani mendiang ayah Celine.”Aku langsung berdiri lebih tegak. “Di mana dia menemukannya?”“Di rumah lama Bianca. Waktu kami menyelamatkan Nadira, Celine menemukan lantai yang pecah di salah satu ruangan. Di bawahnya ada ruang kosong kecil dan dokumen itu disimpan di sana.”Aku mengembuskan napas pelan. Selama ini kami memang mencari bukti yang bisa menghubungkan Bianca dengan seluruh kejahatan yang dilakukan kelompoknya. Kami sudah memiliki kesaksian, dokumen pendukung, barang bukti dari rumah lama, serta pengakuan Kiara.Namun, jika dokumen yang ditemukan Celine benar-benar merupakan salinan dari dokumen asli yang ditandatangani ayahnya, bukti itu bisa menjadi bagian penting
POV RAKABUMIMobil Bianca semakin menjauh ketika kami memasuki kawasan pelabuhan. Beberapa kendaraan pengangkut barang terparkir di sisi jalan, sementara lampu-lampu gudang menerangi sebagian area yang mulai sepi.Dari radio, suara anggota lain terus memberikan laporan mengenai posisi mereka. “Komandan, akses timur sudah ditutup. Tim dua sudah menunggu di depan gerbang utama.”Aku mengangkat radio. “Jangan beri mereka celah.”Mobil di depan tiba-tiba berbelok tajam ke arah salah satu jalur sempit di antara gudang. Aku langsung memberi isyarat kepada pengemudi untuk mengikuti mereka. Ban kendaraan kami berdecit ketika melewati tikungan, tetapi mobil Bianca sudah lebih dulu melaju menuju area kontainer.“Mereka masuk ke kawasan kontainer,” lapor salah satu anggota melalui radio.Aku melihat beberapa kendaraan polisi mulai bergerak dari arah berlawanan. Bianca tidak punya banyak ruang untuk bermanuver karena jalur di depan semakin sempit dan kedua sisi jalan dipenuhi tumpukan kontainer.
POV CELINEPintu ruang perawatan baru saja tertutup ketika ponsel Jevan bergetar. Ia langsung melihat layar sebelum mengangkat panggilan yang masuk. Aku masih berdiri di sampingnya, sementara pikiranku belum sepenuhnya lepas dari sikap Nadira yang tiba-tiba berubah sejak sadar."Jevan," suara Rakabumi terdengar dari seberang sambungan. "Kami menemukan Bianca dan Nyonya Luan.""Mereka meninggalkan rumah sakit lewat jalur belakang dan sekarang bergerak menuju kawasan pelabuhan. Tim sudah membuntuti dari jarak aman. Jangan bergerak sendiri, saya akan mengirimkan titik lokasinya."Aku langsung menoleh kepada Jevan. Akhirnya mereka ditemukan. Lega dalam hatiku tak dapat kusembunyikan."Kami menyusul," ujar Jevan."Jangan," jawab Rakabumi tegas. "Kamu tetap di rumah sakit. Nadira masih dalam kondisi lemah dan saya membutuhkanmu untuk memastikan dia aman. Celine juga tetap di sana."Jevan sempat terdiam sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek. "Baik."Panggilan berakhir. Aku menatapnya de
POV CELINEPintu ruang perawatan masih tertutup ketika aku berdiri di depannya. Sejak Nadira dibawa masuk, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Beberapa anggota sudah mulai meninggalkan lorong untuk melanjutkan pengejaran terhadap Bianca dan Nyonya Luan, tetapi Jevan masih berdiri di sana dengan tatapan yang tidak pernah benar-benar lepas dari pintu itu.Aku memperhatikannya diam-diam. Sejak kami menemukan Nadira, Jevan bahkan hampir tidak berbicara kepadaku. Semua perhatiannya tertuju kepada perempuan yang sekarang sedang terbaring tidak sadarkan diri di balik pintu. Entah kenapa, melihat itu membuat dadaku terasa sedikit sesak."Mas Jevan."Ia menoleh kepadaku."Dokter bilang dia akan baik-baik saja," kataku pelan, lebih seperti mencoba menenangkan diriku sendiri daripada dirinya.Jevan hanya mengangguk. "Semoga."Jawaban singkat itu justru membuatku kembali menatap wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda da
Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing
“Celine, Kiara....” Bianca berteriak tepat saat ia membuka pintu utama rumah mewah yang baru pertama kali kudatangi ini.Dari dua nama yang disebut, hanya satu yang muncul. Seorang gadis dengan daster berwarna merah muda sebatas lutut, matanya sembab seperti orang yang habis menangis. Tatapannya da
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin







